
Viscount Wilson menggeram kesal mendengar ucapan Lilian. Niat awal mereka menghampiri Lilian untuk menekan gadis itu, namun siapa sangka Lilian bisa dengan mudah mengikuti alur pembahasan dari mereka.
"Ekhmmm ... Sepertinya Putri Mahkota benar-benar dalam kondisi sehat." Ucap Tuan Martin.
"Tentu saja ... Ada banyak sekali dokumen yang harus saya kerjakan. Jika saya terus saja bermalas-malasan maka dokumen di ruangan ku akan menumpuk." Ucap Lilian datar.
Tuan Marquis Gaustark menyeringai sinis. "Terakhir kali saya lihat tubuh Putri Mahkota dipenuhi dengan luka cakaran. Tidak disangka luka cakaran itu cepat sekali menghilang." Ucapnya.
Lilian memicingkan mata ke arah Tuan Marquis Gaustark. "Kasih Yang Mulia Raja begitu besar kepadaku ... Yang Mulia memberikan ku obat yang sangat mujarab dalam menghilangkan rasa sakit dan juga menghilangkan bekas luka secepatnya." Ucapnya sambil tersenyum kecil. "Oh iya ... Kalau tidak salah tuan juga memiliki luka bakar yang cukup parah dikarenakan Citto. Sebelumnya saya minta maaf karena sampai sekarang saya belum sempat mengunjungi mu." Ucapnya dengan raut wajah sedih yan sengaja ia buat.
Marquis Gaustark mengepalkan kedua tangannya erat. "Tidak apa-apa Yang Mulia ... Lukanya sudah sembuh. Kejadian itu juga terjadi tanpa disengaja." Ucapnya menahan kesal.
Lilian mengangguk pelan. "Citto sangat sensitif saat berada dekat dengan orang yang tidak ia kenal. Terakhir kali baru saya mengerti mengapa Citto bersikap seperti itu." Ucap Lilian.
Semua orang yang datang bersama Marquis Gaustark menatap Lilian penasaran. "Kalau boleh kami tahu mengapa hewan itu bersikap seperti itu?" Tanya Tuan Martin penasaran.
Lilian menatap serius ke arah Tuan Martin. "Namanya Citto." Tekan Lilian pada setiap katanya. "Citto bersikap seperti itu jika ia merasa dalam keadaan bahaya. Ia akan berubah menjadi ganas jikalau berdekatan dengan orang-orang yang berusaha menyakiti ku." Jelas Lilian.
Viscoun Wilson menggeram kesal mendengar penjelasan Lilian. "Secara tidak langsung Yang Mulia ingin mengatakan jikalau Tuan Marquis Gaustark ingin berbuat jahat kepada mu?" Ucapnya.
Lilian menutup mulutnya dan menggeleng cepat. "Saya tidak pernah mengatakan hal seperti itu." Ucapnya dengan raut wajah murung.
"Yang Mulia mengatakan jikalau Citto akan berubah ganas kalau ia merasa dalam bahaya atau ia merasa Yang Mulia dalam bahaya. Terakhir kali Tuan Marquis Gaustark mendekatinya, ia mengeluarkan api dari mulutnya ... " Ucapnya sinis.
"Saya tidak pernah mengatakan kalau Tuan Marquis Gaustark memiliki rencana jahat kepadaku ... Mungkin saja waktu itu Citto merasa asing dengan Tuan Marquis Gaustark hingga akhirnya Citto mengeluarkan api dari mulutnya. Sehari sebelum itu, Citto bahkan mengeluarkan api dari mulutnya dan melukai tangan Yang Mulia Pangeran Mahkota, namun seiring berjalan waktu keduanya terlihat akrab. Itu menandakan jikalau Citto tidak akan menyerang seseorang sembarangan." Jelas Lilian panjang.
Semua orang sudah tidak bisa lagi menjawab ucapan dari Lilian. Mereka merasa kalau Lilian saat ini sedang bermain kata untuk menyudutkan mereka.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Seint yang tiba-tiba muncul di samping Lilian dan menatap datar ke semua orang yang berada di depannya.
__ADS_1
"Salam Yang Mulia Pangeran Mahkota." Ucap semua orang sopan.
Seint mengabaikan semua orang di hadapannya dan menatap ke arah Lilian. "Apa yang sedang kau lakukan di sini?" Tanya lagi.
Lilian tersenyum penuh arti ke arah Seint. "Saya tadi sedang mengambil minum, secara kebetulan saya bertemu dengan Tuan-Tuan ini." Ucap Lilian sambil menatap kesemua orang. "Tuan-Tuan ini begitu perhatian kepada ku ... Mereka mengkhawatirkan kondisi ku saat melihat bekas luka cakaran kedua harimau itu telah memudar." Ucapnya sambil tersenyum lembut.
