Bukan Dunia Novel

Bukan Dunia Novel
62. Kondisi


__ADS_3

Setelah melambaikan tangan ke arah Lilian yang menatapnya dengan tatapan membunuh, Seint berangkat menuju lokasi yang sudah ditentukan untuk kegiatan berburu bersama dengan Artem.


Sedari tadi Seint sangat serius mencari hewan buruannya. Ia berharap menjumpai seekor beruang untuk ia berikan pada Lilian, namun sedari tadi ia hanya menjumpai rusa dan serigala saja.


Seint memejamkan matanya fokus mendengar suara semak yang bergerak. Saat ia sudah memastikan asal suara tersebut, Seint berjalan dengan sangat pelan dan melihat seekor rusa dengan bulu yang sangat cantik.


Seint tersenyum tipis melihat keindahan rusa tersebut. "Tidak apa hari ini aku tidak berjumpa dengan beruang. Rusa itu sangat cantik jika aku memberikannya pada Lilian, aku yakin gadis itu tidak akan marah lagi padaku." Batin Seint sambil membayangkan raut wajah senang Lilian saat ia akan memberikan rusa itu.


Perlahan Seint mengangkat busurnya dan mengarahkannya ke arah rusa tersebut. Setelah menandai tujuannya, Seint berniat melepas anak panahnya namun gara-gara suara berisik seseorang yang berlari mendekat kearahnya membuat rusa yang Seint incar berlari menjauh.


"Ampuni hamba Yang Mulia karena sudah lancang mengganggu mu." Ucap prajurit dengan napas ngos-ngosan.


"Kalau sudah tahu, kenapa kau dengan sangat lancang mengganggu ku!" Bentak Seint marah.


"Hamba benar-benar memohon maaf Yang Mulia namun hal ini sangat penting dan mendesak." Ucap Prajurit itu takut.


"Jika hal yang kau sampaikan padaku tidak terlalu penting maka akan aku buat kau sebagai pengganti rusa tadi." Ucap Seint sambil membuang muka marah.


Prajurit tersebut menelan ludah gugup. "Maafkan hamba Yang Mulia...telah terjadi sesuatu di daerah sekitar jamuan teh para Putri bangsawan." Lapor Prajurit tersebut takut.


Seint berbalik dan mengangkat sebelah alisnya. "Hal apa?" Tanyanya mulai curiga.


"Dua ekor harimau telah memasuki wilayah dimana acara jamuan teh para Putri bangsawan diadakan dan..." Ucap Prajurit itu menunduk takut.


"Dan apa?" Tanya Seit mulai panik.


"Prajurit penjaga wilayah itu semuanya telah dilumpuhkan. Dua harimau itu berlari mendekat kearah Putri Evilia dan para Putri bangsawan lainnya berada namun..." Ucap Prajurit itu gugup.


"CERITAKAN SEMUANYA JANGAN SEPOTONG-SEPOTONG ATAU KAU YANG AKU POTONG." Ucap Seint marah.


Prajurit tersebut menelan ludah takut. "Namun Nona Lilian menghadang harimau sendirian dan bertarung melawannya. Terakhir kali yang saya tahu kondisi Nona Lilian sedang tidak baik-baik saja." Ucap Prajurit itu cepat.


Napas Seint terasa sesak mendengar ucapan dari prajurit tersebut. Ia kemudian berlari menuju tempat kudanya diikat dan meninggalkan Prajurit itu sendirian.


"ARTEM CEPAT IKUTI AKU!" Teriak Seint yang sudah berada di atas kudanya.


Artem yang tidak tahu apa-apa hanya menatap Seint bingung, namun ia tetap mengikuti Seint yang sudah menunggangi kudanya dengan kecepatan penuh. Sebelum meninggalkan tempat itu Artem memerintahkan prajurit yang mengawal Seint sedari tadi menjaga hasil buruan mereka.

__ADS_1


Ditengah perjalanan pulang Seint bertemu dengan Zheyan dan Asgar yang juga menunggangi kuda mereka masing-masing dengan kecepatan penuh. Keempatnya melaju dengan kecepatan penuh menuju tenda para Putri bangsawan di didirikan.


