
Raina menggeram pelan mendengar ucapan Seint dan menatap Seint dengan senyuman manisnya. "Bukankah suatu hari nanti Yang Mulia Pangeran Mahkota harus mengangkat seorang selir untu membantu pekerjaan Putri Mahkota?" Tanyanya harap.
"Saya tidak punya niat untuk mengangkat seorang selir." Jawab Seint dengan raut wajah datar.
Raina mengepalkan tangan erat. "Putri Mahkota tidak akan bisa mengurus semua dokumen dan masalah Istana sendiri ... Yang Mulia pasti memerlukan bantuan orang lain."
"Jika saya membutuhkan bantuan orang lain maka saya akan memperkerjakan seseorang yang bisa saya percaya. Tidak perlu repot memilih selir untuk Putra Mahkota dan yang paling penting ... Saya tidak suka membagi kasih sayang Pangeran Mahkota dengan orang lain." Jelas Lilian.
"Bukankah itu tidak adil bagi Yang Mulia Pangeran Mahkota? Sebagai calon Ratu seharusnya Yang Mulia bisa dengan lapang dada menerima wanita lain sebagai pendamping Yang Mulia lagi." Ucap Raina ngotot.
Lilian mencebikan bibirnya ke arah Seint. "Apakah Yang Mulia menginginkan wanita lain untuk mendampingi mu lagi?" Tanyanya dengan nada imut.
Seint tersenyum cerah melihat kelakuan Lilian. "Tidak!! Jika aku sudah memiliki wanita sempurna seperti mu, untuk apa aku mencari wanita lain lagi?" Ucapnya sambil berpikir. "Akan sangat merepotkan jika membiarkan orang asing berkeliaran diantara kita." Lanjutnya.
Lilian tersenyum cerah ke arah Raina. "Nona dengar sendiri-kan? Kami hanya ingin hidup bahagia dengan keluarga kecil kami ... Tidak ingin diganggu oleh pihak ketiga, ke empat atau ke seterusnya." Ucapnya.
Raina membuang napas kasar melihat Seint yang begitu akrab berbicara dengan Lilian dan bersikap dingin terhadap orang lain.
"Oh iya ... Setiap saya bertemu dengan kalian, di sengaja atau tidak saya melihat kalian selalu bersama. Apakah kalian sepasang kekasih?" Tanya Lilian menggoda.
"Tidak!!" Jawab Raina dan Adrian Pavel samaan.
Lilian menutup mulutnya. "Kalian sangat serasi ... Menjawab-pun samaan."
"Ini bukan yang seperti Yang Mulia pikirkan." Jelas Adrian Pavel cepat.
"Memangnya kenapa kalau seperti yang dipikirkan?" Tanya Seint datar.
"Benar. Kalian sama-sama lajang dan hubungan keluarga kalian sangat dekat. Akan sangat bagus jika kalian berdua memiliki hubungan yang spesial." Usul Lilian.
"Tidak!! Hubungan kami tidak seperti itu!" Jawab Adrian Pavel.
"Mengapa? Kalian berdua terlihat cocok." Ucap Lilian.
"Saya sudah memiliki seseorang di hati saya." Ucap Adrian Pavel.
"Saya juga telah memilih seseorang yang pantas berdiri di samping saya." Ucap Raina angkuh sambil menatap Seint.
"Memangnya kurang pantas apa Tuan Adrian Pavel? Ia dari kelurga bangsawan tinggi dan mempunyai prestasi yang banyak. Gadis mana yang akan berani menolak lamarannya?" Tanya Lilian.
"Saya punya standar sendiri dalam memilih pasangan hidup." Ucap Raina angkuh.
__ADS_1
Adrian Pavel menatap Lilian dalam. "Wanita yang saya sukai bahkan bisa menolak seseorang yang memiliki jabatan penting di kerajaan ini. Ia sangat cantik dan anggun, laki-laki manapun yang melihatnya pasti akan langsung jatuh hati kepadanya." Jelasnya.
"Benarkah? Ada wanita yang seperti itu?" Tanya Lilian penasaran.
"Iya ... Ia memiliki pesona yang membuat setiap lelaki selalu memikirkannya." Ucap Adrian Pavel sambil tersenyum manis ke arah Lilian.
Seint menatap tidak suka ke arah Adrian Pavel. Tiba-Tiba Seint menarik tangan Lilian untuk mendekat ke arahnya. "Kami harus pergi!" Ucapnya dengan raut datar.
"Mengapa terburu-buru?" Tanya Adrian Pavel tidak terima.
"Saya lapar dan hanya ingi ditemani oleh Putri Mahkota." Ucap Seint.
Lilian mengangguk pelan. "Sepertinya kami memang harus pergi." Ucapnya.
Lilian dan Seint berjalan meninggalkan Raina dan Adrian Pavel yang masih menatap mereka dengan tatapan berbeda.
