Bukan Dunia Novel

Bukan Dunia Novel
25. Mentega II


__ADS_3

Setelah selesai membuat bubuk kopi, Zheyan, Lilian, dan Artem kembali ke tempat pembuatan mentega. Sesampainya mereka langsung memerintahkan para pelayan untuk mengambil wadah yang berisi es tadi.


"Isi setengah bagian wadah dengan air dan es batu, lalu rendam wadah berisi krim di dalamnya, diamkan wadah sampai krim terasa dingin ketika disentuh." Ucap Lilian.


Pelayan bergerak cepat sesuai arahan dari Lilian. Kemudian setelah krim terasa dingin, Lilian memerintahkan para pelayan untuk memasukan krim ke dalam wadah yang berukuran kecil dan mempunyai penutup yang rapat lalu mengocok wadah berisi krim selama 5 sampai 12 menit. Kemudian Lilian memerintahkan para pelayan untuk mengocok krimnya dengan kuat hingga beratnya terasa bertambah.


"Letakkan beberapa kain di atas mangkuk dan tuangkan mentega ke atas kain, tuangkan cairan serta mentega padat yang terbentuk di dalam wadah ke dalam mangkuk melalui saringan berlapis kain, cuci mentega yang tertinggal di atas saringan dengan air es dan tarik seluruh sudut kain ke atas hingga terbentuk kantong berisi mentega, lalu rendam kantong di dalam mangkuk berisi air es, angkat dan rendam kantong secara terus-menerus selama sekitar 30 detik." Jelas Lilian panjang.


Para pelayan segera bergerak sesuai arahan Lilian. Kemudian ia memerintahkan para pelayan agar mencuci mentega kembali dalam mangkuk berisi air es yang baru.


"Teruslah mencuci mentega hingga warna air kembali jernih, uleni mentega dengan sendok kayu dan masukkan mentega yang sudah memadat ke sebuah wadah berukuran kecil, lalukan hingga tidak ada cairan yang tersisa di dasar wadah." Ucap Lilian.


Lilian menghela napas pelan saat melihat pekerjaannya hampir selesai, tubuhnya terasa remuk karena terlalu banyak beraktifitas.


"Akhirnya sebentar lagi selesai juga." Ucap Lilian.


"Apakah semua sudah jadi?" Tanya Zheyan.


"Jika para pelayan sudah selesai menguleni mentega, langkah terakhirnya adalah memasukan mentega ke dalam wadah dan menutupnya rapat-rapat setelah itu kita hanya perlu menunggunya sampai beberapa minggu." Jelas Lilian.


Zheyan dan Asgar hanya mengangguk mendengar ucapan Lilian. Sebenarnya mereka tak mengerti apa yang sedang mereka kerjakan. Ingin rasanya mereka bertanya namun melihat semangat dari Lilian membuat mereka mengurungkan niat untuk bertanya dan memberikan gadis itu kesempatan.


Bagi keduanya tidak mengapa kalah dalam festival itu karena pada kenyataannya setiap tahun mereka akan kalah juga. Jadi mereka membiarkan Lilian melakukan hal yang ia sukai.


Saat Zheyan dan Asgar larut dalam pikiran masing-masing, tiba-tiba Lilian menarik tangan keduanya.


"Ayo kita pergi...kenapa kalian masih berdiri dan tak bergerak." Ucap Lilian yang masih menarik tangan keduanya.


"Memangnya kita mau kemana?" Tanya Asgar bingung.


"Ya...kita mau pulang, semua pekerjaan sudah selesai, apakah kalian tidak mau beristirahat?" Tanya Lilian bingung.


"Pekerjaannya sudah selesai?" Tanya Zheyan bingung.


"Sudah...lihat saja." Ucap Lilian sambil menunjuknya dengan dagu.


"Oh iya sudah selesai." Ucap Zheyan dan Asgar barengan.


"Kalian terlalu asik melamun." Ucap Lilian


Zheyan dan Asgar hanya tersenyum kikuk menyadari kebodohan mereka masing-masing.


"Kalau begitu Kakak pulang dulu, besok Kakak akan kesini lagi." Ucap Asgar.

__ADS_1


"Ya sudah kalau begitu." Ucap Lilian.


Setelah Asgar kembali ke kediamannya, Zheyan dan juga Lilian kembali ke kamar mereka masing-masing untuk beristirahat.


°°°


Sesampainya Lilian ke kamarnya, ia segara melepas bajunya dan berendam dalam bak yang sudah diberi aroma bunga daisy. Lilian menghirup aroma yang selalu membuatnya tenang itu dalam-dalam.


"Aroma bunga ini membuatku merasa segar kembali walau sudah banyak beraktifitas seharian." Batin Lilian sambil memejamkan matanya.


Setelah beberapa lama, Lilian keluar dari bak mandi dan mengenakan baju tidurnya.


"Rosa bisakah kau membuatkan ku minuman yang membantu menghilangkan rasa pegal? Tubuhku terasa sangat sakit semua." Ucap Lilian saat ia baru saja keluar dari kamar mandi.


"Baik Nona." Ucap Rosa dan langsung keluar dari kamar Lilian.


