Bukan Dunia Novel

Bukan Dunia Novel
111. Perayaan Pesta III


__ADS_3

Suasana didalam aula terasa mencekam, aura suram yang Seint keluarkan membuat bulu kuduk para tamu undangan bergidik ngeri. Salah satu sisi yang tidak pernah ingin orang-orang lihat, jika Seint telah mengeluarkan aura suram dari dalam dirinya maka akan mempengaruhi suasana disekitarnya.


Tidak heran marga King disematkan pada Seint. Dipercaya setiap keturunan penerus kerajaan Apollonia mereka akan memiliki aura raja yang akan menekan lawannya jika ia sedang marah. Aura yang Seint miliki sangat kuat, untuk itu saat di medan perang lawannya selalu merasa terintimidasi hanya dengan menatap mata Seint.


Sejak dari tadi Seint selalu mencuri pandang kerah Lilian dan Pangeran Erik. Awalnya Seint membiarkan keduanya saling menyapa karena memang akan jarang mereka bertemu secara langsung. Namun saat Pangeran Erik secara terang-terangan ingin mendekati Lilian membuat Seint tidak bisa hanya berdiam diri saja. Terlebih lagi Seint menangkap raut wajah tidak suka yang Lilian arahkan pada Pangeran Erik membuat Seint semakin tidak bisa untuk tidak mendekati keduanya.


Pangeran Erik menghentikan langkahnya dan menatap kearah Seint yang menatap tajam kearahnya. "Jangan salah paham Pangeran Seint, saya hanya ingin membantu Putri Lilian."


"Atas dasar apa Anda ingin membantunya?" Tanya Seint datar.


"Ada sesuatu di rambutnya, saya hanya ingin membantu Putri Lilian untuk membersihkannya." Ucap Pangeran Erik.


"Tidakkah di kerajaan mu memiliki aturan jika seorang gadis sudah memiliki pasangan maka dia tidak bisa disentuh! Apalagi jikalau ia adalah seorang Putri Mahkota. Memukul tangan sampai patah saja tidak akan cukup untuk menebus kesalahan. Namun karena Pangeran Erik adalah tamu kami maka saya memaafkan mu." Ucap Seint sambil berjalan menarik pinggang Lilian agar berada dekat dengannya.


"Maafkan saya Pangeran Seint karena sudah lancang. Lain kali saya tidak akan sembarangan lagi dalam bertindak didepan Putri Mahkota." Ucap Pangeran Erik sambil melirik kearah Lilian.


Seint masih menatap Pangeran Erik dengan tatapan tajamnya. "Semoga tidak ada lain kali lagi. Tidak ada sesuatu yang perlu Pangeran Erik bahas dengannya." Ucapnya kemudian menarik Lilian menjauh.


Semua orang baru bernapas lega setelah kepergian Seint dan Lilian. Sungguh suasana yang tidak pernah mereka ingin lihat adalah saat Seint marah. Lelaki itu akan melakukan hal-hal diluar nalar jika dalam kondisi marah.


Putri Meira yang sedari tadi memperhatikan dari jauh berjalan mendekati Pangeran Erik yang masih tidak melepaskan tatapannya kearah Seint dan Lilian pergi.


"Jika seandainya gadis itu lebih dulu mengenalmu maka yang berada disampingnya sekarang adalah dirimu." Ucap Putri Meira.


"Memangnya kenapa jika sekarang dia bersama dengan orang lain? Hati manusia tidak ada yang tahu kapan mereka akan berpaling ... Semua wanita menginginkan kemewahan ... Aku hanya perlu memberikan sesuatu yang tidak ia dapatkan disini." Ucap Pangeran Erik sambil tersenyum sinis.


"Maksud Kakak? Dia memiliki posisi Putri Mahkota tentu saja dia akan mendapatkan apapun yang menjadi keinginannya." Ucap Putri Meira bingung.


Pangeran Erik tertawa pelan. "Tidakkah kamu lihat gaun dan semua yang ia kenakan hari ini? Hanya mahkota di kepalanya yang terlihat berkilau. Semua wanita menginginkan seluruh tubuhnya berkilauan agar semua orang tidak melepas pandangan kearahnya. Namun lihatlah penampilannya tadi, meski dia memang cantik namun akan lebih baik jika ia mengenakan sesuatu yang jauh lebih baik." Sinis-nya.


Putri Meira ikut tersenyum sinis. "Aku mengerti Kakak ... Kamu akan memanjakannya dengan kemewahan jika dia bersedia berada di sampingmu." Ucapnya.


