
Tak membutuhkan waktu yang lama kabar tentang hubungan Seint dan Lilian menyebar ke seluruh kerajaan Apollonia. Kabar itu sedang hangat-hangatnya diperbincangkan dikalangan para rakyat kerajaan Apollonia. Baik itu dari kalangan bangsawan maupun di kalangan rakyat biasa.
Banyak yang berpendapat jikalau Seint dan Lilian melangkah ke jenjang yang lebih serius maka kerajaan Apollonia akan tetap berdiri dengan kokoh untuk waktu yang sangat lama.
Lilian berasal dari keluarga yang aktif dalam mempertahankan kejayaan Apollonia, Ayahnya Duke Marven sedari remaja sangat setia dan selalu mejunjung tinggi kehormatan kerajaan Apollonia.
Kesetiaan Duke Marven bahkan diajarkan pada putra satu-satunya. Diumur Zheyan yang masih beranjak delapan tahun, Duke Marven membawa putranya itu ke medan perang dan mengajarkan Zheyan betapa kejamnya dunia, "Jika kita tak membunuh maka kita yang akan di bunuh" ucap Duke Marven saat Zheyan menangis melihat secara langsung pertumpahan darah di hadapannya.
Orang-orang berpendapat jikalau putri bungsunya menikah dengan salah satu anggota kerajaan maka Duke Marven akan sepenuh hati menjaga kerajaan Apollonia.
Sebagian orang juga berpendapat bahwa hubungan Seint dan Lilian termasuk dalam hubungan politik yang sama-sama menguntungkan. Keluarga kerajaan akan di untungkan dengan kesetiaan penuh dari Duke Marven sedangkan keluarga bangsawan Duke Marven akan diuntungkan dalam hal popularitas yang terus meningkat.
Namun beda halnya dengan pendapat yang dipikirkan oleh Raja Thanos, ia memilih Lilian sebagai pendamping Seint karena menurutnya hanya gadis itu yang pantas bersanding dengan putranya, kecerdasan yang di miliki oleh gadis itu serta caranya menyelesaikan setiap masalah membuat Raja Thanos yakin padanya, selain itu Raja Thanos dapat melihat aura kepemimpinan yang kuat terpancar dari gadis itu.
Sedangkan yang dipikirkan oleh Duke Marven sendiri adalah semata hanya demi kebahagiaan putrinya sendiri, jika Lilian mengatakan tidak maka dengan cara apapun ia akan membuat semua orang menerima keputusan putrinya.
Semakin hari kabar tersebut semakin menyebar bahkan kabar tersebut mulai terdengar di luar kerajaan. Itulah yang membuat Lilian enggan meninggalkan kediamannya dan berdiam diri di kamarnya selama beberapa hari.
Selama beberapa hari Lilian membunuh rasa bosannya dengan membaca buku dan melihat kembali petunjuk-petunjuk yang di tinggalkan oleh Lilian asli.
Saat ini Lilian sedang membuka kembali surat yang terakhir kali ia buka dan lagi-lagi aroma itu tercium jelas di hidungnya.
"Aku yakin aroma ini yang tercium dari tubuh pria itu, namun surat ini memiliki aroma lain...aku seperti familiar dengan aromanya namun lupa aroma apa ini." Batin Lilian.
Rosa datang dan menunduk. "Nona...tidakkah anda mau keluar? Rasanya berbeda sekali dengan dirimu yang selalu tidak betah berada dalam kamar." Ucap Rosa takut.
"Sepertinya kau mulai menikmati udara luar Rosa." Ucap Lilian sambil memandang curiga ke arah Rosa.
"Ahhhh bukan seperti itu Nona...maksud ku..." Ucap Rosa terhenti karena Zheyan tiba-tiba datang memasuki kamar Lilian.
"Apa yang kau lakukan Lilian? Selama beberapa hari kau tidak pernah keluar dari kamar mu." Ucap Zheyan yang langsung duduk di samping Lilian.
Lilian menggulung surat yang berada ditangannya dengan cepat dan memberikannya kepada Rosa agar menyimpannya dengan aman.
"Aku sedang ingin menghabiskan hariku dengan membaca kembali buku-buku lama yang aku lupakan." Ucap Lilian.
"Kau sedang tidak bersembunyikan?" Tanya Zheyan.
"Sembunyi dari siapa?" Tanya Lilian kembali dengan bingung.
