Bukan Dunia Novel

Bukan Dunia Novel
20. Bubuk coklat


__ADS_3

Setelah menyelesaikan tugasnya diperkebunan, Seint dan Artem segera menuju ke ibukota. Dalam perjalanannya Seint berpikir untuk mengunjungi kediaman Duke Marven terlebih dahulu untuk menemui Lilian, namun bukannya Lilian yang ia temui melainkan ayah dari gadis itu.


Setelah sedikit mengobrol dengan Duke Marven, Zheyan dan Artem segera menuju pasar dengan menunggangi kuda masing-masing untuk menemui Lilian melanjutkan pembahasannya mengenai kerjasamanya.


Zheyan dan Artem mencari Lilian saat mereka telah sampai di pasar. Di tengah pencarian mereka melihat warga berkumpul di sebuah toko, awalnya mereka berpikir para warga berkumpul karena sedang berburu diskonan namun langkah mereka terhenti saat seseorang menyebut nama Lilian.


Setelah memahami situasi yang terjadi, Seint berjalan membelah kerumunan para warga untuk bisa sampai ditempat tujuannya. Saat sampai Seint melihat Raina salah satu putri bangsawan sedang terduduk dilantai toko sambil menangis.


Seint terdiam beberapa waktu untuk mendengar apa yang hendak ingin Lilian sampaikan kepada Raina. Seint sesekali mengangkat alisnya saat mendengar kata-kata yang keluar dari mulut kecil Lilian begitu tajam.


Setelah Lilian selesai berbicara dengan Raina gadis itu berbalik tepat di hadapannya. Saat gadis itu menunjukkan raut wajah bingungnya, Seint langsung menarik tangan gadis itu dan berjalan menjauhi kerumunan.


Seint terus menarik tangan Lilian berjalan menuju tempat penitipan kuda yang sebelumnya sudah ia titipkan di jasa penitipan kuda.


Lilian terlihat bingung saat Seint membawanya menuju kudanya. "Kenapa kita harus kesini?" Ucap Lilian.


"Kita pulang." Ucap Seint.


Lilian sejenak berpikir dan sesaat kemudian tersenyum senang. "Maksud mu aku akan pulang menunggangi kuda ini?" Ucap Lilian.


"Kita." Ucap Sein sambil menatap tajam ke arah Lilian.


"Ya...itu maksud ku." Ucap Lilian.


"Naik." Ucap Seint datar.


"Tapi aku tidak tau caranya menaiki kuda." Ucap Lilian.


Seint menghela napas pelan lalu meletakan satu tangan Lilian dipundaknya. "Injak pelana kuda ini dan satu tangan mu letakkan diatas punggung kuda." Ucap Seint.


Lilian menatap senang ke arah Seint. "Bisakah mulai sekarang kau berbicara panjang begitu denganku? Aku kadang sangat susah menerjemahkan kata-katamu yang singkat itu." Ucap Lilian.


"Cepat naik!" Ucap Seint ketus.


Kemudian Lilian menaiki kuda Seint dengan kesal. Setelah memastikan Lilian sudan naik di atas kuda, Seint kemudian menaiki kuda yang sama dengan Lilian.


Lilian kaget saat punggungnya menyentuh dada bidang Seint. "Ke...kenapa kau juga naik di kuda yang sama?" Tanya Lilian gugup.


"Ini kuda ku." Ucap Seint.


"Kalau begitu aku yang akan turun." Ucap Lilian sambil menggerakkan badannya turun di atas kuda.


"Sedikit saja kau bergerak di atas kuda ku akan aku pastikan kau pulang dengan ku gendong!" Ucap Seint.


Lilian yang berniat turun dari atas kuda Seint menghentikan niatnya saat mendengar ucapan Seint. Ia menatap ngeri ke arah Seint sedangkan yang di tatap hanya memberikan ekspresi datar.


"Sekalinya kau berbicara panjang namun menakutkan." Ucap Lilian.


"Kalau begitu menurut lah." Ucap Seint sambil menarik tali kekang kuda.


Semua orang menatap tak percaya ke arah Seint dan Lilian pergi. Mereka mengetahui jikalau pangeran mahkota mereka adalah seorang yang dingin dan tak tersentuh, namun hari ini mereka melihat dengan mata kepala mereka sendiri saat Seint datang dan menarik tangan Lilian pergi, bukan sampai di situ saja, Lillian bahkan di ijinkan oleh Seint menaiki kudanya yang selama ini tak siapapun yang ia ijinkan untuk menaikinya.

