
Lilian bergerak dengan sangat lincah menghindari serangan demi serangan yang diarahkan kepadanya. Meski Lilian memakai gaun panjang namun ia masih dengan bebasnya bergerak dikarenakan gaun yang ia pakai memiliki jahitan simple.
Sebelumya Seint sudah memperkirakan jikalau pada saat pesta dansa berlangsung akan ada serangan mendadak dari pihak musuh. Tidak Lilian sangka ternyata perkiraan Seint tidak meleset.
Selain Lilian tidak menyukai gaun yang ribet, namun sebelumnya Seint meminta kepada Lilian agar gadis itu lebih baik mengenakan gaun yang memiliki jahitan yang membuat Lilian bebas bergerak. Jika sewaktu-waktu pihak musuh menyerang maka Lilian akan sangat mudah bergerak meski dengan gaun panjang.
"Syukur saja sebelumnya Seint menyuruh ku agar mengenakan gaun yang sederhana. Tidak disangka mereka malah datang mengincar ku." Batin Lilian.
Beberapa orang maju menyerang Lilian dengan sangat brutal namun hal itu tidak menjadi masalah untuk Lilian. Dengan lihainya Lilian bergerak menghindari serangan para penyerang tersebut.
Lilian bergerak dengan sangat cepat, merasa ia ada pada posisi yang tepat akhirnya Lilian memutari tubuhnya dengan memainkan pedang ditangannya. Gerakan Lilian sangatlah indah, orang-orang yang melihat gerakannya akan mengira bahwa Lilian sedang menari tarian pedang.
Para penyerang terjatuh dengan beberapa luka yang berhasil Lilian berikan kepada tubuh mereka masing-masing. Merasa geram karena tidak bisa melukai Lilian sedikitpun, pemimpin para penyerang akhirnya memberi aba-aba untuk mengepung dan menyerang Lilian sekaligus.
Setelah berhasil mengepung Lilian, pemimpin para penyerang itu melemparkan senyum sinis kearah Lilian. "Tamat sudah riwayat mu hari ini gadis kecil. Aku akui jikalau kau memiliki kemampuan berpedang yang baik namun sayangnya aku pastikan kamu akan tetap berakhir untuk malam ini!!"
Lilian menatap sinis kearah pemimpin para penyerang. "Jangan bermimpi!! Kau hanyalah seorang pengecut yang dengan bangganya menyerang seorang wanita seorang diri. Kata-kata mu itu hanyalah sebagai penyemangat untuk dirimu sendiri karena tidak mampu melawanku seorang diri!!"
Pemimpin penyerangan itu tertawa keras mendengar ucapan Lilian. "Kamu masih memiliki keberanian berbicara seperti itu dalam kondisi terdesak seperti ini. Jikalau bukan karena hewan itu selalu melindungi mu. Apa kau pikir masih bisa bernapas sampai hari ini?" Tanyanya sinis.
Lilian tertawa pelan. "Saya masih hidup sampai sekarang karena memang takdir saya belum mengijinkan saya untuk mati. Jika kau lupa maka saya ingatkan kepadamu kalau dalam diri saya mengalir darah seorang Panglima Perang. Jangan berpikir karena Citto sedang tidak bersamaku maka kalian akan sangat mudah menyakitiku!! Kurasa kalian harus terbangun dari mimpi kalian, jangankan untuk membunuhku menyentuh sehelai rambutku saja kau tidak akan mampu." Sinisnya.
"Banyak omong!! Serang dia dan robek mulut besarnya!!" Teriak Pemimpin penyerangan tersebut.
Lilian mengencangkan pegangan pada pedangnya dan menghalau serangan demi serangan dari para penyerang. Meski dalam kondisi kurang pencahayaan namun Lilian masih bisa menghindari serangan para penyerang.
Lilian menajamkan penglihatan serta pendengarannya untuk melawan para penyerang tersebut. Meski Lilian sendirian melawan para penyerang namun pergerakan Lilian yang selalu berubah-ubah membuat mereka kesusahan dalam menghadapi Lilian.
Lilian tidak melewatkan kesempatan saat para penyerang sedang kewalahan menghadapinya. Dengan beberapa gerakan memainkan pedang, Lilian berhasil menjatuhkan sebagian lawannya.
