
Berakhirnya pembahasan mengenai kerjasama maka berakhir pula pesta yang di adakan di aula istana. Masing-masing keluarga bangsawan pulang ke kediamannya.
Dalam ruangan keluarga yang cukup besar berkumpul beberapa orang yang duduk dengan raut wajah kesal. Saat sampai di kediamannya Marquis Gaustark membanting barang-barang yang ada di hadapannya demi untuk menyalurkan rasa kesalnya.
"Gadis itu lagi-lagi selalu membuat rencana kita gagal." Ucap Marquis Gaustark marah.
"Kita perlu membuat rencana yang jauh lebih matang lagi untuk kedepannya." Ucap Viscount Wilson.
"Apakah kalian melihat raut wajah marah dari Tuan Zafran sebelum ia meninggalkan aula tadi?" Tanya Marquis Gaustark.
"Iya Tuan...sepertinya Tuan Zafran benar-benar marah...Ini semua gara-gara gadis kecil itu...seharusnya sedari awal kita perlu memperhatikan langkah gadis itu." Ucap Tuan Martin rekannya.
Marquis Gaustark mendengus kesal. "Gadis itu benar-benar membuat ku marah...kita harus merencanakan sesuatu untuknya...semakin lama gadis itu jika kita biarkan maka gadis itu bisa membuat rencana kita gagal semua." Ucap Marquis Gaustark.
"Benar Tuan...kita sudah lama merencanakan hal ini semua jika gagal hanya karena gadis kecil itu maka aku tidak akan membiarkannya hidup lebih lama lagi." Ucap Viscount Wilson.
"Lalu apa rencana kita untuk kedepannya?" Tanya salah satu rekannya.
Marquis Gaustark meghela napas pelan. "Untuk sekarang biarkan rencana kita berjalan sesuai kesepakatan namun kita harus bergerak lebih hati-hati lagi jangan sampai rencana kita terendus oleh pihak lain yang akan merugikan posisi kita." Ucap Marquis Gaustark.
"Bagaimana dengan gadis itu?" Tanya rekannya yang lain.
"Untuk gadis itu sebaiknya kita rencanakan sesuatu yang jauh lebih matang dulu untuknya, gadis itu di keliling oleh banyak orang yang akan membahayakan posisi kita...selangkah saja kita salah maka rencana kita akan gagal semua." Ucap Viscount Wilson.
Tuan martin menghela napas pelan. "Gadis itu usianya begitu muda namun pemikirannya jauh lebih dewasa dari umurnya...akhir-akhir ini saya mendengar jika gadis itu memiliki hubungan spesial dengan Pangeran Mahkota." Ucapnya.
"Ya... saya juga mendengar hal yang sama...kabar itu mungkin benar, saat di pesta saya melihat gadis itu mengenakan jubah kebesaran Pangeran Mahkota." Ucap rekannya yang lain.
"Ya itu benar...ngomong-ngomong soal pesta...saya mendengar bahwa Putri Anda Nona Raina dibawa paksa oleh prajurit karena membentak dan melakukan kekerasan pada gadis itu." Ucap Viscount Wilson.
Marquis Gaustark mendengus kesal. "Mengapa saya harus mempunyai Putri yang sangat bodoh...Entah hukuman apalagi yang akan Yang Mulia berikan untuknya, terakhir kali gara-gara kelakuannya saya harus tetap berada di kerajaan ini selama berbulan-bulan...belum sempat hukuman itu selesai kini gadis bodoh itu kembali berulah." Ucapnya geram
.
"Akan sangat susah untuk kita bergerak jika Yang Mulia kembali menjatuhkan hukuman untuk tidak keluar kerajaan lagi untuk Anda." Ucap Rekannya yang lain.
__ADS_1
Marquis Gaustark mengepalkan tangannya kuat. "Gadis itu hanya akan membawa masalah untuk ku terus...saya menyuruhnya untuk merayu Pangeran Mahkota namun yang dia lakukan malah mengganggu gadis berbahaya itu." Ucapnya geram.
Viscount Wilson menghela napas pelan. "Kalau begitu untuk sementara kita akan melakukan pertemuan secara diam-diam dulu...jika ada yang perlu dilaporkan lebih baik melalui perantara saja agar tidak menimbulkan kecurigaan...saya rasa karena kejadian di aula tadi Yang Mulia pasti sudah menaruh rasa curiga terlebih lagi kita mengeluarkan pendapat setuju menerima kerjasama tadi" Ucapnya.
"Tuan benar...lebih baik kita menggunakan perantara saja untuk saling membagi informasi." Ucap salah satu rekannya.
Pembahasan mereka pun berlangsung dengan sangat lama, mereka harus merencanakan strategis yang bagus agar tidak ada satu orangpun yang bisa menghalangi rencana mereka.
°°°°
Setelah melakukan perjalanan dari istana ke kediamannya, Duke Marven beserta Istri dan Anaknya duduk saling berhadapan di ruang keluarga. Duke Marven menatap tajam ke arah Putri satu-satunya sedangkan yang ditatap malah menundukkan kepalanya takut menatap wajah Ayahnya.
