
Suasana aula pertemuan sangat ramai. Para bangsawan sedari tadi hanya saling melirik satu sama lain dengan raut wajah bingung. Sepertinya Sang Raja ingin membahas sesuatu yang sangat penting.
"Yang Mulia Raja telah tiba." Teriak salah satu Prajurit.
Dari Arah pintu aula terlihat Raja Reinal berjalan dengan raut wajah yang sangat serius menuju kursi kebesarannya. Semua para bangsawan yang hadir langsung menundukkan badan dan memberi penghormatan kepadanya.
"Salam untuk Yang Mulia Raja, Semoga langit tetap memberkahi mu." Ucap para bangsawan serentak.
"Duduklah." Ucap Raja Reinal dingin.
Para bangsawan langsung mengambil tempat mereka masing-masing dan menunggu hal apa yang ingin Sang Raja sampaikan.
"Beberapa bulan terakhir saya telah melakukan penyelidikan terhadap barang apa saja yang masuk di kerajaan ini." Ucap Raja Reinal mulai membuka suara.
Semua orang menatap Sang Raja dengan raut wajah serius. "Ada beberapa barang yang berhasil masuk di kerajaan kita dengan cara ilegal. Prajurit perbatasan melapor bahwa barang-barang yang masuk sebelumnya sudah sangat diperiksa dengan sangat ketat." Ucap Raja Reinal sambil mengedarkan pandangannya kesemua bangsawan.
Raja Reinal menghela napas kasar. "Dua hari yang lalu ada dua harimau yang memasuki kawasan Putri bangsawan. Setelah saya melakukan penyelidikan terhadap bangkai kedua harimau itu, saya menemukan hal yang sama kepada keduanya." Jelas Raja Reinal.
Raja Reinal kemudian mengambil napas sebentar. "Kedua harimau itu ternyata dipengaruhi oleh obat sehingga harimau itu lepas kendali dan menyerang daerah Putri bangsawan. Obat itu adalah salah satu obat yang masuk di kerajaan kita secara ilegal. Jika Prajurit telah melakukan pemeriksaan menyeluruh dan secara ketat terhadap barang yang masuk itu artinya barang ilegal itu masuk melalui para bangsawan." Jelas Raja Reinal sambil mengepalkan erat tangannya.
Semua orang terkejut mendengar ucapan Raja Reinal. Apalagi Sang Raja mengatakan jika kemungkinan yang membawa masuk barang-barang itu adalah para bangsawan.
"Ampun Yang Mulia, sebelumnya mengapa Anda mengatakan hal seperti itu?" Ucap salah satu bangsawan.
Raja Reinal menatap serius ke arah semua bangsawan. "Kerajaan Apollonia dijuluki sebagai salah satu kerajaan terbesar di benua ini karena memiliki sumber daya yang sangat besar. Salah satunya adalah melalui perdagangan. Barang-barang yang akan diperdagangkan di kerajaan ini sebelumnya harus memiliki ijin masuk. Jika barang dari pedagang kecil telah di periksa dengan ketat maka saya yakin jika barang-barang ilegal itu masuk dengan bantuan orang dalam. Para keluarga bangsawan memiliki hak privasi dalam menjaga barang mereka yang masuk, jadi para Prajurit penjaga perbatasan tidak berani sembarangan memeriksa barang keluarga bangsawan yang masuk." Jelas Raja Reinal panjang.
"Setelah saya melakukan penyelidikan secara menyeluruh, saya menemukan nama-nama para bangsawan yang melakukan aktifitas perdagangan dengan kerajaan lain. Barang-barang itu masuk tanpa Prajurit periksa terlebih dahulu, jadi saya menyimpulkan bahwa di kerajaan kita telah ada bangsawan yang berusaha berbuat curang." Ucap Raja Reinal tegas.
Para bangsawan mulai panik mendengar ucapan dari Raja Reinal. "Untuk sekarang saya belum mendapatkan bukti tentang keterlibatan kalian namun kasus ini masih akan tetap saya selidiki. Jika ada diantara kalian yang terlibat maka bersiap-siap mendapat hukuman berat dari saya. Untuk sekarang bagi para bangsawan yang masih melakukan perdagangan dengan kerajaan lain, maka hak privasi yang sebelumnya saya berikan hari ini saya tarik semua. Semua barang yang masuk di kerajaan mulai sekarang harus diperiksa dulu baru bisa mendapat ijin masuk." Jelas Raja Reinal lantang.