Pangeran Erik tersenyum sinis sambil memperbaiki rambut Putri Meira. "Belum ada satu wanita-pun yang aku temui menolak pemberianku." Ucapnya.


Putri Meira hanya tersenyum senang mendengar ucapan Kakaknya. Mendengar semua prestasi yang Lilian dapatkan membuat mereka sangat ingin menemui Lilian. Setiap kali surat yang mereka kirim untuk Lilian tidak sekalipun mendapatkan balasan.


Hingga suatu hari untuk pertama kalinya surat dari kerajaan Apollonia datang. Mereka pikir itu adalah surat balasan yang dikirimkan oleh Lilian namun mereka harus menelan kekecewaan karena isi dari surat tersebut mengatakan secara resmi hubungan antara Seint dan Lilian.


Dalam gulungan surat tersebut dilampirkan sebuah lukisan kemesraan antara Seint dan Lilian. Sejak hari itu mereka memutuskan agar mencari cara lain untuk bisa bertemu dengan Lilian secara langsung.

__ADS_1


Suatu hari kabar penemuan emas dan berlian dari kerajaan Apollonia kembali menjadi perbincangan hangat. Terlebih lagi nama Lilian masuk kedalam daftar nama yang menemukan kedua batu berharga tersebut. Setelah beberapa hari kabar penemuan tersebut, kerajaan Apollonia kembali mengirim surat undangan pesta dansa. Setelah melalui perundingan panjang dengan petinggi-petinggi kerajaan Ester, mereka akhirnya memutuskan untuk mengirim Putra Mahkota Erik dan Putri Meira untuk menghadiri acara tersebut.


Rasa lelah karena perjalanan panjang Pangeran Erik dan Putri Meira terbayar setelah mereka melihat secara langsung Lilian yang berjalan bersama dengan Seint menuju kursi kehormatannya.


Pangeran Erik dan Putri Meira terus saja mencari kesempatan bertemu dengan Lilian selama pesta namun selalu saja gagal karena gadis itu selalu dikelilingi oleh banyak orang. Sehingga Pangeran Erik menunggu sampai Lilian benar-benar sendiri agar bisa leluasa mengobrol lebih lama dengannya.


°°°


Seint menarik tangan Lilian menuju taman didekat aula. Terdapat sebuah kursi panjang yang muat dua orang dan sebuah meja di sana. Keduanya menduduki kursi itu namun tidak ada yang mengeluarkan suara satupun diantara keduanya.


Setelah merasa amarahnya mulai tenang, Seint kemudian menatap kearah Lilian dengan raut wajah dinginnya.


"Apa saja yang kalian bahas tadi?" Tanya Seint datar.


Lilian menatap tepat kearah mata Seint yang masih diselimuti dengan kemarahan. "Dia hanya mengajak ku untuk berkenalan." Jawabnya.


"Hanya itu? Kamu mengobrol dengannya begitu lama. Kamu yakin hanya itu?" Tanya Seint sambil menatap Lilian tajam.


"Dia memintaku bertemu secara pribadi untuk membahas tentang bisnis." Jawab Lilian jujur.


Seint mengeraskan rahangnya. "Terus kamu terima?" Tanyanya.


Lilian menatap kesal kearah Seint. "Tentu saja ..." Ucapannya terjeda karena Seint menendang meja didepannya dengan sangat keras.


"Kamu membuatku kaget!! Tidak bisakah kamu mendengar penjelasan ku terlebih dahulu baru kamu menendang sesuatu yang berada disekitar mu!! Aku tidak menerima ajakannya dan kenapa harus aku menerimanya?" Kesal Lilian.


Napas Seint mulai teratur kembali. "Kamu sedang tidak menutupi apapun dariku kan?" Tanyanya menatap Lilian serius.


"Kenapa aku harus menutupinya darimu? Mengapa aku harus menerima tawaran Pangeran Erik?" Ketus Lilian.


"Jangan menyebut namanya." Emosi Seint mendengar Lilian menyebut nama Pangeran Erik.


Lilian memejamkan matanya untuk meredam emosi yang akan ikut terbakar bersama amarah Seint. Setelah merasa lebih tenang Lilian membuka matanya kemudian menatap serius kearah Seint.


