Bukan Dunia Novel

Bukan Dunia Novel
124. Rencana Awal Berhasil


__ADS_3

Semua orang dalam ruangan pertemuan saling melempar pandangan satu sama lain mendengar laporan dari pengawal Marquis Gaustark. Baru saja mereka sepakat untuk menghindari Kelompok itu sementara untuk menghindari kecurigaan yang akan muncul namun mereka malah mengirimkan utusan untuk menghadap.


"Berapa orang yang datang menghadap?" Tanya Tuan Marquis Gaustark.


"Hanya seorang murid Tuan." Jawab Pengawal tersebut.


"Bukankah saat ini Prajurit sedang menjaga kediaman mereka dengan sangat ketat? Mengapa mereka dengan mudah lolos dari penjagaan?" Tanya Viscount Wilson heran.


Semua orang mengangguk setuju dengan ucapan Viscount Wilson. "Jangan-jangan dia diikuti oleh Prajurit." Ucap Petinggi lainnya.


"Tuan kita tidak bisa mengijinkannya untuk masuk. Tuan dengar sendiri jika Yang Mulia telah memberi titah kepada mereka agar untuk sementara tidak beraktifitas diluar. Bagaimana jikalau ia diikuti oleh Prajurit dan melaporkan kepada Yang Mulia Raja jikalau mereka mengutus utusan mereka ke sini dan Yang Mulia Raja mulai menyelidiki kita juga." Ucap petinggi lainnya.


Marquis Gaustark mengangguk pelan. "Benar ... Saat sekarang sangat berbahaya bagi kita untuk bertemu dengan mereka. Kita akan menjelaskan kepada mereka alasan kita menolak utusan meraka nanti jika situasinya sudah aman." Jelasnya.


Semua orang mengangguk setuju dengan ucapan Marquis Gaustark kemudian memberikan perintah pada pengawal itu untuk menolak bertemu dengan utusan Kelompok Kesatria Elang.


Murid Kesatria Elang kembali pulang dengan raut wajah muram karena beberapa kali ia berusaha masuk dalam kediaman Marquis Gaustark untuk menyampaikan pesan dari ketuanya selalu gagal. Para pengawal Marquis Gaustark bahkan menariknya keluar secara paksa agar ia tidak bisa menemui Tuan Marquis Gaustark secara langsung.


Setelah merasa situasi aman, murid itu memasuki kediaman Kelompok Kesatria Elang menggunakan jalan rahasia yang tidak banyak orang ketahui selain orang-orang yang dipercaya.


Setelah berhasil masuk ia langsung melaporkan semua kejadian yang ia alami dan yang ia lihat saat berada dikediaman Marquis Gaustark. Murid itu juga mengatakan jika dikediaman Marquis Gaustark sedang diadakan pertemuan penting dan tidak ada satupun dari mereka yang ingin bertemu dengan utusan Kelompok Kesatria Elang.


Hal itu membuat Alben Benito semakin marah dan meyakini bahwa merekalah yang menjadikan mereka sebagai kambing hitam. Jangankan meminta pendapat dari mereka, utusan yang ia kirim dengan susah payah agar tidak terlihat Prajurit-pun mereka tolak mentah-mentah.


Alben Benito merasa jika ia selama ini telah dimanfaatkan dan dibuang setelah mereka merasa tidak lagi dibutuhkan. Keyakinannya bertambah saat Marquis Gaustark dan yang lainnya tidak mau membatunya keluar dalam masalah yang sekarang ia hadapi.


Dengan marah Alben Benito mengobrak abrik ruangannya. Ia sudah membulatkan tekad akan menuntut balas terhadap apa yang mereka lakukan kepadanya saat ini.


°°°

__ADS_1


Saat kubu musuh mulai terpecah belah. Seint dan yang lainnya sedang melakukan pertemuan lagi di kediaman Duke Marven untuk membahas kelanjutan dari rencana yang telah mereka susun.


Sama seperti sebelumnya, pertemuan itu dipimpin langsung oleh Raja Reinal sendiri. Setelah semuanya sudah duduk di kursi masing-masing, Raja Reinal mulai mengeluarkan suara untuk memulai rencana mereka.


"Apakah ada laporan terkait rencana yang akan kita laksanakan selanjutnya?" Tanya Raja Reinal.


Baron Avalon mengangguk. "Kami sudah membagi tugas untuk memantau situasi dari kediaman Tuan Marquis Gaustark dan Kelompok Kesatria Elang. Informan kami melaporkan jika di kediaman Marquis Gaustark tengah dilakukan pertemuan penting dengan petinggi lainnya. Sedangkan di Kelompok Kesatria Elang mengutus salah satu Muridnya untuk menghadap ke kediaman Marquis Gaustark namun nampaknya ia ditolak setelah beberapa kali berusaha masuk dan pulang setelah merasa usahanya terus saja gagal." Lapornya.


Raja Reinal mengangguk pelan. "Sepertinya mereka sedang membahas tentang Kelompok Kesatria Elang dan menolak kehadiran mereka agar mereka tidak curigai oleh pihak Istana." Ucapnya menyimpulkan sesuatu yang terjadi.


