Bukan Dunia Novel

Bukan Dunia Novel
117. Buku Catatan Lilian II


__ADS_3

Lilian berjalan tergesa menuju ruang pertemuan. Setelah mencapai pintu, Lilian segera membukanya dan menatap bingung ke arah semua orang.


Semua orang yang Lilian anggap dekat dengannya hadir dalam ruangan tersebut. Lilian bahkan menatap heran kearah Raja Reinal yang juga hadir dalam ruangan tersebut.


"Lilian kebetulan sekali kamu datang ... Ayah baru saja ingi memanggil mu kemari." Ucap Duke Marven serius.


"Ini ada apa? Mengapa semua orang bisa ada di sini? Apakah ada sesuatu yang terjadi?" Tanya Lilian beruntun.


"Lilian duduklah dulu ... Kami akan menjawab semua pertanyaan nanti." Ucap Duke Marven yang menarik tangan Lilian.


Setelah memastikan Lilian telah duduk di kursinya dengan nyaman. Seint akhirnya membuka suara pertama.


"Kami menemukan sebuah buku atas nama mu." Ucap Seint datar.


Lilian mengerutkan kening bingung. "Maksudnya? Bisa yang lain jelaskan kepadaku? Seint terlalu irit bicara dan saya tidak akan mengerti ucapannya."


Seint membuang napas pelan kemudian memberi kode pada Artem untuk menjelaskannya.


"Begini Yang Mulia ... Kami membawa beberapa barang dan buku yang diyakini sebagai petunjuk atau bukti. Salah satu buku yang kami bawa dari kediaman Tuan Martin tertulis nama mu di sana namun kami tidak bisa membaca isinya." Jelas Artem.


"Kenapa?" Tanya Lilian serius.


Seint langsung menyerahkan sebuah buku yang tertulis atas namanya. Lilian menatap bingung kearah buku itu namun ia tetap membuka isi dari buku tersebut.


Lilian membuka halaman pertama seperti yang terakhir kali Seint dan yang lain lakukan. Kemudian Lilian kembali membuka halaman lainnya namun ia hanya melihat lembar kosong.


Lilian terus saja membuka halaman lainnya namun hanya kertas kosong tanpa coretan yang ia lihat.


"Kami kesini untuk menanyakan tentang buku itu. Buku ini tersimpan bersama dokumen penting milik Tuan Martin. Jika buku itu hanyalah berisi lembaran kosong maka Tuan Martin tidak akan menyimpan buku itu dengan rahasia." Jelas Raja Reinal.


Lilian hanya menatap kearah buku itu dan meraba permukaan kertasnya.


"Apakah kamu mengingat atau mengetahui tentang buku itu?" Tanya Duke Marven.


Lilian menggeleng pelan. "Aku tidak tahu Ayah." Ucap Lilian masih tidak melepaskan tatapannya pada buku tersebut.


Terlihat raut wajah khawatir dari semua orang mendengar ucapan Lilian. Mereka pikir Lilian akan mengingat sesuatu tentang buku itu.


"Tapi sepertinya buku ini belum ada yang mengetahui isinya." Ucap Lilian pelan.

__ADS_1


"Tentu saja ... Buku itu hanyalah lembar kosong. Apa yang bisa mereka dapatkan dari lembaran kosong?" Tanya Artem.


"Buku ini memang terlihat kosong namun sebenarnya buku ini menyembunyikan tulisannya." Ucap Lilian masih menatap buku tersebut.


Semua orang kembali menatap kearah Lilian. "Maksud mu?" Tanya Seint.


"Buku ini belum bisa dibaca oleh Tuan Martin atau siapapun sebelumnya. Namun untuk memastikan buku ini memiliki tulisan, saya membutuhkan bunga daisy yang banyak." Ucap Lilian.


Zheyan menghela napas pelan. "Lilian bisakah kamu tidak bercanda untuk saat sekarang? Kita sedang membahas hal penting dan kamu meminta banyak bunga daisy?" Tanyanya sambil memijit kening.


"Aku tahu kamu menyukai taman bunga daisy dikediaman mu namun bisakah kamu bersabar sedikit sampai kita selesai membahas hal ini?" Tanya Asgar serius.


"Kamu akan mendapatkan banyak bunga daisy setelah ini. bisakah kamu fokus sekarang?" Tanya Duke Marven.


Lilian menghela napas kasar. "Kalian semua kenapa sih? Saya sedang serius ... Untuk melihat tulisan ini maka saya membutuhkan banyak bunga daisy." Ucap Lilian kesal.


"Apakah Yang Mulia harus mencium aroma bunga itu agar bisa berfikir banyak?" Tanya Artem.


Lilian kembali membuang napas kasar. "Ambilkan saja saya bunga daisy yang banyak." Kesal Lilian.


Raja Reinal kemudian menyuruh yang lain diam dan memerintahkan memberi apa yang Lilian inginkan. Tidak lama Zheyan dan Asgar membawa banyak sekali bunga daisy dan meletakkannya di samping Lilian.


"Kamu sendiri yang mengatakan harus membawa banyak." Jawab Zheyan.


"Aku tidak mau tahu ... Setelah ini kalian harus mengganti semua tanaman ku." Kesal Lilian.


