
Butuh waktu sedikit lama untuk mendamaikan Seint dan Lilian. Setelah adu mulut antara keduanya selesai. Zheyan, Asgar dan Artem memutuskan untuk segera mengunjungi tempat lain yang bisa mereka jadikan petunjuk.
Sebelum berangkat, mereka semua membahas rencana apa saja yang akan mereka lakukan untuk kedepannya. Atas perintah Seint, Atem menjelaskan secara rinci kepada Zheyan dan Asgar seputar informasi yang mereka ketahui.
Setelah memahami situasi yang terjadi, mereka akhirnya memutuskan untuk berangkat ke tempat selanjutnya.
Sepanjang perjalanan tidak ada antara Seint dan Lilian yang mau mengeluarkan sepatah katapun. Keduanya masih saja kesal terhadap kejadian tadi pagi.
Setelah melakukan perjalanan singkat, mereka akhirnya memutuskan untuk berhenti pada sebuah sungai kecil dekat hutan pinus.
"Kita berhenti dulu disini!" Ucap Seint sambil menghentikan laju kudanya.
Seint membatu Lilian turun dari kudanya. Setelahnya, ia mengarahkan pandangannya ke semua arah. Tidak ada sesuatu yang mencurigakan disekitar wilayah itu.
"Sepertinya tempat ini aman!" Ucap Artem.
Seint mengangguk singkat. "Sudah banyak sekali petunjuk yang kita dapatkan di sini ... Jika urusan kita telah selesai, sebaiknya kita secepatnya kembali ke Ibukota."
"Tentu Yang Mulia. Saya telah mengatur semuanya di sini, tambang telah mulai dijalankan setelah malam perayaan itu ... Tuan Asadel juga sudah berangkat menuju Ibukota untuk membicarakan masalah tambang itu lebih lanjut." Jelas Artem.
"Bagaimana dengan lahan penemuan batu berlian Yang Mulia?" Tanya Seint datar.
"Dari peta yang kita dapatkan, lahan itu termasuk tanah milik kerajaan. Hal itu juga sudah dikonfirmasi dengan para penduduk agar tidak memunculkan masalah untuk kedepannya." Jelas Artem lagi.
Seint mengangguk pelan mendengar informasi yang diberikan oleh Artem.
"Lalu bagaimana dengan rencana kita selanjutnya Yang Mulia?" Tanya Zheyan.
Seint menatap serius ke arah Zheyan. "Untuk sekarang kita harus tetap pada rencana awal ... Kita perlu memastikan dulu bagaimana situasi di Ibukota saat ini, namun tidak menutup kemungkinan kita akan merubah rencana kita." Jelas Seint.
"Baik Yang Mulia." Ucap mereka serentak.
__ADS_1
"Bagaimana kondisi perbatasan untuk saat ini?" Tanya Seint.
"Saat ini gerbang perbatasan benar-benar dijaga dengan sangat ketat ... Yang Mulia Raja telah mengeluarkan titah akan memberikan hukuman berat bagi siapapun yang menentang perintahnya. Untuk saat ini belum ada ditemukannya barang-barang ilegal terjual secara bebas dipasaran." Jelas Asgar.
Seint mengangguk mengerti. "Lalu bagaimana kondisi kediaman Marquis Gaustark?" Tanya Seint.
"Akhir-akhir ini mereka sering melakukan pertemuan tertutup. Orang-orang Tuah Ni telah berhasil menemukan jalan rahasia untuk memasuki kediamannya. Menurut laporan dari orang-orang kita, mereka ingin merencanakan sesuatu pada perayaan pesta dansa yang akan digelar oleh Yang Mulia Raja." Jelas Zheyan.
"Apa yang mereka rencanakan?" Tanya Seint datar.
"Untuk rencananya masih akan terus diselidiki ... Pengamanan kediaman itu sangatlah ketat, sehingga menyulitkan orang-orang kita untuk mencari tahu lebih rinci tentang rencana mereka." Jelas Zheyan panjang.
"Sepertinya Ayah telah banyak memberi mereka tekanan. Hal itu akan memberikan keuntungan untuk kita, semakin mereka merasa terdesak maka semakin banyak peluang kita menemukan celah dari mereka. Setelah saya memikirkan hal ini lebih dalam, ada kemungkinan banyak kerajaan luar yang terlibat. Maka dari itu kita harus tetap waspada!!" Jelas Seint panjang.
