
Seint menatap sendu ke arah tempat Lilian berbaring, tidak ia sangka Lilian akan terbaring lemah seperti sekarang. Sebelumnya kondisi Lilian baik-baik saja namun entah mengapa secara mengejutkan kondisinya tiba-tiba saja menurun.
Seit mengingat kembali kejadian sebelum Lilian jatuh tidak sadarkan diri. "Lilian jatuh tidak sadarkan diri sebelumnya karena melihat lukisan wajahnya. Apakah lukisan itu benar-benar membuatnya terkejut sehingga sampai jatuh sakit begini?" Batin Seint.
"Pa...ngeran." Ucap Lilian serak dan terbata.
Seint melirik cepat ke arah Lilian dan berjalan mendekat ke tempat gadis itu berbaring dan berjongkok "Apakah ada yang sakit? Atau kamu membutuhkan sesuatu?" Tanya Seint lembut sambil mengusap pelan kepala Lilian.
"Minum." Ucap Lilian.
Seint kemudian meraih gelas yang berada di atas meja dan menuangkan air ke dalamnya. Dengan lembut ia mengangkat kepala Lilian dan memberikannya air itu.
"Rasanya segar sekali." Ucap Lilian lega.
"Apakah kamu butuh yang lain?" Tanya Seint kembali.
Lilian menggelengkan kepala pelan. "Kenapa kamu tidak ikut makan dengan Ayah dan yang lain?" Tanya Lilian.
"Entahlah...saat ini aku merasa tidak lapar, apakah kamu ingin makan sesuatu?" Tanya Seint.
"Ahh tidak..." Ucap Lilian canggung.
"Baiklah." Ucap Seint.
Keduanya sama-sama terdiam tanpa ada yang mau berbicara, hingga akhirnya Artem datang dengan membawa banyak gulungan ditangannya.
"Apakah saya mengganggu?" Tanya Artem yang memecahkan keheningan di antara keduanya.
"Tidak, ada apa?" Tanya Seint datar.
"Aku membawa banyak sekali dokumen yang harus secepatnya kau kerjakan." Ucap Artem ragu.
Seint membuang napas pelan. "Bisakah kau tidak mengungkit soal pekerjaan di sini?" Ucap Seint datar.
Artem menghembuskan napas kasar. "Sebenarnya aku tidak ingin namun dokumen-dokumen ini secepatnya harus kau kerjakan, jika tidak dikerjakan sekarang maka semua kegiatan yang kita susun akan kacau semua." Jelas Artem.
"Aku sedang menjaga Lilian, bawa keluar kembali dokumen-dokumen itu." Ucap Seint datar.
"Tapi..." Ucapan Artem terjeda saat melihat tatap tajam dari Seint.
"Kamu kerjakan saja dokumen-dokumennya sekarang." Ucap Lilian memberi usul.
Seint menatap dengan raut wajah dingin kearah Lilian. "Aku sedang menjaga mu." Ucapnya.
"Iya aku tahu...namun kamu bisa memeriksa dokumen-dokumen itu di sini, selain bisa menjaga ku...kamu juga bisa mengerjakan dokumen-dokumen itu." Ucap Lilian pelan.
"Apakah kamu merasa tidak terganggu?" Tanya Seint.
Lilian menggeleng cepat. "Kondisi ku sudah sangat membaik dari sebelumnya, kamu bisa mengerjakan dokumen-dokumen itu di sini." Ucap Lilian.
"Baiklah." Ucap Seint kemudian menatap ke arah Artem. "Bawa kemari dokumen-dokumen itu." Ucapnya.
Artem kemudian membawa dokumen yang berada ditangannya dan meletakkannya disebuah meja yang letaknya berada dekat dengan Seint. Seint dengan serius membaca isi dari masing-masing dokumen itu dan sesekali ia mengetukkan jarinya di atas meja.
__ADS_1
"Apakah persiapannya sudah di mulai?" Tanya Seint kepada Artem.
"Ya...tinggal tunggu perintah selanjutnya dari mu saja." Ucap Artem.
"Periksa semua daerah yang akan kita gunakan untuk berburu, pastikan daerah itu tidak berbahaya ... Jika sudah diperiksa maka lakukan persiapan selanjutnya." Ucap Seint tegas.