Suara riuh dari para bangsawan terdengar memenuhi aula pertemuan. "Dengan cara ini saya berharap dapat menekan para pelakunya, mereka pasti akan berusaha bergerak dengan hati-hati lagi. Mereka pasti akan mencari cara lain agar bisa menyelundupkan barang-barang ilegal itu masuk kembali dan pada saat itu saya harus bisa menangkap kejahatan mereka dan memberikan mereka hukuman yang seberat-beratnya." Batin Raja Reinal kemudian menatap ke arah beberapa para bangsawan. "Nama-nama kalian sudah ada ditangan saya, jadi tunggu dan lihat saja!" Batinnya lagi.
°°°
Setelah beristirahat beberapa hari dikediamannya, kini Lilian mulai menjalankan aktifitasnya sebagai Putri Mahkota. Setelah acara peresmiannya, Ratu memberikannya waktu yang cukup untuk Lilian memulihkan kondisi tubuhnya setelah kejadian terakhir kali.
Sedari pagi Rosa sibuk mempersiapkan keperluan yang Lilian butuhkan saat di istana nanti. Sambil menunggu Rosa menyiapkan semuanya, Lilian duduk menatap wajahnya lama didepan cermin riasnya.
"Luka cakaran harimau ini seharusnya lama akan sembuh namun entah mengapa luka-luka yang ada di wajah dan tubuh ku seakan sembuh dengan sangat cepat." Batin Lilian sambil memegang wajahnya yang masih memiliki bekas cakaran.
"Nona tidak perlu khawatir, bekas luka itu pasti akan hilang dengan sangat cepat. Luka Nona sekarang sudah mengering dan terkelupas, sekarang tinggal tunggu bekasnya hilang saja." Ucap Rosa sambil tersenyum cerah.
Lilian masih menatap wajahnya dengan serius. "Makin lama tinggal menggunakan tubuh lama ku, entah mengapa aku merasa cepat lelah meski penyembuhan luka ku sangat cepat." Batin Lilian kembali.
Rosa menatap Lilian yang sedari tadi hanya diam. "Apakah Nona baik-baik saja? Apakah Nona masih membutuhkan istirahat?" Tanya Rosa Khawatir.
Lilian tersadar dari lamunannya dan menatap ke arah Rosa. "Tidak, aku baik-baik saja. Jika semua persiapannya sudah selesai sebaiknya kita berangkat sekarang saja." Ucap Lilian sambil berjalan mendekati Citto dan menggendongnya keluar kamar.
Setelah berpamitan kepada Ayah, Ibu dan Kakaknya, Lilian berangkat bersama dengan rombongan istana yang datang menjemput.
Sesampainya di istana, Lilian disambut hangat oleh banyak pelayan dan membawanya berjalan menuju ruangan pribadinya.
"Silahkan masuk Putri, ini adalah kamar mu. Jika ada yang kurang, silahkan Yang Mulia katakan saja." Ucap pelayan tersebut sambil membuka pintu ruangan yang sangat besar.
Lilian menatap ragu ke arah Rosa yang melihatnya dengan senyuman. Awal dia kembali ke masa lalunya, Lilian selalu merasa canggung jika dipanggil Nona dan sekarang belum sampai setahun Lilian harus membiasakan diri di panggil Putri.
"Saya tidak akan tinggal di istana tapi mengapa saya disediakan kamar?" Tanya Lilian bingung.
Pelayan itu tersenyum mendengar ucapan Lilian. "Anda adalah Putri Mahkota dari kerajaan Apollonia jadi wajar memiliki kamar di istana. Hasil kesempatan Yang Mulia Raja dengan Tuan Duke Marven sebelum Tuan Putri menikah dengan Yang Mulia pangeran maka Tuan Putri akan tetap tinggal di kediaman Ayah mu namun karena Tuan Putri sekarang memiliki tanggung jawab terhadap gelar baru mu jadi ruangan inilah yang akan menjadi tempat istirahat mu." Jelas Pelayan tersebut.
Lilian mengangguk singkat. "Lalu siapa nama mu?" Tanya Lilian pada Pelayan tersebut..
"Nama saya Nora. Saya telah diberi tugas untuk mengurus semua keperluan Tuan Putri selama di istana." Ucap Nora.
"Tapi saya sudah punya Rosa." Ucap Lilian menatap ke arah Rosa.
