
Setelah mengeluarkan beberapa barang dari lacinya, Lilian menatap lama pada sebuah buntelan kain yang sejak lama selalu membuatnya penasaran.
Lilian mengeluarkan buntelan kain tersebut dari lacinya. "Aku begitu penasaran dengan isi buntelan ini." Ucapnya sambil menatap buntelan kain tersebut.
"Buka saja." Ucap Zheyan tidak sabaran.
Lilian mengangguk singkat kemudian membuka buntelan kain tersebut dengan perlahan. Semua pasang mata yang ada didalam ruangan tersebut juga tidak bisa mengalihkan tatapannya pada buntelan kain tersebut.
Setelah buntelan kain tersebut dibuka oleh Lilian, tampak ada beberapa buku dan barang lainnya. Tangan Lilian meraih sebuah buku yang tampak sangat mencolok dan membaca tulisan pada sampul buku tersebut.
Secret
(Rahasia)
Lilian mengerutkan keningnya bingung dengan tulisan tersebut. "Buku ini dibuat menggunakan bahasa asing." Ucap Lilian sambil membolak balikkan buku tersebut.
"Apa artinya?" Tanya Zheyan penasaran.
"Rahasia." Ucap Lilian.
Zheyan mendengus kesal. "Kenapa harus dirahasiakan? di sini kita sedang memecahkan sebuah masalah besar jadi seharusnya tidak boleh ada rahasia di antara kita." Ucapnya kesal.
"Benar Lilian, kita sedang memecahkan sebuah masalah. Kita harus saling berbagi informasi yang kita ketahui agar secepatnya kita bisa mengetahui masalah apa yang tengah kita hadapi untuk saat ini." Ucap Asgar.
"Betul Putri Mahkota, sebaiknya beritahu saja kepada kami informasi apapun yang engkau ketahui." Ucap Artem.
Lilian menghela napas pelan. "Aku sedang memberitahu kalian jikalau tulisan pada sampul buku ini artinya rahasia." Ucap Lilian sambil menunjukkan buku tersebut.
Zheyan mengerjapkan mata berkali-kali mendengar ucapan Lilian. "Ohhh ku kira kau sedang tidak ingin memberitahu kami." Ucapnya sambil tersenyum canggung.
"Saya juga berpikir seperti itu." Ucap Artem sambil menggaruk pelipisnya.
"Kenapa suasananya berubah canggung ya?" Tanya Asgar.
Seint membuang napas pelan. "Itu karena kalian salah menyimpulkan sesuatu." Ucapnya dengan raut wajah datar. "Apa isinya?" Lanjutnya.
Lilian perlahan membuka buku tersebut dan membaca kalimat demi kalimat yang tertulis dari buku tersebut. "Buku ini menceritakan tentang sejarah kerajaan ini." Ucap Lilian.
__ADS_1
Seint mengerutkan kening bingung. "Mengapa harus menggunakan bahasa asing?" Tanya Seint.
Lilian mengedikkan bahunya. "Entahlah." Ucapnya kemudian membuka halaman lain buku tersebut. Lilian terus saja membuka halaman buku tersebut dan berhenti pada halaman yang membuatnya membulatkan mata sempurna.
"Ada apa?" Tanya Seint saat melihat perubah raut wajah dari Lilian.
"Halaman ini menjelaskan tentang proses pemanggilan naga." Ucap Lilian sambil menunjuk halaman buku tersebut.
"Apa isinya?" Tanya Seint penasaran yang di angguki oleh yang lain.
Lilian kembali menatap buku tersebut dan mulai menerjemahkan isi buku tersebut. "Halaman ini menjelaskan bahwa proses pemanggilan naga membutuhkan beberapa syarat. Syarat pertama adalah keturunan langsung dari marga King, syarat kedua adalah tempat yang diyakini sebagai tempat tinggal naga, syarat ketiga ialah roh yang kuat dan syarat keempat adalah melakukan ritual suci." Jelas Lilian.
"Citto telah mencul itu artinya keempat syarat tersebut telah terpenuhi." Ucap Seint datar.
Artem mengangguk pelan." Betul sekali, namun saya masih penasaran bagaimana caranya mereka bisa memanggil seekor naga." Ucapnya sambil mengerutkan kening.
"Coba baca lagi isi buku tersebut, mungkin saja di sana dijelaskan." Ucap Asgar.
Lilian mengangguk pelan dan kembali fokus pada halaman buku tersebut. "Sebuah ritual suci bisa dilakukan apabila ketiga syarat sebelumnya bisa terpenuhi, seseorang yang memiliki darah penerus marga King bisa memberikan darahnya dan melakukan upacara pemanggilan roh yang kuat." Jelas Lilian.
"Bukankah marga King adalah keturunan langsung dari Sang Raja?" Tanya Zheya.
