Bukan Dunia Novel

Bukan Dunia Novel
103. Permintaan Maaf termanis


__ADS_3

Lilian menatap bosan kearah Seint yang sedari tadi berjalan mondar mandir menyiapkan semua perlengkapan mereka untuk kembali ke Ibukota.


Sejak kejadian penyerangan terhadap Lilian tadi, Seint belum mengeluarkan sepatah katapun untuk Lilian. Saat menunggangi kuda bersama untuk kembali ke penginapan, Lilian mencoba mengajak Seint berbicara namun hanya raut wajah datar yang ia berikan untuk Lilian.


Sama seperti sekarang, sejak dari tadi Lilian selalu berusaha mengajaknya berbicara namun Seint tetap mengabaikannya dan tidak ingin berbicara kepada Lilian.


"Seint! Kamu adalah pangeran yang paling tampan yang pernah aku temui!" Ucap Lilian sambil memasang senyum cerahnya.


Seint hanya memberikan tatapan tajamnya dan kemudian kembali mengabaikan Lilian. Tidak mendapat respon dari Seint, Lilian kembali membujuknya dengan berjalan di samping Seint yang sedang mengemasi barang.


"Apakah kamu marah?" Tanya Lilian sambil memegang lengan Seint.


Seint menepis pelan tangan Lilian kemudian kembali mengemasi barangnya. "Pergilah!! Aku sedang sibuk!!" Ketusnya.


Bukannya marah, Lilian malah tersenyum karena sedari tadi ia berbicara namun Seint tidak meresponnya. Meski jawaban ketus yang Seint berikan namun bagi Lilian itu adalah sinyal dimana Seint mulai merespon ucapan Lilian.


"Apa kamu mengusirku?" Tanya Lilian dengan nada yang ia buat-buat.


Seint menghela napas pelan. "Aku sibuk!!" Ucapnya datar.


Lilian kembali memutar otaknya memikirkan bagaimana caranya agar Seint tidak marah lagi kepadanya. Seketika Lilian tersenyum cerah dan berjalan kebelakang Seint.


Tubuh Seint mematung saat merasakan tangan Lilian melingkar di pinggangnya. Seint juga merasakan jikalau Lilian sedang menyenderkan kepala dipunggung Seint.


"Aroma tubuhmu terasa sangat nyaman." Ucap Lilian sambil menghirup dalam aroma yang menguar dari tubuh Seint.


Seint memejamkan matanya saat merasakan Lilian mulai mengendus aroma tubuh tubuh Seint. Lilian bahkan mulai mencubit kecil-kecil perut Seint.


Tidak tahan dengan kelakuan Lilian, Seint membalikan tubuhnya dan menangkup wajah Lilian dengan kedua tangannya.


"Apa kau sedang menggoda ku?" Tanya Seint serak.


Lilian menggelengkan kepalanya pelan namun tangannya mulai meraba perut Seint kembali. "Tidak! Hanya saja aroma tubuh mu sangat harum dan perut mu begitu keras. Apakah ada kotak-kotak di sini?" Tanya Lilian sambil menunjuk perut Seint.


Seint kembali memejamkan matanya saat merasakan tangan Lilian mulai meraba perutnya. "Aku adalah lelaki normal. Jika kamu terus melakukan hal ini maka aku akan tergoda." Ucapnya sambil menatap serius ke arah Lilian.

__ADS_1


"Siapa bilang kamu tidak normal? Aku hanya penasaran dengan perut mu saja." Ucap Lilian polos.


Seint memegang tangan Lilian yang sedari tadi terus saja meraba perutnya. "Tidak ada satupun gadis bangsawan yang berani memegang perut laki-laki. Walaupun Laki-laki itu adalah tunangannya sendiri." Jawabnya serak.


Lilian menatap tepat kearah mata Seint. "Benarkah? Kalau begitu maafkan aku." Ucapnya sambil menjauhkan tubuhnya.


Seint menghentikan pergerakan Lilian dengan memegang pinggang Lilian dari belakang kemudian satu tangannya memegang dagu Lilian sehingga gadis itu kembali menatap kearah mata Seint.


"Kamu yang mulai menggoda ku jadi jangan salahkan aku." Ucap Seint yang langsung mencium bibir Lilian.


Jantung Lilian berdegup kencang saat merasakan bibir lembut Seint menyentuh bibirnya. Seint mencium bibir Lilian dengan penuh kelembutan. Terbuai dengan senyuman Seint, Lilian akhirnya menutup matanya dan membiarkan Seint menciumnya tanpa ada perlawanan.


Semakin lama Lilian mulai merasakan kehabisan napas. Refleks Lilian memukul lengan Seint agar lelaki itu melepaskan ciumannya. Setelah Seint melepaskan ciumannya, Lilian akhirnya mengambil napas banyak-banyak.


Merasa pernapasannya mulai normal, Lilian kembali menatap ke arah Seint. "Apakah kamu sudah memaafkan ku?" Tanyanya polos.


