
Lilian berjalan mengikuti langkah kaki Seint, Sedari tadi ia begitu sangat penasaran dimana Seint akan membawanya pergi namun perasaan kesal kepada lelaki itu membuatnya malas untuk bertanya.
Mereka terus berjalan menelusuri lorong-lorong yang tampak sepi hanya ada beberapa prajurit yang sedang berjaga atau sesekali mereka berpapasan dengan para pelayan yang tidak sengaja melintas.
Semakin lama Lilian semakin penasaran kemana mereka akan pergi, pasalnya sudah sedari tadi mereka berjalan mengikuti Lorong-lorong itu namun mereka tidak juga sampai pada tempat tujuannya.
Lilian membuang napas pelan. "Apakah tempatnya masih jauh?" Ucap Lilian akhirnya.
"Jauh atau dekat tempatnya itu tergantung kau sendiri." Ucap Seint.
Lilian berhenti berjalan dan menatap kesal kearah Seint. "Apa maksud mu?" Ketusnya.
"Sedari tadi kau hanya diam saja dan tidak bertanya...jadi ku kira kau ingin jalan-jalan sebentar sebelum kita ketempat tujuan." Ucap Seint santai.
Lilian membulatkan mata dengan sempurna. "Jadi sedari tadi kau tidak membawa ku ke tempat tujuan kita?" Tanya Lilian yang mulai meninggi.
"Hari ini sepertinya suasana hati mu sedang tidak baik-baik saja...sedari tadi kau terlihat kesal." Ucap Seint santai.
"Yang membuat hatiku tidak baik-baik saja itu adalah kau...aku membuang banyak sekali tenaga karena sangat kesal kepada mu dan sekarang kamu malah membuatku tambah kesal." Ucap Lilian marah.
"Memangnya apa yang sudah ku lakukan?" Tanya Seint santai.
"KAU..." Ucap Lilian terjeda. "Kita akan kesana sekarang ATAU AKU AKAN PULANG SEKARANG?" Ucap Lilian marah.
Seint menghembuskan napas pelan melihat raut wajah marah dari Lilian. "Baiklah." Ucapnya pasrah.
Seint dan Lilian kemudian berjalan ketempat tujuan mereka yang sesungguhnya. Tempat yang mereka tuju terletak di halaman utama istana Appollonia, tempat itu adalah sebuah tempat terbuka dengan pemandangan yang sangat indah. Terlihat sudah ada banyak orang yang menunggu kedatangan keduanya di sana.
Saat menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di sana Lilian merasa sedikit canggung lantaran karena orang-orang yang berada di sana menatapnya dengan tatapan menilai.
"Jangan menatapnya seperti itu atau mata kalian yang akan aku keluarkan dari tempatnya." Ucap Seint dingin.
Meski ucapan Seint membuatnya sedikit ketakutan namun Lilian bersyukur setelahnya tidak ada lagi yang berani menatapnya secara terang-terangan.
"Duduk." Ucap Seint sambil menunjuk sebuah kursi dengan ukiran yang sangat indah kepada Lilian.
Lilian mengikuti arah tunjuk Seint kemudian duduk ditempat yang sebelumnya ditunjuk oleh Seint.
"Apa yang akan kita lakukan di sini." Tanya Lilian bingung.
Seint memandang ke arah seorang yang berdiri tidak jauh dari mereka kemudian mengangguk pelan ke orang itu.
__ADS_1
Artem berjalan mendekat ke tempat Seint dan Lilian kemudian tersenyum ke arah Lilian. "Hari ini kau dan Yang Mulia akan di lukis...kita hanya memerlukan satu lukisan saja setelahnya akan diperbanyak oleh pelukis lainnya." Jelas Artem.
"Kenapa kami harus dilukis?" Tanya Lilian bingung.
Artem menatap ke arah Seint sebentar kemudian kembali menatap ke arah Lilian. "Lilian...kau akan melakukan peresmian hubungan dengan Pangeran Mahkota...untuk itu kau perlu di lukis, umur mu masih belasan tahun jadi kalian tidak bisa melangsungkan acara untuk saat ini." Jelas Artem.
"Mengapa?" Tanya Lilian penasaran.
"Menurut peraturan kerajaan Apollonia...seorang Putri bangsawan yang memiliki hubungan dengan Putra Mahkota sebelum umurnya mencapai dua puluh tahun tidak bisa melangsungkan acara peresmian secara langsung namun untuk menggantikannya kau harus di lukis bersama Pangeran Mahkota dan lukisan mu itu akan disebar luaskan di dalam kerajaan maupun di luar kerajaan." Jelas Artem.
Lilian mengangguk sebentar kemudian menatap kearah Seint. "Baiklah." Ucapnya.
Setelah Lilian mengerti dengan penjelasan dari Artem, Seint kemudian mengambil tempat duduk di samping Lilian.
Lilian mengernyitkan kening bingung melihat Seint yang juga duduk di kursi yang sama dengannya. "Kenapa kau juga duduk di kursi yang sama dengan ku?" Tanya Lilian.