"Bukan sembunyi dari siapa...namun sembunyi dari kabar yang sedang beredarkan?" Tanya Zheyan.
"Ti...tidak...si...siapa yang bersembunyi dari kabar itu?" Ucap Lilian gugup.
"Kau tidak harus berbohong dari Kakak, saran yang bisa Kakak berikan kepadamu adalah hadapilah semua yang terjadi...jika kau terus bersembunyi seperti ini maka kau hanya akan terus bersembunyi dan orang-orang akan menyebut mu sebagai pecundang." Jelas Zheyan.
"Aku bukan pecundang." Ucap Lilian tegas.
"Maka dari itu kau tak boleh menutup dirimu terus...apa masalahnya kalau kau punya hubungan dengan Pangeran Mahkota ? Bukankah itu yang kau inginkan sedari dulu?" Ucap Zheyan.
__ADS_1
"Aku tak pernah menginginkannya." Ucap Lilian cemberut.
Zheyan tersenyum lalu mengusap pelan kepala Lilian. "Kau bahkan pernah memaksa Ayah menggunakan kedudukannya agar menjodohkan mu dengan Pangeran Mahkota."
Lilian membuka mata lebar-lebar. "Apa? Aku melakukannya dulu?" Tanya Lilian dengan suara tinggi.
Zheyan mengangguk singkat. "Iya...kau bahkan menangis kencang dan merajut ke kediaman Asgar selama beberapa hari." Ucap Zheyan sambil mengingat kembali kelakuan Lilian dulu.
"Kakak bercanda aku tidak akan mungkin melakukan hal konyol seperti itu." Ucap Lilian tak percaya.
"Kalau kau tak percaya tanyakan saja ke Ayah, Ibu, Asgar atau..." Ucap Zheyan gantung dan tersenyum cerah.
"Atau siapa? Pangeran Seint? Aku oernah memintanya langsung menikahinya?" Tanya Lilian sambil menelan ludahnya gugup.
"Mungkin juga...kau pernah meminta langsung padanya..." Ucap Zheyan.
"Kalau bukan dia lalu siapa?" Tanya Lilian kembali.
Zheyan kembali tersenyum. "Permaisuri."
"Apa?" Pekik Lilian keras, "Lilian yang asli pasti dulu sangat gila." Batin Lilian lalu kembali menatap Zheyan. "Apa yang aku lakukan pada permaisuri?" Tanya Lilian kembali.
"Aissss sudahlah...pembahasan ini tidak akan pernah habis kalau menyangkut kelakuan mu dulu...Kakak kesini berencana mengajak mu keluar dan sekarang lebih baik kau ganti baju mu, gunakan baju yang memiliki celana panjang." Ucap Zheya.
"Memangnya kita akan keluar kemana?" Tanya Lilian bingung.
"Benarkah?" Ucap Lilian senang lalu memeluk Zheyan erat. "Aku sangat menyayangi mu Kakak, kau adalah Kakak yang terbaik." Lanjutnya.
Zheyan tersenyum melihat kelakuan Lilian. "Makanya cepat ganti baju sana, Asgar pasti telah menunggu lama, hari ini kami spesial meninggalkan pekerjaan kami untuk bersama mu."
"Ahhhh kalian adalah Kakak terbaik." Lilian kemudian berlari ke kamar mandi dan mengganti bajunya.
Zheyan menggeleng pelan melihat kelakuan Lilian yang tidak pernah berubah meski ia kehilangan ingatannya.
°°°
Disinilah Zheyan, Asgar, dan Lilian berada ditempat pacuan kuda terbesar di kerajaan Apollonia. Setelah Lilian selesai mengganti pakaiannya dengan pakaian yang memiliki celana panjang, ia bersama Zheyan menuju tempat Asgar menunggu dengan kudanya. Perjalanan mereka menuju tempat kuda dipenuhi dengan banyak pertanyaan dari Lilian yang tak pernah habis.
"Apakah kita akan berlatih disini?" Tanya Lilian setelah turun dari kuda Zheya.
"Iya...disini adalah tempat pacuan kuda terbesar di kerajaan Apollonia...disini juga tempat berlatih kudanya para prajurit." Jelas Asgar.
"Wahh...apakah aku akan dilatih layaknya seorang prajurit?" Tanya Lilian semangat.
Zheyan dan Asgar tertawa mendengar ucapan Lilian.
"Kau adalah gadis kecil si kaki pendek yang baru mau belajar menunggangi kuda...sok-sokan mau dilatih seperti prajurit." Ucap Seint.
