
Setelah Lilian menyebutkan nama Seint, ia sudah pasrah dengan nasibnya. Andai ia memiliki sedikit waktu untuk mengambil napas pasti Lilian bisa mengatasi para penyerang.
Lilian harus melawan para penyerang yang jumlahnya puluhan orang sendiri. Beruntung Lilian memiliki kemampuan bela diri yang sebelumnya diajarkan oleh Zheyan sehingga Lilian masih bisa mempertahankan nyawanya.
Tidak ada yang terjadi selama Lilian menutup mata. Dalam diamnya Lilian hanya mendengar suara terjatuh namun ia tidak tahu benda apa yang terjatuh.
Setelah cukup lama Lilian menutup mata, ia merasakan seseorang datang memeluk dan mencium keningnya.
"Seint." Batin Lilian.
Perlahan Lilian membuka matanya dan matanya langsung menatap kearah mata Seint yang terlihat sangat mengkhawatirkannya.
"Ada yang terluka?" Tanya Seint sambil memeriksa semua badan Lilian.
"Aku tidak apa-apa. Hanya sedikit kelelahan." Jawab Lilian.
Lilian membulatkan mata sempurna saat Seint mengangkat tubuhnya. "Seint ... Pesta masih berlangsung." Gumamnya pelan.
"Kamu buruh istirahat." Ucap Seint dingin.
Seint membawa Lilian menuju kamarnya, Saat dijalan Seint bertemu dengan Duke Marven, Zheyan dan Asgar yang berlari dengan tergesa kearahnya.
"Ada apa dengan Lilian Yang Mulia?" Tanya Duke Marven khawatir.
"Ada penyusup dan mereka menyerang Lilian." Jawab Seint datar.
Duke Marven, Zheyan dan Asgar terkejut mendengar ucapan dari Seint.
"Lalu dimana mereka Yang Mulia?" Tanya Asgar .
"Sebagian dari mereka sudah berhasil kami lumpuhkan namun ada beberapa penyusup yang berhasil melarikan diri." Jelas Seint.
Asgar mengangguk cepat. "Kalau begitu saya akan membantu mengejar para pelakunya Yang Mulia." Ijin Asgar kemudian berlari mencari keberadaan para penyusup setelah mendapatkan ijin.
Setelah kepergian Asgar, Duke Marven menatap serius kearah Zheyan. "Zheyan pergilah dan pastikan semua pintu dan gerbang yang ada di Istana terkunci rapat."
Zheyan mengangguk singkat kemudian pergi setelah mendapat ijin dari Seint. Duke Marven juga ijin undur diri untuk menenangkan para tamu undangan agar tidak merasa khawatir dengan kejadian tersebut.
Setelah mengantar Lilian ke kamarnya, Seint kembali mengejar para penyusup yang berusaha menyerang Lilian.
__ADS_1
°°°
Seint menginjak tangan salah seorang penyusup tanpa ampun. Sejak berhasil menangkap semua penyusup, Seint memerintahkan kepada Prajurit untuk membawa mereka menuju penjara bawah tanah untuk diintrogasi.
Suara teriakan pilu terdengar memenuhi seluruh ruangan penjara bawah tanah. Seint menghukum para penyusup dengan cara membakar kedua tangan dan tubuhnya menggunakan besi yang sudah dipanaskan.
Belum ada satupun dari para penyusup yang masih tersisa yang mau membuka mulut. Seint lagi-lagi menginjak tangan salah satu penyusup yang sudah terbakar.
"Berteriak-lah sekencang mungkin!! Semakin lama kalian membuka mulut maka kalian akan semakin merasa menderita. Kalian pikir saya akan memberikan kalian kematian?" Tanya Seint sambil tersenyum sinis. "Jangan mimpi!! Kalian harus mengalami penderitaan yang luar biasa terlebih dahulu sehingga kalian sendirilah yang akan meminta kematian." Ucapnya sambil tersenyum.
Suara teriakan pilu kembali terdengar namun lagi-lagi para penyusup itu tidak ingin memberitahu siapa dalang dari penyerangan tersebut.
"Prajurit bawakan saya garam, air dan jeruk nipis dalam jumlah yang banyak. Campurkan garam ke air yang sangat panas kemudian berikan perasan jeruk nipis ke luka mereka." Perintah Seint.
"Ampun Yang Mulia!! Saya akan membuka mulut namun tolong jangan siksa saya." Ucap Salah seorang penyusup yang sudah tidak tahan lagi dengan penyiksaan yang Seint berikan.
"Aku akan mempertimbangkan jika kau menjawab dengan juju." Ucap Seint tegas.
"Diam kamu!! Bertahanlah sedikit lagi ... Tuan pasti akan membebaskan kita." Ucap pemimpin penyusup.
Seint tertawa kencang mendengar ucapan pemimpin penyusup. "Tuan??? Jika Tuan mu berani maka dia akan muncul sekarang juga!! Bukan bersembunyi dan mengirim kalian untuk menyerang seorang gadis!!" Marah Seint.
