
Murid itu memasuki ruangan pertemuan dan menunduk sopan kepada Pemimpin dan orang-orang penting lainnya dari Kelompok Kesatria Elang.
"Kami sedang mengadakan pertemuan penting. Jika laporan yang kamu sampaikan tidak penting maka bersiaplah untuk mendapatkan hukuman." Ucap salah satu Tetua lainnya.
Murid tersebut menunduk takut mendengar ucapan Tetua. "Maafkan saya Ketua dan para Guru ... Saya tidak bermaksud mengganggu pertemuan kalian namun saya rasa informasi yang saya bawa ini akan berguna." Jelasnya takut.
"Kalau begitu langsung saja ... Informasi apa yang kamu bawa." Ucap Alben Benito.
Murid itu mengangguk. "Semalam saya keluar kediaman untuk menemani Kakak seperguruan lainnya membeli kudapan. Ditengah jalan saya ijin ke kamar kecil dan menyuruh Kakak seperguruan untuk jalan duluan dan akan bertemu ditempat perjanjian. Saat saya selesai dan melanjutkan perjalanan, saya bertemu dengan Tuan Marquis Gaustark dan beberapa orang yang memakai baju serba hitam. Mungkin karena malam Tuan Marquis tidak melihat lambang di pakaian saya. Mereka sepertinya sedang membahas hal penting, karena curiga saya bersembunyi dan mencari cara untuk mencuri dengar dari mereka. Tidak banyak yang saya dengar namun saya sedikit mendengar mereka membahas tentang keberadaan bukti di Istana." Jelasnya panjang.
Alben Benito sudah tidak bisa lagi menahan amarahnya. Ia bahkan memukul meja yang berada didepannya dengan sangat keras karena terlalu marah mendengar penjelasan muridnya itu.
"Lalu apa lagi yang kamu lihat dan dengar di sana?" Tanya Alben Benito dengan muka merahnya.
"Tidak lama setelah mendengar itu, orang-orang berbaju hitam itu pergi menyisakan Tuan Marquis Gaustark dan beberapa orang lainnya. Merasa hal itu penting, akhirnya saya memutuskan untuk tetap berada di sana. Tuan Marquis Gaustark dan rekan-rekannya sedang membahas rencana penting yang akan mereka laksanakan selanjutnya namun karena takut ketahuan, saya tidak berani berada dekat dengan mereka sehingga saya tidak mendengar jelas apa yang sedang mereka bahas. Namun mereka sering menyebut tentang bulan purnama dan hewan mitos. Setelah lama duduk dan memantau mereka tidak lama orang-orang berbaju hitam kembali datang dan menyerahkan sesuatu yang mereka bungkus dalam kain." Jelasnya panjang.
Alben Benito kembali memukul meja yang berada didepannya dengan sangat keras. "Mereka melakukan pertemuan namun tidak mengundangku di sana." Marahnya.
"Saya semakin yakin Ketua ... Jika merekalah yang menjadikan kita sebagai kambing hitam. Saya yakin orang-orang yang berbaju hitam itulah yang menyusup ke Istana dan mencuri barang bukti itu." Ucap Jonas.
"Sepertinya barang bukti itu sangatlah penting jika mendengar cerita tentang kemarahan Yang Mulia Raja. Tuan Marquis Gaustark berani mengirim penyusup ke Istana pasti ia berhubungan dengan barang bukti yang dicuri itu." Ucap salah satu Tetua.
__ADS_1
Alben Benito mencoba mengingat kembali kejadian atau rencana mereka yang sebelumnya mereka kerjakan. "Kita selalu bergerak untuk menyerang Putri Mahkota. Kita bahkan sengaja meninggalkan jejak panah yang memiliki lambang kelompok kita agar Pangeran Mahkota dan Tuan Muda Zheyan ragu. Mereka bahkan datang menyelidiki langsung kesini namun kita masih bisa bersikap dengan tenang. Kali ini bukan kita yang mencuri barang bukti itu namun kita yang tidak tenang." Kesalnya.
Semua orang mengangguk setuju dengan ucapan Alben Benito. "Lalu apa lagi yang kamu lihat dan dengar?" Tanya Bannes.
Murid itu menggeleng cepat. "Hanya itu Guru." Ucapnya takut.
"Kalau begitu kamu kembalilah dan jangan melakukan aktifitas apapun." Ujar Jonas.
"Baik Guru ... Kalau begitu saya permisi dulu." Ucap Murid itu sambil menunduk sopan dab keluar ruangan pertemuan.
Semua orang kembali fokus ke arah Alben Benito. "Lalu langkah apa yang akan kita ambil setelah ini Ketua?" Tanya salah satu Tetua.
Alben Benito membuang napas kasar. "Mereka telah berkhianat kepada kita. Namun sebelum mengambil keputusan kita harus memastikan benar atau tidaknya mereka yang melakukan hal ini. Kirim seseorang untuk pergi ke kediaman Tuan Marquis untuk menanyakan pendapat mereka tentang tuduhan terhadap kelompok kita! Kita dapat menyimpulkan sesuatu dari jawaban yang akan ia berikan nanti, jika bukan pihak Istana langsung yang menyelidiki hal ini maka akan lebih baik saya sendiri saja yang akan ke sana. Situasi kita saat ini tidak memungkinkan untuk kita dengan bebasnya keluar masuk kediaman." Jelasnya panjang.
