
Sepanjang perjalan kembali ke Ibukota, Lilian tertidur dengan memeluk Citto dalam dekapannya sambil menyenderkan punggungnya pada dada bidang Seint.
Seint hela napas pelan berkali-kali menyeimbangkan tubuhnya saat menunggangi kuda. "Siapa tadi yang bilang tidak mau dekat-dekat." Batin Seint.
Setelah menyelesaikan semua urusan mereka di wilayah barat, mereka secepatnya harus kembali ke Ibukota untuk merencanakan beberapa hal.
Setelah berpamitan kepada para penduduk di sana, Seint dan yang lain langsung berangkat menuju Ibukota. Semakin cepat mereka kembali maka akan semakin cepat pula mereka membongkar rencana para penghianat dalam kerajaan.
Awalnya Lilian enggan menunggangi kuda bersama Seint, namun saat melihat tatapan tajam Seint yang terarah kepada Zheyan, Asgar dan Artem, ketiga menjadi enggan untuk menunggangi kuda bersama Lilian.
Lilian baru ingin menunggangi kuda bersama Seint setelah Artem melemparkan pandangan yang Lilian tahu pasti pandangan seperti apa. Dengan berat hati Lilian akhirnya mau menunggangi kuda bersama Seint.
Karena terlalu kelelahan Lilian mengantuk dan akhirnya tertidur dengan menyenderkan punggungnya pada dada Seint. Sesekali Seint harus menghentikan laju kudanya untuk membenarkan posisi tidur Lilian agar gadis itu tidak terjatuh dari atas kuda.
Demi untuk selalu menjaga keamanan Lilian, Seint akhirnya memutuskan mengikat tubuh Lilian ke tubuhnya, agar supaya jika Lilian bergerak, Seint tidak perlu lagi menghentikan laju kudanya.
Setelah lama tertidur, Lilian akhirnya membuka matanya karena merasa lapar. "Kenapa aku diikat?" Ketus Lilian sambil menggerakkan tubuhnya ke kanan dan kiri.
Seint menghela napas pelan. "Berhentilah bergerak!! Aku mengikatmu karena saat tertidur kamu selalu bergerak ... Itu membuat perjalanan kita menjadi terganggu." Jelasnya.
Lilian mengerucutkan mulutnya. "Seharusnya kamu tidak perlu mengingat ku seperti tahanan seperti ini." Kesalnya.
"Jika aku tidak mengikat mu maka kamu akan terjatuh dan harus menjalani perawatan seperti saat kamu terjatuh di atas kuda terakhir kali." Jelas Seint sambil menyeimbangkan laju kudanya.
Lilian menggeleng cepat. "Aku tidak mau kembali dirawat seperti sebelumya." Ucapnya sambil mengingat kembali saat ia terjatuh di atas kuda.
"Makanya lebih baik kamu diam saja." Ucap Seint datar.
"Tapi ... Aku sangat merasa lapar. Perut ku terasa sangat sakit sekali." Ucap Lilian pelan.
Seint memberhentikan laju kudanya saat mendengar ucapan dari Lilian. Melihat Seint berhenti, Zheyan, Asgar, Artem dan para pengawal juga ikut memberhentikan laju kuda mereka masing-masing.
"Ada apa Yang Mulia? Putri Mahkota bergerak lagi?" Tanya Artem.
Lilian merasa malu mendengar ucapan dari Artem dan memilih menyembunyikan wajahnya pada dada bidang Seint.
"Putri Mahkota merasa lapar, hari juga sebentar lagi akan menggelap. Kita akan beristirahat di sini malam ini. Cepat dirikan tenda!!" Tegas Seint.
__ADS_1
"Baik Yang Mulia." Ucap semua serentak.
Setelah melepas ikatan pada tubuh Lilian, Seint membantu gadis itu untuk turun dari atas kuda dan membawanya menuju sebuah pohon yang memiliki dau yang cukup lebat.
"Istirahatlah disini dulu selama menunggu mereka mendirikan tenda!!" Ucap Seint yang langsung diangguki oleh Lilian.
Seint kemudian berjalan menuju kuda seorang pengawal kemudian mengambil beberapa buah di sana dan kembali berjalan ke arah Lilian.
"Makanlah ini dulu selagi yang lain sedang menyiapkan makanan." Ucap Seint sambil memberikan beberapa buah-buahan kepada Lilian.
Lilian menerima buah-buahan yang diberikan oleh Seint kemudian memakannya untuk sekedar mengganjal perutnya.
°°°
Setelah memakan hidangan malamnya, Lilian segera menuju tenda yang disediakan khususnya untuk beristirahat. Tidak lama menutup mata Lilian akhirnya terlelap dengan posisi memeluk Citto dalam dekapannya.
Lilian menggeliat dari tidurnya saat merasakan pergerakan dari Citto. Saat membuka mata, Lilian dapat melihat Citto dalam posisi siap menyerang.