"Tunggu saja saat Tuan kami berhasil menguasai kerajaan dan dunia. Orang pertama yang akan menangis ialah kau!!" Teriak pemimpin penyusup.
Seint kembali menatap kearah penyusup yang tadi mengatakan akan memberitahunya. "Kau ingin hukuman yang sama seperti orang tadi?" Tanyanya sinis.
Penyusup itu menggeleng cepat. "Tidak Yang Mulia!! Saya akan menjawab semua yang akan Yang Mulia tanyakan." Ucapnya gemetar.
"Baiklah ... Pertanyaan pertama, kenapa kalian menyerang Putri Mahkota?" Tanya Seint sambil menatap penyusup tajam.
"Kami mendapat perintah untuk menyerang Putri Mahkota saat ia sedang sendiri. Putri Mahkota selalu saja membuat rencana kami selalu gagal. Akhirnya kami diperintahkan untuk menghabisinya agar tidak terus-terusan merecoki rencana kami." Jawab penyusup itu cepat.
"Rencana apa?" Tanya Seint dingin.
Penyusup itu menelan ludah gugup. "Kami berencana untuk menguasai dunia dengan memanggil seekor naga. namun sebelumnya Putri Mahkota menggagalkan rencana kami saat pemanggilan roh dilakukan di daerah terlarang."
"Daerah terlarang?" Tanya Seint dingin.
"Be ... benar Yang Mulia. Sebelum Putri Mahkota kehilangan ingatannya, ia telah merusak rencana kami dengan cara menghancurkan formasi sihir yang kami buat untuk pemanggilan roh." Jawab penyusup gugup.
__ADS_1
"Kau sedang tidak berbohong bukan?" Tanya Seint marah.
"Tidak Yang Mulia ... Ka ... kami memanfaatkan darah mu yang berada pada padang musuh saat Yang Mulia berada di medan perang untuk memanggil roh." Jawab penyusup gugup.
"Apa buktinya jika ucapan mu itu benar?" Tanya Seint.
"Putri Mahkota buktinya ... Ia harus menanggung kutukan dari kegagalan ritual itu. Putri Mahkota kehilangan ingatannya dikarenakan telah merusak formasi sihir sehingga ia harus menanggung akibatnya. Putri Mahkota akan kehilangan jiwa murninya hari demi hari sehingga tidak akan lagi ada jiwa yang tersisa." Jelas penyusup.
Seint kembali menginjak tangan penyusup tersebut. "Jadi selama ini kalian sudah menyakitinya sedikit demi sedikit?" Tanya Marah.
Penyusup itu kembali berteriak kesakitan. "Ampun Yang Mulia!!" Teriaknya kesakitan.
Seint menatapnya sinis. "Kau harus membayar semua yang telah kamu lakukan kepadanya. Lalu bagaimana dengan jiwanya sekarang?" Tanyanya.
Penyusup itu kembali bernapas lega setelah Seint tidak lagi menginjak tangannya. "Ampun Yang Mulia ... saya tidak tahu tentang kejelasan itu." Jawabnya.
"Kalau begitu siapa yang telah merencanakan penyerangan ini?" Tanya Seint.
Penyusup itu terdiam sedikit ragu menjawab pertanyaan Seint. Napas penyusup itu semakin tersedak melihat tatapan intimidasi dari Seint.
"Tu ... Tuan Ma ... Martin." Jawab Penyusup terbata.
Rahang Seint mengeras. "Siapa lagi?" Teriaknya keras.
"Saya tidak tahu Yang Mulia. Selam ini saya hanya diperintahkan oleh Tuan Martin. Saya tidak tahu siapa saja rekan-rekannya yang terlibat." Jawab penyusup jujur.
Seint mengepalkan tangan kuat kemudian berbalik arah. "Berikan ia pengobatan! Saya masih membutuhkan dia sebagai informasi. Jangan biarkan dia kabur ataupun bunuh diri." Perintahnya kepada seorang Prajurit.
Seint kemudian berjalan keluar penjara bawah tanah dan berjalan menuju ruang kerja Ayahnya yang dimana sudah terkumpul banyak orang.
Seint memasuki ruangan dengan raut wajah suram. Suasana ruangan juga begitu tegang dengan raut wajah berbeda pada masing-masing orang.
"Bagaimana? Kamu melarang kami memasuki penjara itu ... Apakah kamu mendapat informasi tentang penyerangan itu?" Tanya Raja Reinal.
"Tangkap Tuan Martin." Jawab Seint datar.
Napas Duke Marven naik turun saat mendengar nama yang Seint sebutkan. "Yang Mulia Raja Reinal mohon ijinkan saya untuk menangkap orang yang telah berusaha menyakiti Putri saya." Harapnya sambil menunduk sopan.
Raja Reinal juga mengeraskan rahangnya mendengar nama itu. "Ingat jangan dulu habisi dia. Saya yakin dia memiliki komplotan. Bagi tugas untuk menutup semua akses keluar masuk kerajaan. Tangkap Tuan Martin dan geledah semua seisi rumahnya untuk mendapat bukti lain" Tegasnya.
__ADS_1
"Baik Yang Mulia." Ucap semua orang samaan.
°°°