Bukan Dunia Novel

Bukan Dunia Novel
125. Membakar Gedung Belakang


__ADS_3

Lilian membuka kedua matanya saat merasakan salah satu sisi ranjangnya bergerak. Dibawah kakinya terlihat Seint duduk dengan menatap serius ke arahnya.


"Ada apa?" Tanya Lilian heran.


"Kamu kenapa?" Tanya Seint balik bukannya menjawab pertanyaan Lilian.


Lilian mengerutkan kening bingung. "Maksud mu?" Tanyanya.


"Kondisimu! Apakah baik-baik saja?" Tanya Seint datar.


Lilian menghela napas pelan kemudian mendudukkan dirinya pada sisi depan ranjang. "Aku hanya sedikit pusing, mungkin karena terlalu kelelahan." Jawabnya.


"Benarkah? Tidak ada yang lain?" Tanya Seint serius.


Lilian kembali menghela napas pelan. "Aku memang sedikit pusing ... Mataku kadang mulai ngabur dan sesekali aku merasa sesak." Jelasnya.


"Sejak kapan?" Tanya Seint mulai khawatir.


Lilian mencoba mengingat kembali kapan ia mulai merasakan hal-hal itu. "Sepertinya saat bertemu dengan Citto. Awalnya aku mengira karena disebabkan oleh penyerangan dua harimau itu atau mungkin memang benar." Ucapnya.


Seint mendekati Lilian kemudian menyentuh keningnya. "Sudah pernah diperiksa oleh tabib?"


Lilian mengangguk. "Sudah ... Tabib bilang aku hanya kelelahan karena terlalu melakukan banyak aktifitas. Ia juga memberikan ku ramuan untuk memulihkan tubuhku kembali." Jelasnya.


"Apakah gara-gara hal ini yang membuat mu berdiri diam waktu penyerangan di Istana?" Tanya Seint penasaran.


"Mungkin saja ... Tubuhku semakin cepat mengalami kelelahan. Terkadang pandanganku juga mulai ngabur. Seperti kata Tabib, aku hanya memerlukan istirahat yang cukup." Ucap Lilian sambil tersenyum.


Seint memegang erat kedua tangan Lilian dan menatap kedua mata Lilian serius. "Tidakkah kamu merasa jika kondisimu ini adalah tanda-tanda jika jiwa mu akan kembali?" Tanyanya dengan nada pelan.


Lilian meneguk ludah susah payah. "Ka.. Kamu hanya terlalu khawatir." Gugup Lilian.


"Bagaimana jika kekhawatiran ku benar? Kamu juga tahu apa saja isi dari buku yang ditulis langsung oleh Raja Apollo!" Tegas Seint.

__ADS_1


"Memangnya mengapa? Selama Citto baik-baik saja maka aku akan tetap baik-baik saja." Ucap Lilian dengan lembut.


"Lagipula siapa yang akan berani menyakiti Citto? Ia hanya akan mencari mati ... Citto sangat sensitif dan tidak mudah untuk didekati. Selama Citto masih baik-baik saja maka aku juga akan tetap aman." Jelas Lilian mencoba menenangkan kekhawatiran Seint.


Seint mengangguk pelan. "Berjanjilah jika kamu tidak akan meninggalkan kami." Ucapnya serius.


Lilian meneguk ludah pelan kemudian mengangguk pelan. "Baiklah. Aku berjanji." Ucap Lilian.


"Kalau begitu beristirahatlah ... Lain kali kamu tidak perlu hadir dalam pertemuan. Jangan terlibat dengan rencana nanti malam, kau hanya perlu beristirahat dan menunggu kabar dari kami." Jelas Seint yang diangguki oleh Lilian.


Setelah Seint pergi dan menutup pintu kamarnya, Lilian kembali membaringkan tubuh dan menutup kedua matanya.


"Mungkin jiwaku memang sedikit demi sedikit akan menghilang seperti yang ditulis pada halaman terakhir buku itu. Namun aku harus bisa bertahan sampai akhir untuk semua orang." Batin Lilian.


°°°


Setelah hari sudah gelap, Seint dan yang lainnya mulai menjalankan rencana yang sudah mereka sepakati. Zheyan dan Asgar melangkah kearah jalan rahasia menuju bangunan belakang Kelompok Kesatria Elang. Sebelum mereka menjalankan rencananya, keduanya terlebih dahulu mengamati suasana disekitarnya.


Tidak ada satupun Murid dari Kelompok Kesatria Elang yang mendekati bangunan belakang terkecuali Murid yang ditugaskan untuk melakukan patroli malam. Setelah memastikan kondisi ama, Zheyan dan Asgar kemudian memasuki bangunan belakang.


Setelah selesai memindahkan barang, Zheyan dan Asgar mencari letak penyimpanan bahan peledak. Keduanya menggelengkan kepala melihat tumbukkan bahan peledak yang sudah jadi itu menggunung.


Entah dari kapan mereka sudah mempersiapkan semua itu sehingga bahan-bahan itu menggunung dan sebagian dari barang yang telah dibuat pasti sudah dikirim ke tempat lain.