Terdengar suara keributan dari luar tenda yang membuat Lilian terbangun dari pembaringannya.
"Ada apa Citto?" Bisik Lilian pelan.
Ciitt ... Ciitt ... Citt ...
"Kita diserang? Malam-malam begini? Lalu bagaimana dengan keadaan yang lain? Apa perlu kita keluar untuk membantu?" Tanya Lilian beruntun karena khawatir.
Citto menggeleng pelan sambil menatap tajam ke segala arah.
Saat makan malam selesai, Seint dan yang lainnya sudah merasakan pergerakan dari orang-orang yang sedari tadi tengah mengawasi mereka.
Setelah Lilian menghabiskan makanannya, Seint menyuruhnya agar secepatnya beristirahat didalam tenda. Seint juga menyuruh Citto agar terus melindungi Lilian dan memberikan pesan kepada Citto agar jangan pernah membiarkan Lilian keluar dari dalam tenda.
Jika posisi mereka terdesak, maka Seint memerintahkan Citto tetap terus melindungi Lilian dan membawa gadis itu pergi menuju Ibukota tanpa Seint dan yang lainnya.
Sedari tadi Lilian merasa khawatir dan sangat ingin melihat keadaan dari luar tenda namun Citto selalu bisa menahannya agar tidak keluar dan merepotkan orang lain.
Perasaan Lilian semakin tidak enak saat mendengar bunyi dentingan pedang yang tidak ada henti-hentinya. Lilian juga dapat mendengar dengan jelas teriakan beberapa orang dari luar tenda.
__ADS_1
"Citto sepertinya kita harus keluar untuk memeriksa keadaan diluar!!" Ucap Lilian khawatir.
Lagi-lagi Citto tidak menyetujui ucapan dari Lilian. Citto tidak ingin membuat Lilian dalan posisi bahaya seperti yang dikatakan oleh Seint sebelumnya.
Setelah lama membujuk Citto yang tetap tidak mengijinkan Lilian keluar, Akhirnya Lilian sudah tidak mendengar lagi suara dentingan pedang maupun suara teriakan lagi.
Perasaan Lilian semakin kalut. Ada banyak hal yang Lilian pikirkan, ia tidak ingin satupun diantara mereka terluka. Lilian sangat ingin melihat kondisi diluar tenda namun Citto tidak membiarkan ia bergerak sedikitpun dari posisinya. Citto bahkan memberikan tatapan yang membuat Lilian merasa ketakutan dan tidak lagi berani melangkahkan kakinya barang sedikitpun.
Setelah berkutat dengan pikirannya sedari tadi, tiba-tiba saja tenda Lilian dibuka. Zheyan memasuki tenda dengan banyak sekali darah di sekujur tubuhnya.
Lilian secepatnya berlari kerah Zheyan dan memeluknya. "Apakah Kakak terluka? Tanya Lilian khawatir sambil memeriksa seluruh tubuh Zheyan.
"Tidak Lilian. Kakak baik-baik saja." Ucap Zheyan menenangkan Lilian.
"Apa yang terjadi diluar Kakak?" Tanya Lilian penasaran.
"Ada sekelompok orang yang menyerang. Sepanjang perjalanan mereka telah mengikuti kita dan menyerang saat merasa kita tengah lengah." Jelas Zheyan.
"Lalu bagaimana dengan situasi diluar sana? Apakah semuanya baik-baik saja? Tidak ada yang terluka-kan?" Tanya Lilian beruntun.
"Kondisi diluar sangat mengenaskan namun kami dapat mengatasi masalah penyerangan tanpa luka serius kecuali ... " Jelas Zheyan menjeda.
"Kecuali apa Kakak?" Tanya Lilian khawatir.
"Pangeran Mahkota ... "Ucap Zheyan terhenti.
Dada Lilian terasa sesak dan tanpa menunggu jawan dari Zheyan, ia berlari secepatnya keluar tenda meninggalkan Zheyan dan Citto.
Napas Lilian tersedak melihat banyak sekali jasad yang terbaring di atas tanah tanpa nyawa dengan kondisi sangat mengenaskan. Mengabaikan para jasad itu, Lilian berlari mencari keberadaan Seint.
Dari jauh Lilian dapat melihat Seint dengan berlumuran banyak darah ditubuhnya. Lilian juga dapat melihat dengan jelas raut wajah khawatir Artem, Asgar dan para pengawal arahkan pada Seint.
Lilian sudah tidak bisa lagi menahan air matanya, dengan tergesa ia berlari cepat ke arah Seint sambil memanggilnya.
"SEINT!!" Teriak Lilian.
°°°
__ADS_1
Bagi yang udah baca novel ini setengah, Author ganti nama Rajanya menjadi Raja Reinal sesuai arahan dari pihak NT/MT