
"TIDAK MAU!" Ucap Lilian kesal.
Seint dan Lilian saling melempar tatapan tajamnya, tidak ada yang mau mengalah bahkan berkedip pun mereka enggan.
Semakin lama Lilian merasakan matanya semakin memanas hingga akhirnya ia menyerah dan mengedipkan matanya.
Seint tersenyum sinis ke arah Lilian. "Kau kalah." Ucapnya dengan raut wajah sombong.
Lilian menatap sengit ke arah Seint. "Aku sumpahin kau akan menjadi bucin kepadaku dan secara sukarela menjadi pelayanku" Batin Lilian.
"Apa yang sedang otak kecil mu ini pikirkan?" Tanya Seint sambil menepuk pelan kepala Lilian.
"Lepaskan tangan mu!" Ucap Lilian sambil menyeka tangan Seint di kepalanya.
Seint tersenyum kecil. "Ternyata pelayan ini begitu berani pada tuannya." Ucap Seint.
Lilian menatap Seint dengan kesal. "Aku bukan pelayan mu!" Ucap Lilian meninggi.
Seint menatap Lilian tajam. "Aku tidak suka dibantah." Ucap Seint dingin.
"Pokoknya aku tidak mau!" Ucap Lilian.
"Aku telah melakukan pekerjaan yang sangat berat di kedai mu seharian...kau menyuruh ku menuliskan pesanan banyak orang hingga membuat jari-jari tangan ku ingin patah belum lagi teriakan para pengunjung yang membuat telinga ku terus berdengung dan inikah balasan mu padaku yang telah membantu mu?" Ucap Seint panjang.
"Kau berbicara sangat panjang saat kau ada maunya." Ucap Lilian menatap Sein kesal.
"Kau sudah menyetujui kesepakatan kita waktu itu." Ucap Seint datar.
"Aku akan memenuhi semua keinginan mu tapi tidak menjadi pelayan mu." Ucap Lilian.
"Kenapa?" Tanya Seint dengan tatapan tajamnya.
"Aku tidak bisa menjadi pelayan mu selamanya...suatu hari nanti aku akan menikah dan mempunyai anak jadi aku tidak akan mungkin terus menjadi pelayan mu." Ucap Lilian.
Seint mendengus pelan. "Memangnya kau akan menikah dengan siapa?" Tanya Seint dengan raut wajah tidak suka.
"Ya...tentu saja dengan orang yang aku cintai." Ucap Lilian.
"Memangnya siapa orang yang kau cintai?" Tanya Seint dengan raut wajah serius.
Lilian menjadi gugup setelah melihat raut wajah Seint. "Ya...oranglah...saat ini belum ada nanti aku cari dulu." Ucap Lilian.
"Tidak aku ijinkan!" Ucap Seint marah.
__ADS_1
"Apa hak mu melarang ku?" Tanya Lilian kesal.
"Hak ku sebagai Kekasih dan Tuan mu." Tegas Seint.
"Heii...aku belum menyetujui kalau aku ingin menjadi kekasih mu...apalagi sebagai pelayan mu." Ucap Lilian kesal.
"Aku tidak butuh persetujuan mu." Ucap Seint kesal.
"Enak saja...menjalin hubungan itu bukan hanya dari persetujuan dari satu belah pihak saja mela..." Ucapan Lilian terhenti saat Seint membungkam mulutnya dengan ciuman dari Seint.
Kaki Lilian melemas, tubuhnya menegang, jantungnya berdegup kencang dan mata Lilian membulat sempurna saat merasakan bibir lembut Seint menyapu bibir mungil miliknya. Pikiran Lilian kosong saat merasakan ciuman lembut yang diberikan oleh Seint begitu pelan hingga Lilian sampai lupa untuk bernapas, Lilian baru tersadar saat Seint mulai menggigit pelan bibir bawahnya. "Ciuman pertamaku" Batin Lilian dan mendorong keras tubuh Seint dengan napas ngos-ngosan.
"KAU..." Ucap Lilian dengan wajah memerah.
"Setelah ini jangan coba untuk melawan dan berpikir menikahi orang lain atau aku akan memberi mu hukuman." Ucap Seint tegas.
Saat Lilian ingin menjawab ucapan dari Seint terdengar suara dentingan pedang terjatuh, Sontak Seint dan Lilian memandang ke arah sumber suara. Mata Lilian membulat dan tubuhnya kembali menegang dan nafasnya tercekat saat melihat raut wajah dari Zheyan, Asgar dan Artem menatap mereka berdua dengan tatapan tak percaya.
Lilian spontan menarik jubah Seint untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah. "KAKAK BERI DIA HUKUMAN KARENA TELAH MENODAI KESUCIAN BIBIR KU INI." Teriak Lilian sambil menunjuk ke arah Seint.
Seint menatap ke arah ketiga orang yang berada tidak jauh darinya, saat Seint beradu mulut dengan Lilian ia jadi melupakan kehadiran ketiga orang tersebut.
Seint menatap tepat dimata Zheyan yang saat ini terlihat menatapnya dengan tatapan marah. Bagaimana tidak marah, Zheyan menyaksikan sendiri momen dimana adik yang paling ia sayangi dicium didepan mata kepalanya sendiri.
