
Keesokan harinya Lilian mulai menjalankan rencana dari Seint. Pagi-pagi sekali Lilian berangkat menuju Istana bersama Rosa dan para pengawalnya. Setelah mendapat teguran keras dari Seint, para pengawal Lilian sekarang enggan untuk meninggalkannya walau hanya sebentar.
Sesampainya di Istana, Lilian segera menuju ruangan pribadinya untuk membaca gulungan dokumennya. Setelah beberapa kali membuka gulungan dokumen, akhirnya Lilian dapat melihat dokumen yang ia butuhkan.
Lilian tersenyum cerah saat memegang sebuah gulungan dokumen tersebut. "Apakah Yang Mulia Raja ada di Istana?" Tanya Lilian.
Nora menunduk hormat. "Ya Yang Mulia." Jawabnya.
"Antar-kan aku menemui Yang Mulia Raja. Aku berniat mengadakan sebuah acara dan ingin meminta pendapatnya." Ucap Lilian sambil menggenggam erat gulungan dokumen ditangannya.
"Baik Yang Mulia. silahkan ikuti saya." Ucap Nora sambil menunduk hormat.
Lilian berjalan mengikuti Nora, sesampainya disebuah pintu yang sangat besar seorang Prajurit maju dan memberi hormat.
"Beritahu kedatangan ku kesini, katakan kepada Yang Mulia Raja bahwa saya memiliki hal penting yang harus saya bicarakan." Ucap Lilian tegas.
"Baik Yang Mulia." Ucap Prajurit lalu memasuki ruangan.
Tidak lama setelahnya, Prajurit itu muncul kembali dan menunduk hormat. "Silahkan masuk Yang Mulia." Ucap Prajurit tersebut.
"Kalian tunggu disini saja." Ucap Lilian kepada Rosa dan Nora.
Lilian memasuki ruangan tersebut dan menunduk hormat melihat Sang Raja dan Sang Permaisuri/Ratu sedang duduk bersebelahan.
"Hormat hamba Yang Mulia, Semoga Yang Mulia Raja dan Ratu selalu diberkahi oleh langit." Hormat Lilian sopan.
"Kau Juga." Ucap Sang Raja dan Ratu.
"Bagaimana keadaan mu Putri?" Tanya Raja Reinal.
"Seperti yang terlihat, hamba baik-baik saja." Ucap Lilian sambil tersenyum hangat.
"Lalu bagaimana dengan bekas luka mu?" Tanya Ratu Elena.
Lilian tersenyum simpul. "Berkat obat yang Yang Mulia berikan bekas luka saya mulai tidak terlihat jelas lagi." Ucapnya.
"Baguslah kalau begitu, lalu hal apa yang membawa mu kemari?" Tanya Ratu Elena.
Lilian kembali tersenyum. "Ampun Yang Mulia, kedatangan hamba kemari untuk meminta persetujuan dan saran dari Raja dan Ratu." Ucap Lilian sopan.
"Persetujuan apa?" Tanya Raja Reinal.
"Saya mendapatkan sebuah gulungan dokumen yang isinya mengabarkan tentang keberhasilan panen untuk tahun ini." Jelas Lilian.
"Lalu?" Tanya Ratu Elena.
"Saya berniat membuat perayaan panen tahunan untuk merayakan kesuksesan para Petani kerajaan dalam menggarap tanah mereka masing-masing. Perayaan ini bertujuan untuk memberi dukungan terhadap para Petani agar kedepannya tetap semangat untuk memberikan hasil panen terbaik untuk kerajaan kita." Jelas Lilian.
__ADS_1
Ratu Elena tersenyum cerah. "Saya setuju dengan rencana mu Putri Mahkota." Lalu beralih menatap Raja Reinal. "Bagaimana menurut Yang Mulia?" Tanyanya.
Raja Reinal mengangguk singkat. "Saya setuju. Apakah kamu sudah punya rencana untuk kedepannya?" Tanyanya.
"Ya Yang Mulia. Saya berencana untuk mengundang keluarga bangsawan lainnya untuk memeriahkan perayaan. Di perayaan itu saya ingin para keluarga bangsawan ikut merasakan kebahagian dari para Petani. Mereka telah berjuang untuk menghasilkan hasil panen yang bagus." Jelas Lilian riang.
"Baiklah... Saya setuju dengan rencana mu. Silahkan lakukan persiapannya mulai dari sekarang." Ucap Raja Reinal.
Lilian menunduk hormat. "Terima kasih Yang Mulia, kalau begitu saya ijin undur diri agar bisa secepatnya mengurus hal lainnya." Ucapnya.
"Ya. Silahkan." Ucap Raja Reinal.
Setelah memberi penghormatan, Lilian langsung keluar dari ruangan tersebut untuk segera memulai persiapannya.
Ratu Elena tersenyum ke arah Lilian pergi. "Tidak salah Yang Mulia memilihnya sebagai pasangan dari Pangeran Mahkota." Ucapnya sambil tersenyum.
"Tentu saja." Ucap Raja Reinal.