Lilian berbaring diatas ranjangnya dan memejamkan mata. Saat matanya masih tertutup Lilian merasakan tubuhnya di pijat oleh seseorang.


"Rosa kau baik sekali, tubuhku memang sakit semua." Ucap Lilian sambil masih memejamkan matanya.


"Jangan terlalu memaksa mu terlalu berat Lilian." Ucap suara berat.


Lilian kemudian membuka kedua matanya dan kaget melihat kedua orang tuannya sedang berada didepannya. Lilian pikir yang memijit tangan serta kakinya adalah Rosa ternyata ibunya.


"Ibu jangan memijit ku lagi." Ucap Lilian sambil melepaskan tangan ibunya.


"Tapikan ibu..." Ucap Lilian yang langsung dipotong oleh Duke Marven.


"Biarkan ibumu memijit mu." Ucap Duke Marven.


Lilian melirik ke arah ayahnya yang sedang duduk diujung ranjang. "Baik ayah." Ucapnya pasrah.


"Ayah tau kau sangat bersemangat dalam festival ini namun kau juga harus tau sampai mana batasan mu, ayah mengijinkan mu untuk membuktikan kebenaran dari ucapan mu tetapi ayah tidak mengijinkan mu untuk sakit seperti ini." Ucap Duke Marven.


"Ayah...Lilian baik-baik saja kok, hanya perlu beristirahat sedikit saja besok pagi juga pasti sudah segar kembali." Ucap Lilian sambil tersenyum.


"Ayah mu benar sayang." Ucap Illyria lembut, "Kau tak perlu memaksakan dirimu, jika kau kecapean maka beristirahatlah beberapa hari." Lanjutnya.


"Lilian tak apa-apa kok ibu, lagian semua bahan yang Lilian perlukan sudah tersedia semua tinggal diproses menjadi makanan dan minuman saja, besok ayah dan ibu jangan kemana-mana dulu." Ucap Lilian.


"Kenapa?" Tanya Duke Marven.


"Bubuk coklat dan kopi sudah siap dibuat minuman, rencananya Lilian akan membuatnya besok." Ucap Lilian senang.

__ADS_1


"Coklat dan kopi?" Tanya Illyria bingung.


Lilian mengangguk senang. "Buah dari pohon kakao diperkebunan kita sudah Lilian ubah menjadi bubuk coklat dan buah kopi dari perkebunan Pangeran Seint sudah diubah menjadi bubuk kopi, mereka semua juga akan datang besok." Ucap Lilian.


"Pangeran Mahkota juga akan kesini?" Tanya Duke Marven.


"Iya...Sama Artem dan Kak Asgar juga." Ucap Lilian.


"Mereka juga akan ikut mencicipi minuman itu juga?" Tanya Illyria.


"Tentu saja, Pangeran Seint berkerja sama denganku dan sebagai pemilik dari perkebunan itu ia wajib mencicipi minumannya sebelum kita jual." Ucap Lilian.


"Kau sepertinya akhir-akhir ini sangat dekat dengan Pangeran Seint." Ucap Duke Marven penasaran.


"Tentu saja kami dekat, kami kan rekan kerja jadi tentunya kami akan sering bertemu." Ucap Lilian santai.


"Um...seandainya...ini...hanya seandainya, jika Pangeran Seint menyukaimu apa yang akan kamu lakukan." Tanya Duke Marven penasaran.


Lilian tampak berpikir sebentar lalu menatap ayah dan ibu yang menatapnya dengan tatapan ingin tau, "Memangnya kenapa?" Tanya Lilian.


"Ayah hanya bilang seandainya jadi kau tinggal jawab saja." Ucap Illyria.


Lilian menepuk dagunya pelan. "Kalau dia menyukaiku ya...tidak apa-apa itukan hak perorang mau menyukai siapa saja." Ucap Lilian.


"Terus menurut mu Pangeran Mahkota orannya seperti apa?" Tanya Duke Marven.


"Dia itu sangat menyebalkan, dingin, datar, dan cuek, namun karena dia memiliki wajah yang tampan jadi bolehlah." Ucap Lilian sambil membayangkan wajah Pangeran Seint.


"Boleh untuk apa?" Tanya Duke Marven penasaran.


"Boleh dijadikan pasangan, kalau kemana-mana nggak malu-maluin karena tampangnya." Ucap Lilian apa adanya.


Duke Marven dan Illyria tersenyum satu sama lain mendengar ucapan putrinya. Lilian yang melihatnya menjadi semakin bingung.


"Ada apa dengan senyum mereka?" Batin Lilian.


"Oh iya...ini minuman yang tadi sudah dibuatkan oleh Rosa, minum dan beristirahatlah agar besok pagi tumbuh mu kembali segar." Ucap Illyria dan memberikan minuman kepada putrinya.


Lilian menerima minumannya dan meneguknya hingga tak tersisa.


"Kami pergi dulu ya...sekarang kamu beristirahatlah." Ucap Illyria dan menarik selimut untuk menutupi tubuh putrinya dan mengelus pelan kepalanya.


Setelah kedua orang tuanya keluar dari kamarnya, Lilian kemudian menutup kedua matanya dan tertidur dengan sangat lelap.

__ADS_1


°°°


Terima kasih atas dukungan kalian semua


__ADS_2