__ADS_1
Nora tersenyum ceria. "Rosa adalah pelayan pribadi Tuan Putri dari keluarga Ayah mu dan saya adalah Pelayan yang juga akan membantu Yang Mulia mengurus semua kebutuhan Anda." Ucap Nora.
"Kalau begitu saya memiliki tambahan pelayan lagi?" Tanya Lilian.
"Ya. Tuan Putri." Ucap Nora sopan.
"Bagu juga sih, artinya Rosa akan punya teman ngobrol." Ucap Lilian tersenyum senang.
"Silahkan Yang Mulia, masuk dan lihat dulu kamarnya." Ucap Nora mempersilahkan Lilian masuk.
Lilian memasuki kamarnya dan menatap takjub isi kamar tersebut. Ruangan itu sangatlah besar, semua hiasan yang ada dalam ruangan itu dapat Lilian pastikan pasti harganya sangat mahal semua. Lilian berjalan mendekati lemari pakaian dan membukanya, ia tidak bisa menyembunyikan kekagumannya, di dalam lemari sudah terisi penuh dengan pakaian yang akan Lilian kenakan. Tidak lupa dengan perhiasan dan aksesoris lain yang ia butuhkan.
"Semuanya lengkap." Batin Lilian.
"Apakah ada yang Tuan Putri butuhkan lagi?" Tanya Nora.
"Tidak perlu. Ku rasa semuanya sudah lengkap." Ucap Lilian cepat.
Nora tersenyum cerah ke arah Lilian. "Baguslah kalau begitu Yang Mulia." Ucapnya.
°°°
Lilian menatap serius ke arah gulungan dokumen yang sekarang berada ditangannya. Baru sehari Lilian menjabat sebagai Putri Mahkota namun dokumen yang harus ia kerjakan sudah hampir menggunung didepannya.
Lilian sesekali menghela napas pelan membaca isi dari dokumen, namun ia tetap terus fokus membaca gulungan-gulungan tersebut hingga ia tidak sadar jika seseorang datang dan duduk didepannya.
"Apakah isi dokumennya begitu penting hingga kamu tidak ada orang yang sedari tadi telah duduk didepan mu?" Ucap Seint sambil menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.
Lilian menurunkan gulungan dokumen ditangannya dan menatap ke arah Seint kemudian fokus membaca dokumennya kembali.
"Rupanya kamu masih marah kepada ku." Ucap Seint sambil menarik dokumen ditangan Lilian.
Lilian menghela napas pelan. "Sepertinya Citto sekarang lagi tertidur lelap." Ucap Lilian sambil menatap Citto dan mengabaikan keberadaan Seint.
"Kamu mengabaikan ku? Tanya Seint sambil menatap dingin ke arah Lilian.
Seint kembali merampas dokumen yang ada ditangan Lilian dan menyingkirkan dokumen lain agar Lilian tidak punya alasan lagi untuk mengabaikannya.
"Apa yang harus aku lakukan agar kamu mau memaafkan ku?" Ucap Seint menatap Lilian serius.
Lilian menatap Seint kesal. "Kau baru menanyakannya sekarang? Kemana saja kau beberapa hari ini? Kau bahkan tidak menemui ku sejak kegiatan berburu itu selesai." Ucap Lilian kesal sambil membuang muka.
"Kamu marah karena hal itu? Aku harus mengurus sesuatu yang sangat penting bersama Artem. Setelah kegiatan berburu itu selesai, Ayah langsung menyuruh ku ke barat untuk menyelidiki hal penting. Aku bahkan pulang dengan terburu-buru untuk bisa segera menemui mu." Jelas Seint.
Lilian menatap dengan tatapan tajam. "Bohong!!." Ketusnya.
"Tanya Artem kalau tidak percaya. Sebelum berangkat aku sangat ingin menemui mu namun Ayah bilang hal itu sangat penting dan mendesak akhirnya aku langsung berangkat ke barat." Jelas Seint kembali.
"Aku tidak mudah memaafkan seseorang." Ketus Lilian.
"Aku tahu. Maka dari itu... Aku akan menuruti semua keinginan mu asalkan kamu mau memaafkan ku." Ucap Seint.
Lilian menatap serius ke arah Seint. "Benarkah?" Tanya Lilian.
"Iya." Ucap Seint.
" Baiklah." Ucapnya Cuek, kemudian menatap kembali ke arah Seint. "Memang penyelidikan apa yang kamu lakukan di sana?" Tanya Lilian mulai penasaran.
Seint menghela napas pelan. "Aku dan Artem kesana untuk menyelidiki sesuatu yang berkaitan dengan Citto. Kayaknya Citto bisa kesini karena dipanggil paksa." Jelas Seint.
