
Ditempat lain, sebuah bola kristal yang memiliki ukuran yang jauh lebih besar dari bola kristal yang berada di kediaman Duke Marven bergetar kuat. Bola kristal itu tidak mengeluarkan cahaya sama sekali dan terus-terusan bergetar dengan waktu yang cukup lama.
Seseorang yang memaki pakaian penyihir memasuki ruangan dimana bola kristal itu berada mengepalkan tangannya kuat melihat bola kristal itu bergetar dan tidak lama setelahnya bola kristal itu meledak dan hanya menyisakan puing-puing dari bola kristal tersebut.
Dengan raut wajah marah orang tersebut berjalan keluar dan memerintahkan bawahannya untuk mengatur pertemuan dengan para pengikutnya.
Setelah menunggu sedikit lama, bawahannya kembali dan mengabarkan kepadanya jikalau semua orang telah berkumpul dikediaman Marquis Gaustark dan mereka sedang menunggu kedatangannya saja.
Setelah menempuh perjalanan sedikit lama, orang tersebut akhirnya sampai di kediaman Marquis Gaustark dan melangkahkan kakinya untuk memasuki aula pertemuan.
Sangat jarang sekali baginya untuk melakukan pertemuan secara langsung seperti ini namun sesuatu yang ia akan bahas kali ini benar-benar penting untuk dibahas secara langsung.
Suasana aula pertemuan tampak tenang dan tidak seorangpun yang berani mengeluarkan suara. Orang yang menggunakan pakaian penyihir serta memakai penutup wajah tersebut hanya duduk diam dan tidak bersuara sama sekali.
Karena merasa bingung dengan kelakuan dari Pemimpin mereka, Marquis Gaustark akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.
"Maafkan saya Tuan Besar jika lancang, namun jika boleh bertanya. Apakah pembahasan dari pertemuan kita kali ini? Sehingga membuat Anda sendiri yang datang kesini?" Tanya Marquis Gaustark.
"Siapa yang telah melakukan ritual?" Tanya Pemimpin mereka dengan nada marah dari ucapannya.
Semua orang menatap satu sama lain tidak mengerti dengan arah pembahasan yang sedang di pertanyakan oleh Pemimpin mereka.
"Bola kristal dikediaman ku telah hancur. Itu tandanya ada orang lain yang telah melakukan ritual." Ucapnya dengan nada marah yang tertahan.
"Maag Tuan Besar namun kami benar-benar tidak mengetahui apapun tentang ritual itu. Kami tidak berani bergerak sendiri tanpa ada perintah darimu." Jelas Marquis Gaustark.
Pemimpin mereka kemudian menggebrak meja didepannya dengan keras sehingga menghasilkan suara yang besar.
"Apa saja yang kalian lakukan selama ini? Yang melakukan ritual itu saja kalian tidak tahu!! Jika bola kristal itu diketahui fungsinya maka rencana yang kita susun selama ini akan berantakan semua!!" marah Pemimpinnya itu.
Semua orang menunduk takut melihat kemarahan Pemimpinnya. Ia jarang sekali marah namun jikalau ia sudah marah maka ia tidak akan segan-segan membunuh orang untuk melampiaskan kemarahannya.
__ADS_1
"Ampuni kami Tuan Besar. Secepatnya kami akan mencari tahu siapa yang sudah melakukan ritual itu." Ucap Viscount Wilson.
Pemimpin itu membuang napas keras. "Percuma saja kalian mencari tahu!! Apakah kalian pikir setelah ini tidaka akan terjadi apa-apa?" Tanyanya marah.
"Bola kristal itu sudah berada sangat lama di kediaman Duke Marven. Selama ini saya sudah menyuruh kalian agar bagaimanapun caranya kalian bisa mencari cara untuk mengambil bola kristal itu!!" Marah Pemimpin itu lagi.
"Maaf Tuan Besar. Duke Marven adalah seorang Panglima Perang, kediamannya sangat dijaga sangat ketat. Meski kami pernah menyelinap masuk namun setelahnya kami tidak bisa mendekati kediaman itu lagi." Ucap bangsawan lainnya takut.
"Itulah kebodohan kalian!! Seharusnya kalian mencari cara lain lagi agar bisa memasuki kediaman itu. Namun usaha kalian sampai sekarang tidak membuahkan hasil dan sekarang bola kristal itu pasti mengeluarkan cahayanya." Marah Pemimpin itu.
"Kami akan melakukan upaya lain untuk memasuki kediaman itu. Tuan Besar tidak perlu merasa khawatir." Ucap salah satu bangsawan lain.
Pemimpin itu tersenyum sinis. "Kalian menyuruhku untuk tidak merasa khawatir!! Dengan kecerdasan yang dimiliki oleh Putri Mahkota dan pencapaian yang diraih oleh Putra Mahkota akan membiarkan bola kristal itu tanpa menyelidikinya? Mereka berdua adalah pasangan yang harus kita hindari secara langsung, untuk apa kalian menargetkan hidup gadis itu selama ini kalau bukan karena bola kristal itu berada di sana!!" Marahnya.
