
Sejak kedai di buka pengunjung sudah sangat penasaran dengan isi kedai tersebut. Saking penasarannya mereka rela berpanas-panasan untuk mengantri.
Para pekerja kedai mulai kewalahan melayani para pengunjung yang semakin lama semakin banyak saja. Untuk itu Zheyan, Asgar dan Lilian harus turun tangan sendiri untuk membantu para pekerja.
Saat Zheyan, Asgar, dan Lilian sedang sibuk melayani para pengunjung. Seint datang bersama Artem yang berdiri disampingnya. Seint dapat melihat mereka sangat kerepotan melayani para pengunjung yang sedari tadi belum berkurang sama sekali.
Seint dan Artem berjalan mendekati meja panjang yang memajang kue dan minuman yang kedai sediakan.
"Kalian datang?" Tanya Lilian saat selesai melayani salah satu pengunjung ia tak sengaja melihat keduanya.
Seint menghadap kesamping dan matanya bertatapan langsung dengan mata Lilian. "Ya." Ucapnya datar.
"Rencananya kami tadi datang untuk berkunjung dan memesan salah satu kue namun saat kami sampai tak disangka pengunjung yang datang sangat banyak." Ucap Artem.
"Lalu kalian mengurungkan niat untuk memesan?" Tanya Lilian.
"Sepertinya akan seperti itu, melihat kalian sudah sangat kerepotan...kami akan menunggu sampai pengunjungnya berkurang." Ucap Artem.
"Kalau begitu pinjamkan aku tenaga kalian." Ucap Lilian.
Seint mengangkat sebelah alisnya mendengar ucapan dari Lilian. "Maksudnya?"
Lilian menghela napas berat. "Begini...kami membutuhkan tenaga tambahan di sini, hampir seluruh pelayan di rumah ku dan keluarga Baron telah membantu namun kami tetap kekurangan orang." Jelas Lilian.
"Lalu?" Tanya Seint datar.
"Aku membutuhkan tenaga kalian berdua untuk membantu kami." Ucap Lilian penuh harap.
"Emmm Lilian...bukannya kami tak mau membantu namun kau tau sendiri status Pangeran Seint di sini," Artem kemudian mengedarkan pandangannya kesemua arah. "Pangeran Seint tidak mungkin bekerja seperti itu." Ucap Artem ragu.
"Ohh kalian tenang saja, kalian tidak akan membantu mengantarkan makanan...kau hanya perlu menjelaskan pada para pengunjung manfaat dari kue dan coklat dan untuk Pangeran Seint...karena sifatnya datar dan irit bicara...ia hanya perlu mendengar dan mencatat pesanan orang saja bersama ku tanpa harus bicara sepatah katapun." Ucap Lilian.
"Maksud mu aku harus jadi patung di dekatmu?" Tanya Seint datar.
"Aisss bukan jadi patung, kau hanya perlu menggunakan telinga dan tangan mu saja, kau kan tak suka banyak bicara jadi mendengar dan mencatat adalah pekerjaan yang tepat." Ucap Lilian.
Artem melirik sebentar ke arah Seint dan kembali menatap Lilian. "Kalau aku sih bisa-bisa saja namun keputusannya tergantung Pangeran Seint." Ucap Artem.
"Apa yang bisa kau berikan pada kami kalau kami bersedia membantu?" Tanya Seint.
"Aissss dasar datar masih sempat-sempatnya mencari keuntungan di saat lagi rame begini." Ucap Lilian kesal.
"Kau yang membutuhkan kami kalaupun kami membantu yang paling banyak mendapat keuntungan adalah kau." Ucap Seint menatap Lilian tajam. "Dasar gadis kecil yang licik...apakah dia tidak sadar kalau selama ini ia selalu mencari keuntungan dalam banyak hal." Batin Seint.
"Baiklah...karena kalian sudah mempunyai banyak koin maka kalian tidak akan menginginkannya, jadi aku akan mengabulkan masing-masing satu permintaan untuk kalian...bagaimana?" Tanya Lilian.
"Tiga permintaan, dua untuk ku dan satu untuknya, kalau tidak mau ya sudah kami pergi dari sini." Ucap Seint sambil membuang muka.
"Dasar papan tripleks kalau ada maunya saja ngomongnya panjang." Ucap Lilian kesal.
__ADS_1
"Tidak mau ya sudah..." Ucap Seint dan berniat berbalik namun cepat di tahan oleh Lilian.
"Baiklah...tiga permintaan." Ucap Lilian.
"Ayo sekarang kita berkerja." Ucap Seint tersenyum cerah ke arah Lilian dan berjalan melewatinya.
