Bukan Dunia Novel

Bukan Dunia Novel
38. Sahabat


__ADS_3

Semua orang nampak khawatir melihat kondisi Lilian yang sedari tadi kejang-kejang. Semua usaha pengobatan telah tabib lakukan namun tak ada satupun pengobatan yang berhasil membuat Lilian bangun dari tidurnya.


Setelah lama Lilian kejang-kejang nafas gadis tersebut mulai menghilang membuat semua orang yang berada di dalam ruangan panik bukan main. Namun secara mengejutkan Lilian terbangun dari tidurnya dengan napas ngos-ngosan membuat semua orang yang berada dalam ruangan mendekat ke arahnya.


"Apakah kau mau minum?" Tanya Ibunya Illyria khawatir.


Lilian mengangguk cepat dan meraih segelas air yang diberikan oleh Ibunya lalu menghabiskannya dalam beberapa teguk saja dengan bantuan Zheyan yang mengangkat sedikit bahunya.


"Apakah kau merasa kesakitan?" Tanya Seint khawatir.


Lilian mengangguk singkat. "Tangan dan badan ku sakit semua." Ucapnya serak.


"Tabib periksa kondisinya...kalau ada yang kau butuhkan untuk mengobatinya langsung katakan saja." Ucap Seint.


Semua orang tampak tertegun mendengar ucapan Seint yang begitu mengkhawatirkan kondisi Lilian. Dengan gugup tabib pun memeriksa kembali kondisi Lilian saat melihat Seint mengarahkan tatapan mengancam kepadanya.


"Ko..kondisi Nona Lilian sudah mulai membaik namun hanya saja tubuhnya memang terasa sangat sakit dikarena kan seluruh tubuhnya dipenuhi luka gores...hamba sudah membuatkan ramuan untuk penghilang rasa sakitnya." Ucap tabib menunduk takut.


"Lalu bagaimana dengan bekas lukanya? Bagaiman pun dia adalah seorang wanita...tidak ada wanita di dunia ini yang menginginkan tubuhnya di penuhi dengan luka kalaupun ada itu adalah terpaksa." Ucap Duke Marven.


"Tuan tenang saja untuk lukanya saya sudah membuatkan salep yang tidaka akan meninggalkan bekas luka di tubuhnya." Ucap tabib.


"Baguslah kalau begitu." Ucap Asgar.


"Kalau tidak ada yang perlu saya lakukan lagi saya mohon undur diri...saya akan datang setiap hari untuk memeriksa kondisi Nona Lilian." Ucap tabib.


"Ya...kau boleh pergi." Ucap Duke Marven.


Tabib itupun segera pergi setelah di ijinkan, ia takut berada lama-lama di sana saat melihat tatapan tajam terus yang dilayangkan oleh Seint kepadanya. Setelah kepergian tabib tersebut semua perhatian tertuju kembali pada Lilian.


"Apa kau ingi makan sesuatu?" Tanya Illyria.


Lilian menggeleng singkat tanda tidak mau. "Tidak." Ucapnya lemah.


"Kau harus makan sedikit saja yah...dari kemarin perut mu tidak terisi apapun...tunggu sebentar yah...Ibu akan membuatkan mu bubur." Ucap Illyria sambil berjalan keluar kamar Lilian.


"Kakak..." Panggil Lilian lemah ke arah Zheyan.

__ADS_1


"Ya...apa kau membutuhkan sesuatu?" Tanya Zheyan.


"Bagaimana dengan keadaan kuda ku?" Tanya Lilian polos.


Semua mata menatapnya tak percaya. "Kau bahkan baru lolos dari maut saat kau terbangun malah keadaan kuda yang kau tanyakan." Ucap Duke Marven.


"Ayah jangan marah...ia adalah kuda yang membantu ku belajar, bagaimanapun ini bukan salahnya." Ucap Lilian.


Duke Marven menghela napas pelan. "Terserah kau saja...karena kondisi mu sudah mulai membaik...Ayah akan pergi mengurus kuda itu." Ucap Duke Marven kesal.


Setelah kepergian Ayahnya, Lilian kembali menatap Zheyan. "Apakah ayah akan membuang kuda itu?" Tanya Lilian.


Zheyan tersenyum. "Tidak mungkin...kalau kau menginginkannya...Ayah pasti akan mengurus kuda itu dengan baik." Ucap Zheyan.


Lilian tersenyum singkat dan menatap ke semua orang. "Kalian semua berada di sini dari kapan?" Tanya Lilian ke arah Seint dan Artem.


"Kami datang sejak pagi...khawatir dengan kondisi mu yang sejak kemarin tidak sadar-sadar." Ucap Artem.


"Kalian tenang saja...kondisi ku baik-baik saja kok...hanya saja kepala ku sedikit terasa sakit." Ucap Lilian sambil memegang kepalanya.