Saat memasuki wilayah tenda para Putri bangsawan, terlihat banyak sekali Prajurit yang tergeletak penuh dengan luka cakar di seluruh tubuh mereka masing-masing.


Seint menggenggam erat tali kekang kuda dan terus melaju mengabaikan semua orang yang menatapnya dengan rasa takut. Dari kejauhan Seint dapat melihat para Putri bangsawan mengerubungi satu titik


Saat sampai Seint langsung turun dari kudanya dengan tergesa-gesa. Dapat ia dengar suara tangisan Fania dan Violet yang menangis histeris.


Seint langsung membelah kerumunan dan matanya langsung fokus menatap ke seorang gadis yang tergeletak tidak berdaya dipangkuan Fania. Mata Seint memerah melihat tubuh Lilian yang bersimbah dengan darah.


Gaun yang gadis itu kenakan sudah sangat koyak dan memperlihatkan bagian tubuhnya yang terkenal luka cakaran yang mengeluarkan banyak darah. Pipi, tangan dan kaki Lilian bahkan terkena luka cakaran.


Seint terduduk dengan lemas melihat kondisi Lilian yang tidak berdaya, wajah gadis itupun tidak terlihat jelas karena dipenuhi dengan banyak darah. Seint mendekat ke arah tubuh Lilian dan langsung mengangkatnya ala bridelstyle.


Seint berlari menuju tenda Lilian dan sejenak melirik ke arah Artem. "Panggil tabib istana sekarang juga!" Ucap Seint tegas.


°°°


Terdengar suara tangisan yang begitu pilu dari kedua gadis yang sedari tadi menangisi kondisi Lilian. Dimulai dari pertama Lilian bertarung sampai sekarang keduanya masih saja menangis.


"Hukumlah kami Kak Zheyan. Semua ini salah kami." Ucap Violet sambil se-segukan.


"Kami bahkan tidak bisa melakukan apapun saat melihat Lilian yang sedang berjuang sendirian melawan dua harimau itu." Ucap Violet kembali.


Asgar menghela napas pelan. "Aku tahu kalian merasa sangat bersalah, tapi untuk sekarang tolong berhentilah menangis...kita semua di sini sedang panik dengan kondisi Lilian...mendengar kalian berdua menangis hanya membuat kami semakin panik." Ucap Asgar lembut.


"Untuk sekarang lebih baik kita berdo'a untuk Lilian, semoga saja dia baik-baik saja." Ucap Asgar lagi.


Duke Marven, Seint, Artem, Zheyan, Asgar dan kedua sahabat Lilian sedari tadi masih setia menunggu kabar dari tabib istana. Sedari tadi tabib istana belum saja keluar dan memberikan kabar tentang kondisi Lilian. Ada banyak sekali orang yang ingin mengetahui kondisi Lilian namun mereka belum bisa mendapatkan informasi apapun di karenakan Duke Marven menutup semua tenda Lilian dan meminta agar semua orang tidak mengganggu proses pengobatan tadi.


Zheyan terduduk dengan menundukkan kepalanya, sedari tadi ia selalu menyalahkan dirinya. "Jika saja aku mengijinkannya untuk berburu bersamaku pasti kejadiaannya tidak akan begini." Batin Zheyan menyesal.


Tak jauh dari yang Zheyan rasakan, Seint juga merasa menyesal karena tidak membawa Lilian pergi berburu bersamanya. Ia berpikir Lilian akan tetap aman jikalau gadis itu tetap berada disekitar tenda namun pikirannya telah salah. Gadis itu dengan sangat beraninya melindungi semua orang dan mengorbankan dirinya sendiri.


Terdengar suara desahan kasar berkali-kali dari mulut Duke Marven. Saat mendengar kabar tentang Lilian, Duke Marven langsung berlari meninggalkan Raja Reinal tanpa berpamitan terlebih dahulu padanya.


Saat sampai hatinya begitu hancur melihat kondisi tubuh Lilian yang dipenuhi dengan luka cakaran. "Aisss kapan Tabib itu keluar dan memberi tahu kondisi Lilian." Desah Duke Marven.

