Bukan Dunia Novel

Bukan Dunia Novel
77. Menggoda


__ADS_3

Setelah memastikan tempatnya pas untuk dijadikan tempat perayaan panen, Lilian berjalan mendekati Putri Evilia.


"Tempatnya pas namun bagaimana dengan keamanannya?" Tanya Lilian bingung.


"Untuk masalah keamanan akan menjadi tanggung jawab Istana. Kita tinggal memerintahkan Prajurit untuk menjaga tempat ini dengan ketat." Ucap Putri Evilia.


Lilian kemudian mengarahkan pandangannya pada Seint. "Bagaimana menurut mu?" Tanyanya.


"Bagus." Ucap Seint datar.


"Baiklah. Kita akan mengadakan acaranya di sini." Ucap Lilian.


"Baiklah kalau begitu, jika tidak ada yang perlu aku kerjakan lagi sebaiknya aku kembali ke Istana, ada hal yang perlu aku kerjakan." Ucap Putri Evilia.


"Oh tentu, Terima kasih karena Putri telah meluangkan waktu untuk menemani ku kesini." Ucap Lilian sopan.


"Kamu tidak perlu sungkan kepada ku. Tidak apa-apakan kalau aku pergi duluan?" Tanya Putri Evilia.


"Tentu saja, sekali lagi terima kasih." Ucap Lilian tulus.


Putri Evilia tersenyum hangat. "Kalau begitu saya permisi dulu." Ucap Lilian hormat kepada Seint dan berjalan menjauh.


Lilian melirik sebentar ke arah Seint dan berdehem. "Kalian juga tidak pergi?" Tanya Lilian canggung.


"Tidak." Ucap Seint datar.


"Kenapa?" Tanya Lilian


"Kamu masih disini." Ucap Seint.


"Itu karena aku masih ingin melihat tempatnya." Ucap Lilian.


"Ohh... Aku juga masih ingin melihat mu." Ucap Seint datar.


Bluuuusshhhh


Pipi Lilian memerah mendengar ucapan Seint. "Kamu sudah sering melihat ku." Ucapnya gugup.


"Namun aku masih terus memikirkan mu." Ucapnya Seint cuek.


Pipi Lilian kembali memerah, Lilian bahkan hampir lupa untuk bernapas. "Berhenti menggoda ku." Ucap Lilian kesal.


"Siapa yang menggoda mu?" Tanya Seint kemudian menatap wajah Lilian yang memerah. "Pipi mu merah." Ucapnya sambil menunjuk pipi Lilian.


Lilian menjadi gugup. "Itu karena cuacanya sangat panas. Lihat saja mataharinya semakin meninggi." Ucapnya.


"Benarkah?" Tanya Seint.


"Tentu saja." Ucap Lilian cepat.


Lilian terkejut saat kedua tangan Seint memegang pipinya. "Ke... kenapa?" Tanya Lilian gugup.


"Cantik." Ucap Seint.


Bluuuuussshhhh

__ADS_1


Wajah Lilian kembali memerah. "Berhenti berkata seperti itu." Ucap Lilian kesal.


"Kenapa?" Tanya Seint dengan raut wajah datar.


"Ka... karena..." Ucap Lilian gugup.


"Karena kamu mudah tersipu?" Ucap Seint sambil menahan senyum.


"Ti... tidak, siapa bilang aku mudah tersipu?" Tanya Lilian gugup.


"Aku." Ucap Seint mulai menggoda.


"Itu tidak benar!" Ucap Lilian.


"Lalu bagaimana yang benar." Tanya Seint sambil.mendekatkan wajahnya ke wajah Lilian.


Deg... Deg... Deg... Deg... suara jantung Lilian. Lilian semakin gugup saat wajah Seint semakin dekat. "Menjauh!" Ucap Lilian sambil mendorong tubuh Seint.


Bukannya menjauh Seint semakin mendekatkan wajahnya. "Kenapa?" Tanyanya datar.


Lilian memejamkan matanya karena tidak sanggup melihat wajah Seint dari dekat. "Ini tidak benar, kenapa aku malah menutup mata? namun aku tidak berani untuk membuka mataku." Batin Lilian.


Seint tersenyum senang melihat raut wajah gugup dari Lilian dan menjitak pelan keningnya.


"Aaawwww... " Desis Lilian sambil memegang keningnya. "Sakit tau!!" Ucap Lilian kesal.


Seint tersenyum cerah. "Kenapa kamu menutup mata?" Tanya Seint menggoda.


"Itu karena kau!!" Ucap Lilian masih kesal.


"Tadi kau... " Ucapan Lilian terjeda saat menyadari apa yang ia ingin ucapkan.


"Tadi apa?" Tanya Seint sambil tersenyum menggoda.


"Tadi... " Ucap Lilian sambil memikirkan jawaban yang ia berikan.


"Apa kamu sedang berharap aku cium?" Tanya Seint menggoda Lilian.


Lilian membulatkan mata terkejut. "Tidak!!" Ucapnya cepat.


"Lalu." Tanya Seint.


"Berhenti menggoda ku!!" Ucap Lilian kesal sambil memukul lengan Seint.


