
Lilian menunduk sedih mendengar pertanyaan Seint. "Apakah kalian merindukannya?" Tanyanya.
"Apa yang kamu pikirkan? Jika penjelasan mu benar itu artinya kalian tetap satu orang." Ucap Seint heran.
Lilian menghela napas pelan. "Benar juga. Jiwa pada masa lalu ku ada di raga masa depan ku." Ucapnya.
"Kalian bertukar kehidupan?" Tanya Zheyan.
Lilian menggeleng pelan. "Aku tidak tahu, terakhir kali jiwa masa lalu ku bilang ia hanya menjaga raga ku dan tidak bisa mengendalikan raga ku seperti yang aku lakukan sekarang." Jelas Lilian.
"Menjaga?" Tanya Seint sambil mengerutkan kening.
Lilian mengangguk pelan. "Iya." Ucapnya.
"Itu artinya kamu bisa kembali sewaktu-waktu?" Tanya Seint penasaran.
"Sepertinya iya." Ucap Lilian.
Seint menatap tajam ke arah Lilian. "Entah mengapa aku merasa tidak rela." Batinnya.
"Tidak bisakah kau tetap tinggal?" Tanya Asgar.
Lilian menggeleng pelan. "Aku tidak tahu ... Aku tidak bisa menebak apa yang akan terjadi padaku untuk kedepannya." Ucap Lilian.
"Tetaplah di sini!!" Ucap Seint tegas.
Lilian tersenyum pahit. "Bukankah sama saja? jiwa masa lalu dan jiwa masa depan adalah orang yang sana." Ucap Lilian.
"Entah mengapa aku merasa tidak rela meski aku tahu kalian adalah satu orang yang sama." Ucap Zheyan sendu.
Lilian tersenyum senang mendengar ucapan Zheyan. "Mungkinkah Kakak telah menyayangi Lilian masa depan?" Ucap Lilian berkaca-kaca.
"Tidak peduli kamu Lilian masa depan atau masa lalu, kamu tetaplah Lilian kami." Ucap Zheyan sambil memeluk erat tubuh Lilian yang diikuti oleh Asgar.
Seint menatap jengkel ke arah Zheyan dan Asgar. "Ekhmmm bisa kita lanjutkan pembahasan kita sebelumnya?" Ucapnya kesal.
Zheyan dan Asgar melepas pelukannya pada Lilian dan menatap Seint canggung. "Maafkan kami Yang Mulia." Ucap keduanya barengan.
Seint mengangguk singkat kemudian menatap tajam ke arah Lilian. "Jika kamu berada di sini itu artinya pemanggilan roh telah dilakukan." Ucapnya.
"Tidak heran jika Citto menyukai Lilian, bisa saja Lilian adalah salah satu orang ya g terpilih untuk kembali ke masa lalu dan memperbaiki sesuatu yang salah." Ucap Zheyan.
"Usahakan informasi ini hanya kita yang tahu dan jangan sampai ada orang lain yang mengetahuinya." Ucap Seint tegas.
"Benar, jika masalah ini diketahui oleh orang lain, bisa saja Lilian berada dalam bahaya lagi." Ucap Asgar.
__ADS_1
"Baiklah ... masalah ini hanya akan diketahui oleh kita saja, untuk selanjutnya bisakah kita melihat barang lainnya yang berada di buntelan itu?" Tanya Artem.
Seint mengangguk pelan. "Ya. Bacalah buku itu secara keseluruhan dan sampaikan kepada kami apa isinya tanpa ada yang terlewati." Ucap Seint menekan kata-kata terakhirnya.
Semua orang mengangguk menyetujui ucapan dari Seint. Lilian hanha menghela napas pelan. "Baiklah."
"Perlihatkan barang lain dari buntelan itu!" Ucap Seint.
Lilian menyimpan buku itu dengan aman dan mulai mengeluarkan barang lain dari buntelan kain tersebut. Lilian mengeluarkan sebuah botol kecil yang berisi serbuk didalamnya dan menunjukkannya pada semua orang.
"Apa ini?" Tanyanya sambil menunjukan botol kecil itu.
Seint mengambil botol kecil itu dan membukanya. "Sepertinya obat pembunuh tanaman." Ucapnya kemudian memberikan botol kecil itu pada Asgar.
Asgar memeriksa obat itu dan mengerutkan kening bingung. "Benar Yang Mulia namun apa yang Lilian lakukan dengan obat ini." Ucapnya sambil menatap Lilian serius.
"Jangan menatap ku seperti itu, aku tidak akan tahu jawaban yang kalian pikirkan." Ucap Lilian sambil melihat barang lainnya dalam bentulen itu.
"Tidakkah ada ingatan masa lalu mu yang bisa saja kamu ingat dengan raga itu?" Tanya Zheyan penasaran.
