
Lilian banyak kehilangan tenaga karena sedari tadi melawan ke enam orang tersebut, belum lagi dengan kondisi Rosa yang membuat pikiran Lilian terbagi.
Saat salah satu Pria tersebut mengacungkan pedang ke arah Lilian, gadis itu hanya bisa pasrah dan memejamkan matanya.
TRAAAAANGGGG...
Terdengar bunyi pedang saling berbenturan. Lilian membuka kedua matanya dan melihat Seint sedang melawan ke enam Pria yang tadi menyerangnya.
Raut wajah marah terpancar jelas dari Seint, ia tidak memberi ampun ke enam Pria tersebut dan dengan ganasnya ia mengayunkan pedangnya untuk menebas lawannya.
Tidak membutuhkan waktu lama Seint berhasil menumbangkan ke enam pria tersebut. Setelah memastikan ke enamnya sudah tidak bergerak lagi, Seint menatap ke arah Lilian dengan raut wajah dingin.
Lilian berlari ke arah Seint dan memeluknya dengan sangat erat. "Kenapa lama sekali?" Ucapnya sambil menangis sesegukan di pelukan Seint.
Seint mengelus pelan kepala Lilian. "Apa yang kalian lakukan di sini dan dimana pengawal mu?" Tanyanya dingin.
"Aku kabur dari mereka karena ingin menyelidiki sesuatu." Ucapnya sambil memeluk erat Seint.
"Menyelidiki apa?" Tanya Seint.
"Menyelidiki kasus lama yang selalu membuat ku dalam masalah." Ucap Lilian.
Seint mendorong kedua bahu Lilian pelan dan menatap mata gadis itu yang memerah. "Apa ada yang terluka?" Tanyanya sambil melihat ke arah tubuh Lilian.
"Mereka memukul ku dan melukai Rosa." Ucapnya sambil melihat ke arah Rosa yang sekarang sudah dibantu oleh Artem.
"Seharusnya aku tidak langsung membunuh mereka tadi." Ucap Seint sambil menatap marah ke arah jasad ke enam Pria tersebut. "Urus jasad-jasad itu!" Ucapnya pada pengawal yang mengikutinya.
"Sepertinya aku harus memberi pelajaran kepada para pengawal itu, mereka seharusnya melindungi mu. Menjaga dua gadis saja tidak bisa!" kesal Seint.
"Jangan menghukum mereka, ini semua salah ku. Aku yang kabur dari mereka, tolong jangan hukum mereka." Ucap Lilian sambil kembali menangis.
Seint menghela napas pelan dan menghapus air mata Lilian. "Baiklah. Jangan menangis lagi!" Ucapnya sambil menutup tubuh Lilian menggunakan jubahnya.
Setelah mengobati luka Lilian dan Rosa, Seint kemudian membawa mereka ke sebuah kedai makanan dan memesan ruangan khusus untuk mereka.
Di atas meja sudah tersedia banyak sekali makanan yang Seint pesan namun tidak ada diantara mereka yang menyentuh makanannya ataupun mengeluarkan suara.
"Apa yang kalian lakukan di sana?" Tanya Seint memecahkan keheningan.
Rosa menunduk takut sedangkan Lilian meneguk ludah susah. "Kami sedang mencari informasi tentang penyebab semua masalah yang terjadi kepada ku?" Jelas Lilian gugup.
__ADS_1
"Maksud mu?" Tanya Seint sambil menatap tajam ke arah Lilian.
Lilian kemudian menceritakan semua yang ia ketahui termasuk informasi yang baru saja ia ketahui tadi.
"Apakah orang itu setuju bekerja sama dengan mu?" Tanya Seint.
"Ya. Untuk memastikan orang itu berkata jujur padaku atau tidak, aku berniat mengirim salah satu pengawal ku untuk melihat aktifitas mereka." Jelas Lilian.
"Yang Mulia, saya memang pernah mendengar tentang kasus itu namun memang sampai sekarang kasus itu tidak lagi dibahas entah karena alasan apa." Ucap Artem tiba-tiba.
"Selidiki kasus itu secara diam-diam jika memang orang itu adalah pelakunya maka kita harus mendapatkan bukti untuk menjatuhkannya." Ucap Seint tegas.
"Baik Yang Mulia." Ucap Artem.
Seint kemudian menatap Lilian kembali. "Jika kamu tidak ingin pengawal ikut bersama mu maka akan lebih baik Citto ikut dengan mu. Setidaknya hewan itu selalu tau kapan dan dimana posisi mu dalam bahaya." Ucap Seint datar.
"Baiklah. lain kali aku tidak akan gegabah, jika ada yang ingin aku lakukan maka aku akan memberi tahu mu terlebih dahulu. Oh iya, apa yang sedang kalian lakukan di sana?" Ucap Lilian mengalihkan pembicaraan.
Seint menatap tajam ke arah Lilian. "Kamu sangat pintar mengalihkan pembicaraan, tapi karena kamu telah bertanya maka jawablah Artem." Ucapnya yang mengagetkan Artem.