"Lilian angkat kepala mu dan lihat Ayah!" Ucap Duke Marven tegas.
Lilian mengangkat kepalanya takut sambil Jo menggigit bibir bawahnya. Sesekali ia menatap wajah Ibu dan Kakaknya yang menatapnya penuh tanda tanya.
"Jawab pertanyaan Ayah dengan jujur sejak kapan kamu bisa mengerti bahasa asing itu?" Tanya Duke Marven sambil menatap mata Lilian serius.
Lilian meneguk ludah dengan susah payah. "Ak...aku tidak tau Ayah." Ucap Lilian gugup.
"be..benar Ayah...aku tidak tau." Ucap Lilian tergagap.
"Kenapa kau bisa memahaminya? dan...dan bukan cuman itu kau bahkan dengan sangat lancar mengucapkannya." Ucap Duke Marven menatap tajam ke arah Lilian.
"Aku benar...benar tidak tau Ayah...saat mendengarnya secara spontan aku memahami dan bisa menggunakan bahasa itu, lagipula mengapa ayah tidak tau tentang hal ini?" Tanya Lilian gugup.
"Apa maksud mu?" Tanya Duke Marven bingung.
"Kata Rosa...Ayah membuatkan ku perpustakaan pribadi dikamar ku...saat pertama kali memasuki ruangan itu ku kira Ayah yang memberikan ku buku-buku itu." Ucap Lilian.
"Buku-buku apa?" Tanya Duke Marven.
"Di perpustakaan ku ada banyak sekali buku yang menggunakan bahasa itu, saat aku membacanya aku bisa memahami dan mengerti isi buku itu dan ku kira Ayah sudah mengetahuinya." Ucap Lilian.
Duke Marven mengerutkan keningnya ke arah Lilian. "Kamu bisa membaca buku-buku itu?" Tanya Duke Marven memastikan.
__ADS_1
"Ya...saat aku dirawat di kamar ku selama ini...aku membunuh kebosanan ku dengan membaca buku-buku itu." Ucap Lilian.
"Ayah maafkan aku jika seandainya aku lancang karena telah menyela pembicaraan kalian berdua namun aku harus mengatakan ini." Ucap Zheyan dengan raut wajah bersalah.
.
Duke Marven menatap Zheyan curiga. "Apa?" Tanyanya sambil menatap tajam ke arah Zheyan.
"Ayah sedari dulu sampai sekarang jika aku mempunyai tugas diluar daerah maupun diluar kerajaan...aku selalu membawakan Lilian banyak buku begitupun dengan Asgar, buku-buku itu ada banyak bahasa namun aku tidak pernah membacanya...mungkin saja Lilian penasaran dengan isi buku itu sehingga ia mempelajari sendiri bahasa itu." Jelas Zheyan.
Duke Marven mendengus kesal. "Bagaimana bisa Lilian belajar secara mandiri dengan bahasa itu tanpa ada yang mengajarinya." Ucapnya.
"Ayah salah satu buku itu memiliki terjemahan menggunakan bahasa kita...diruang perpustakaan ku juga ada banyak sekali coretan pada kertas menggunakan bahasa itu...mungkin saja itu hasil dari coretan ku saat belajar...kalau Ayah tidak percaya maka tanyakan saja pada Rosa tentang kebenarannya...saat pertama kali memasuki ruangan itu...aku masuk bersama Rosa." Ucap Lilian memberi penjelasan.
Duke Marven memijat keningnya. "Bagaimana mungkin hal besar ini tidak aku ketahui." Ucapnya sambil membuang napas pelan.
"Ayah tenanglah...Bukankah kau sendiri yang selalu mengatakan jikalau Putri mu itu adalah anak yang jenius...di perpustakaannya terdapat buku terjemahan bahasa itu...Lilian pasti selama ini belajar tentang bahasa itu jadi Ayah tidak perlu cemas." Ucap Illyria mencoba menenangkan Duke Marven.
"Masalahnya bukan disitu." Ucap Duke Marven sambil membuang napas kasar.
"Lalu apa Ayah?" Tanya Zheyan.
"Apakah kalian tidak melihat raut wajah marah Tuan Zafran tadi? Ayah sangat khawatir jika terjadi sesuatu kepada Lilian lagi, Lilian sudah banyak mengalami kesulitan selama ini." Ucap Duke Marven sambil menatap khawatir ke arah Lilian.
"Ayah tenang saja...aku pasti bisa menjaga diriku sendiri...lagipula aku kan tidak sendiri...kalian semua akan selalu bersama ku dan melindungi ku kan?" Ucap Lilian.
"Ya Ayah...kita akan bersama-sama melindungi Lilian...atau bila perlu mulai besok Lilian akan aku ajarkan cara bertarung dan bertahan jika ada yang berniat menyakitinya." Ucap Zheyan.
Duke Marven menghela napas pelan. "Ayah harap kau akan tetap selalu baik-baik saja." ucapnya.
Setelah pembahasan mereka selesai akhirnya mereka memutuskan untuk beristirahat di kmar masing-masing.
°°°°
Author sangat penasaran...Kalian lihat Novel ini berada di genre mana? soalnya Author cari kemana-mana nggak nemu...
__ADS_1