°°°
Setelah menemui Raja Reinal dan Ratu Elena, Lilian berjalan menuju tempat Putri Evilia berada.
"Bagaimana keadaan mu Putri?" Tanya Putri Evilia.
"Baik." Ucap Lilian sambil tersenyum.
"Tidak masalah Putri, kondisi saya sudah sangat membaik. Oh ya kedatangan saya kesini karena membutuhkan bantuan mu." Ucap Lilian.
"Bantuan apa?" Tanya Putri Evilia bingung.
"Saya ingin mengadakan acara perayaan panen dan telah disetujui oleh Yang Mulia Raja dan Ratu, jika kamu tidak sibuk bantulah aku mempersiapkannya." Ucap Lilian.
Putri Evilia tersenyum lembut. "Tentu saja. Kapan perayaan itu di adakan?" Tanyanya.
"Beberapa hari ke depan, Saya ingin merayakan perayaan itu diluar Istana dengan mengundang keluarga bangsawan lainnya." Jelas Lilian.
"Rencana mu bagus." Ucap Putri Evilia.
"Iya. Ini adalah tugas ku yang pertama, maka dari itu aku menemui mu. Aku tidak bisa menyiapkannya sendiri untuk itu aku membutuhkan bantuan mu." Ucap Lilian.
"Tentu saja aku akan terlibat, kita akan mulai persiapannya dengan mengabarkan perayaan ini dan menentukan dimana tempat yang pas untuk mengadakan perayaan ini." Ucap Putri Evilia.
"Perayaan ini bertujuan untuk merayakan keberhasilan panen, jadi untuk tempat aku rasa lebih baik disekitar ladang para Petani. Bagaimana?" Tanya Lilian.
"Tentu saja. Di dekat danau buatan sana ada lahan petani yang sangat luas, jika kamu setuju kita akan mulai memeriksa tempat itu hari ini." Ucap Putri Evilia.
"Tentu saja, kalau begitu sebaiknya kita pergi sekarang." Ucap Lilian.
__ADS_1
Keduanya kemudian mempersiapkan kebutuhan mereka untuk ke sana. "Rosa pulanglah dan suruh Kakak ku untuk menyusul ke tempat yang Putri sebutkan tadi!" Ucap Lilian.
"Baik Tuan Putri." Ucap Rosa dan segera menjalankan perintah Lilian.
Setelah persiapannya telah selesai, Lilian bersama dengan Putri Evilia berjalan menuju kereta kudanya berada. Saat keduanya berjalan menelusuri lorong Istana, mereka berpapasan dengan Seint dan Artem.
Lilian dan Putri Evilia menunduk hormat. "Selamat pagi Pangeran Mahkota." Ucap mereka samaan.
"Pagi." Ucap Seint datar.
"Ada apa dengannya." Batin Lilian sambil melirik ke arah Seint.
"Kenapa?" Tanya Seint datar pada Lilian.
Lilian mengerjapkan mata dan menengok ke kanan dan kiri. "Kau berbicara kepada ku?" Tanya Lilian sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Lalu siapa lagi." Ucapnya datar.
Lilian menatap sinis ke arah Seint. "Tidak ada apa-apa." Ketusnya dan menarik tangan Putri Evilia. "Ayo kita pergi! Jika terlalu lama di sini maka kita akan lama sampainya." Ucap Lilian.
Sebelum Putri Evilia menjawab, Seint terlebih dulu menyela. "Kalian mau kemana?" Tanyanya.
Lilian hanya diam saja dan tidak mau menjawab. Melihat Lilian yang hanya diam saja, Putri Evilia berinisiatif menjawab. "Kami akan pergi ke ladang dekat danau buatan." Ucap Putri Evilia.
"Apa yang ingin kalian lakukan di sana?" Tanya Seint datar.
Putri Evilia menatap Lilian yang masih terdiam dan kembali menatap Seint. "Putri Mahkota ingin mengadakan acara perayaan panen tahunan untuk para Petani, untuk itu kami membutuhkan tempat untuk melaksanakannya." Jelasnya.
"Kenapa harus diluar Istana?" Tanya Seint sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Karena perayaan itu untuk merayakan keberhasilan para Petani maka Putri Mahkota menginginkan tempat dilangsungkan kegiatan itu di ladang para Petani saja." Jelas Putri Evilia lagi.
Seint mengangguk pelan. "Aku akan ikut!" Ucap Seint datar.
Lilian membulatkan mata sempurna. "Kenapa kamu harus ikut juga? Tetaplah di sini dan urus pekerjaan mu." Ucap Lilian meninggi.
"Aku lagi senggang, daripada aku hanya berdiam diri di sini saja lebih baik aku ikut kalian saja." Ucap Seint.
Lilian menatap ke arah Artem. "Benar?" Tanyanya.
"Be... benar Yang Mulia." Ucap Artem gugup.
Lilian menatap curiga ke arah Seint. "Baiklah." Ucapnya.
°°°
Bagi yang udah baca novel ini setengah, Author ganti nama Rajanya menjadi Raja Reinal sesuai arahan dari pihak NT/MT
__ADS_1