Setelah semua rencana terlaksana, Zheyan mulai memercikan api kecil di bagian pojok gabungan tersebut dan kemudian bergerak cepat untuk keluar dari bangunan.


Setelah Zheyan dan Asgar berhasil keluar bangunan, keduanya tidak langsung pergi namun mereka mencari posisi aman untuk memantau hasil dari pekerjaan mereka.


Setelah sedikit lama menunggu, terlihat abu warna hitam keluar dari dalam bangunan. Tidak lama setelahnya terdengar suara letusan dari dalam bangunan tersebut.


Api mulai merambat kesemua sisi bangunan dan apinya mulai merambat ke bangunan lain yang berada dekat dengan bangunan yang terbakar. Api itu sangat cepat membesar dikarenakan ada banyak sekali bahan peledak dan bahan mudah terbakar lainnya didalam bangunan.


Tidak lama ada banyak sekali Murid beserta para Guru dari Kelompok Kesatria Elang berlari melihat lokasi kembaran. Saat menyadari bangunan belakang yang terbakar, dengan panik, semua Murid dan Guru berlari mencari air terdekat untuk memadamkan api.

__ADS_1


Prajurit dari Istana yang berjaga sekitar kediaman Kelompok Kesatria Elang juga panik melihat bangunan belakang kediaman mereka terbakar dengan sangat cepat. Prajurit bahkan saling membantu mengambil air untuk memadamkan api tersebut. Meski tidak banyak membantu keadaan namun semua Murid dan para Guru berharap bisa memadamkan api itu dengan cepat.


Tidak jauh dari lokasi kebakaran, Seint dan Artem telah menunggu api mulai membakar bangunan belakang milik Kelompok Kesatria Elang. Ada banyak sekali Tetua, Guru, dan para Murid keluar dan berlari ke menuju bangunan belakang


Seint dan Artem mendengar suara ledakan yang sangat keras berasal dari bangunan belakang. Pemimpin Kelompok Kesatria Elang yaitu Alben Benito dengan tergesa-gesa berlari menuju bangunan belakang bersama para Tetua dan Guru lainnya.


Setelah merasa sudah tidak ada lagi Murid maupun Guru serta Tetua lainnya yang lewat sekitar persembunyian mereka. Seint dan Artem akhirnya mulai mencari dimana kristal yang Seint butuhkan di simpan.


Pertama Seint dan Artem memasuki tempat yang menjadi ruang Istirahat dari Pemimpin Kelompok Kesatria Elang yaitu Alben Benito. Seint dan Artem mulai mencari kesemua rungan, dari lemari penyimpanan buku sampai laci-laci kecil sudah mereka periksa namun benda yang mereka cari tidak ada di sana.


Seint dan Artem kembali memeriksa ruangan itu sekali lagi namun lagi-lagi mereka tidak menemukan apapun. Setelah yakin jikalau benda itu tidak berada dalam ruangan Alben Benito. Seint dan Artem kemudian beralih ke ruangan lain, dari tempat para Tetua, Guru sampai beberapa Murid namun Seint dan Artem belum menemukan benda yang mereka cari.


Setelah lama mencari, Seint dan Artem kemudian kembali ketempat persembunyian mereka untuk yang pertama kali dan mengamati keada sekitar.


"Apa kau yakin benda itu berada di sini?" Tanya Artem pelan.


Seint mengangguk pelan. "Ya ... Mereka seperti pion yang selalu digunakan di garda depan. Penyusup yang aku introgasi mengatakan jikalau benda itu ada di sini dan mereka menggunakan benda itu sebagai ritual pemanggil roh." Jelasnya.


Artem mengangguk mengerti. "Apa mungkin benda itu berada ditangan Pemimpin mereka?" Tanyanya.


"Entahlah ... Benda itu sangatlah penting, secepatnya aku harus menemukan benda itu." Jawab Seint.


"Seberapa pentingkah benda itu?" Tanya Artem penasaran.


"Benda itu dapat menyegel makhluk mitos ... Meski tidak ada yang perlu dikhawatirkan pada Citto namun sebaiknya kita tetap harus mencari benda itu. Kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi untuk kedepannya." Jelas Seint.


"Baiklah Yang Mulia ... Namun sebaiknya kita harus segera pergi dari sini. Akan berbahaya jika kita terlalu lama berada di sini. Meski api itu belum bisa dipadamkan namun siapa yang akan tahu jika Tuan Alben Benito serta para Tetua lainnya menemukan kita di sini. Rencana kita akan sia-sia saja." Ucap Arten sambil mengamati situasi sekitar.


"Baiklah. Ayo!!" Ucap Seint datar.


Seint dan Artem akhirnya keluar dari tempat Kelompok Kesatria Elang tanpa diketahui oleh siapapun. Mereka secepatnya kembali ke Istana untuk merencanakan hal yang akan selanjutnya mereka kerjakan.


Disepanjang perjalanan pulang mereka melihat para Penduduk Ibukota menatap arah abu pekat melambung tinggi ke atas langit. Ada banyak sekali pendapat yang mereka perkirakan melihat abu hitam tersebut.

__ADS_1


°°°°


__ADS_2