Lilian membulatkan mata sempurna melihat senyuman Seint, ini pertama kali Lilian Melihat senyuman Seint, biasanya ia selalu bersikap datar dan dingin sekalipun ia tersenyum pasti senyuman sinis andalannya.
"Ada apa dengannya? Senyumannya memang membuatnya tampan berkali-kali lipat tapi kok horor ya?" Ucap Lilian sambil memeluk dirinya sendiri.
Artem sama bingungnya dengan Lilian, sudah sejak lama Artem tak pernah lagi melihat senyum Seint yang secerah itu namun hari ini ia dapat melihatnya kembali.
Artem tersenyum ke arah Lilian. "Sudahlah...lebih baik kita bekerja sekarang...pengunjung sudah datang lebih banyak lagi." Ucap Artem yang segera diangguki oleh Lilian.
Sudah sejak tadi mereka berlima membantu melayani para pengunjung namun tidak ada diantara dari mereka yang mengeluarkan sepatah katapun selain untuk melayani para pengunjung.
Terdengar suara pengunjung yang masih muda menggoda kelimanya namun hanya dibalas senyuman oleh mereka terkecuali Seint yang masih setia dengan ekspresi datarnya, namun anehnya itu yang membuat pengunjung wanita yang muda maupun tua menyukainya.
Seint sesekali menatap ke arah Lilian yang sedari tadi menghapus peluh yang berada di kening menggunakan tangannya.
"Gunakan ini." Ucap Seint datar.
Lilian tersenyum cerah, "Terima kasih." Ucap Lilian, "Tumben si datar baik." Batinnya.
Seint melihat senyum Lilian membuatnya menarik senyum juga walau tak kelihatan seperti seseorang yang sedang tersenyum. Para pengunjung bingung melihat ekspresi keduanya dan mulai membicarakan kedekatan hubungan keduanya.
Saat mereka sedang asik dengan urusan masing-masing terdengar suara ribut di arah pintu masuk kedai. Mereka berlima refleks menatap satu sama lain dan berkumpul bersama.
"Entahlah..." Ucap Zheyan.
Saat Zheyan ingin memanggil seorang pekerja dan menanyainya namun sebelum ia sempat memanggilnya di arah pintu masuk terlihat Sang Raja dan para pengikutnya berjalan memasuki kedai.
Melihat kedatangan Sang Raja dan para pengikutnya refleks Zheyan, Asgar, Lilian dan pekerja berlari ke arah mereka lalu berbaris dengan rapi. "Selamat datang dikedai kami Yang Mulia Raja dan Tuan-Tuan." Ucap mereka semua menunduk sopan.
Para pengunjung yang sedari tadi sedang menikmati hidangannya refleks berdiri dan memberi tempat untuk Sang Raja dan pengikutnya.
Sang Raja dan para pengikutnya sendiri sedang mengagumi tatanan dalam kedai, meski banyak pengunjung di dalamnya namun kedai tetap bersih dan nyaman. Zheyan memberi kode pada Lilian untuk melayani para pengunjung yang memiliki kedudukan tinggi itu.
"Silahkan duduk Yang Mulia dan Tuan-Tuan." Ucap Zheyan sopan sambil melirik ke arah ayahnya yang tersenyum cerah.
Sang Raja dan Para pengikutnya langsung duduk di kursi yang telah disediakan. "Sungguh kedai yang bagus." Ucap Sang Raja.
"Terima kasih Yang Mulia atas pujiannya untuk kedai kami, sedikit saya mau menjelaskan tentang kedai kami...boleh?" Tanya Lilian.
Sang Raja tertawa mendengar ucapan Lilian. "Boleh silahkan." Ucap Reinal.
"Terima kasih atas kesempatannya Yang Mulia, sebelum kami menghidangkan menu kedai kami hamba ingin menjelaskan tatanan dalam kedai ini, semua perabotan dan hiasan dari kedai kami dibuat khusus dari keluarga Baron Avalon, semuanya terbuat dari kayu dan bahan-bahan yang berkualitas tinggi jika Yang Mulia dan Tuan-Tuan Tertarik silahkan hubungi penanggung jawab, semisal Yang Mulia dan Tuan-Tuan masih memiliki pertanyaan tentang isi kedai akan dijawab secara pribadi dengan Tuan Muda dari keluarga Baron." Ucap Lilian.
Para bangsawan kemudian mengangguk singkat, mereka akan memesan beberapa kursi dan meja untuk kediaman mereka nanti.
__ADS_1
"Selanjutnya, kami akan memperkenalkan menu kedai kami, silahkan Yang Mulia dan Tuan-Tuan memilih." Para pelayan kemudian memberikan buku menu pada masing-masing orang.