"Tu...tuan Zheyan ku mohon tetap tenang...kita bisa bicarakan hal ini dengan cara baik-baik." Ucap Artem.
Zheyan menatap tajam ke arah Artem. "Bagaimana saya bisa tetap tenang kalau saya melihat adik saya diperlakukan seperti itu didepan mataku sendiri." Ucap Zheyan meninggi.
Seint merasakan jubahnya diremas kuat oleh Lilian yang sedang ketakutan. "Saya akan bertanggung jawab." Ucap Seint menatap Zheyan serius.
"Dengan cara apa Yang Mulia akan bertanggung jawab? kehormatan adik saya dilecehkan dikediamannya sendiri, selama ini saya masih tetap diam karena Yang Mulia masih melakukan hal yang wajar namun tidak untuk kali ini...Yang Mulia sudah benar-benar diluar batas." Ucap Zheyan marah.
"Saya akan menikahinya." Ucap Seint tegas.
Semua mata membulat sempurna kearah Sein, Lilian bahkan menghempaskan jubah Seint karena terkejut.
"Aku tidak mau menikah sekarang...umurku masih kecil." Ucap Lilian menatap Seint terkejut.
"Aku harus bertanggung jawab." Ucap Seint datar.
Lilian menatap ke arah Zheyan. "Kakak aku belum mau menikah, aku masih ingin berkeliaran dengan bebas." Ucap Lilian merengek ke arah Zheyan.
Zheyan memijit pelan pelipisnya bingung harus bagaimana. "Lilian...Yang Mulia harus bertanggung jawab terhadap mu, kehormatan wanita adalah yang paling penting di kerajaan ini." Ucap Zheyan pelan.
__ADS_1
"Tapi tidak untuk menikah sekarang." Ucap Lilian.
"Begini saja...Yang Mulia segera resmikan Lilian sebagai pasangan mu, tanda sebagai kau telah bertanggung jawab terhadapnya." Usul Asgar.
"Baiklah." Ucap Seint tanpa beban.
"Kau langsung menyetujuinya?" tanya Lilian penasaran.
"Ya." Ucap Seint tegas.
"kok aku merasa ada yang aneh ya, tetapi apa?" Batin Lilian sambil menatap Seint curiga.
"kena kau Lilian kali ini kau tidak akan pernah membantah ucapan ku" Batin Seint bahagia. "Saya akan segera membicarakan hal ini kepada Ayah saya." Ucap Seint.
Zheyan menatap Lilian sebentar lalu kembali menatap ke arah Seint. "Saya juga akan segera membicarakan hal ini kepada Ayah saya." Ucap Zheyan.
"Kalau begitu sebaiknya kami segera kembali ke istana." Ucap Seint kemudian menatap ke arah Lilian. "Besok pagi akan ada pihak dari istana yang akan menjemput mu jadi persiapkan dirimu sebaik mungkin." Ucap Seint.
"Kenapa aku harus ke istana?" Tanya Lilian terkejut.
"Karena kita sudah sepakat akan meresmikan hubungan kita jadi kau perlu ke istana untuk menyiapkan segalanya." Ucap Seint panjang.
"Baiklah." Ucap Lilian pasrah.
Lilian kembali menegang saat Seint kembali berjalan mendekatinya dan membisikan sesuatu kepadanya. "Baru aku ingat...Terakhir kali kau melakukan kesalahan padaku namun aku lupa memberi mu hukuman." Ucap Seint.
Lilian spontan bergerak mundur dan menatap tajam ke arah Sein. "Aku tidak pernah melakukan kesalahan apapun kepadamu." Ucap Lilian.
Seint tersenyum samar ke arah Lilian. "Aku tunggu kau di istana besok." Ucap Seint dingin lalu berbalik berjalan menjauh.
Lilian menatap kesal ke arah Seint. "Kenapa aku merasa ada sesuatu yang aneh ya." Ucapnya sambil memegang bibirnya.
Zheyan dan Asgar menghembuskan napas pasrah. "Apa yang harus ku katakan kepada Ayah nanti." Ucap Seint sambil memijit keningnya pusing.
"Katakan saja padanya kalau Pangeran dan Lilian telah setuju untuk meresmikan hubungan mereka, lagian sebelumnya semua orang tahu kalau mereka berdua adalah sepasang kekasih." Ucap Asgar memberi usul.
"Benar juga." Ucap Zheyan.
Zheyan kemudian menarik Lilian agar segera menemui Ayahnya. Sebelumnya Zheyan akan menjelaskan pada Lilian kalau kejadian sebelumnya tidak boleh ia ceritakan kepada Ayahnya agar tidak menimbulkan masalah lagi.
°°°°
Selamat membaca....
__ADS_1
Kalau boleh Author kasih saran lebih baik bacanya di Apk Manga Toon saja...Soalnya menurut Author tulisannya lebih terlihat rapi di sana...Tapi kembali lagi ke kalian...mana-mana nyamannya kalian saja yang terpenting kalian tetap suka sama ceritanya Author 🤭