"Aku akan memberikan pengganti bunga itu sebanyak yang kau inginkan. Bisakah kamu sekarang fokus dengan pembahasan kita?" Tanya Seint sambil menatap tajam Lilian.


Lilian kesal karena ditatap tajam oleh Seint. Ia bahkan bahkan memetik bunga daisy dengan kasar dan menggulungnya dengan kedua tangannya.


Semua menatap tidak yakin dengan yang Lilian lakukan namun tidak ada seorangpun yang berani bertanya takut menambah kekesalan Lilian.


Seteleh merasa bunga itu halus ditangannya, Lilian akhirnya mengoles bunga daisy yang sudah halus keatas permukaan buku tersebut. Perlahan namun pasti munculah tulisan pada lembaran kosong pada kertas tersebut.


"Tulisannya muncul." Ujar Artem tiba-tiba.


"Bagaimana bisa kamu melakukannya?" Tanya Seint penasaran.


Lilian hanya menatap tajam kearah Seint dan membuang wajahnya. Lilian tidak ingin menjawab pertanyaan Seint karena sedang kesal.

__ADS_1


"Lilian bisakah Ayah tahu mengapa tadi tulisannya tidak muncul?" Tanya Duke Marven lembut takut membuat Lilian kesal dan tidak mau lagi menjelaskan tentang buku itu.


"Tulisan pada buku ini ditulis menggunakan cuka anggur putih ditambah dengan sari bunga daisy. Anggur putih memiliki aroma khas namun ia tidak akan bisa memunculkan tulisan seperti cuka apel yang bisa kita lihat tulisannya dengan menerawang-nya menggunakan lilin atau pencahayaan lainnya." Jelas Lilian.


Semua orang mengangguk paham mendengar penjelasan Lilian. "Itu sebabnya Pangeran Mahkota telah mencoba menggunakan lilin namun kami tidak dapat melihat tulisannya tadi. Lalu apa yang membuat tulisan itu muncul jika cuka anggur putih tidak bisa dilihat seperti cuka apel?" Tanya Zheyan.


Lilian diam dan tidak ingin menjawab pertanyaan Zheyan karena merasa masih kesal.


"Lilian bisa jelaskan pada kami?" Tanya Raja Reinal pelan.


Lilian mengangguk pelan. "Anggur putih yang digunakan untuk pengganti tinta ini dicampur dengan sari bunga daisy. Sehingga tulisannya akan muncul jika kita menghaluskan bunga daisy dan mengoleskan pada permukaan lembaran seperti ini. Tuan Martin belum membaca isi tulisannya dikarenakan buku ini semuanya masih kosong." Jelas Lilian sambil membaca kalimat yang tertulis pada lembaran.


"Tulisannya menggunakan bahasa asing." Ujar Artem.


"Benarkah?" Tanya Duke Marven.


Lilian mengangguk pelan. "Sepertinya untuk menjaga kerahasiaan buku ini. Selain menggunakan cuka anggur putih. Saya menulisnya menggunakan bahasa asing sehingga tidak akan ada orang lain yang bisa membacanya terkecuali orang-orang yang mengerti bahas ini." Jawab Lilian.


"Buku itu adalah milikmu ... Sebagai pemilik buku bisakah kamu membaca isinya untuk kami? Kita memerlukan banyak informasi untuk menangkap para penghianat." Jelas Raja Reinal.


Lilian mengangguk pelan. "Baiklah ... Saya akan membaca buku ini sesuai dengan isinya tanpa menambah atau menguranginya. dan jangan menyela sebelum saya selesai membacanya" Ucap Lilian.


Semua orang mengangguk setuju dan menantikan apa saja yang Lilian tulis pada buku itu. Sebelumya Lilian mengambil napas pelan kemudian mulai membacakan isi halaman kedua.


Jika ada yang bisa melihat tulisan saya ini. Itu artinya sudah ada orang yang bisa memecahkan masalah tentang cuka anggur putih dan bunga daisy, sungguh hebat.


Buku ini saya tulis berdasarkan kejadian yang telah saya lalui sebelumnya. Didalam buku ini saya menulis banyak tentang penghianatan orang-orang terhadap kerajaan Apollonia.


Untuk tetap menjaga kerajaan Apollonia dan orang-orang yang saya sayangi tetap aman maka saya memutuskan mengorbankan diri saya untuk menukar jiwa saya dengan jiwa orang lain.


Pengorbanan itu saya lakukan saat memasuki daerah terlarang. Orang-orang sedang melakukan ritual pemanggil roh dan saya harus menggagalkan rencana itu dengan cara merusak acara ritualnya. Setelah saya berhasil merusak rencana mereka ternyata saya harus menerima kutukan dimana roh saya akan hilang dan akan diganti dengan roh lain.


Untuk itu saya secepatnya pulang dengan membawa buntelan kain yang berisi beberapa bukti kejahatan mereka dan sebelum roh saya benar-benar menghilang, saya menulis buku ini dan berharap orang baik yang akan memasuki tubuh saya lalu menemukan buku ini.


^^^Lilian Daisyla Marven^^^


Semua orang yang belum mengetahui tentang Lilian menatapnya dengan tatapan terkejut setelah mendengar isi halaman pertama buku tersebut.


°°°

__ADS_1


__ADS_2