
Lilian mengerutkan keningnya saat mendengar bahasa yang digunakan oleh petinggi kerajaan Elmore. "Sebenarnya aku berada di belahan dunia mana sih? Apakah yang aku tempati sekarang ini dunia novel orang itu juga menggunakan bahasa inggris, pasti Author yang menulis alurnya seperti" Batin Lilian.
Lilian kembali menatap ciri-ciri petinggi kerajaan Elmore tersebut. "Ciri-ciri orang itu juga mirip dengan bule-bule yang ada di dunia ku, lalu aku sekarang aku berada di belahan dunia mana? Kalau seandainya dunia ini adalah novel kenapa nggak Author Nya saja sih yang ditarik kesini biar dia tahu dan ngerasain bagaimana rasanya Merani peran yang dia tulis sendiri." Batin Lilian kesal.
Zheyan melirik Lilian yang menatap aneh ke arah petinggi kerajaan Elmore. "Apakah kau juga mencurigai sesuatu?" Tanya Zheyan sepelan mungkin.
Lilian tidak mengerti ucapan Zheyan namun ia mengangguk mengiyakan ucapannya. "Iya...Kakak benar."
"Kakak juga berpikir seperti itu, seseorang yang menjatuhkan racun di dekat kau terjatuh dalam kuda waktu itu berasal dari kerajaan yang sama." Ucap Zheyan.
Lilian menatap Zheyan terkejut, sebenarnya dia berpikir aneh ke orang tadi karena orang itu menggunakan bahasa inggris namun tidak dia sangka ternyata nama kerajaan orang itu sama dengan asal pemilik racun.
"Kenapa kau seperti kelihatan terkejut?" Tanya Zheyan pelan.
"Ohh tidak Kakak ... Aku hanya menyambungkan kejadian demi kejadian di kepala ku ini?" Ucap Lilian polos.
"Kejadian apa saja memangnya." Tanya Zheyan kembali.
"Di kerajaan ini ... oh tidak ... tidak di seluruh wilayah yang ada dibelahan dunia ini memiliki berapa bahasa?" Tanya Lilian.
Zheyan tampak berpikir. "Emm entahlah." Ucap Zheyan kemudian menyenggol pelan tangan Asgar. "Di dunia ini ada berapa bahasa tanya Lilian." Ucap Zheyan.
Asgar menatap Lilian. "Ada banyak...kenapa?" Tanya Asgar pelan.
"Tidak cuman tanya saja." Ucap Lilian.
"Setiap kerajaan yang aku kunjungi bahasanya pasti berbeda-beda namun ada juga yang sama, yang membedakannya hanya logat namun karena orang itu berasal dari kerajaan yang jauh makanya bahasa yang ia gunakan berbeda jauh dari kita." Jelas asgar.
Lilian membuang napas pelan. "Aku juga sudah tahu namun aku penasaran saja aku berada di dunia apa, awas saja kalau aku masuk kedalam novel akan aku buat perhitungan dengan Author yang menulis novel ini." Batin Lilian kesal.
"Kau kenapa kelihatan sangat kesal? Apakah kau tidak puas dengan jawaban yang aku berikan?" Tanya Asgar.
"Tidak...tidak...aku hanya bosan di sini dan sepertinya aku membutuhkan udara segar." Ucap Lilian yang bangun dari tempat duduknya.
"Kamu ingin kemana?" Tanya Zheyan yang melihat Lilian bangun dari tempat duduknya.
"Aku ingin keluar sebentar untuk mencari udara segar." Ucap Lilian.
"Kalau begitu biar Kakak yang temani." Ucap Zheyan yang berdiri dari duduknya.
"Ahh tidak usah Kakak...aku akan pergi sendiri." Ucap Lilian menahan Zheyan.
"Tapi..." Ucap Zheyan tertahan.
"Aku mohon Kakak...aku hanya ingin sendiri." Ucap Lilian sendu.
Zheyan menghela napas pelan. "Baiklah...tapi jangan pergi jauh-jauh dan cepat kembali." Ucap Zheyan.
"Baik Kakak." Ucap Lilian kemudian berjalan keluar aula.
"Kenapa dia?" Tanya Asgar.
"Entahlah..." Ucap Zheyan.
Mereka berdua kemudian menyapa orang-orang yang berada di pesta tersebut.
°°°
Sudah beberapa kali Lilian membuang napas kasar, ia sedang pusing memikirkan bagaimana caranya ia bisa terlempar ke dunia ini. Lilian duduk di salah satu bangku taman yang berada dekat dengan aula yang sekarang sedang di adakan pesta.
__ADS_1
"Kau sepertinya tidak terlalu menyukai acara pesta." Ucap Adrian Pavel yang datang membuyarkan pikiran Lilian.