Seint tersenyum kecil. "Belum." Ucapnya kemudian kembali mencium bibir Lilian.


Lilian merasa ciuman yang ini berbeda dengan yang tadi. Seint ******* pelan bibirnya, lelaki itu bahkan menggigit kecil bibir Lilian sehingga membuat Lilian meringis kesakitan. Seint bahkan memanfaatkan kesempatan saat Lilian membuka mulutnya untuk memasukan lidahnya.


Saat keduanya sedang asik terbuai dengan ciumannya, tiba-tiba pintu ruangan terbuka lebar dan munculah Artem yang membawa pedang ditangannya.


Dengan langkah cepat Artem kembali menutup pintu dengan keras. "Maafkan saya Yang Mulia. Saya tidak bermaksud mengganggu momen romantis kalian berdua. Saya ingin melapor bahwa semua persiapan telah selesai dan saya berniat mengembalikan pedang Yang Mulia yang tertinggal. Namun saya akan mengembalikannya nanti, silahkan Yang Mulia melanjutkan kegiatan yang sempat tertunda karena saya. Sekali lagi maafkan saya!!" Jelas Artem kemudian berlari menjauhi rungan Seint.


Seint memijit pelan keningnya mendengar ucapan Artem. "Apa kamu baik-baik saja?" Tanyanya sambil membalikan badan kearah Lilian.


Lilian mendorong tubuh Seint dan menatap kesal kearahnya. "Bagaimana bisa baik-baik saja!! Artem tadi sudah melihat apa yang kita lakukan tadi!!" Ucapnya.


Seint menghela napas pelan kemudian berjalan merapikan perlengkapannya. "Lalu kenapa jika Artem melihat kita? Kita sudah bertunangan jadi kamu tidak usah khawatir." Ucapnya datar.


Lilian memukul pelan keningnya. "Tidak usah khawatir bagaimana? Aku tidak bisa menatap kearahnya karena malu."


"Malu kenapa? Aku adalah seorang Pangeran Mahkota ... Banyak gadis diluar sana yang menginginkan ku, terkecuali kamu berciuman dengan laki-laki jelek baru kamu malu." Ucap Seint datar.


"Ah sudahlah!! Kamu tidak akan mengerti!" Kesalnya.

__ADS_1


"Kalau begitu ... Kamu tidak boleh berada jauh dariku!" Ucap Seint.


"Kenapa?" Tanya Lilian bingung.


"Jika Artem muncul, kamu tinggal bersembunyi dibelakang ku!!" Jelas Seint cuek.


"Kenapa harus bersembunyi dibelakang mu? Aku bisa saja bersembunyi dibelakang Kakak ku." Jawab Lilian.


"Ya sudah ... Jangan salahkan aku jika nanti Kakakmu bertanya mengapa kamu bersembunyi dibelakangnya." Ucap Seint cuek.


Lilian membulatkan matanya. "Benar juga ... Tidak mungkin aku menjawab karena menghindari Artem yang telah melihatku berciuman dengan Seint." Batin Lilian frustasi.


"Bagaimana? Kamu memilih bersembunyi dimana?" Tanya Seint.


Lilian menatap Sein kesal. "Ini semua pasti rencana mu kan?" Tanyanya ketus.


"Bagaimana bisa jadi rencana ku? Kamu sendiri yang menggodaku." Ucap Seint cuek.


"Kapan aku menggoda mu?" Tanya Lilian kesal.


Seint menatap kearah Lilian dan mengelus pelan kepalanya. "Kamu tidak boleh melakukan hal itu kepada lelaki lain karena hal itu alan dianggap bahwa kamu sedang menggodanya. Namun jika kamu sangat penasaran, kamu bisa saja melakukan hal itu kepadaku." Jelas Seint cuek.


"Jika aku melakukannya berarti aku dianggap telah menggoda mu? Bukannya sama saja!!" Ketus Lilian.


"Tentu saja berbeda, kamu adalah tunangan ku. Sekali-kali menggoda tunangan tidak akan terhitung sebagai penggoda." Jelas Seint.


Lilian menatap Seint kesal dan memukul keras tangannya. "Bilang saja itu hanya akal-akalan mu saja untuk menggoda ku." Ketusnya.


"Kamu yang menggodaku barusan!! Untung saja pertahanan ku sangat kuat!" Ucap Seint cuek.


Lilian menatap Seint kesal. "Cuek dari mananya? Kamu bahkan mencium ku dengan sangat rakus!!" Kesal Lilian.


"Tapi tetap saja kamu menikmatinya." Ucap Seint cuek.


Lilian lagi-lagi tidak bisa menjawab ucapan dari Seint. Ia kemudian berjalan kearah pintu dan berbalik menatap Seint. "Awas saja jika kamu berada dekat-dekat denganku nanti!!" Ketusnya kemudian berjalan keluar pintu dan menutup pintu dengan sangat keras.

__ADS_1


Seint hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan aneh dari Lilian.


°°°


__ADS_2