"Benar Yang Mulia. Jika mereka sepakat untuk menyerang kita, maka kita akan banyak menemui kesulitan. Terlebih lagi kabar penemuan emas dan batu berlian telah ditemukan di kerajaan ini." Jelas Asgar.
Seint menghela napas pelan. "Kita harus tetap melatih para Prajurit. Tidak menutup kemungkinan orang-orang itu akan menyerang kerajaan kita secara tiba-tiba." Ucapnya.
"Kita akan mendapat kesulitan untuk kedepannya. Jangan sampai kita lengah dan tetap jaga Lilian. Seandainya dia juga memiliki ingatan masa lalunya maka akan jauh lebih menguntungkan untuk kita." Ucapnya sambil menatap kearah Lilian yang sedari bermain air dengan Citto.
Semua orang menatap kearah yang sama dengan pandangan Seint. Terlihat Lilian dengan bahagianya bermain air bersama Citto dipinggir sungai.
Saat setelah Lilian turun dari kudanya Seint, ia bersama dengan Citto berjalan menuju sungai itu dan bermain sekitar sana.
"Saya masih penasaran ... Apa alasan roh masa lalunya menarik roh masa depannya kesini?" Tanya Artem masih menatap ke arah Lilian.
"Kita mungkin akan menemukan jawabannya segera." Ucap Seint datar.
"Saya masih bingung dengan kondisi Lilian. Terlihat tidak ada yang berbeda dengan Lilian, karakternya masih saja sama dengan masa lalunya. Ia tetap diberikan anugrah untuk menjadi gadis yang cerdas. Baik itu masa sekarang ataupun masa yang akan datang. Jika Lilian masih memiliki karakter yang sama dengan masa lalunya, mungkinkah kita juga memiliki karakter yang sama dengan sekarang?" Tanya Artem dari akhir kalimatnya.
"Itu kalau kita terlahir kembali bersamanya." Ucap Seint datar.
__ADS_1
Ketiganya mengerutkan kening mendengar ucapan dari Seint.
"Maksud Yang Mulia?" Tanya Artem penasaran.
"Saya pernah bertanya padanya, apakah kita ada di masa depannya." Ucap Seint dengar raut wajah datar.
"Jawabannya?" Tanya Zheyan penasaran.
Seint menatap serius ketiganya secara bergantian. "Tidak ada!!" Ketusnya.
Zheyan tersenyum canggung. "Tidan mungkin Yang Mulia." Ucapnya tidak percaya.
"Tanyakan saja padanya." Jawab Seint cuek.
Artem berjalan mendekat ke arah Seint. "Lalu apakah Yang Mulia tidak marah?" Tanyanya.
Seint menatap tajam kearah Artem. "Itu sebabnya aku tidak mengijinkannya untuk kembali." Jawabnya serius.
Ketiganya langsung mengangguk serentak mendengar ucapan Seint. "Jika memang kita tidak ada di kehidupan masa depannya, maka akan lebih baik jika dia pernah kembali ke tubuh masa depannya." Ucap Zheyan serius.
Saat keempatnya sedang serius berbincang, tiba-tiba terdengar suara teriakan Lilian dari kejauhan. Kompak mereka berempat menatap kearah Lilian tadi bermain dengan Citto dan keempatnya kompak berlari menuju kearah sumber teriakan Lilian.
Seint, Zheyan, Artem dan Asgar terkejut menatap tempat yang tadinya baik-baik saja kini terlihat kacau balau. Masih tersisa bekas api yang membakar tubuh beberapa orang yang sekarang terbaring tidak bernyawa.
Tidak jauh dari tempat tersebut, terlihat Citto sedang menggigit tubuh lawannya tanpa belas kasihan. Citto melawan tiga harimau itu sekaligus dan membunuhnya tanpa memberi ampun.
Seint menatap kearah Lilian yang masih dengan raut wajah terkejutnya dan berjalan mendekatinya. Saat Seint ingin bertanya apa yang telah terjadi, Lilian langsung memeluk erat tubuhnya.
Seint mengelus pelan punggung Lilian untuk menghilangkan rasa takutnya. Seint merasakan tubuh Lilian bergetar dalam pelukannya sehingga ia mengurungkan niatnya untuk bertanya.
°°°
__ADS_1