Bukan Dunia Novel

Bukan Dunia Novel
68. Rencana Lagi


__ADS_3

Setelah kegiatan berburu secara resmi ditutup, semua para keluarga bangsawan kembali pulang ke kediamannya masing-masing. Setelah sampai dikediamannya Lilian langsung meminta pada Zheyan untuk mengantarkannya ke kamar untuk beristirahat bersama Citto.


Setelah merasa kurang nyaman tertidur diluar selama dua malam, akhirnya Lilian bisa merasakan kenyamanan kasurnya kembali. Semalaman Lilian tertidur dengan sangat nyenyak hingga ia tidak menyadari matahari telah bersinar terang.


Setelah dibantu oleh Rosa membersihkan diri dan memakai pakaiannya, Lilian kembali terduduk diatas ranjangnya sambil menatap mahkotanya dengan sangat bahagia.


"Apakah kamu sesenang itu mendapatkan mahkota itu?" Tanya Fania yang tiba-tiba masuk bersama dengan Violet.


"Tentu saja, mahkota ini adalah hasil dari perjuangan panjang ku." Ucap Lilian sambil menatap mahkotanya senang.


Violet menghela napas pelan. "Aku sekarang bingung dengan mu Lilian. Dihari yang sama kamu mendapat dua mahkota, seharusnya kamu lebih merasa senang karena mahkota Putri Mahkota mu, tapi ini? Kamu malah tersenyum senang ke arah mahkota bunga mu." Ucap Violet sambil menggeleng pelan.


"Aku melawan dua harimau dengan sangat berani, mahkota ini adalah lambang dari keberanian ku. Tentu saja aku merasa sangat senang." Ucap Lilian senang.


"Lalu bagaimana dengan gelar Putri Mahkota mu? Bukankah kau harusnya merasa senang juga?" Tanya Fania.


Lilian menghela napas pelan. "Gelar itu hanya akan mengikat hubungan ku dengan Pangeran Seint. Mulai sekarang aku harus mengikuti acara resmi bersamanya. Ohhh masa-masa kebebasan ku telah direnggut diumur ku yang masih belia ini." Ucap Lilian sambil menunjukan raut wajah sedih yang sengaja ia buat.


Fania mendengus pelan. "Alahhh aku sangat ingin muntah melihat raut wajah mu yang sekarang." Ucapnya kesal.


Lilian tertawa keras mendengar ucapan Fania. "Apakah raut wajah ku terlalu kentara?" Tanyanya setelah tawanya mulai mereda.


"Tentu saja." Ucap Fania.


"Setelah ini kita tidak boleh berbicara tidak sopan pada Lilian, sekarang Lilian adalah Putri Mahkota." Ucap Vania memberi kode ke arah Fania.


"Ampuni kami Yang Mulia Putri Mahkota." Ucap Fania dan Violet sambil menunduk hormat.


"Kalian ini kenapa sih?" Ucap Lilian dengan raut wajah kesal.


Fania dan Violet kemudian tertawa terbahak-bahak melihat raut wajah kesal Lilian. Lilian hanya menatap keduanya dengan datar.


Setelah keduanya berhenti tertawa, mereka kemudian menatap Lilian serius. "Tapi ini benar Lilian. Kau secara resmi telah diberikan gelar tinggi, untuk kedepannya kami tidak bisa lagi berbicara sembarangan kepada mu atau kami akan dihukum." Jelas Fania yang diangguki oleh Violet.


Lilian tampak berpikir sebentar. "Begini saja, kalian akan berbicara seperti biasa kepada ku seperti sekarang kalau kita lagi bertiga namun kalau ada orang lain, kalian harus merubah ucapan kalian." Usul Lilian.


"Iya. Aku setuju dengan usulan mu." Ucap Fania.


Violet menghembuskan napas pelan. "Kayaknya akan sedikit susah berbicara formal kepada mu untuk kedepannya." Ucapnya.