"Tidak ada!!" Ucap Lilian kemudian mengeluarkan sebuah medali dalam buntelan itu. "Sepertinya aku pernah melihat medali ini." Ucap Lilian sambik memeriksa medali tersebut.
"Ini milik Tuan Marquis Gaustark." Ucap Artem saat memeriksa medali tersebut.
"Benar. keluarga bangsawan Marquis Gaustark sering menggunakan medali itu untuk mengenalkan identitas mereka." Ucap Zheyan memastikan.
Lilian kemudian mengambil sebuah belati yang memiliki ukiran rumit di bagian sarung dan pegangannya. "Sebuah belati." Ucapnya sambil memberikan belati tersebut pada Zheyan.
Seint membulatkan mata sempurna saat melihat belati tersebut dan mengeluarkan belati tersebut dari sarungnya. Ada bekas darah yang masih tertinggal pada belati tersebut.
"Ini adalah belati turun temurun mengapa bisa ada di sini?" Ucap Seint bingung.
Artem terkejut mendengarnya. "Yang Mulia yakin?" Tanyanya.
"Saya sangat yakin, belati ini seharusnya berada ditempat yang tidak di ketahui oleh orang lain selain anggota kerajaan namun mengapa belatinya ada di sini?" Ucapnya bingung.
"Apa mungkin belatinya telah di curi." Ucap Lilian.
"Mungkin saja, belati ini masih memiliki bekas darah." Ucap Seint datar.
"Apa mungkin belati itu yang digunakan untuk mengambil darah keturunan King?" Celutuk Lilian tidak sadar.
"Bisa jadi seperti itu." Ucap Artem cepat.
"Sepertinya masalah ini semakin membingungkan." Ucap Asgar.
__ADS_1
"Saya secepatnya harus menanyakan hal ini kepada Ayah." Ucapnya lalu menatap Lilian serius. "Bisakah aku membawa belati ini?" Tanyanya.
Lilian mengangguk pelan. "Tentu saja, belati itu milik pihak Istana sudah sewajarnya kamu membawanya pulang." Ucap Lilian.
Lilian kemudian mengambil sebuah cincin kecil yang berada didalam buntelan tersebut. "Apa kalian mengenali cincin ini?" Tanya Lilian sambil menunjukan cincin tersebut.
Asgar mengambil Cincin tersebut dari tangan Lilian dan memeriksanya. "Cincin ini berasal dari kerajaan Elmore." Ucapnya
"Kau yakin?" Tanya Zheya memastikan.
Asgar mengangguk pelan. "Ada lambang kerajaan Elmore di dalamnya." Ucapnya sambil menyerahkan cincin itu pada Seint.
"Benar, Cincin ini hanya dimiliki oleh pewaris kerajaan." Ucap Seint sambil memegang keras cincin tersebut.
"Sebaiknya kita bergerak cepat untuk mengungkap masalah ini, jika semakin lama kita hanya berdiam diri saja takutnya mereka telah merencanakan hal yang tidak diinginkan." Ucap Lilian serius.
"Benar Yang Mulia, sebaiknya kita segera bergerak." Ucap Artem.
"Ya, kita akan menyusun rencana agar memancing mereka keluar dengan sendirinya." Ucap Seint datar lalu menatap Lilian. "Masih adakah barang di dalamnya?" Tanyanya.
Lilian mengangguk pelan. "Iya ... tersisa satu buku lagi." Ucapnya sambil mengeluarkan buku tersebut.
Kali ini Seint yang memeriksa buku tersebut dan membuka halaman demi halaman dengan kening mengerut. "Sepertinya ini adalah buku mantra." Ucapnya.
Artem mengambil dan memeriksa isi buku tersebut. "Sepertinya benar, ini adalah buku mantra." Ucapnya.
"Saya tahu orang yang bisa mengartikan mantra dan saya jamin orang ini akan menjaga rahasia kita dengan aman." Ucap Asgar.
"Kalau begitu atur pertemuan dengan orang itu secepatnya!" Ucap Seint.
"Baik Yang Mulia." Ucap Asgar sambil menunduk hormat.
Seint menatap ke arah Lilian. "Siapkan kegiatan panen secepatnya jika kamu senggang baca buku itu dengan teliti dan jelaskan pada kami isinya." Ucapnya.
"Baiklah." Ucap Lilian.
"Terus pantau kediaman Marquis Gaustark dan temukan siapa saja yang keluar masuk kediamannya." Ucapnya pada Artem.
"Baik Yang Mulia." Ucap Artem.
Terakhir Seint menatap ke arah Zheyan. "Cari tahu dimana Tuan Marquis Gaustark mengirim dan menerima barang!" Ucapnya.
"Baik Yang Mulia." Ucap Zheyan.
Seint menghela napas pelan. "Saya akan memastikan beberapa hal kepada Ayah." Ucapnya sambil menatap belati ditangannya.
__ADS_1
°°°