"Kayaknya tabib itu tidak memberikan mu obat yang benar." Ucap Seint marah.


"Kalau begitu lebih baik kau istirahat saja dulu...nanti kalau sudah bangun kau harus makan yang banyak ya." Ucap Zheyan lembut.


Lilian mengangguk pelan kemudian Kembali memejamkan matanya, tak lama napas teratur terdengar menandakan Lilian sudah kembali tertidur.


°°°


Selama beberapa hari beristirahat di kamarnya, Lilian kedatangan banyak tamu mendadak seperti kedua sahabatnya yaitu Violet dan Fania yang langsung datang ke kediaman Lilian saat gadis itu tahu bahwa Lilian mengalami sedikit insiden.


Saat pertama menginjakkan kakinya kembali ke kamar Lilian, Fania berpikir kalau Lilian tidak akan mengenalinya namun di luar dugaan Lilian dapat mengenal Fania hanya dengan cerita Violet saja.


Fania dan Violet kembali menceritakan persahabatan mereka yang selalu membuat banyak orang merasa jengkel dengan kelakuan mereka. Kedatangan kedua sahabatnya ternyata membuat Lilian merasa terhibur. Fania dan Violet banyak menceritakan kembali tentang kelakuan mereka yang selalu mengerjai orang lain.


"Lilian apa kau ingat insiden saat kau berpura-pura pingsan dihadapan Pangeran Seint?" Tanya Fania.


Lilian menggeleng pelan sambil tersenyum kecil. "Maaf tapi aku tidak mengingatnya." Ucap Lilian nggak enak.

__ADS_1


"Tenang saja...di sini ada kami berdua maka kami akan menceritakan kejadian-kejadian lucu yang pernah kita alami." Ucap Violet heboh.


"Kau tau? Itu salah satu kejadian yang paling lucu." Ucap Fania sambil tertawa terbahak-bahak bersama Violet.


"Memangnya apa yang aku lakukan sehingga membuat kalian berdua tertawa seperti itu?" Tanya Lilian penasaran.


Fania berhenti tertawa lalu menatap ke arah Lilian. "Saat itu si muka dua sedang ingin mengungkapkan perasaannya kepada Pangeran Seint di depan banyak orang." Ucap Fania menahan tawanya.


"Siapa si muka dua?" Tanya Lilian bingung.


"Raina...kau sendiri yang memberikan gelar itu padanya...gadis itu sangat pandai bersandiwara di depan banyak orang dan selalu melemparkan kesalahannya kepada kita." Jelas Violet.


Lilian mengangguk singkat. "Lalu apa yang terjadi selanjutnya?" Ucapnya.


Fania dan Violet tertawa terbahak-bahak sebelum menceritakan kelanjutannya.


"Aissss kalian ini...ayo cepat ceritakan." Ucap Lilian kesal.


"Kau masih saja tak sabaran Lilian." Ucap Violet.


"Ayo lanjutkan!" Ucap Lilian.


"Baiklah...baiklah...saat itu si muka dua sedang bersiap mengungkapkan perasaanya pada Pangeran Seint namun entah ide darimana kau berjalan mendekati Pangeran Seint dan pura-pura pingsan di hadapannya." Jelas Fania.


"Lalu?" Tanya Lilian penasaran.


"Karena kau pingsan tepat di hadapan Pangeran Seint...maka dengan cepat ia membawa mu pergi dari tempat itu..." Jedanya Fania sebentar. "Kami juga penasaran dan mengikuti kemana Pangeran Seint membawa mu...dan kau tau dia membawa mu kemana?" Tanya Fania menahan senyumnya.


"Di mana?" Tanya Lilian polos.


"Dia menceburkan mu ke dalam kolam teratai setelah memastikan tidak ada orang yang melihat kalian...sedari awal dia tau kalau kau hanya pura-pura pingsan saja...merasa tidak terima dengan perlakuan Pangeran Seint terhadap mu...kau malah menariknya masuk kedalam kolam dan terjadilah perang teratai antara dirimu dan Pangeran Seint." Jelas Fania.


"Keesokan harinya si muka dua kembali dengan sandiwaranya dan membuat nama mu buruk." Ucap Violet.


"Awas saja si datar itu datang nanti..." Ucap Lilian kesal.


Fania dan Violet kembali tertawa melihat reaksi Lilian yang sama persis saat kejadian itu. Mereka kemudian melanjutkan cerita-cerita lain yang pernah mereka lalui sebelumnya. Lilian merasa sangat bahagia bertemu dengan Fania dan Violet. Di kehidupannya yang dulu Lilian tidak mempunyai sahabat di karenakan pekerjaan Ayahnya yang selalu berpindah tempat dan mengharuskannya selalu berpindah sekolah tiap ayahnya berpindah tempat.

__ADS_1


°°°


Selamat membaca para Raiders ter ❤️❤️❤️


__ADS_2