"Violet benar, namun kita harus terbiasa mulai dari sekarang!" Ucap Fania.

__ADS_1


Lilian dan Violet mengangguk pelan mendengar ucapan Fania. "Oh iya. Dimana Citto?" Tanya Violet pelan.


"Itu." Lilian menunjuk ke arah selimut.


Fania dan Violet hanya mengangguk singkat kemudian mereka kembali membicarakan sesuatu yang akan mereka kerjakan untuk kedepannya.


°°°


"Issssss..." Ringis Marquis Gaustrak saat Istrinya mengompres bagian tubuhnya yang terkena api dari Citto.


Viscount Wilson hanya menatapnya dengan tatapan ngeri melihat Marquis Gaustark yang sedari tadi tidak henti-hentinya meringis menahan sakit. "Tuan, saya akan mencarikan Anda ramuan yang dapat membuat tubuh mu kembali sehat seperti semula." Ucap Viscount Wilson.


"Api naga kecil itu benar-benar membakar tubuh ku. Rasanya sangat panas dan sakit sekali." Ringisnya pelan.


"Kamu bisa keluar sebentar, ada yang harus saya bahas dengan Tuan Viscount Wilson!" Ucap Marquis Gaustark.


Sinia mengangguk singkat kemudian berjalan keluar meninggalkan Marquis Gaustark dan Viscount Pavel berdua.


"Sepertinya rencana kita kembali gagal." Ucap Viscount Wilsonn memulai.


"Anda benar. Padahal kita sudah menyiapkan semua ini dengan rapi namun tetap saja rencana kita gagal." Ucap Marquis Gaustark kesal.


"Anda benar, sebaiknya Tuan harus segera turun tangan sendiri menangani masalah ini. Langit selalu berpihak kepadanya sehingga gadis itu selalu mendapatkan keuntungan dari semua rencana kita." Kesal Marquis Gaustark.


"Lalu bagaimana dengan dua harimau itu?" Tanya Viscount Wilson penasaran.


"Tidak masalah jika dua harimau itu mati, namun masalahnya Yang Mulia Raja membawa kedua jasadnya untuk dilakukan penyelidikan lanjutan, jika Yang Mulia tahu tentang rencana kita sebelumnya maka tamatlah riwayat kita." Ucapnya sambil menghela napas kasar.


Viscount Wilson tampak diam sebentar. "Tuan jika Yang Mulia tahu tentang rencana kita yang sesungguhnya bagaimana?" Tanyanya Khawatir.


Marquis Gaustark menutup kedua matanya lalu menatap serius ke arah Viscount Wilson. "Kita tidak perlu khawatir untuk masalah itu namun kita tetap harus selalu waspada. kirimkan surat untuk para bangsawan lainnya dan lakukan pertemuan untuk membahas tentang kehadiran naga itu." Ucapnya serius.


Viscount Wilson menatap heran ke arah Marquis Gaustark. "Tuan bagaimana bisa naga itu hanya bisa di kendalikan oleh gadis itu?" Tanyanya penasaran.


Marquis Gaustark menghembuskan napas kasar. "Sifat naga tidak bisa kita ketahui secara pasti namun jika ia telah bertekad untuk melindungi seseorang maka sampai matipun ia akan melindungi orang itu. Yang membuat saya penaran adalah bagaimana bisa naga itu muncul ditempat kegiatan berburu itu diadakan." Ucapnya bingung.


"Saya dengar dari orang suruhan Tuan, katanya naga itu seharusnya muncul di wilayah timur namun saat proses ritual dilaksanakan, tiba-tiba sekelompok orang menyerang dan membuat upacara terakhir menjadi gagal." Jelas Viscount Wilson.


"Apa mungkin naga itu seharusnya berada di wilayah timur dan karena ada sedikit gangguan akhirnya naga itu muncul di wilayah hutan itu. Tapi menurut buku yang pernah saya baca sebelumnya, naga akan menurut ke seseorang apabila orang tersebut memiliki jiwa yang spesial. Apa mungkin dalam diri gadis itu tersimpan jiwa yang kuat sehingga auranya menarik naga itu untuk mendekatinya!" Ucap Marquis Gaustark mencoba menyimpulkan.