__ADS_1


Sedari tadi Duke Marven berjalan mondar mandir berharap sang Tabib keluar secepatnya. Setelah menunggu lama, Tabib akhirnya keluar dengan keringat membasahi wajahnya. Semua yang melihat Tabib itu keluar langsung berdiri dan mendekati tersebut.


"Bagaimana keadaan Putri saya Tabib?" Tanya Duke Marven khawatir.


"Nona kehilangan begitu banyak darah yang membuatnya sangat melemah, hampir seluruh tubuhnya terkena luka cakaran yang lumayan dalam. Nona sempat mengalami demam dan selalu berkeringat dingin, napasnya juga tidak teratur." Jelas Tabib.


"Lalu bagaimana dengan kondisinya sekarang?" Tanya Duke Marven panik.


"Nona Lilian sudah melewati masa kritisnya, asisten saya tadi sudah membersihkan lukanya dan mengolesinya dengan salep agar darahnya tidak terus keluar. Saya juga sudah memberikannya ramuan yang menurunkan panas dan mengatasi keringat dinginnya namun..." Jelas Tabib ragu.


"Namun kenapa?" Tanya Seint panik.


"Nona Lilian mendapatkan banyak sekali luka cakaran yang dalam. Sebagai seorang Putri bangsawan tentu saja Nona tidak ingin memiliki bekas luka ditubuhnya terlebih di bagian wajah. Nona Lilian mendapat luka cakaran yang sedikit dalam di bagian pipinya, saya tidak yakin resep obat saya akan menghilangkan bekas lukanya dengan cepat." Jelas Tabib takut.


"Lakukan semua hal yang Tabib bisa. katakan saja apa yang tabib butuhkan untuk kesembuhan Lilian, untuk luka cakarnya gunakan sumber daya apapun yang bisa membuat bekas lukanya hilang, biar perlu tabib cari sampai keluar kerajaan." Ucap Seint tegas.


Semua orang mengangguk menyetujui ucapan dari Seint.


"Lalu kapan kami bisa melihatnya Tabib?" Tanya Zheyan sedih.


"Tunggu setelah asisten saya selesai mengganti bajunya, setelah itu kalian boleh melihatnya namun jangan berisik. Tubuh Nona membutuhkan istirahat yang banyak untuk mencerna obat yang masuk. Kemungkinan Nona akan sedikit lama untuk sadar namun Pangeran dan Tuan-Tuan tidak perlu khawatir karena itu reaksi yang wajar untuk tubuhnya setelah mendapatkan banyak luka." Jelas tabib.


Mereka semua mengangguk mengerti. Tidak lama kemudian asisten Tabib keluar. "Sudah Selesai Tuan." Ucap gadis itu sambil tersenyum.


"Baiklah...silahkan Pangeran dan Tuan-Tuan masuk, saya dan asisten saya pamit undur diri dulu...saya akan sering kesini untuk melihat kondisi Nona." Ucapnya sambil tersenyum.


"Tolong Tabib rahasiakan dulu tentang kondisi Putri saya." Ucap Duke Marven.


Tabib tersebut tersenyum. "Tuan tidak usah khawatir tentang hal itu." Ucapnya kemudian berjalan pergi bersama asistennya.


Setelah kepergian Tabib, semua orang berjalan memasuki tempat Lilian berbaring. Mereka semua menunjukan raut wajah penyesalan melihat ada banyak sekali obat yang menempel di bagian tubuh Lilian.


°°°


Haloo semua...Author UP lagi. Sedikit mengingatkan, sedari awal Author sudah menulis poin-poin penting alur novel dari awal sampai selesai, jadi Author tidak bisa mengubah alurnya ditengah jalan itu akan merusak cerita itu sendiri. Jika ada yang tidak puas maafkan Author ya karena pada dasarnya manusia itu tidak luput dari kesalahan. Oh iya bagi yang merasa part-nya terlalu pendek...ayolah pembaca ku yang tersayang...satu part yang Author UP itu lebih dari 1500 kata dan untuk membuat satu part Author membutuhkan paling sedikit 2 jam untuk merangkai kata. Jadi tolong kasihanilah Author ini.


Udah itu aja...

__ADS_1


Selamat membaca....


__ADS_2