
Disinilah Lilian berada, di ruangan yang cukup besar namun mencekam di karenakan aura yang di keluarkan oleh Ayahnya. Lilian meneguk ludah berkali-kali saat duduk berhadapan dengan Ayahnya.
"Astagaaaaaa aku merasa seperti seorang penjahat yang akan diintrogasi saja." Batin Lilian.
Duke Marven berdehem sebentar lalu mengetuk-ngetuk jarinya diatas meja. "Kali ini apa yang kamu lakukan lagi?" Ucap Duke Marven dingin.
"Bahasanya seperti aku yang selalu membuat masalah saja." Batin Lilian.
"Lilian..." Panggil Duke Marven mulai meninggi.
"Ayah...ku mohon." Panggil Zheyan dengan tatapan sendu ke ayahnya.
Lilian tidak akan pernah bisa menceritakan apapun saat ia merasa tertekan, itulah sebabnya Zheyan memilih ikut bersama adiknya saat seorang pelayan memanggilnya menuju ruangan Ayahnya.
Zheyan menggenggam tangan adiknya dengar erat lalu memberi ucapan "Kau akan baik-baik saja" lewat tatapan matanya.
Karena mendapat dukungan dari Kakaknya membuat Lilian sedikit merasa lega lagu ia menatap tepat dimata sang Ayah. "Aku tak melakukan sesuatu yang salah hari ini." Ucap Lilian.
Duke Marven menatap Lilian intens. "Hari ini Ayah mendapat sebuah surat dari istana tentang mu dan Raina, sebelumnya Ayah sudah mendengarkan kesaksian Rosa dan pihak dari Raina, sekarang jelaskan kepada ku apa yang terjadi." Ucapnya tegas.
Lilian menatap Ayahnya serius. "Sudah ku katakan sebelumnya aku tak melakukan kesalahan, tadi pagi aku, Rosa dan beberapa pengawal pergi ke pasar untuk membeli bahan yang kami butuhkan utuk festival." Ucap Lilian.
"Lalu?" Ucap Duke Marven.
"Lalu ketika kami ingin membeli bahan terakhir di toko kain di sana kami bertemu dengan Nona Raina, awalnya dia datang dan menyapa biasa namun semakin lama kami mengobrol semakin ia menyindir ku dengan kata-kata cantiknya." Ucap Lilian.
"Lalu kau terpancing?" Tanya Duke Marven.
"Awalnya tidak, namun karena sikap kurang ngajar pelayannya padaku membuat aku terpancing." Ucap Lilian.
"Apa yang dia lakukan." Tanya Duke Marven.
"Dia menyela ucapan ku, meninggikan suaranya dan mengatakan aku putri bangsawan yang tak tau malu tepat didepan ku dan semua orang. Rosa yang mendengarnya tak terima dan mengingatkan derajatnya namun bukan menasehati pelayannya Nona Raina malah ingin menampar Rosa, aku refleks menangkap tangan dan menghempaskan tangan Raina hingga membuatnya terdorong kebelakang, namun entah apa yang terjadi Raina dengan sengaja menjatuhkan tubuhnya ke lantai dan menangis." Jelas Lilian panjang.
Duke Marven mengeraskan rahang dan mengepalkan tangannya kuat menahan marah mendengar penjelasan putrinya yang sama dengan penjelasan Rosa. Tak jauh beda dengan Ayahnya, Zheyan menahan marah sampai wajahnya memerah.
"Ada yang bisa kau jadikan saksi untuk mempertanggung jawabkan ucapan mu?" Ucap Duke Marven.
"Di Sana ada warga, pegawai serta pemilik toko, oh iya di sana juga ada pangeran Seint dan Tuan Muda Artem." Ucap Lilian mengingat.
__ADS_1
"Kau yakin?" Tanya Duke Marven memastikan.
"Tentu saja, pangeran Seint sendiri yang mengantarkan aku pulang." Ucap Lilian.
"Pangeran tadi memang kesini menanyakan keberadaan Lilian, tak ku sangka pangeran bahkan menyusul Lilian ke pasar." Batin Duke Marven.
"Zheyan pergi antarkan adik mu untuk beristirahat, Ayah akan berangkat ke istana untuk menyelesaikan masalah ini." Ucap Duke Marven.
"Baik, Ayah." Ucap Zheyan.
Setelah kedua anaknya keluar Duke Marven memanggil seorang prajurit untuk menyiapkan kudanya.
°°°
Sesampainya di istana Duke Marven bergegas menuju ruang kerja sang raja, setelah di ijinkan masuk Duke Marven melihat sang raja sedang duduk bersama dengan sang ratu disampingnya kemudian ia menunduk memberi hormat pada sang raja dan Ratu
"Hormat saya yang mulia baginda Raja dan Ratu semoga kalian tetap selalu diberkahi." Ucap Duke Marven.
"Duduklah." Ucap Raja Reinal.
"Terima kasih yang mulia." Ucap Duke Marven lalu berjalan menduduki kursi yang berada didepan Raja Reinal dan Ratu Elena.
"Kau sudah tau alasan ku memanggil mu kesinikan?" Tanya Raja Reinal dengan penuh wibawa.
"Tidak perlu, saya sudah mendapatkan informasi yang paling akurat dan tentu saja terpercaya." Ucap Raja Reinal.
Duke Marven memandang takut ke arah sang raja, ia takut sang raja salah paham dan menghukum putrinya.
"Kau tak perlu tegang seperti itu, tujuan ku memanggil mu kesini untuk membahas beberapa hal padamu salah satunya adalah menentukan sendiri hukuman apa yang harus diterima keluarga Marquis atas kelancangan putrinya dan pelayannya." Ucap Raja Reinal.