__ADS_1


Mereka mulai membuat kesimpulan bahwa pangeran Seint telah jatuh cinta pada putri bungsu dari Duke Marven.


°°°


Di perjalanan pulang menuju kediaman Duke Marven suasana hening tercipta antara Seint dan Lilian. Tak ada satupun yang mau memulai percakapan, Lilian sesekali berdehem untuk mencairkan suasana.


"Kenapa?" Tanya Seint.


"Kenapa apa?" Tanya Lilian balik.


"Kenapa bisa bertengkar?" Tanya Seint lagi.


"Entahlah...dia yang mulai." Ucap Lilian kesal mengingat kejadian di pasar.


"Ceritakan!" Ucap Seint


Lilian menghela napas pelan. "Sepertinya aku membutuhkan kesabaran yang sangat Extra saat berbicara dengan mu, apakah kau tak bisa berbicara sedikit lebih panjang?". Ucap Lilian.


"Ceritakan saja!" Ucapnya lagi.


"Baiklah." Ucap Lilian kesal, "Tadinya aku sedang berbelanja kain untuk kebutuhan Festival nanti, saat memilih si gadis itu datang dengan pelayan nggak tau diri itu, awalnya kami hanya mengobrol biasa saja namun semakin lama ia berbicara seperti menyindirku, awalnya aku masih biasa-biasa saja namun melihat kelakuan pelayannya yang tak tau etika sama sekali itu membuat ku kesal, oh ya sampai lupa bagaimana dengan Rosa...dia bisa mencari ku kemana-mana kalau tak melihatku di sana, ayo kita putar balik." Ucap Lilian.


"Cerewet." Ucap Seint, "Rosa pulang bersama Artem." Lanjutnya lagi.


Lilian hanya mengangguk kemudian ia kembali bercerita tentang apapun yang ia temui, Seint hanya tersenyum setipis mungkin mendengar gadis itu tak henti-hentinya menceritakan hal-hal lucu yang ia alami.


Sesampainya Seint dan Lilian dikediamannya. Mereka langsung menuju tempat penjemuran buah kopi yang sebelumnya telah Lilian bawa.


"Ini proses pertama yaitu penjemuran langsung dibawah sinar matahari, kalau cuacanya cerah seperti ini terus maka beberapa hari ke depan kandungan airnya akan berkurang dan kita akan langsung memulai proses yang kedua." Jelas Lilian.


"Ya...sudah, ayo aku antar." Ucap Lilian.


"Tidak perlu, Artem sudah menunggu ku di luar." Ucap Seint.


"Baiklah kalau begitu, semoga pulang dengan selamat dan sampai jumpa besok." Ucap Lilian.


Seint hanya mengangguk dan berjalan menjauhi Lilian.


°°°


Di sinilah Lilian sekarang, setelah melihat proses penjemuran buah kopi, Lilian langsung menuju tempat Zheyan dan para pelayan berada.


Sebelumnya Zheyan sudah memisahkan buah kakao yang sudah kering dengan buah kakao yang masih perlu proses penjemuran.


"Kakak sekarang kita melakukan proses yang kedua yaitu pemisahan biji kakao dari dalam buahnya, caranya masukan buah-buah kakao itu dalam karung dan pukul dengan keras." Jelas Lilian.


Zheyan mengangguk singkat. "Segera lakukan yang bilang tadi!" Ucap Zheyan.


Para pelayan melakukan yang diperintahkan oleh Zheyan dan Lilian. Setelah beberapa saat kemudian Lilian memeriksa isi dari karung yang telah dipukul sedari tadi.


Lilian tersenyum senang melihat hasil yang didapatkan. "Ambilkan saya wadah yang besar dan isi dengan air!" Ucap Lilian.

__ADS_1


Kemudian beberapa pelayan membawa sebuah wadah dan mengisinya dengan air sampai penuh.


"Masukan biji-biji itu kedalam air dan pisahkan biji yang tenggelam dengan biji yang mengapung." Ucap Lilian.


Para pelayan kemudian melakukan yang diperintahkan Lilian dengan benar.