"Baiklah." Ucap Artem mengerti.
"Lakukan pengecekan secara berulang ke tempat tenda para Putri bangsawan akan di dirikan, aku tidak mau terjadi sesuatu kepada mereka...kegiatan ini akan dilakukan selama tiga hari jadi pastikan selama itu tidak akan ada sesuatu yang terjadi." Ucap Seint tegas.
"Baik yang mulia, kami telah memilih salah satu daerah di hutan sana yang aman untuk para Putri bangsawan, namun kami harus kembali memeriksanya lagi agar tidak akan ada masalah nantinya." Ucap Artem serius.
Lilian merasa bingung dengan pembahasan Seint dan Artem sedari tadi, rasa penasarannya membuatnya tidak tahan untuk tidak bertanya.
"Ummm...apakah aku boleh bertanya sesuatu?" Tanya Lilian ragu.
"Kamu masih belum tidur? Apakah kami mengganggu mu?" Tanya Seint.
Lilian menggeleng pelan. "Ah tidak." Ucap Lilian sambil bergerak duduk.
"Kenapa kamu malah duduk? Sebaiknya kamu berbaring saja." Ucap Seint khawatir.
"Tubuh ku sangat pegal kalau harus berbaring terus, aku juga merasa sudah baikan." Ucap Lilian jujur.
Seint dan Artem mengangguk pelan mendengar ucapan dari Lilian.
"Umm bisakah aku tahu...apa yang sedang kalian bahas sekarang?" Tanya Lilian penasaran.
"Kami sedang membahas tentang kegiatan yang akan kami laksanakan dalam waktu dekat ini." Ucap Artem.
"Kami akan mengadakan kompetisi berburu, setiap tahun para bangsawan di wajibkan untuk mengikuti kegiatan tersebut." Jelas Artem.
Lilian mengangguk singkat. "Memangnya di jaman ini...ah tidak...di kerajaan ini mempunyai berapa kegiatan? Aku rasa banyak sekali kegiatan yang diadakan." Ucap Lilian bingung.
Artem tersenyum mendengar ucapan Lilian. "Sebenarnya ada banyak kegiatan yang kami agendakan setiap tahunnya, kegiatan-kegiatan itu akan dipilih sesuai kondisi dan keadaan kita...namun untuk kegiatan-kegiatan wajib seperti festival dan berburu ini memang harus dilaksanakan setiap tahunnya." Jelas Artem.
Lilian mengerutkan kening bingung. "Tujuannya untuk apa?" Tanyanya.
"Tujuannya untuk menentukan kualitas dari keluarga bangsawan, seperti festival kemarin...para keluarga bangsawan memiliki sumber dan pendapatan yang berbeda untuk pemasukannya masing-masing...bagaimana mereka akan mengolah sumber yang mereka punya dan berapa besar pemasukan yang mereka dapatkan untuk kerajaan." Jelas Artem dengan lancar.
"Lalu tujuan kegiatan berburu apa?" Tanya Lilian bingung.
"Tujuannya untuk mengukur rasa rasa cinta." Ucap Seint cuek.
Lilian mengerutkan kening. "Bagaimana bisa rasa cinta diukur hanya karena berburu?" Tanya Lilian bingung.
Seint menatap Artem memberi kode untuk menjelaskannya pada Lilian. "Kegiatan berburu berawal dari usulan dari Permaisuri/Ratu...di sana para penerus keluarga bangsawan akan berburu dan akan memberikan hewan buruannya kepada Putri bangsawan yang mereka inginkan." Jelas Artem.
"Lalu di mana rasa cintanya bisa di ukur?" Tanya Lilian bingung.
"Putri bangsawan yang mendapat banyak pemberian hewan buruan akan di anggap sebagai wanita yang paling banyak mendapatkan cinta." Jelas Artem.
Lilian melongo tidak percaya. "Kegiatan macam apa itu? Bukankah kegiatan seperti itu akan memancing rasa dendam dari Putri bangsawan yang tidak mendapatkan hewan buruan?" Tanya Lilian heran.