"Ini adalah kursi ku...kursi kejayaan Putra Mahkota." Ucap Seint.
"Lalu mengapa tadi kau menyuruh ku untuk duduk di kursi ini?" Tanya Lilian kesal.
"Karena kau adalah pasangan ku, tidak mungkin aku akan dilukis di kursi ku ini sendiri...kalau aku di lukis sendiri buat apa aku harus repot-repot harus menjemput mu kesini?" Ucap Seint mulai kesal.
"Jadi begitu." Ucap Seint sambil mengangguk singkat. "Kalau begitu lebih baik sekarang kau pulang saja." Bentak Seint.
"Kau mengusir ku?" Tanya Lilian emosi.
"Ya...aku mengusir mu!" Ucap Seint marah.
Lilian terdiam tidak lagi menjawab ucapan Seint, hatinya begitu sakit saat mendengar ucapan dari Seint. Sesak ya itu yang dirasakan oleh Lilian sekarang, hatinya bagaikan ditusuk oleh sebilah pisau yang sangat tajam. Matanya sudah tidak bisa lagi membendung cairan bening yang siap lolos dan turun ke pipinya.
Tes Tes cairan bening itu akhirnya terjatuh membasahi kedua pipi Lilian. Dengan tubuh gemetar Lilian terbangun dari tempat duduknya dan berniat berjalan menjauhi semua orang namun saat Lilian ingin mengambil langkah pertamanya Seint menarik tangan dan memeluknya dengan sangat erat.
Artem memerintahkan semua orang yang berada di tempat itu agar berbalik dan tidak melihat ke arah Seint dan Lilian.
"Maaf." Bisik Seint ditelinga Lilian.
Lilian semakin merasakan sesak di hatinya, ia bahkan kesulitan hanya untuk bernafas dan isak tangisnya bahkan terdengar jelas oleh Seint.
"Maaf...aku bersalah." Ucap Seint merasa bersalah.
Isak tangis Lilian semakin terdengar, ia bahkan memukul punggung Seint dengan semua tenaga yang ia miliki. "Kau jahat...kau tega mengusir ku di depan banyak orang." Ucap Lilian disela isak tangisnya.
__ADS_1
Seint mengeratkan pelukannya pada tubuh Lilian, sebelah tanganya ia gunakan untuk mengusap lembut kepalanya. "Pukul aku sekeras mungkin...aku memang bersalah kepada mu." Ucap Seint.
Lilian terdiam tidak mau menanggapi ucapan dari Seint, ia terus memukulinya hingga lama kelamaan Lilian lelah dengan sendirinya. Isak tangis sekarang digantikan dengan sesegukkan dari Lilian.
Seint melepas pelukannya dan menatap ke arah mata Lilian yang memerah karena menangis. "Maafkan aku." Ucap Seint lembut.
Lilian kembali meneteskan air matanya. "Ka..kau mengusir ku." Ucapnya serak.
"Aku minta maaf...seharusnya aku tidak melakukan hal itu." Ucap Seint bersalah sambil menghapus air mata Lilian yang terus saja membasahi pipinya.
"Apakah aku merepotkan mu?" Tanya Lilian sambil sesegukkan.
"Tidak...kau tidak pernah merepotkan ku...aku bahkan akan sangat senang jika kamu merepotkan ku...ku mohon Lilian berhentilah untuk menangis." Ucap Seint bersalah.
"Lalu?" Tanya Lilian.
"Jadi maafkan aku...aku sama sekali tidak punya niat untuk menyakiti mu." Ucap Seint sambil mencium kening Lilian lama. "Apakah kamu mau memaafkan ku?" Tanya Seint lembut.
Lilian mengangguk singkat. "Iya." Ucap Lilian
"Apakah sekarang kamu ingin beristirahat?" Tanya Seint.
"Lalu bagaimana lukisannya." Tanya Lilian.
"Kita akan melakukannya nanti setelah kamu merasa baikan." Ucap Seint lembut.
"Apakah sekarang wajah ku terlihat jelek?" Tanya Lilian.
Seint tersenyum lembut. "Tidak...kamu tetap selalu terlihat cantik di mata ku." Ucap Seint.
"Kamu bohong...wajah ku sekarang pasti jelek dan bengkak." Ucap Lilian sambil menyembunyikan wajahnya di dada Seint.
"Kalau begitu lebih baik sekarang kamu beristirahat saja dulu...setelah nanti kamu sudah merasa baikan kita akan melanjutkan lukisannya." Ucap Seint.
"Aku hanya ingin mencuci muka dan beristirahat sebentar." Ucap Lilian.
"Baiklah...sesuai keinginan Tuan Putri." Ucap Seint tersenyum lembut ke arah Lilian.
Seint kemudian membawa Lilian menuju kamarnya untuk beristirahat sebentar sebelum melanjutkan rencana kegiatan mereka.
°°°°
__ADS_1