"Setelah itu jemur kembali biji-biji yang sudah kita rendam tadi, kita istirahat sebentar selama menunggu biji-biji itu mengering." Ucap Lilian.


Semua mengangguk dan menjalankan tugas sesuai arahan yang Lilian berikan. Zheyan dan Lilian makan siang bersama ditempat pengolahan biji kakao selagi menunggu biji-biji itu kering.


Setelah memastikan biji-biji itu kering, Lilian memerintahkan agar para pelayan menyalakan api kemudian menyangrai biji kakao menggunakan wajan yang cukup besar. Setelah biji kakao berwarna kehitaman, Lilian menyuruh para pelayan mengeluarkan biji-biji tersebut.


Setelah melakukan penyangraian biji kakao, Lilian memerintahkan para pelayan menekan biji-biji kakao menggunakan alat yang sebelumnya suda Lilian minta pada Zheyan untuk mendapatkan lemak coklat.


Langkah selanjutnya adalah penumbukan biji yang sudah ditekan keras tadi, kemudian menyaringnya menggunakan kain yang sebelumnya Lilian beli.


Setelah melakukan proses yang memakan waktu lama akhirnya mereka mendapatkan bubuk coklat yang siap mereka olah.


"Bubuk coklatnya sudah siap Kakak." Ucap Lilian senang.


"Bubuk coklat ini sangat harum namun setelah Kakak mencobanya rasanya sangat pahit, apa kau yakin kita berhasil." Tanya Zheyan.


Lilian mengangguk antusias. "Kau benar sekali Kakak, bubuk ini memang pahit karena belum kita olah menjadi kue atau minuman, masih ada bahan yang harus kita siapkan dulu." Ucap Lilian.


"Kalau begitu langkah apa yang akan kita lakukan selanjutnya?" Tanya Zheyan.


"Membuat sisa bahan yang kita butuhkan, tadi pagi aku sudah membeli semua yang kita butuhkan tinggal menunggu kabar dari Kak asgar saja." Ucap Lilian.


"Kabar apa?" Tanya Zheyan.


"Sebelumnya aku pernah meminta mencarikan susu dalam jumlah yang besar, kita tunggu Kak Asgar membawanya lalu kita lakukan proses selanjutnya, sementara menunggu bahan yang akan kita butuhkan simpan dulu bubuk coklat itu di tempat sejuk agar awet." Ucap Lilian


Zheyan kemudian mengangguk kemudian mengarahkan pandangannya pada para pelayan. "Terus pantau buah kakao yang masih di jemur dan lakukan proses seperti yang kita lakukan tadi, Hari ini kalian sudah berkerja keras maka beristirahatlah dan simpan bubuk coklat itu ke tempat yang sejuk, terus." Ucap Zheyan.


"Baik Tuan." Ucap para pelayan serentak.


Kemudian Zheyan dan Lilian berjalan menuju kediaman utama untuk beristirahat. Saat mereka mau berjalan masuk ke kamar masing-masing seorang pelayan wanita segera berdiri menghadang jalan mereka.


"Salam Tuan dan Nona Muda, Tuan besar bilang agar Nona segera menemui Tuan." Ucap pelayan tersebut.


"Baiklah, kau boleh pergi." Ucap Zheyan.


Lilian menghela napas berat. "Pasti gara-gara masalah tadi pagi." Ucap Lilian.


Zhenyan mengerutkan kening bingung. "Emangnya ada apa tadi pagi?" Tanya Zheyan.


"Tadi pagi saat ke pasar aku bertemu dengan Nona Raina, di sana kami terlibat sedikit masalah, Untuk lebih jelasnya aku akan jelaskan nanti," Lilian kembali membuang napas berat. "Padahal aku sudah sangat lelah." Lanjutnya.


"Kakak akan menemani mu menemui Ayah." Ucap Zheyan yang dibalas anggukan oleh Lilian.


Mereka langsung berjalan menuju ruangan kerja Ayahnya.

__ADS_1


°°°


Hari ini adalah hari pertama Author mengikuti acara "BAITUL AQRAM" sampai 2 hari ke depan. Sebagai panitia harus nginap di sekolah bersama para peserta dan pemateri lainnya. Author tidak bisa memastikan dua hari ke depan bisa UP namun kalau seandainya di ijinkan untuk pegang ponsel maka akan Author usahain.


__ADS_2