"Benar." Ucap Seint sambil mengangkat sebelah alisnya. "Marga King disematkan hanya kepada calon Raja selanjutnya. Misalnya Kakek dulu memberi marga King kepada Ayah dan sekarang Ayah memberikan marga King kepada ku." Jelaa Seint.
"Di sana di sebutkan jika marga King memberikan darahnya untuk proses pemanggilan roh terkuat, apakah sebelumnya Yang Mulia pernah melakukan sesuatu dengan darah mu?" Tanya Asgar.
Seint menatap serius ke arah buku yang dipegang oleh Lilian. "Tidak pernah!. seingat ku selama ini saya belum pernah memberikan darah untuk proses pemanggilan roh." Ucapnya serius.
"Apa mungkin Yang Mulia Raja?" Ucap Artem.
Seint menatap serius ke arah Artem. "Untuk apa Ayah melakukan upacara pemanggil roh?" Tanyanya bingung.
"Itu akan terjawab jika kita menanyakan langsung kepadanya." Ucap Lilian tiba-tiba.
"Tidak bisa! Untuk saat ini kita tidak boleh melibatkan banyak orang, semakin sedikit orang yang tahu maka akan sedikit pula kemungkinan rencana kita tercium oleh para pelaku." Ucap Seint tegas.
"Lalu bagaimana kita bisa mengetahui apakah Yang Mulia Raja pernah melakukan upacara itu atau tidak!" Ucap Lilian.
__ADS_1
"Untuk hal itu serahkan saja kepada ku." Ucap Seint serius.
"Baiklah kalau begitu." Ucap Asgar kemudian mengerutkan kening bingung. "Lalu selanjutnya jika upacara pemanggilan roh itu ada dan naga itu sekarang ada ... berarti roh kuat itu juga ada." Ucap Asgar yang membuat semua orang menatap ke arah Lilian.
Lilian merasa gugup karena ditatap oleh semua orang. "Ke ... Kenapa kalian menatap ku seperti itu?" Tanyanya.
Seint menatap serius ke arah Lilian. "Naga itu hanya menurut kepada mu, tidakkah kamu terlibat dengan masalah ini?" Tanya Seint.
"Apa maksud mu?" Ucap Lilian kesal sambil menatap semua orang kesal. "Kalian menuduh ku telah melakukan sesuatu?" Tanya Lilian kesal.
"Apa mungkin roh Lilian semakin kuat setelah kejadian kecelakaan itu?" Tanya Asgar serius.
Semua orang menatap Asgar serius. "Maksud mu?" Tanya Zheyan.
"Lilian pernah terjatuh dari ketinggian dan kehilangan ingatannya, mulai dari saat itu ada sekali kejadian yang membahayakan nyawanya. Tidakkah kalian pikir jika Lilian memiliki roh yang kuat?" Tanya Asgar.
Lilian meneguk ludah susah." Apakah hari ini aku akan ketahuan?" Batin Lilian.
Semua orang kembali menatap serius ke arah Lilian. "Benar juga. Lilian tidak mengingat apapun sejak ia terbangun dari kecelakaan itu, mungkinkah kamu bukan Lilian?" Tanya Asgar sambil menatap serius ke arah Lilian.
"AKU ADALAH LILIAN!" Ucap Lilian tegas.
"Kakak tidak ingin mencurigai mu, memang sejak dari awal kau memiliki banyak kemampuan namun hal apa yang membuat Citto tertarik kepada mu secara tiba-tiba?" Tanya Zheyan serius.
"Dalam buku catatan istana juga tidak banyak membahas naga namun di sana tertulis seekor naga menyukai roh yang asing dan tidak mudah menyukai orang lain jika bukan orang itu adalah orang yang terpilih." Jelas Seint panjang.
"Selama ini saya selalu bertanya darimana Lilian mengetahui kedua tumbuhan kopi dan coklat. Setelah diingat kembali, sebelum Lilian kehilangan ingatannya ia pernah mengunjungi kebun itu dan tidak sedikitpun menaruh minat ke pohon coklat." Ucap Asgar.
Zheyan mengangguk pelan. "Benar ... Semua sikapnya sama namun ada hal-hal yang membuat ku tidak mengenal adik sendiri." Ucapnya.
Lilian memejamkan mata dan hampir tidak bisa bernapas. "Gawat ... gawat ... gawat ... Apa yang harus aku katakan pada mereka? Selama ini aku selalu berhasil mengalihkan pembicaraan namun sepertinya kali ini aku tidak bisa lari lagi." Batinnya.
"Lilian." Panggil Seint.
Lilian menarik napas pelan dan membuangnya perlahan. Ia mengangkat kepalanya dan menatap ke semua orang satu persatu. "Aku adalah Lilian." Ucapnya mantap.
°°°
__ADS_1