"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang ketua?" Tanya salah satu Tetua.
"Kita tidak bisa melakukan aktifitas lain diluar kediaman kita. Untuk saat ini kita hanya bisa berada dalam kediaman dan sampai penyelidikan ini selesai jangan biarkan seorang murid-pun mendekati bangunan belakang yang akan menimbulkan kecurigaan pihak Istana. Informasikan kepada seluruh penghuni kediaman kita agar melakukan aktifitas biasa saja. Jika penyelidikan telah selesai, kita akan kembali ke rutinitas awal." Jelas Alben Benito panjang.
Setelah lama mengadakan pertemuan, Akhirnya Alben Benito dan yang lainnya membubarkan diri dan melakukan sesuai arahan dari Ketua mereka agar para Murid tidak melakukan aktifitas aneh yang akan membuat pihak Istana merasa curiga.
°°°°
__ADS_1
Dalam ruangan yang cukup besar terlihat ada banyak sekali orang yang memenuhi isi ruangan tersebut. Mereka segera melakukan pertemuan setelah mendengar kabar jikalau pihak Istana tengah menyelidiki Kelompok Kesatria Elang sebagai pelaku pencurian barang bukti di dalam ruangan kerja Raja Thanos.
"Apa yang harus kita lakukan Tuan Marquis Gaustark? Sebelumnya kita telah kehilangan Tuan Martin dalam insiden penyerangan terhadap Putri Mahkota dan sekarang Kelompok Kesatria Elang sedang diselidiki atas pencurian barang bukti itu." Ucap Tuan Frans salah satu rekannya.
"Kejadian yang menimpa Tuan Martin itu adalah sebuah kebetulan yang sungguh disayangkan. Jikalau kita tidak menabur racun udara maka kita tidak akan tahu bagaimana nasib kita selanjutnya. Sekarang Kelompok Kesatria Elang yang sedang dalam masalah, ini bukanlah hal baik untuk kita Tuan." Ucap Viscount Wilson.
Marquis Gaustark memijit keningnya pelan. "Mengapa ada tanda pengenal kelompok itu di sana? Bukan cuman tanda pengenal namun Yang Mulia Raja mendapatkan beberapa bukti lainnya. Orang yang kita suruh mencuri barang bukti itu yakin tidak meninggalkan apapun di sana namun mengapa Yang Mulia Raja bisa mendapatkan bukti-bukti itu." Herannya.
"Mungkinkah Kelompok Kesatria Elang mendengar pembahasan Tuan-Tuan dengan Putri Mahkota Saat itu? Mereka berada ditempat yang sama sebelum penyerangan itu. Siapa tahu mereka juga mendengarkan hal itu dan berinisiatif untuk mencuri barang bukti itu sendiri tanpa memberitahu kita." Kata Frans mencoba menyimpulkan sesuatu.
"Bisa jadi begitu ... Mereka selalu bergerak cepat tiap kali ada dalam situasi tidak baik. Setelah orang-orang kita berhasil mencuri barang bukti itu, mereka juga memasuki ruangan kerja Yang Mulia Raja dan tidak sengaja meninggalkan jejak di sana karena terburu-buru meninggalkan Istana saat mereka ketahuan." Ucap Viscount Wilson.
Marquis Gaustark mendesah pelan. "Seharusnya kita mengirimnya surat undangan pertemuan waktu itu. Kalau sudah begini maka kita sendiri juga yang susah jika Yang Mulia Raja berhasil mengetahui rencana kita." Ucapnya.
"Kita tidak mengundangnya dikarenakan tidak ingin mereka dicurigai oleh Pangeran Mahkota terus. Akhir-akhir ini Tuan Asgar sangat sering mengunjungi Kelompok Kesatria Elang, jika bukan atas perintah Pangeran Mahkota maka tidak mungkin dia mau menghabiskan waktu dan tenaganya untuk ke sana." Ucap salah satu petinggi lainnya.
Marquis Gaustark mengangguk pelan. "Ya ... Bergabungnya mereka dapat membantu banyak hal. Untuk itu kita tidak bisa menempatkan mereka dalam bahaya terus karena kita akan membutuhkan dukungan dari mereka untuk menjalankan tugas yang Tuan Besar berikan. Murid mereka sebagian besar menjadi Prajurit kerajaan dan jika saatnya tiba maka mereka akan sangat berguna." Ucapnya.
"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang Tuan?" Tanya Viscoun Wilson.
"Untuk sementara kita tidak boleh melakukan interaksi dalam hal apapun dengan Kelompok Kesatria Elang untuk menghindari masalah yang akan datang. Saat ini Yang Mulia Raja sedang menyelidiki Kelompok itu secara detail, jika Yang Mulia tidak mendapatkan bukti kuat terhadap Kelompok itu maka dengan sendirinya Yang Mulia Raja akan melepaskannya." Jelas Marquis Gaustark yang di angguki oleh semua orang tanda mengerti.
__ADS_1
Tidak lama seorang pengawal datang menghadap kepada Marquis Gaustark untuk melaporkan seseorang dari Kelompok Kesatria Elang datang untuk menghadap.
°°°