Semua bangsawan hanya menunduk diam tidak lagi mengatakan hal apapun yang akan membuat pemimpin mereka bertambah marah.
"Apakah Kelompok Kesatria Elang yang melakukan ritual itu?" Tanya Pemimpin itu setelah berhasil mengontrol kembali kemarahannya.
Semua bangsawan kembali menatap satu sama lain. "Entahlah Tuan Besar namun selama ini kami tidak pernah membahas tentang bola kristal dihadapan mereka. Selama ini mereka hanya melakukan tugas sesuai yang Tuan Besar perintahkan tanpa bertanya." Jawab Marquis Gaustark.
Semua bangsawan kembali menatap satu sama lain mendengar pertanyaan Pemimpin mereka.
"Jika mereka yang melakukan ritual itu, lalu bagaimana cara mereka melakukan ritualnya. Untuk memastikannya saya akan mengirim seseorang untuk memastikan kebenaran itu ke kediaman Kesatria Kelompok Elang." Bujuk Marquis Gaustark.
Pemimpin mereka hanya diam saja tidak menjawab ucapan dari Marquis Gaustark. "Apakah mungkin yang melakukan ritual itu adalah Pangeran Mahkota. Jika benar bukan seharusnya ia sudah mengetahui rencana kami dan menangkap semua orang yang teribat. Namun melihatnya yang masih tetap diam, pasti ia belum mengetahuinya. Jika dilihat dari sifatnya yang selalu bergerak cepat saat merasa curiga dengan sesuatu." Batinnya.
Setelah menyetujui beberapa usulan dari beberapa bangsawan, Pemimpin itu akhirnya setuju dengan rencana mereka yang akan berusaha mendekati Lilian.
°°°
Seint terduduk di atas ranjangnya dengan menyandarkan punggungnya pada salah satu sisi ranjang sambil menatap kearah bola kristal yang berasa ditangannya.
__ADS_1
Ada banyak yang Seint pikirkan setelah ia membawa bola kristal itu bersamanya. Salah satunya adalah tentang kondisi yang tengah Lilian rasakan.
Seint kembali teringat tulisan pada buku yang ditulis oleh Raja Apollo yang mengatakan jikalau seorang yang sudah memiliki ikatan batin dengan seekor naga maka apa yang dirasakan oleh pemilik akan dirasakan pula oleh naga dan begitupun sebaliknya.
Bola kristal itu mungkin saja telah menyerap sebagian energi dari Citto dan membuat kondisi Lilian melemah seperti sekarang. Meski ketahan fisik gadis itu sangat kuat namun jika energinya terus saja diserap secara bertahap maka ia akan tetap melemah.
Bola Kristal itu berfungsi mengendalikan hewan mitos, jika hewan mitos tidak bisa lagi dikendalikan dan berprilaku liar sampai tidak mengetahui Tuannya maka bola kristal itulah yang akan menyegel kekuatan beserta tubuh hewan mitos tersebut.
Jika suatu hari nanti Citto tidak mengenalinya lagi dan Lilian. Maka yang bisa ia lakukan hanyalah menyegel Citto dan itu akan berdampak pada Lilian sang pemilik naga.
Seiring dengan penyegelan naga maka secara tidak langsung Lilian juga akan ikut tersegel dan jiwanya akan meninggalkan raganya. Memikirkan hal itu membuat Seint menjadi dilema.
Jika hari itu tiba, Seint harus mengambil keputusan seperti yang tertulis dalam buku atau malah sebaliknya. Seint hanya berpikir tidak ingin lagi membuat gadis itu selalu mengorbankan dirinya terus menerus.
Jiwa masa lalunya pernah ia korbankan dan Seint tidak ingin Lilian mengorbankan jiwa masa depannya untuk dikorbankan lagi. Yang Seint pikirkan sekarang hanyalah bagaimana caranya agar Lilian tidak dikorbankan lagi.
Artem menatap Seint yang sejak tadi menatap bola kristal ditangannya sambil menghela napas berat. "Apakah yang sedang kau pikirkan sekarang?" Tanyanya.
Seint kembali menghela napas pelan kemudian menggelengkan kepalan. "Tidak apa-apa." Jawabnya.
Artem mendekati Seint dan mendudukkan badannya didepan Seint yang menatapnya malas. "Kita berteman sudah sejak lama ... Jika kau bertingkah seperti ini, itu artinya kau sedang memikirkan sesuatu." Ucapnya.
Seint kembali membuang napas kasar. "Aku hanya memikirkan kondisi Lilian." Jawabnya datar.
Artem mengerutkan kening heran. "Bukankah ia terlihat baik-baik saja?" Tanyanya.
"Ia memang terlihat baik-baik saja ... Namun yang sebenarnya adalah ia sedang tidak baik-baik saja." Ucap Seint.
"Benarkah?" Tanya Artem lagi.
Seint hanya mengangguk pelan kemudian mengubah posisinya menjadi terlentang. "Pergilah!! Aku membutuhkan tenaga yang banyak untuk memikirkan semua ini."Usir Seint enteng.
__ADS_1
Artem menghela napas kesal namun tetap saja meninggalkan Seint sendiri untuk mengistirahatkan diri.
°°°