Bukan Dunia Novel

Bukan Dunia Novel
82. Wilayah barat


__ADS_3

Setelah kembali dari kediaman Duke Marven, Seint mengetukkan jarinya pada sebuah meja yang berada diruang kerjanya. Seint sedang berpikir bagaimana caranya agar ia bisa bertanya kepada Ayahnya tentang masalah belati dan upacara pemanggil roh tanpa dicurigai.


Setelah lama berkutat dengan pikirannya, Seint menghela napas pelan dan bangkit dari duduknya. "Apakah Ayahku ada di ruangannya?" Tanyanya dengan raut wajah datar seperti biasa.


"Iya, Yang Mulia Raja sejak pagi belum meninggalkan ruangannya." Jawab Artem.


"Kita ke sana sekarang!" Ucap Seint sambil berjalan melewati Artem.


Setelah sampai di depan ruang kerja Ayahnya, Seint menyuruh salah satu Prajurit penjaga pintu untuk melaporkan kedatangannya. Setelah beberapa saat, Prajurit tadi kembali lagi dan melaporkan perintah dari Sang Raja.


"Silahkan masuk Yang Mulia." Ucap Prajurit tersebut sambil menunduk sopan.


Seint mengangguk singkat dan berbalik ke arah Artem. "Tunggulah di sini, jangan biarkan siapapun masuk dulu selama saya masih di sini!" Ucap Seint dengan raut wajah serius.


"Baik Yang Mulia." Ucap Artem sopan.


Seint mengangguk pelan dan memasuki ruang kerja Ayahnya. Terlihat Raja Reinal sedang memegang beberapa dokumen ditangannya sambil mengerutkan kening.


"Hormat saya Yang Mulia." Salam Seint sopan.


"Mmm ... " Gumaman Raja Reinal.


"Apakah Yang Mulia sedang sibuk?" Tanya Seint.


Raja Thanos menghela napas pelan dan menyimpan dokumen ditangannya. "Duduklah!! Sebelum kau ingin menyampaikan tujuan mu, bantu Ayah untuk menemukan solusi!" Ucapnya dengan raut wajah lelah.


Seint mengangkat sebelah alisnya dan berjalan mendekat ke arah Ayahnya. Setelah duduk pada salah satu kursi di depan Ayahnya, Seint melihat banyak sekali dokumen yang sedang Ayahnya kerjakan.


"Apakah Ayah sedang sibuk?" Tanya Seint non-formal.


Raja Reinal menghela napas kasar. "Ayah membutuhkan pendapat mu untuk masalah yang tengah Ayah selidiki sekarang!" Ucapnya lelah.

__ADS_1


"Ada apa Ayah?" Tanya Seint penasaran.


Raja Thanos meluruskan badannya dan menatap serius ke arah Seint. "Semakin Ayah selidiki masalah ini, semakin Ayah tidak dapat menemukan jalan keluarnya. Di wilayah barat sekarang telah terjadi krisis parah, banyak rakyat mengeluh karena sulitnya sumber daya yang bisa di olah. Ayah sudah berupaya banyak untuk membuat daerah itu sejahtera namun kondisi wilayah sana tidak memungkinkan untuk saat ini." Jelas Raja Reinal.


"Memangnya apa yang telah terjadi di sana?" Tanya Seint sambil mengerutkan kening.


Lagi-lagi Raja Reinal menghela napas kasar. "Entahlah. Tanah di daerah sana seakan menolak semua tanaman yang akan ditanam. Sudah banyak cara telah Ayah lakukan untuk membuat tanah di sana subur namun tidak ada satupun cara Ayah yang berhasil." Jelas Raja Reinal.


"Dikarenakan kondisi tanah, Rakyat di sana tidak bisa menanam apapun dan karena jaraknya sangat jauh dari Ibukota membuat daerah itu mengalami krisis parah?" Simpulan Seint.


Raja Reinal mengangguk cepat. "Iya. Selain menggarap tanah, tidak ada yang bisa rakyat bisa lakukan di sana. Agar bisa bertahan hidup, rakyat di sana harus keluar daerah dan mencari pekerjaan lainnya. Semakin lama daerah barat semakin tidak berpenghuni." Jelasnya.


Seint mengangguk pelan. "Lalu bagaimana dengan sumber airnya?" Tanya Seint.