"Saya mengikuti Murid itu sampai pada bangunan yang sepertinya milik Tuan Alben Benito, dari dalam terdengar suara barang-barang jatuh." Jelas Asgar.


"Sepertinya rencana kita berhasil. Tinggal kita lakukan rencana kita selanjutnya." Ucap Lilian.


"Apakah kalian sudah merencanakan sesuatu?" Tanya Seint dengan raut datar khas miliknya.


"Lalu apa rencana kalian?" Tanya Raja Reinal.


"Malam ini kami akan masuk ke bangunan belakang Kelompok Kesatria Elang dan membakar bangunan itu. Biarkan Prajurit tidak mengetahui rencana kita agar mereka membantu mengatasi kebakaran nanti. Sehingga mereka tidak akan menaruh curiga pada pihak Istana namun setelahnya kita harus membuat rencana lagi agar seakan-akan kebakaran itu dilakukan oleh rekan mereka sendiri dan menambah dendam terhadap Marquis Gaustark dan rekannya yang lain. Jika kita berhasil menjalankan rencana itu maka kita berhasil mengurangi jumlah musuh." Jelas Asgar panjang.


"Baiklah saya setuju ... Namun tetaplah berhati-hati. Di sana ada banyak sekali bahan peledak. Membakar bangunan itu harus dengan rencana yang sangat mantang, jika tidak maka bukan hanya bangunan itu yang terbakar melainkan yang membakar akan ikut terbakar pula." Saran Raja Reinal.


"Baik Yang Mulia." Ucap mereka serentak.


"Saya juga akan ikut mereka dalam menjalankan tugas." Ucap Seint yang langsung mendapat tatapan dari semua orang.


"Sepertinya akan lebih baik jika Yang Mulia Pangeran Mahkota menunggu saja. Biarkan kami yang akan pergi." Saran Artem yang disetujui oleh semua orang.


"Tidak! Saya harus melakukan sesuatu di sana. Jika bangunan itu berhasil dibakar maka semua orang akan sibuk untuk memadamkan api dan ada yang harus saya lakukan di sana." Jawab Seint datar.

__ADS_1


"Apa? Apa yang ingin kau lakukan di sana?" Tanya Raja Reinal penasaran.


Seint menatap semua orang bergantian. "Ada barang yang perlu saya pastikan ada di sana. Dalam buku mantra dijelaskan ada bola kristal yang ukurannya sekita segenggam. Bola itu akan sangat berguna untuk melawan musuh nantinya. Saya mencari tahu tentang keberadaan bola kristal itu dan menurut informasi bola kristal itu berada di sana." Jelasnya panjang.


Semua orang mengangguk paham dengan penjelasan Seint. "Kalau begitu saya akan ikut menjaga Anda." Ujar Artem.


"Ya sebaiknya ... Artem menemani mu untuk mencari bola kristal itu." Tegas Raja Reinal.


Seint hanya dapat menghela napas pelan. "Baiklah." Ucapnya cuek.


Setelah setuju dengan semua rencana yang akan mereka laksanakan. Raja Reinal kembali membuka pembahasan lainnya.


"Mulai sekarang kita akan melakukan pertemuan penting disini. bagaimana?" Tanya Raja Reinal.


"Apakah tidak apa-apa kita mengadakan pertemuan di sini Yang Mulia?" Tanya Duke Marven balik.


"Apakah kau keberatan? Tanya Raja Reinal.


"Bukan begitu Yang Mulia ... Saya hanya memikirkan kenyamanan Yang Mulia saja dan tidak masalah-kah jika Yang Mulia terus meninggalkan Istana? Maksud saya apakah tidak memunculkan kecurigaan?" Tanya Duke Marven.


Raja Reinal tersenyum tipis. "Tenang saja saya telah mengatur tentang keberadaan saya di Istana dan soal kenyamanan kediaman mu bahkan jauh lebih nyaman dari Istana. Istana terlalu berbahaya untuk dilakukan pertemuan penting. Kehadiran kalian akan memunculkan kecurigaan yang seharusnya tidak ada. Kediaman Duke Marven terkenal dengan penjagaannya yang sangat ketat, tidak sembarang orang bisa memasukinya. Akan sangat aman jika kita melakukan pertemuan di sini." Jelasnya.


Akhirnya semua orang menyetujui jika pertemuan berikutnya akan terus di adakan dikediaman Duke Marven. Setelah selesai dengan pembahasannya, Raja Thanos, Duke Marven dan Baron Avalon membahas masalah kerajaan lainnya.


Zheyan, Asgar dan Artem membahas rencanakan yang akan segera mereka laksanakan. Sedangkan Seint mengikuti Lilian yang sedang berjalan menuju kamarnya untuk beristirahat.


Seint terus saja mengikuti Lilian dari belakang tanpa sepengetahuan gadis itu. Lilian memasuki kamarnya dan menaiki ranjangnya untuk membaringkan tubuhnya di atas sana. Sejenak Lilian memejamkan matanya untuk beristirahat.


°°°°

__ADS_1


__ADS_2