"Begitu-kah? Tanya Seint yang mengerti kode dari Lilian.
Likian mengangguk pelan "Saya kasih bocoran informasi kepada Tuan-Tuan." Bisik Lilian.
Semua orang menatap Lilian dengan raut wajah serius.
"Saya dengar kedua harimau itu adalah hewan jinak atau hewan peliharaan seseorang. Saat ini Ayah saya sedang mencari pelakunya dan jika ia menemukan pelakunya, maka orang itu akan dijatuhkan hukuman berat. Iyakan?" Senggol Lilian pada tangan Seint.
"Mmm ... Hukuman gantung paling ringan untuk pelakunya." Ujar Seint dengan raut wajah datar.
Semua orang menegang mendengar ucapan dari Seint.
"Mungkin sebentar lagi ... Ayah saya sudah mendapatkan banyak petunjuk tentang kedua harimau itu." Jelas Lilian dengan raut wajah serius.
"Kalau boleh kami tahu, petunjuk apa saja yang sekarang dimiliki oleh Tuan Duke Marven?" Tanya Viscount Wilson.
"Rahasia!" Ucap Seint datar. "Yang jelas kami akan menemukan pelakunya. Secepatnya." Ucap Seint dengan menekan kata terakhirnya.
Marquis Gaustark menelan ludah susah payah. "Mohon maaf sebelumnya Yang Mulia. Sepertinya kami harus segera undur diri, kami harus menyapa Yang Mulia Raja dan Ratu." Ucapnya.
"Baiklah." Ucap Lilian sambil tersenyum. "Jangan bilang ke siapapun tentang informasi yang saya bagikan tadi. Biarkan hal itu menjadi rahasia kita saja." Bisik Lilian yang masih bisa didengar semua orang.
Setelah kepergian Marquis Gaustark beserta antek-anteknya. Seint memandang penuh arti ke arah Lilian.
__ADS_1
"Tidak ku sangka, Putri Mahkota sangat pintar bermain kata." Ucap Seint sambil tersenyum kecil.
"Tentu saja ... Aku ini adalah Putri Mahkota. Mereka mencoba menekan ku dengan permainan kata. Sangat konyol." Ucapnya sambil tersenyum kecil.
"Lalu ada yang bisa kamu simpulkan setelah bermain kata-kata dengan mereka?" Tanya Seint.
"Iya ... Mereka terlihat tegang saat aku mulai membahas tentang harimau. Jika tebakan kita benar maka mereka akan masuk dengan sendirinya kedalam rencana kita." Ucap Lilian sambil tersenyum kecil.
"Tidak ku sangka pasangan ku sangat licik" Bisik Seint ke telinga Lilian.
Lilian tersenyum manis. "Aku tidak boleh kalah dengan pasangan ku yang juga sangat kejam saat berhadapan dengan musuhnya." Ucapnya.
"Ekhemmm ... Sepertinya kami datang disaat yang tidak tepat." Ucap Raina tiba-tiba yang datang bersama Adrian Pavel.
Lilian dan Seint kompak menatap ke arah Raina dan Adrian Pavel datang.
"Salam Yang Mulia Pangeran dan Putri Mahkota. Senang bisa menyapa kalian di acara ini." Salam Raina dan Adrian Pavel bersamaan.
"Senang juga bisa bertemu dengan kalian." Ucap Lilian.
Seint hanya menunjukkan wajah tidak sukanya ke arah Adrian Pavel.
"Tidak terasa baru kemarin Putri Mahkota masih menyandang nama kebesaran Duke Marven dan sekarang telah dinobatkan menjadi Putri Mahkota, meski belum dinobatkan secara resmi." Ucap Raina sambil tersenyum sinis.
Lilian tersenyum kecil mendengar ucapan dari Raina. "Tidak terasa memang Nona ... Saya merasa sangat beruntung ada diposisi ini. Ada banyak sekali Putri dari keluarga bangsawan lainnya yang berharap ada diposisi ku. Meski belum dinobatkan secara resmi namun saya bisa pastikan jika posisi ini hanya untuk ku." Ucapnya.
Raina tersenyum sinis mendengar ucapan Lilian. "Sungguh kepercayaan diri yang begitu besar Putri Mahkota. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi kedepannya. Bisa saja posisi yang tengah Anda dambakan akan di ambil alih okeh orang lain."
Lilian menatap sinis ke arah Raina. "Bagaimana bisa ada yang berani menurunkan posisi ku? Pasanganku adalah orang yang sangat kejam bila berhadapan dengan musuhnya. Menurunkan ku dari posisi ini sama saja menurunkan posisinya. Bukankah begitu?" Tanya Lilian pada Seint.
__ADS_1
Seint tersenyum lembut ke arah Lilian. "Hanya kamu. Jika bukan kamu maka tidak akan ada yang bisa menduduki posisi itu." Ucapnya tega.
°°°