Setelah membaca lama mereka mengerutkan kening bingung melihat menu-menu yang sebelumnya tak pernah mereka lihat.
"Bawakan kami semua menu yang ada." Ucap Raja Reinal.
"Baiklah Yang Mulia, Hamba undur diri sebentar untuk menyiapkan hidangannya." Ucap Lilian yang di angguki oleh Sang Raja.
Lilian kemudian berjalan mundur untuk menyiapkan makanan. Setelah semua hidangan siap dan akan dibawa kehadapan Sang Raja, Lilian tak sengaja melihat Seint yang berdiri dengan menyandarkan kakinya kebelakang tembok pembatas sedang menutup matanya dan ditemani oleh Artem.
Lilian berjalan mendekati Seint. "Kalian berdua ikutlah dengan ku." Ucap Lilian.
Seint membuka kedua matanya dan menatap ke arah Lilian. "Kemana?" Ucapnya.
"Ke depan." Ucap Lilian.
"Ngapain?" Tanya Seint.
Lilian memutar bola matanya malas. "Ikut saja..." Ucap Lilian kesal.
Seint menghembuskan napas pelan dan berjalan mengikuti Lilian. Sesampainya disana Seint mengangkat sebelah alisnya menatap Sang Ayah yang tersenyum cerah ke arahnya.
"Maaf telah membuat Yang Mulia dan Tuan-Tuan menunggu." Ucap Lilian ramah. "Silahkan di cicipi." Ucap Lilian.
Raja Reinal serta para pengikutnya mencicipi kue yang dihidangkan oleh Lilian dan para pekerja lainnya. Mereka menutup kedua mata masing-masing saat merasakan kelembutan dan rasa dari kue tersebut.
"Kue ini rasanya enak sekali, kue apa namanya ini." Ucap Raja Reinal sambil menunjukan kue ditangannya pada Lilian.
"Namanya kue coklat Yang Mulia...hamba juga sudah menyiapkan kue coklat keju, silahkan di coba." Ucap Lilian.
Raja Reinal dan pengikutnya kembali mencoba kue yang diberikan oleh Lilian. Mereka kembali menganggukkan kepalanya saat merasakan rasa kue tersebut.
"Rasanya hampir sama dengan kue yang tadi namun agak sedikit berbeda apa mungkin karena taburan yang warna putih ini?" Tanya Raja Reinal yang juga diangguki oleh para pengikutnya.
Lilian tersenyum lalu mulai menjelaskan. "Yang Mulia benar, itu namanya keju...terbuat dari susu sapi murni dan jika diolah dengan baik maka akan menghasilkan keju, perbedaannya dengan kue pertama adalah kalau yang pertama hamba menaruh banyak coklat didalamnya supaya kalau saat di mulut kue tersebut seakan meleleh dengan sendirinya, kue kedua namanya kue coklat keju...sama-sama rasa coklat namun bedanya kue kedua hamba kasih sedikit coklat dan ditaburi keju diatasnya...kue pertama hamba tidak menggunakan mentega namun kue kedua hamba menggunakan mentega." Jelas Lilian panjang.
"Apalagi itu mentega?" Ucap Raja Reinal.
"Mentega itu semacam pengembang kue atau penambah rasa gurih pada kue, sama seperti keju...sama-sama terbuat dari susu sapi murni cuman beda di pengolahannya, mentega membutuhkan sedikit banyak waktu sedangkan keju bisa kita buat hanya dalam sehari kalau bahan-bahannya sudah tersedia semua." Ucap Lilian.
Raja Reinal mengangguk pelan, kemudian Lilian menyuruh para pelayan untuk menyiapkan coklat panas untuk masing-masing orang. Setelah meminumnya semua orang mengangguk pelan mengagumi rasa dari coklat tersebut.
"Yang Mulia dan Tuan-Tuan semua...minuman yang kalian minum itu juga dari coklat dan bahan lain yang saya campurkan jadi satu." Ucap Lilian.
"Kue dan minuman ini rasanya sangat enak dan membuat tenang." Ucap salah satu Tuan bangsawan.
"Tentu tuan...karena coklat memiliki banyak manfaat seperti mengendalikan nafsu makan, menjaga kesehatan jantung, mengontrol kadar gula dalam darah, menurunkan kadar kolestrol, memelihara fungsi dan kesehatan otak, menghambat pertumbuhan kanker, menghilangkan stres dan bisa membuat bahagia saat mengonsumsinya." Jelas Lilian.
°°°
__ADS_1
Selamat membaca ☺️