"Baiklah aku tidak akan menyebut namanya. Dengarkan penjelasan ku baik-baik ... Aku tidak menerima ajakannya karena memang untuk apa aku bertemu dengannya! Jika memang dia mau membahas bisnis seharusnya dia meminta kepadamu ataupun Kakak Zheyan. Aku adalah Putri Mahkota, pasangan dari Putra Mahkota kerajaan Apollonia. Menerima ajakannya hanya akan menimbulkan rumor jelek untukku dan kenapa aku harus memposisikan diriku kedalam hal-hal yang akan membuatku kerepotan." Jelas Lilian panjang.


Seint menghela napas tenang. "Baguslah jika kamu mengerti." Ucapnya cuek.


Lilian menatap kesal kearah Seint. "Lain kali kalau mau marah-marah dengarkan dulu penjelasan ku. Jadwal harian ku sebagai Putri Mahkota sangat banyak dan aku tidak memiliki banyak waktu bertemu dengannya hanya untuk membahas bisnis. Jika aku punya waktu luang lebih baik aku habiskan saja dengan mu, karena kesibukan masing-masing kita ..." Penjelasan Lilian terhenti saat menyadari kata-kata apa yang akan ia ucapkan.

__ADS_1


"Kita apa?" Tanya Seint sambil tersenyum.


"Kita ... Kita ... Ah sudahlah ... Kenapa kamu menatapku seperti itu?" Tanya Lilian mengalihkan pembicaraan.


"Seperti apa?" Tanya Seint masih tersenyum cerah.


"Kamu ... Kamu jarang sekali bisa tersenyum seperti itu. Mengapa hari ini kamu tersenyum selebar itu?" Ucap Lilian gugup.


Seint mengedikkan bahu acuh. "Mungkin karena aku lagi senang."


Lilian menatap Seint curiga. "Bukannya kamu tadi sedang marah? Cepat sekali perubahan suasana hatimu. Jangan-jangan kamu lagi sakit." Ucap Lilian sambil menempelkan punggung tangannya pada kening Seint.


"Bagaimana?" Tanya Seint.


"Suhu tubuh mu sedikit hangat. Apa gara-gara udara malam ya?" Tanya Lilian.


Seint memegang tangan Lilian yang berada di keningnya dan menggenggam erat tangan Lilian. "Aku tidak apa-apa ... Suasana hatiku terus berubah dikarenakan kamu. Awalnya aku marah namun kamu berhasil membuatku senang. Lain kali jangan dekat-dekat dengan lelaki lain." Ucapnya menatap Lilian serius.


"Aku tidak boleh dekat dengan Ayah, Kak Zheyan, Kak Asgar, Artem ..." Lilian menyebut nama-nama orang yang ia kenal.


"Tentu saja selain mereka. Jaga jarak dengan lelaki lain, posisimu tadi terlalu dekat. Lain kali kamu harus menjaga jarak sejauh mungkin dari lelaki yang mencoba mendekatimu." Ucap Seint.


"Baiklah ... Kamu juga harus melakukan hal yang sama seperti ku." Ucap Lilian sambil memicingkan mata ke arah Seint.


"Tentu saja ... Memangnya ada gadis lain yang dekat denganku selain kamu?" Tanya Seint serius.


"Banyak, Nona Raina dan gadis-gadis lain yang sejak pesta dibuka berusaha mendekatimu." Ucap Lilian.


"Mereka yang berusaha mendekatiku. Aku tidak pernah menanggapi atau meladeni mereka. Aku bahkan mengusir mereka agar berada jauh dariku." Jelas Seint.


Lilian mendengus pelan. "Tetap saja ... Siapa tahu kamu akan tergoda. Dimana-mana lelaki akan senang dikelilingi oleh banyak gadis. Apalagi gadis-gadis itu yang dengan sukarela melakukan apapun untuk mu."


"Itulah perbedaan mereka dengan mu ... Aku lebih suka gadis yang berlagak jual mahal sepertimu." Goda Seint.


Lilian mendengus kesal. "Tiap kali berbicara dengan mu selalu saja kamu membuatku kesal. Bisa tidak sehari saja kamu berbicara manis kepadaku?" Tanyanya.


Seint mengangguk pelan. "Ohh jadi selama ini kamu berharap aku berbicara manis kepada mu. Baiklah lain kali akan aku lakukan." Ucapnya.


Lilian bertambah kesal. "Dasar menyebalkan." Ucap Lilian sambil memukul dada Seint.

__ADS_1


Seint hanya tersenyum dan menangkap tangan Lilian. "Aku hanya bercanda." Ucapnya sambil tersenyum kemudian menarik tengkuk leher Lilian dan mencium bibir lembutnya.


°°°


__ADS_2