Meski telah menjatuhkan sebagian penyerang namun Lilian tidak bisa sekedar mengambil napas dikarenakan para penyerang tidak memberikan Lilian celah untuk beristirahat.
Karena kelelahan melawan para penyerang, Lilian harus melangkah mundur menahan pedang yang diarahkan kepadanya. Lilian sekuat tenaga menahan pedang penyerang dan menghempaskan-nya kesamping. Baju Lilian di bagian lutut robek akibat terkena ujung pedang penyerang namun pedang itu tidak sampai menggores kulitnya.
Lilian bergerak mundur sambil mengambil napas. Kakinya mulai bergetar dikarenakan menahan beban tubuhnya agar tidak terjatuh. Lilian menggunakan pedang yang berada ditangannya untuk bisa berdiri tegak.
Melihat Lilian yang mulai kelelahan, Pemimpin penyerangan memberi kode kepada bawahannya agar menyerang Lilian secara bersamaan.
Lilian berusaha mengangkat pedangnya namun tenaganya sudah terkuras habis. Tangan Lilian bahkan bergetar karena tidak dapat mengangkat pedangnya lagi. Lilian hanya menatap kearah pedang yang diarahkan kepadanya.
Setelah jarak para penyerang sudah sangat dekat dengan Lilian. Gadis itu menutup matanya dan menyebut satu nama yang sedari tadi terngiang di kepalanya. "King Alpenseint Balaz." Gumamnya.
°°°
__ADS_1
Seint sesekali memandang kearah pintu aula menunggu Lilian kembali. Sejak Lilian pergi perasaannya merasa tidak tenang. Setelah menunggu beberapa waku terlihat dari arah pintu masuk Marquis Gaustark dan Viscount Wilson memasuki aula sambil memberi kode kepada beberapa orang kemudian berbaur dengan beberapa tamu lainnya.
Tidak berlangsung lama beberapa orang keluar dari aula. Perasaan Seint semakin tidak tenang kemudian ia memutuskan untuk mencari Lilian namun langkahnya terhenti saat Marquis Gaustark berdiri didepannya dengan melemparkan senyum cerah.
"Selamat atas pencapaiannya Pangeran Mahkota. Sungguh langit memberkahi kerajaan kita dengan begitu banyak berkah. Sejak tadi saya sangat ingin menemui Anda namun nampaknya Anda sangat sibuk." Ucap Marquis Gaustarark.
"Terima kasih atas ucapannya." Ucap Seint kemudian berniat berjalan melewati Marquis Gaustark.
"Yang Mulia mau kemana? Tidak bisakah Yang Mulia berikan saya waktu untuk membahas sesuatu?" Tanya Marquis Gaustark dengan raut wajah harap.
"Cepat katakan! Saya sedang tidak punya waktu." Ucap Seint datar.
"Yang Mulia tenang saja. Saya akan langsung ke intinya saja agar tidak membuang waktu berharga Yang Mulia." Ucap Marquis Gaustark sambil tersenyum cerah.
"Mmm." Gumam Seint cuek.
Marquis Gaustark tersenyum kecil melihat respon Seint. "Begini Yang Mulia. Saya dengar Anda telah mendapatkan bukti saat berada di wilayah barat." Tanyanya.
Seint mengangkat sebelah alisnya. "Lalu?" Ucapnya datar.
"Saya hanya penasaran saja. Bukti semacam apa yang Yang Mulia dapatkan?" Tanya Marquis Gaustark.
"Kenapa? Bukti sekarang disimpan ditempat yang aman." Ucap Seint datar.
Seint menatap tajam kearah Marquis Gaustark. "Tuan tidak perlu repot-repot memikirkan hal itu. Barang buktinya ada ditempat yang aman dan waktu Tuan sudah habis jadi biarkan saya pergi." Ucapnya datar.
"Baiklah Yang Mulia. Silahkan!" Ucapnya sambil tersenyum canggung.
Sein berjalan melewati Marquis Gaustark kemudian melangkah dengan cepat menuju pintu aula. Artem yang melihat langkah cepat Seint akhirnya berjalan cepat menyamai langkah Seint.
"Mau kemana Yang Mulia?" Raut wajah mu sepertinya sedang tidak baik." Tanya Artem pelan.