Artem mengerjapkan mata berkali-kali dan menatap Seint yang memberikan tatapan datarnya. "Kami sedang lewat dan tidak sengaja mendengar suara." Ucap Artem.
"Memangnya kalian mau kemana?" Tanya Lilian.
Lilian mengangguk singkat. "Aku boleh bertanya sesuatu?" Tanya Lilian sambil menatap takut ke arah Seint.
"Apa?" Tanya Seint.
"Apakah kejadian harimau kemarin direncanakan oleh seseorang?" Tanya Lilian serius.
Seint menatap curiga ke arah Lilian. "Kenapa?"
Lilian menengok ke kiri dan ke kanan. "Sebenarnya sebelum aku membunuh dua harimau itu, aku telah mengambil sesuatu dari kedua hewan itu." Bisik Lilian.
"Apa?" Tanya Seint penasaran.
Lilian mengeluarkan dua buah batu yang ia simpan dalam kantongnya. "Ini."
Seint mengambil dua buah batu itu dan menatap serius ke arah Lilian. "Dari mana kamu mendapatkannya?" Tanyanya.
"Aku mengambilnya dikedua leher harimau itu. Awalnya aku lupa namun setelah aku memeriksa baju yang terakhir kali aku kenakan ternyata kedua batu itu masih ada. Batu itu dijadikan kalung dileher keduanya, saya rada mereka adalah peliharaan seseorang." Jelas Lilian.
__ADS_1
Seint menghela napas pelan. "Mereka memang peliharaan seseorang, saat ini kami sedang menyelidiki kasusnya. Entah mengapa semua kasus yang kami selidiki selalu berkaitan dengan mu." Ucapnya jujur.
"Apa mungkin sebelum Yang Mulia kehilangan ingatannya, kau mengetahui sesuatu?" Ucap Artem.
"Mungkin saja Tuan Artem, semua masalah yang selalu dil alami oleh Tuan Putri, saya rasa pasti ada kaitannya dengan ingatan terdahulu." Ucap Rosa.
"Bukannya kau selalu bersamanya?" Tanya Artem.
"Benar Tuan, terkadang Tuan Putri tidak ingin memberi tahu pada siapapun apa saja yang telah dilakukannya. Maka dari itu sekarang kami ingin menyelidiki kembali jejak Yang pernah Tuan Putri lakukan dulu." Jelas Rosa takut.
Seint menatap lekat ke arah Lilian. Rosa benar, terkadang gadis itu sangat misterius. Ada saatnya Seint merasa dekat dengannya namun ada saatnya juga Seint merasa asing dengannya.
Dulu Lilian selalu terlihat bersama Fania dan Violet. Kemanapun ketiganya berada maka disitulah masalah yang akan terjadi. Lilian cenderung menunjukan sikap angkuh dan sombongnya dimuka umum namun jika bersama dengan orang-orang terdekatnya, gadis itu akan berubah menjadi sangat hangat.
Lilian selalu menunjukan sikap datar dan tidak mau tahu dengan orang-orang disekitarnya, namun siapa yang tahu dibalik kelakuan yang ia tunjukkan tersimpan hal besar yang semua orang tidak ketahui.
Lilian memiliki rasa penasaran yang tinggi, apapun yang ia anggap aneh ia selalu cenderung ingin menuntaskannya.
"Kita harus melalukan penyelidikan dari awal." Ucap Seint datar.
"Benar Yang Mulia, kita harus mengetahui dulu hal-hal apa saja yang pernah dilakukan Tuan Putri sebelum ia kehilangan ingatannya." Ucap Artem.
"Ya tentu saja." Ucap Seint datar.
"Oh iya, apakah kita hanya akan memandang makanan ini saja?" Tunjuk Lilian pada makanan yang terhidang di atas meja.
Seint tersenyum samar melihat raut wajah lucu dari Lilian. "Makanlah!" Ucapnya.
Lilian tersenyum senang. "Ayo Rosa kita makan!" Ucapnya senang kemudian ia mulai memakan makanannya.
Lilian kemudian mengambil sebuah apel yang berukuran besar dan menggigitnya. "Apal ini rasanya sangat manis dah baunya sangat harum." Batin Lilian sambil menatap senang ke arah apel.
Lilian mengerutkan keningnya saat menyadari Aroma apel tersebut. "Aroma apel ini seperti tidak asing." Batin Lilian.
"Ada apa?" Tanya Seint khawatir karena melihat perubahan raut wajah dari Lilian.
"Tidak ada! hanya saja aroma apel ini ..." Ucap Lilian mengingat.
Lilian membulatkan mata sempurna saat menyadari sesuatu. "Aroma kedua dari surat itu adalah aroma dari cuka apel. Surat itu ..." Ucap Lilian terjeda.
"Ada apa dengan surat?" Tanya Seint heran.
__ADS_1
"Ayo! kita harus cepat kembali ke kediaman ku!" Ucap Lilian sambil berdiri dari duduknya.
°°°