Setelah mendapat tempat untuk beristirahat, Lilian memberikan beberapa makanan kepada Seint.
"Aku sedang tidak lapar!" Ketus Seint.
Lilian mengerutkan kening bingung. "Katanya tadi lapar."
"Sudah tidak lagi." Ucap Seint kesal.
"Lain kali jangan dekat-dekat dengan dia lagi!!" Ucap Seint datar.
"Siapa?" Tanya Lilian bingung.
"Orang yang tadi." Ucap Seint datar.
Lilian menghela napas pelan. "Kenapa juga aku harus bertemu dengan? Tidak ada hal penting yang ingin aku bicarakan kepadanya." Jelas Lilian.
"Benarkah?" Tanya Seint sambil mengangkat Sebelah alisnya.
"Tentu saja." Ucap Lilian dengan wajah Serius.
°°°
Lilian berbaring dengan merentangkan kedua tangan di atas ranjang. Setelah acara panen sukses dilaksanakan, Lilian langsung pulang bersama keluarganya setelah acara itu resmi ditutup.
Lilian bertemu dengan banyak orang di acara itu. Ada banyak keluarga bangsawan yang datang menghampirinya untuk sekedar menyapa dan memberikan selamat.
__ADS_1
Di acara itu pula Lilian dapat bertemu dengan kedua sahabatnya yaitu Fania dan Violet setelah lama mereka tidak bertemu karena kesibukan Lilian mengurus dokumen-dokumen yang tidak habis-habisnya datang kepadanya.
Lilian juga bertemu dengan Asgar di acara tersebut. Setelah Seint menugaskannya untuk mengawasi keluarga Marquis Gaustar, lelaki itu jarang sekali terlihat mendatangi kediamannya.
Untuk itu Lilian memanfaatkan acara panen itu untuk berkumpul dengan orang-orang yang ia sayangi selain mendekatkan diri pada rakyat.
Lilian memejamkan matanya saat merasakan kenyamanan pada ranjangnya sambil menutup kedua matanya. Sesampainya tadi di dalam kamarnya, Lilian langsung menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang.
"Yang Mulia mohon ganti dulu bajunya ... Akan tidak nyaman sekali jika Yang Mulia istirahat mengenakan gaun itu." Ucap Rosa.
Lilian menghela napas pelan tanpa membuka matanya. "Aku sangat lelah Rosa. Rasanya aku tidak memiliki tenaga lagi untuk mengganti gaunku." Ucapnya.
"Yang Mulia tidak akan bisa beristirahat dengan nyaman jika tidak mengganti gaun mu." Ucap Rosa lagi.
Lilian membuka kedua matanya dan berjalan gontai menuju kamar mandi. Beberapa waktu setelahnya ia keluar dengan gaun sederhana yang biasa ia kenakan untuk tidur.
"Rosa tubuhku terasa sangat lelah dan sakit semua. Bisakah kamu memijit ku?" Tanya Lilian.
"Tentu Yang Mulia." Ucap Rosa dan segera memijit Lilian.
"Pijitan mu memang yang terbaik Rosa." Puji Lilian. "Besok jangan bangunkan aku terlalu pagi, siapkan saja keperluan ku untuk berangkat ke wilayah barat." Jelasnya.
Rosa mengerutkan kening bingung mendengar ucapan Lilian. "Apa yang hendak Yang Mulia lakukan ke wilayah barat?" Tanyanya.
"Aku akan ke sana bersama Pangeran Mahkota untuk menyelidiki sesuatu." Ucapnya sambil memejamkan mata.
"Apakah saya juga akan ikut? Tanya Rosa.
"Tidak. Kamu akan tetap di sini ... Tetap cari informasi penting selama aku pergi dan jika masalahnya serius, kirimkan aku surat secepatnya." Ucap Lilian.
"Baik Yang Mulia. Berapa hari Yang Mulia akan ada di sana?" Tanya Rosa lagi.
"Entahlah ... Aku belum bisa memastikan kapan aku pulang. Siapkan saja barang-barang yang paling aku butuhkan." Jelas Lilian.
"Baik Yang Mulia. Apakah Tuan Besar sudah mengetahui tentang keberangkatan Yang Mulia?" Tanya Rosa lagi.
"Ya ... Sebelumnya aku telah memberitahukan kepada Ayah dan Kakak. Oh iya, masukan busur yang diberikan oleh Kak Asgar dalam perlengkapan ku." Ucap Lilian.
"Baik Yang Mulia." Ucap Rosa.
Lilian sudah tidak lagi mengobrol dengan Rosa karena ia begitu menikmati pijitan dari Rosa. Lilian bahkan sampai ketiduran karena merasa sangat lelah dengan semua aktifitas yang ia kerjakan selama beberapa hari.
__ADS_1
Setelah memastikan Lilian tertidur lelap. Rosa mematikan lilin dikamar Lilian dan menutup pintu kamar.
°°°