Zheyan, Asgar, dan Lilian berbalik dan menatap ke arah Seint yang tiba-tiba datang bersama dengan Artem. Zheyan dan Asgar sedikit membungkukkan badannya dan memberi hormat kepada Seint.
__ADS_1
Lilian mengerucutkan mulutnya dan menatap sinis ke arah Seint. "Aku tidak berbicara dengan mu dan lagipula sedang apa kau kesini?" Tanya Lilian sinis.
"Berlatih kuda memangnya apalagi?" Ucap Seint datar.
"Maksud ku...kenapa harus kesini?" Tanya Lilian.
"Karena disini tempatnya." Ucap Seint cuek.
"Ahhh sudahlah." Ucap Lilian frustasi, "Kamu harus berlatih sedikit lebih jauh dariku." Lanjutnya.
"Kenapa?" Tanya Seint menatap tajam ke arah Lilian.
"Ak...aku...tidak akan takut dengan tatapan mu, sana...sana...menjauh sedikit dari tempatku berlatih." Usir Lilian.
Seint berjalan mendekati Lilian lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Lilian. "Tunggu setelah kau selesai berlatih menunggangi kuda...aku akan memberi hukuman termanis untuk mu." Ucap Seint tersenyum manis lalu mengusap pelan kepala Lilian. "Karena itu tetaplah bersikap baik karena aku akan terus mengawasi mu." Ucapnya lalu berjalan menjauhi Lilian.
Lilian terdiam cukup lama dan tersadar, "KAU..." Teriak Lilian frustasi, "Dasar datar...mesum." Batin Lilian.
Zheyan dan Asgar pun segera mengajak Lilian berlatih menunggangi kuda karena semakin lama dibiarkan Lilian akan menggunakan banyak kata-kata cantiknya untuk menyumpah serapah Seint.
Setelah berlatih cukup lama, Lilian sudah bisa menaiki kudanya sendiri tanpa bantuan dari Zheyan maupun Asgar. Lilian mendengarkan dengan seksama penjelasan dari Zheyan maupun Asgar saat menaiki kuda.
"Jika kau ingin mempercepat laju kudanya...kau harus menyentak tali kekang kudanya dan menghentakkan kedua kaki mu." Ucap Zheyan.
Lilian mengangguk dan menyentak tali kekang kudanya dan menghentak pelan kakinya, kuda pun berlari sesuai arahan Lilian. Kemudian Lilian mengarahkan kudanya kembali ke arah Zheyan dan Asgar berdiri.
"Turunlah dan ayo beristirahat sebentar, kau bisa melanjutkan latih mu setelah kau memakan sesuatu." Ucap Asgar.
"Biarkan aku menunggangi kuda satu putaran lagi dan setelah itu aku berjanji akan beristirahat." Ucap Lilian harap.
Zheyan menghela napas pelan. "Baiklah...setelah itu kau segera ke sana dan beristirahat." Tunjuk Zheyan ke salah satu tempat peristirahatan.
"Baiklah." Ucap Lilian senang.
Setelahnya Zheyan dan Asgar berjalan ke tempat peristirahatan yang juga ditempati oleh Seint dan Artem.
"Kenapa Lilian tidak ikut beristirahat apakah ia tidak merasa lelah?" Tanya Artem setelah melihat Zheyan dan Asgar sampai.
"Katanya ia akan beristirahat setelah satu putaran lagi." Ucap Zheyan kemudian duduk dan meminum minuman didepannya.
Mereka kemudian melanjutkan obrolan seputar bisnis yang sedang mereka kerjakan, tak lama setelahnya mereka mendengar teriakan dari Lilian yang begitu kencang.
Mata mereka terbuka sangat lebar saat melihat kuda yang Lilian naiki bereaksi sangat aneh, seperti kuda yang terlihat kesakitan dan berlari kencang ke arah hutan dengan Lilian yang masih berada diatasnya.
"LILIAN..." Teriak mereka bersamaan, kemudian mereka berlari mengambil kuda masing-masing dan mengejar kearah kuda yang membawa Lilian diatasnya.
°°°
Halo para Raiders....Author kembali lagi dengan Part baru... Selama membuat Part ini Author mendengarkan lagu "We are Bulletproof : the Eternal" yang dinyanyikan oleh BTS....Rasa capek mikir pun hilang 🤭
__ADS_1