"Kau...sedang apa kau di sini?" Tanya Lilian yang melihat Adrian Pavel telah duduk di salah satu kursi didepannya.
"Aku?" Tunjuk nya pada diri sendiri. "Aku sedang mencari udara segar dan sungguh kebetulan sekali aku melihat mu sedang duduk sendirian di sini tanpa pengawalan kedua Kakak mu." Ucap Adrian Pavel.
"Lalu kenapa kau malah duduk di sini, kenapa tidak mencari tempat lain saja?" Tanya Lilian.
Adrian tersenyum sinis. "Sepertinya suasana hati mu sedang tidak bersahabat Nona, namun aku lebih suka untuk duduk di sini" Ucapnya.
"Kenapa?" Tanya Lilian curiga.
"Karena saya tidak bisa mengabaikan wanita cantik duduk sendirian." Ucap Adrian.
"Kalau begitu silahkan Tuan duduk saja sendiri, saya lebih baik pergi dari sini." Ucap Lilian lalu berdiri dari duduknya.
"Kenapa buru-buru sekali Nona?" Ucap Adrian yang berhasil membuat Lilian berdiri diam dari kursinya.
"Silahkan Tuan menikmati udara segarnya." Ucap Lilian kemudian berjalan menjauh dari tempat Adrian berada.
Adrian tersenyum miring. "Benar kata orang kalau wanita cantik itu terlihat cantik berkali lipat saat ia bersikap jual mahal." Ucapnya menatap kepergian Lilian.
Lilian sendiri berjalan menghentakkan kakinya kesal karena kesendiriannya di ganggu oleh Adrian. Saat berada didepan aula pesta Lilian menghela napas pelan saat mendengar suara bising dari dalam aula yang membuatnya mengurungkan niat untuk memasuki aula.
"Ohh rupanya gadis yang selalu sok mengambil perhatian berada di sini." Ucap seorang wanita yang berada dibelakang Lilian.
Lilian berbalik dan memutar bola matanya malas melihat Raina dan ketiga temannya. "Pergilah...jangan mengganggu ku." Ucap Lilian kesal.
Raina tersenyum mengejek ke arah Lilian. "Kenapa? Saya sedang tidak ingin mengganggu mu hanya saja Anda yang berada didepan ku dan mengganggu penglihatan ku." Ucap Raina.
"Kalau begitu biar saya yang pergi." Ucap Lilian namun sebelum berbalik kedua teman Raina maju dan menahan kedua tangannya.
"Kenapa Anda begitu buru-buru sekali...kitakan belum mengobrol dan kenapa Anda malah ingin segera pergi?" Tanya Raina dengan tersenyum sinis.
"Saya sedang tidak ingin mengobrol dengan mu dan bilang kepada kedua teman mu agar cepat melepaskan Saya." Ucap Lilian kesal.
"Ohh rupanya Anda mulai kesal...tapi saya sedang ingi bermain-main dengan mu sebentar...malam ini kau terlihat sangat menawan dengan gaun mu itu, apakah gaun mu ini satu set dengan Pangeran Mahkota?" Ucapnya sambil mencekam dagu Lilian.
"Bukan urusan mu." Ucap Lilian kesal.
"Heiii tentu saja ini adalah urusan ku ... Pangeran Mahkota adalah calon ku dan saat saya melihat gaun yang Anda kenakan membuat ku sangat ingin merobeknya." Ucap Raina mulai menarik kerah gaun Lilian.
"Apakah Anda gila? Anda bisa merusak gaun ku...LEPASKAN!" Ucap Lilian sambil bergerak mencoba melepaskan diri.
"Ya saya sudah gila...saking gilanya saya ingin merobek gaun mu dan melempar mu di aula pesta itu biar semua orang bisa melihat lekuk tubuh yang kau pamerkan dibalik gaun mu ini." Ucap Raina yang terus menarik kerah gaun Lilian.
"Lepaskan!" Teriak Lilian.
"Setelah Anda saya telanjangi." Ucap Raina.
Lilian kembali mencoba melawan ke empat orang yang mencoba merobek gaun yang ia kenakan, walau tenaga yang ia miliki tidak bisa melawan keempat gadis tersebut namun Lilian tetap mencoba mempertahankan gaunnya agar tidak robek.
"LEPASKAN DIA!" Ucap suara bariton.
Kelima gadis tersebut memandang ke arah suara tersebut dan menemukan Seint yang berdiri dengan ekspresi marah. Ketiga gadis tersebut spontan melepas tangannya dari gaun Lilian kecuali Raina.
"Jangan mencampuri urusan kami Yang Mulia." Teriak Raina.