Viscount Wilson mengangguk pelan. "Bisa saja benar Tuan. Tidak mungkin naga itu tiba-tiba muncul dan dengan sendirinya menurut oada gadis itu. Jika seandainya gadis itu menginginkan sebuah tahta maka akan sangat mudah baginya untuk melengserkan keturunan King bukan?" Tanyanya sambil membulatkan mata sempurna.

__ADS_1


"Benar juga. apa jangan-jangan Yang Mulia sengaja mempercepat peresmian Putri Mahkota agar Duke Marven tidak memiliki niat untuk mengkhianatinya!" Ucap Marquis Gaustark.


"Saya yakin pasti benar Tuan. Yang Mulia tidak pernah mengambil sebuah keputusan besar dengan terburu-buru jika itu bukan hal yang mendesak untuknya. Jika memang begitu itu artinya kita masih punya kesempatan." Ucap Viscout Wilson sambil tersenyum penuh arti.


"Kirimkan surat pertemuan secepatnya, kita akan merencanakan rencana kita selanjutnya. jika kali ini gagal lagi maka kita perlu membuat rencana cadangan." Ucap Marquis Gaustark.


"Baik Tuan." Ucap Viscount Wilson serius.


"Kirimkan surat kepada Tuan bahwa kita memerlukan bantuannya untuk rencana selanjutnya." Ucap Marquis Gaustark sambil meringis pelan.


"Lalu bagaimana dengan gadis itu?" Tanya Viscount Wilson lagi.


"Untuk sekarang kita tidak akan mengganggu gadis itu dulu. Sekarang gadis memiliki naga yang akan selalu menjaganya, kita harus bergerak aman dulu. Biarkan orang lain yang akan menghadapi gadis itu." Ucap Marquis Gaustark.


"Maksud Tuan?" Tanya Viscount Wilson bingung.


"Sebelumnya gadis itu mengalami beberapa kecelakaan yang selalu membuat nyawanya terancam, maka dari itu Duke Marven menutup kediamannya rapat-rapat berharap dapat melindungi putrinya itu di dalam kediamannya." Jelas Marquis Gaustark.


Viscoung Wilson mengangguk pelan. "Apakah Tuan tau siapa pelakunya?" Tanyanya penasaran.


"Tidak. Orang itu juga melakukan rencananya dengan rapi, namun dengan adanya dia untuk sekarang akan dapat menguntungkan kita. Biarkan dia yang akan menangani gadis itu dan kita akan menyusun rencana kita untuk selanjutnya.


Saat keduanya sedang asik membahas rencana mereka selanjutnya, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu yang sangat terburu-buru dan mendesak.


TOK...TOK...TOK...TOK...TOK...


Marquis Gaustark dan Viscount Wilson menatap satu sama lain dengan raut wajah heran.


"Masuklah!" Ucap Marquis Gaustark.


Pintu terbuka dan menampilkan seorang laki-laki yang Marquis Gaustark percayai untuk menangani masalahnya.


Orang tersebut menunduk hormat kemudian menatap khawatir ke arah Marquis Gaustark. "Lapor Tuan, Yang Mulia Raja ingin menemui Anda dan para bangsawan lainnya sekarang juga. Dilihat dari Raut Wajahnya sepertinya Yang Mulia sedang marah besar." Lapornya cepat.


Marquis Gaustark dan Viscount Wilson sambil menatap satu sama lain dengan raut wajah khawatir.


°°°


Terima kasih untuk para pembaca yang selalu memberikan dukungan untuk Author. Kadang Author suka senyum sendiri lihat komenan kalian yang beragam. Sekali terima kasih banyak 🙏🙏🙏


Selamat membaca....

__ADS_1


__ADS_2