__ADS_1
"Kau memang benar, namun di setiap banyak kegiatan yang dilakukan di kerajaan ini...acara berburu adalah kegiatan yang paling banyak di minati." Ucap Artem serius.
Lilian mendengus pelan. "Aku sangat bingung dengan orang-orang di kerajaan ini, mengapa mereka menyukai sesuatu yang membuat mereka merasa iri satu sama lain." Ucap Lilian heran.
"Ya...karena di saat kegiatan berburu banyak keluarga bangsawan yang mendapatkan pasangannya masing-masih." Ucap Artem.
Lilian terkejut mendengar ucapan Artem. "Jadi kegiatan itu adalah alternatif untuk jodoh-jodohan para keluarga bangsawan?" Tanya Lilian.
"Bisa dibilang begitu...para raja terdahulu juga mendapatkan banyak selir karena kegiatan seperti itu." Ucap Artem.
Lilian menatap kesal ke arah Seint. "Kau juga akan mencari selir di sana?" Tanya Lilian kesal.
Seint terkejut melihat Lilian berubah kesal kepadanya. "Kenapa kamu malah marah kepada ku? Sedari tadi aku hanya diam dan Artem yang bercerita." Ucap Seint.
"Dia bilang para raja terdahulu mendapatkan banyak selir karena kegiatan seperti itu...apakah kau juga berniat mencarinya di sana?" Tanya Lilian sambil menatap serius ke arah Seint.
Seint menatap tajam ke arah Artem sedangkan yang ditatap membuang muka tidak mau menatap ke arah Seint. "Aku saja belum bisa menikahi mu bagaimana bisa aku mencari yang lain." Ucap Seint meyakinkan Lilian.
"Itu artinya kau akan mencari selir setelah menikahi ku?" Tanya Lilian memancing Seint.
"Tidak...aku tidak membutuhkan selir, aku hanya membutuhkan mu." Ucap Seint tegas.
Lilian menahan senyum mendengar ucapan Seint. "Lalu kamu akan memberikan hasil buruan mu kepada siapa?" Tanya Lilian menatap Seint serius.
Seint menatap dalam ke mata Lilian. "Kamu pasti sudah tahu untuk siapa hasil buruan itu." Ucap Seint.
Lilian tidak bisa menahan senyumnya lagi mendengar ucapan Seint. "Apakah kegiatan itu bisa di ikuti oleh perempuan juga?" Tanya Lilian ragu.
"Bisa...kalau Putri bangsawan mau." Ucap Artem santai.
Seint kembali menatap tajam ke arah Artem. "Tutup mulut mu atau aku yang akan menutup mulut mu selamanya." Ucap Seint.
Artem meneguk ludah susah payah kemudian pura-pura membereskan dokumen yang tercecer.
"Kau berniat untuk mengikuti kegiatan itu?" Tanya Seint sambil menatap dingin ke arah Lilian.
Lilian mengangguk semangat. "Aku ingin mengasah kemampuan memanah ku." Ucap Lilian sambil tersenyum cerah.
"TIDAK BOLEH!" Ucap Seint meninggi.
"Aku akan pergi bersama mu...bagaimana kamu setuju-kan?" Tanya Lilian sambil tersenyum manis ke arah Seint.
Seint berdehem pelan melihat raut wajah manis dari Lilian. "Ba...baiklah...kau boleh pergi hanya dengan ku saja." Ucapnya sambil melihat ke arah lain.
"Baiklah." Ucap Lilian senang, "Kalian lanjutkan saja pembahasannya...aku akan segera tidur supaya tubuh ku kembali segar." Ucap Lilian kemudian berbaring.
Seint menatap tajam ke arah Artem yang sedang berpura-pura membereskan dokumen yang tercecer. "Sudah sangat lama kau tidak mendapatkan hukuman dari ku Tuan Artem." Ucap Seint dingin
Artem menelan ludah susah payah dan menatap ke arah Seint. "Ampuni hamba mu ini Yang Mulia." Ucap Artem dengan raut wajah memohon yang ia buat-buat.
°°°
Selamat membaca....
__ADS_1
Sempat-sempatnya Author ngetik saat jalan-jalan 🤭