Seint menarik tangan Lilian dan memeluknya. "Kamu tambah cantik saat tersipu." Ucapnya.


Lilian memejamkan mata saat dalam dekapan Seint. "Aku benar-benar sangat malu... Namun entah mengapa aku merasa sangat nyaman berada dekat dengannya meskipun terkadang ia sangat menyebalkan." Batin Lilian.


"Ekhmmm, Kasian sekali nasib mu Tuan Artem. Entah dari kapan engkau melihat pemandangan yang seperti ini." Ucap Asgar tiba-tiba.


Lilian membulatkan mata terkejut mendengar suara Asgar, kemudian melepas pelukan Seint dan menatap ke arah Zheyan, Asgar dan Artem berdiri.


"Sebenarnya saya tidak kuat Tuan Asgar namun tadi saya mendapatkan sinyal berbahaya jika saya mengganggu." Ucap Artem.


Lilian menundukkan wajahnya malu dan memilih bersembunyi dibelakang Seint.

__ADS_1


Zheyan dan Asgar menunduk hormat. "Hormat kami Yang Mulia." Ucap keduanya barengan.


Seint mengangguk singkat dan melirik ke arah Lilian yang bersembunyi dibelakangnya.


"Kak Asgar sudah kembali?" Ucap Lilian masih bersembunyi.


"Iya, setelah mendapat surat Kakak langsung pulang. Saat Kakak ke kediaman mu Zheyan bilang kau ada disini dan siapa sangka aku malah melihat adegan romantis di sini." Ucap Asgar.


Lilian kembali menunduk malu. "Jangan menggoda ku!" Ucap Lilian kesal.


"Sebaiknya Tuan Artem harus cepat-cepat mencari pasangan agar tidak iri melihat keromantisan pasangan lain." Ucap Zheyan.


Lilian semakin menunduk malu mendengar ucapan Zheyan."Kalian semua berhenti menggoda ku!!" Ucap Lilian mulai kesal.


Seint melirik ke arah Lilian yang semakin menunduk malu dan menatap ketiga orang didepannya. "Ada yang saya perlu bicarakan masalah penting dengan Tuan Asgar." Ucap Seint mengalihkan pembicaraan.


Asgar mengerutkan kening bingung. "Apa Yang Mulia?" Tanya Asgar.


"Sebaiknya kita cari tempat yang bagus untuk membicarakan hal ini." Ucap Seint datar.


Seint kemudian menarik tangan Lilian menuju sebuah pohon rindang yang diikuti oleh Zheyan, Asgar, dan Artem.


Setelah mengambil posisi aman akhirnya Seint memberi kode pada Lilian untuk menceritakan semuanya kepada kedua Kakaknya.


Zheyan mengerutkan kening bingung setelah selesai mendengar ucapan Lilian. "Lalu apa hubungannya dengan Asgar?" Tanyanya.


"Laci diruang pribadiku terkunci, sepertinya buntelan itu ada di sana namun aku lupa dimana aku menyimpan kuncinya. Rosa bilang kunci itu memiliki sebuah gantungan poenix yang diberikan oleh Kak Asgar." Jelas Lilian.


Asgar mengangguk paham. "Kamu ingin Kakak membatu mu agar bisa menemukan kunci itu?" Tanya Asgar.


"Benar. Bisakah?" Tanya Lilian.


"Gantungan poenix itu sebenarnya ada sepasang, aku membelinya diluar kerajaan kita. saat melihatnya aku menjadi sangat tertarik dan berniat memberikan satu pada Lilian. Penjual itu bilang gantungan itu bisa mengeluarkan suara jika kita meniupnya." Jelas Seint.


"Lalu?" Tanya Zheyan penasaran.


"Gantungan itu ada sepasang, satunya lagi ada padaku namun aku tidak pernah mencoba apakah pasangan gantungan itu akan berbunyi jika kita meniup pasangannya." Jelas Asgar.


"Hebat sekali pengrajin gantungan itu, jika kita meniup yang satunya maka yang lain akan menyahut." Celetuk Artem.


"Memangnya ada hal yang seperti itu?" Tanya Zheyan ragu.


Asgar mengedikkan bahunya. "Entahlah. Namun jika kita tidak mencoba maka kita tidak akan pernah tahu." Ucap Asgar.


"Benar. Kita perlu mencoba." Ucap Seint.


Zheyan menatap Lilian heran. "Tidak adakah sedikitpun yang kau ingat tentang isi buntelan kain itu? siapa tau buntelan kain itu tidak berada di sana." Ucap Asgar.


Lilian menggeleng pelan. "Tidak Kakak, Namun kita tetap harus mencoba." Ucapnya.


"Sebaiknya kita segera berangkat ke kediaman mu agar secepatnya bisa memastikan isi laci itu." Ucap Seint


"Baiklah, Saya akan mengambil pasangan gantungan itu terlebih dahulu." Ucap Asgar yang di angguki semua orang.


Mereka semua akhirnya berangkat menuju kediaman Duke Marven.

__ADS_1


°°°


__ADS_2