Seint berjalan dengan mengepalkan tangannya erat, wajahnya memerah, dan rahangnya mengeras. "Berani sekali kau menyentuhnya." Ucap Seint marah dan melepas tangan Raina dari gaun Lilian kemudian menghempaskan tangan Raina hingga gadis itu jatuh tersungkur ke tanah.
__ADS_1
Kemudian Seint menatap tajam ketiga gadis yang membatu Raina dan tatapannya jatuh ke gaun Lilian yang bagian dadanya sedikit robek karena ditarik oleh Raina. Seint melepas jubah kebesarannya dan memakaikannya di badan Lilian untuk menutupi gaun Lilian yang sebagian telah robek.
"ARTEM!" Teriak Seint.
"Ya Yang Mulia." Ucap Artem hormat.
"Cari tahu dari keluarga mana saja mereka dan hukum mereka dengan seberat-beratnya." Ucap Seint marah.
"Baik Yang Mulia." Ucap Artem lalu memberi kode kepada prajurit untuk membawa keempat gadis tersebut.
"Lihat saja apa yang akan dilakukan oleh Ayah ku pada mu Lilian." Teriak Raina yang sekarang diseret oleh prajurit.
Setelah keempat gadis itu dibawa pergi oleh prajurit dan akan di urus oleh Artem, Seint membawa Lilian duduk di salah satu kursi yang berada tidak jauh dari aula.
Seint menatap Lilian lembut. "Apakah ada yang sakit?" Tanyanya.
Lilian menggeleng pelan dan menatap Seint kesal. "Ini semua gara-gara mu." Ucap Lilian.
Seint mengerutkan kening bingung. "Kenapa aku?" Tanyanya.
"Iyalah...semua gara-gara kamu...mereka melakukan hal itu karena kesal melihat gaun ku dan baju yang kau pakai satu set." Ucap Lilian kesal.
Seint menyentil pelan kening Lilian. "Tentu saja...kau kan pasangan ku jadi wajar kalau kita memakai baju yang sama." Ucap Seint tersenyum.
"Nah...maka dari itu, padahal aku sangat menyukai gaun ini tapi sudah rusak gara-gara si wanita ular." Ucap Lilian kesal.
Seint tersenyum mendengar ucapan Lilian. "Nanti akan aku ganti dengan yang jauh lebih bagus lagi." Ucap Seint.
Lilian menatap Seint dengan tersenyum lebar. "Benar ya...kau akan menggantinya." Ucap Lilian.
"Ya...apakah sekarang kau mau mengganti gaun mu dengan gaun lain dan berdandan lagi?" Tanya Seint sambil merapikan rambut Lilian.
"Tidak usah...aku seperti ini saja, kau tadi bilang akan mengganti gaun ku...kau harus ingat itu baik-baik." Ucap Lilian
"Hmmm." Ucap Seint singkat.
"Oh iya sedang apa kau di sini bukankah kau harus menemani tamu itu di dalam?" Ucap Lilian.
"Aku sedang mengikuti mu...sedari tadi saat terakhir kali ku lihat kau berjalan keluar dari aula kau tidak kunjung kembali akhirnya aku ijin keluar sebentar untuk melihat mu." Ucap Seint panjang.
"Syukurlah kau datang lebih cepat, kalau tidak si wanita ular itu akan merobek gaun ku dan mempermalukan ku di depan banyak orang." Ucap Lilian ngeri memikirkan hal itu.
"Kau tenang saja...aku janji akan selalu melindungi mu." Ucap Seint.
"Benarkah?" Tanya Lilian.
"Hmmm." Gumam Seint.
"Kalau seandainya...ini hanya seandainya ya...aku bukan Lilian bagaimana?" Tanya Lilian penasaran.
"Memangnya kau siapa?" Tanya Seint bingung.
"Haissss aku bilang misalnya...misalnya aku ini Lilian yang tidak kau kenal...bukan Lilian yang dari dulu kau kenal bagaimana?" Tanya Lilian harap-harap cemas.
"Aku akan terus mengenal mu di manapun dan kapanpun...kau akan terus menjadi Lilian dan selama itu adalah kau baik itu sekarang ataupun nanti aku akan tetap mengenal mu sebagai Lilian Daisyla Marven." Ucap Seint sambil tersenyum manis.
Lilian menatap Seint kesal. " Ahhh sudahlah...sebaiknya kita masuk saja, orang-orang pasti sedang mencari kita...lagipula kita harus mendengar kerja sama apa yang ditawarkan orang asing itu." Ucap Lilian dan terbangun dari duduknya.
Seint berjalan mengikuti langkah kaki Lilian dan memasuki aula pesta.
__ADS_1
°°°