Duke Marven langsung menunduk mendengar ucapan Sang Raja. "Ampun yang mulia jika hamba boleh meminta maka hukumlah pelayan itu dengan seberat-beratnya, dan jika saya boleh meminta lagi buatlah putri dari Marquis mendapatkan hukuman yang membuatnya tidak bisa mengganggu putri ku lagi." Ucap Duke Marven
Raja Reinal tersenyum mendengar ucapan Duke Marven. "Baiklah, maka ku anggap urusan ini sudah selesai." Ucapnya.
Duke Marven memandang Sang Raja dengan raut bingung, tak ia sangka secepat ini ia menyelesaikan masalah Lilian.
Melihat raut bingung dari Duke Marven membuat sang raja tertawa. "Ada hal yang jauh lebih penting yang perlu kita bahas, pembahasan tadi hanyalah pembuka sekarang kita masuk ke pembahasan inti." Ucap Raja Reinal.
"Apakah akhir-akhir ini kau mendengar rumor yang beredar dari para warga?" Ucap Raja Reinal.
__ADS_1
Duke Marven memasang wajah serius mendengar ucapan sang Raja. "Tidak yang mulia, memangnya rumor apa?" Tanya Duke Marven.
"Rumor tentang putri mu dan putra ku." Ucap Raja Reinal.
"Memangnya mereka kenap?" Tanya Duke Marven serius.
"Haisss kau ini sungguh tak pekaan sebagai orang tua, tentu saja kedekatan hubungan antara putra ku dan putri mu." Ucap Ratu Elena tak tahan dengan ketidak tuan Duke Marven.
Duke Marven terdiam cukup lama mendengar ucapan dari sang ratu. "Memangnya sedekat apa yang mulia?" Tanya Duke Marven.
"Kau ini sangat pintar menangani masalah tentang kerajaan dan politik tapi tidak bisa memahami urusan asmara putri mu." Ucap Raja Reinal kesal.
"Rumor kedekatan antara putrimu dan putra ku sudah tersebar di seluruh kerajaan ini, ada rumor yang mengatakan bahwa ada banyak orang yang melihat putri mu dengan putra ku selalu bersama, ada juga yang mengatakan selama diperkebunan Lilian dan Seint selalu bersama." Ucap Elena antusias.
"Maaf yang mulia, kalian mungkin salah paham dengan kedekatan meraka, namun mereka terlihat dekat karena mereka sudah sepakat mengadakan kerja sama." Ucap Duke Marven.
"Aisss kau ini yang tak mengerti, kau tau sendiri pangeran Seint itu adalah anak yang sangat dingin terhadap orang lain, kau tau sepulang dari perjalan jauh kemarin? Seint tidak langsung pulang ke istana namun ia pergi mencari Lilian dan membawanya pulang menunggangi kudanya, tidak ada satu orangpun yang ia ijinkan untuk menaiki kudanya termasuk pengawal setianya Artem." Jelas Elena.
"Apakah kau tau? Siapa orang yang memberikan informasi tentang Lilian dan Raina?" Tanya Raja Reinal.
Duke Marven menggeleng tanda tidak tau, lalu sang raja tersenyum ke arah Duke Marven. "Seint lah orangnya, dia mendatangi ku untuk menyampaikan kepulangannya dan melaporkan kerja samanya dengan putri mu, sebelum Seint meninggalkan ruang kerja ku ia memintaku agar memberi hukuman setimpal pada putri keluarga Marquis beserta pelayannya." Ucap Raja Reinal.
"Sedari dulu pangeran Seint sangat sulit di ajak kerja sama namun dengan mudahnya Lilian mendapatkan lencana tanda kerja sama dari pangeran Seint." Ucap Elena.
Duke Marven memandang Raja Reinal dan Ratu Elena bergantian. "Benar yang dikatakan oleh yang mulia, apa memang benar mereka memiliki hubungan? Berarti perasaan Lilian selama ini terbalas" Batin Duke Marven.
"Aisss kenapa kau malah melamun?" Tanya Raja Reinal.
"Lalu bagaimana sekarang?" Tanya Ratu Elena mendesak.
"Duke Marven selama ini kita sudah berteman baik, tak inginkah kau mempererat tali pertemanan kita dengan menjodohkan mereka berdua?" Tanya Raja Reinal.
"Maaf yang mulia saya belum bisa memberimu jawaban, saya tidak tau apa yang putri saya mau dan inginkan, biarkan dia sendiri yang menentukan pilihannya." Ucap Duke Marven.
"Tentu saja putri mu mau, bukankah selama ini putri mu menyukai dan mengikuti Seint kemanapun. Seint juga tidak pernah menolak kehadiran Lilian di sisinya selama ini." Ucap Elena.
"Begini saja, biarkan mereka jalani dulu hubungan mereka sekarang, kalau nanti mereka merasa cocok satu sama lain kita nikahkan saja mereka, bagaiman?" Ucap Raja Reinal.
"Itu mungkin pilihan yang baik untuk sekarang." Ucap Duke Marven.
__ADS_1
"Untuk sekarang biarkan kita bertiga aja dulu yang tau tentang ini sambil memantau sejauh mana hubungan keduanya, kita harus bisa merahasiakannya dulu dari orang-orang agar tidak terjadi perebutan politik, kau memiliki posisi tinggi di kerajaan jadi akan banyak saingan politik yang mengincar putri mu kalau sampai rencana kita bocor." Ucap Raja Reinal.
°°°