Seint melirik sebentar kearah Artem. "Lilian tadi ijin ke kamar kecil namun sampai sekarang ia masih belum kembali."
Artem mengangguk pelan. "Tenanglah Yang Mulia. Wanita memang membutuhkan waktu sedikit lama jikalau ke kamar kecil." Ucap Artem menenangkan Seint.
"Dia sudah pergi sangat lama. Aku harus pergi mencarinya!" Ucap Seint dingin.
"Baiklah. Kita akan mencarinya bersama." Ucap Artem.
Seint dan Artem akhirnya keluar dari aula dan berjalan menuju kamar kecil yang Lilian tuju. Seint mengangkat sebelah alisnya melihat para penjaga yang seharusnya berjaga sekitar jalan menuju kamar kecil berkumpul sambil sedang mencari sesuatu.
"Apa yang kalian lakukan di sini? Bukankah kalian bertugas berjaga sepenjang jalan itu." Ucap Seint sambil melihat kearah Lilian pergi tadi.
__ADS_1
Semua Prajurit serentak menunduk hormat kepada Seint dan Artem.
"Iya Yang Mulia namun Tuan Martin tadi bilang kami harus mencari penyusup sekitar sini." Jawab salah satu Prajurit.
"Sudah berapa lama kalian disini?" Tanya Seint dingin.
"Sejak dari tadi Yang Mulia." Jawab salah satu Prajurit lagi.
"Apakah kalian melihat Putri Mahkota kembali?" Tanya Seint.
Seorang Prajurit maju dengan tubuh bergetar. "Saya tadi melihatnya berjalan kearah sana namun saya belum melihatnya kembali." Ucapnya.
Seint mengepalkan tangan kuat dengan rahang yang mulai mengeras. "Apa kalian bodoh? Kenapa kalian meninggalkan tempat penjagaan kalian?!!" Teriak Seint marah dan bergegas mencari Lilian.
"Ikuti kami!!" Perintah Artem kemudian berlari mengikuti langkah cepat Seint.
Perasaan Seint bertambah tidak tenang saat melewati jalan yang memiliki kurang pencahayaan. Seint menambah kecepatan langkahnya dan dari arah sedikit jauh Seint mendengar suara benturan besi yang saling bersahutan.
Degup jantung Seint bertambah saat mengingat Lilian kemudian ia berlari secepatnya mengikuti arah bunyi pedang tersebut.
Meski kurang pencahayaan Seint dapat dengan jelas melihat Lilian berdiri dengan menompang badannya menggunakan pedang dan sedang dikepung oleh banyak orang yang menggunakan penutup wajah.
Wajah Seint memerah melihat salah seorang penyerang berada dekat dengan Lilian sambil mengangkat pedangnya untuk menebas Lilian.
Dengan Langkah cepat Seint mengambil sebuah busur dan anak panah yang berada didinding kemudian mengarahkan busur itu kearah orang yang berniat menebas Lilian.
SYUUUUUTTTTT ....
Anak panah Seint berhasil menembus jantung orang yang berniat menebas Lilian. Dengan gerakkan cepat Seint mengambil panah lainnya dan melepaskannya kearah para penyerang.
SYYUUUUTTT ... SYUUUTTT ... SYUUUTTT ...
Para Penyerang jatuh satu persatu dikarenakan anak panah yang Seint lepaskan. Dari arah belakang Artem memerintahkan para Prajurit menembakan panah kearah para penyerang.
"Arahkan panah kearah penyusup dan jangan sampai melukai Putri Mahkota. Tutup semua pintu dan gerbang jangan biarkan penyusup-penyusup itu kabur!!" Perintah Artem kepada para Prajurit.
Para Prajurit langsung mengerjakan perintah Artem. Seint berlari kearah para penyerang yang berusaha kabur terhindar dari panah.
Dengan raut wajah marah Seint menebas para penyerang tanpa ampun dan tidak membiarkan mereka kabur. Aura Seint kembali muncul melihat Lilian yang berdiri sambil menutup mata.
Setelah berhasil menjatuhkan lawannya, Seint berjalan mendekat kearah Lilian dan memeluk erat gadis itu.
"Tenanglah!! Mereka sudah tidak akan bisa menyakitimu." Ucap Seint sambil mencium kening Lilian yang masih menutup matanya.
__ADS_1
°°°