"Maksudnya?" Tanya Lilian bingung.
"Di wilayah barat sana telah dilakukan upacara pemanggilan naga. Beruntungnya Citto muncul di daerah sekitar wilayah kegiatan berburu saat itu. Jika ia muncul ditempat upacara itu maka aku tidak tahu apa yang akan mereka lakukan padanya." Ucap Seint sambil menatap Citto.
"Memangnya apa yang akan mereka lakukan kalau Citto muncul di sana?" Tanya Lilian penasaran.
__ADS_1
"Naga adalah hewan yang tidak mudah patuh kepada seseorang. Jika dia muncul di sana maka bisa saja Citto akan ditahan dan disiksa agar dia tunduk dan mau mendengarkan orang yang telah melakukan upacara itu." Jelas Seint.
Lilian menatap sedih ke arah Citto. "Syukurlah Citto waktu itu datang ke tenda ku." Ucapnya sedih. "Lalu apa yang kamu temukan di sana?" Tanya Lilian.
"Kami perlu melakukan penyelidikan lebih lanjut lagi." Ucap Seint yang belum mau menjelaskannya pada Lilian.
Lilian mengangguk singkat. "Bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?" Tanya Lilian serius.
"Sedari tadi kamu sedang bertanya padaku." Ucap Seint datar.
Lilian menatap Seint dengan datar. "Kamu masih tetap menyebalkan." Ucapnya.
"Kamu mau bertanya apa?" Tanya Seint.
Lilian berdehem sebentar kemudian menatap Seint serius. "Sejak kehilangan ingatan, aku sangat penasaran tentang hal ini." Ucap Lilian terjeda. "Bukankah dulu kamu menjalin hubungan dengan Nona Raina?" Tanya Lilian serius.
Seint mengangkat sebelah alisnya dan menatap Lilian tidak suka. "Tidak!" Ucapnya tegas.
"Kamu tidak usah berbohong padaku. Katakan saja yang sebenarnya, aku janji tidak akan marah." Ucap Lilian.
"Aku sudah bilang tidak namun sepertinya kamu menginginkan jawaban lain." Ucap Seint datar.
Lilian mendesah pelan. "Aisss Rosa bilang sebelum aku kecelakaan, aku sempat melihat mu dengan Nona Raina sedang berpelukan ditepi danau." Ucap Lilian.
"Aku tidak berpelukan dengannya." Tegas Seint.
"Lalu apa?" Tanya Lilian mulai kesal.
"Hanya menolongnya." Ucap Seint datar.
"Menolong dengan cara memeluknya?" Tanya Lilian sambil menatap sinis ke arah Seint.
"Saat itu dia sedang terpeleset dan tidak sengaja jatuh ke arah ku." Jelas Seint.
"Lalu kau secara alami menangkap tubuhnya dan terjadilah adegan mesra?" Tanya Lilian sinis.
Seint mendesis pelan. "Kamu saja yang berpikir seperti itu." Ketus Seint.
"Lalu seperti apa yang benar?" Tanya Lilian.
"Saat itu aku sedang menunggu mu dan tidak sengaja bertemu dengannya." Ucap Seint.
"Kenapa kamu menunggu ku?" Tanya Lilian.
"Waktu itu aku baru selesai melakukan perjalanan bersama Artem lalu diperjalanan pulang aku melihat sebuah riasan rambut. Aku membelinya dan akan memberikannya pada mu." Jelas Seint.
"Lalu dimana riasan rambut itu." Tanya Lilian penasaran.
Seint mengerjapkan mata beberapa kali. "Riasan itu... itu..." Ucapnya Gugup.
"Mana?" Tanya Lilian mendesak.
"Diambil sama Nona Raina." Ucap Seint ragu.
Lilian menatap nyalang ke arah Seint. "Keluar!!" Usir Lilian.
"Aku akan memberikan riasan rambut yang jauh lebih cantik." Ucap Seint.
"Tidak mau. Keluar!!" Usir Lilian lagi.
Habis sudah kesabaran Seint. ia kemudian berdiri dari duduknya dan menarik tangan Lilian agar ikut berdiri bersamanya. Saat Lilian sudah berdiri, Seint menarik tengkuk leher Lilian dan mencium bibir Lilian lembut.
°°°
Masyaallah Author ngetik part ini sampai dua ribu lebih kata....
__ADS_1
Selamat membaca...