"Ini yang tambah membuat Ayah bingung, di sana banyak sekali mata airnya namun entah karena faktor apa, daerah itu selalu menolak untuk di tanami tanaman." Ucap Raja Reinal sambil memijit keningnya.


"Kalau begitu biarkan hamba untuk berangkat ke sana!" Tegas Seint.


Seint mengangkat sebelah alisnya. "Benar juga. Jiwa Lilian sekarang berasal dari masa depan, besar kemungkinan ia memiliki solusi untuk masalah ini." Batin Seint. "Akan saya coba bicarakan kepadanya." Ucapnya.


"Baiklah kalau begitu." Ucap Raja Reinal sedikit lega.


"Ayah ... bukankan daerah itu adalah daerah dilangsungkan ritual pemanggil naga?" Tanya Seint mulai menggali informasi.


Raja Reinal mengangguk cepat. "Ada banyak yang terjadi di wilayah sana, maka dari itu Ayah selalu mengupayakan banyak cara agar rakyat tetap tinggal di sana. Jika tidak ada yang mau bertahan lama di wilayah sana maka orang-orang yang melakukan ritual itu akan semakin bebas bergerak di sana." Jelasnya.


"Setahu ku ritual pemanggil naga dilakukan jika beberapa syarat terpenuhi. Salah satu syaratnya adalah proses pemberian darah dari keturunan marga King. Pertanyaannya, apakah proses pemberian darah telah dilakukan?" Pancing Seint.


"Sepertinya upacara itu telah dilakukan ... " Ucap Raja Reinal sambil melihat ke kanan dan ke kiri. "Entah sejak kapan, belati yang diwariskan turun temurun telah hilang dari tempatnya." Ucapnya.


Seint mengerutkan kening bingung. "Ayah tidak tahu kapan belati itu tidak ada ditempatnya?" Tanya Seint penasaran.

__ADS_1


"Ya ... Sejak Ayah diangkat menjadi Raja belati itu sudah tidak ada ditempatnya." Jelas Raja Reinal.


"Mungkinkah belati itu telah dicuri?" Tanya Seint.


Raja Reinal menggeleng pelan. "Akan sulit jika belati itu memang di curi. Tidak ada yang tahu tempat penyimpanan barang pribadi milik anggota inti keluarga dan kalaupun mereka tahu tidak akan mudah untuk sampai ke tempat itu." Jelasnya sambil mengingat letak tempat penyimpanan.


"Apa mungkin Kakek yang telah mengambil dan melangsungkan upacara itu?" Tanya Seint.


Raja Reinal menghela napas pelan. "Entahlah ... Upacara itu tidak bisa dilakukan jika bukan dari marga King. Sejak lama kerajaan ini berdiri dengan keyakinan dilindungi oleh naga. Ada perjanjian sakral antara marga King dengan naga yang membuat mereka terikat satu sama lain." Jelasnya.


"Saya yakin ... Upacara itu telah dilaksanakan. Namun siapa yang melakukan upacara itu? Bisakah keturunan Ayah yang sedarah namun bukan dari marga King?" Tanya Seint lagi.


"Benar juga. Kita sama-sama memiliki darah yang sama meski dengan marga yang berbeda, ada kemungkinan sedarah yang bukan dari marga King telah melakukan upacara itu." Simpulan Raja Reinal.


"Coba Ayah ingat-ingat dulu ... Sebelumnya Apakah Ayah telah melakukan upacara itu secara tidak sengaja atau tidak." Tanya Seint.


"Ayah yakin terkecuali ... " Ucap Raja Reinal mengingat.


"Terkecuali apa Ayah?" Tanya Seint cepat.


"Ayah pernah memberikan darah sewaktu upacara pengangkatan resmi sebagai Putra Mahkota." Ucap Raja Reinal mengingat.


"Mungkinkah darah Ayah digunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab untuk melaksanakan upacara pemanggil roh?" Tanya Seint lagi.


"Entahlah ... Jika kamu punya waktu, selidiki-lah masalah ini. Akhir-Akhir ini kerajaan kita memiliki banyak masalah, pekerjaan Ayah semakin meningkat hingga Ayah sibuk dan akan melupakan masalah ini." Ucapnya sambil memijit kening.


"Baik Ayah ... Serahkan masalah ini kepada ku." Tegas Seint.


Raja Reinal mengangguk pelan. "Semoga kamu bisa menemukan akar dari masalah ini." Batinnya sambil menatap harap kepada Seint.


°°°

__ADS_1


__ADS_2