
Setelah menyapa kedua orang tuanya dan melepas rindu, Lilian berjalan kearah tempat Putri Evilia dan putri bangsawan lainnya berkumpul. Setelah berpisah dengan Seint beberapa waktu yang lalu, Lilian akhirnya memutuskan untuk menyapa beberapa tamu undangan dari kerajaan lain.
Semua orang menunduk sopan saat melihat Lilian berjalan mendekat kearah mereka dan memberikannya salam.
"Selamat Yang Mulia Putri Mahkota atas pencapaian yang telah Anda raih." Ucap Salah satu tamu undangan dari kerajaan tetangga.
"Terima kasih Nona ...?" Ucap Lilian gantung.
"Clara." Ucap Clara.
"Terima kasih Nona Clara." Ucap Lilian sambil tersenyum simpul.
"Perkenalkan ini Putri Meira dari kerajaan Aster. Ia datang bersama dengan Kakaknya Pangeran Mahkota Erik." Ucap Putri Evilia sambil menunjuk sopan ke arah Putri Meira.
Lilian tersenyum sambil menunduk sopan. "Senang bisa bertemu dengan mu Putri Meira."
"Putri Lilian tidak perlu sesopan itu kepadaku ... Oh iya sebelumya selamat atas pencapaian mu dengan Putra Mahkota. Dari dulu saya begitu penasaran padamu, setelah melihat mu secara langsung ternyata rumor yang menyatakan kecantikan mu itu benar. Bukan hanya cantik, Putri Lilian bahkan sangat cerdas. Sungguh beruntung kerajaan Apollonia mendapatkan Putri Mahkota seperti mu." Ucap Putri Meira sambil memandang Lilian kagum.
Lilian tersenyum canggung. "Ah Putri Meira terlalu memuji." Ucapnya.
"Putri Lilian bahkan sangat rendah hati ... Seandainya kerajaan kami memiliki Putri Mahkota seperti mu maka kami akan merasa beruntung juga. Ngomong-ngomong Kakak ku tidak kalah tampannya dengan Pangeran Seint jika Putri Lilian mau maka saya bisa mengenalkannya sekarang." Ucap Putri Meira sambil mencari keberadaan Kakaknya.
Lilian tersenyum canggung ke arah Putri Evilia, keduanya sama-sama lempar kode lewat tatapan mata. "Tidak usah buru-buru Putri Meira ... Cepat atau lambat Pangeran Seint akan mengenalkannya kepadaku." Ucapnya.
"Tapi Putri Lilian ... Semakin cepat kalian kenal maki akan lebih baik." Ucap Putri Meira.
Putri Evilia berdehem pelan. "Akan lebih baik jika Putri Lilian dan Pangeran Seint bersama untuk menyapa Kakak mu." Jelasnya.
"Tapi ...." Ucapan Putri Meira terjeda dikarenakan seseorang memanggil Lilian.
"Putri Lilian ... " Panggil Fania dsn Violet samaan.
Lilian berbalik dan tersenyum cerah kearah keduanya lalu memeluk Fania dan Violet sangat erat.
"Semenjak kau menjadi Putri Mahkota kami semakin susah untuk menemui mu. Setelah lama berpisah apakah kau tidak merindukan kami?" Tanya Fania.
"Tentu saja aku merindukan kalian. Sepertinya kita harus membuat jadwal untuk menghabiskan waktu bersama." Ucap Lilian senang.
"Tentu saja. Sisihkan-lah sedikit waktu mu untuk kedua sahabat mu ini." Gurau Violet.
"Kita akan menghabiskan waktu seharian namun kita juga harus mengundang Putri Evilia. Oh iya sampai lupa!" Ucap Lilian sambil menepuk jidat. "Perkenalkan itu Putri Meira dan Nona Clara dari kerajaan Ester." Tunjuk Lilian sopan.
"Senang bertemu dengan mu Putri Meira dan Nona Clara." Ucap Fania dan Violet samaan.
__ADS_1
"Senang juga bisa bertemu dengan kalian." Ucap Putri Meira dan Clara.
"Bagaimana dengan hal yang tadi Putri Lilian?" Tanya Putri Meira.
Lilian mengerutkan kening bingung. "Sebelumnya maafkan saya Puti Meira, bisa jelaskan kembali hal apa itu?"
"Maukah Putri Lilian saya kenalkan kepada Kakak ku sekarang?" Tanya Putri Meira harap.
Lilian bingung mau menjawab apa kepada Putri Meira. Ingin sekali Lilian menolak namun ia takut menyinggung Putri Meira.
"Maafkan saya sebelumnya Putri Meira jika lancang. Namun adat dari kerajaan kami tidak boleh berkenalan secara pribadi dengan lawan jenis terlebih dari kerajaan lain. Putri Mahkota sudah memiliki pasangan jika mau berkenalan dengan Kakak mu maka harus bersama dengan Pangeran Seint." Celetuk Violet tiba-tiba.
Putri Meira terlihat menatap Violet dengan raut masam. "Benarkah?" Tanyanya acuh.
"Tentu saja. Putri Lilian sudah secara resmi menjadi Putri Mahkota dari kerajaan Apollonia. Calon Ibu Ratu masa depan, semua pergerakannya mulai sekarang harus dibatasi. Karena statusnya bukan lagi sebagai Nona dari keluarga bangsawan namun statusnya sudah menjadi salah satu anggota inti kerajaan." Jelas Violet.
Putri Meira semakin masam mendengar penjelasan Violet. "Ya sudah kalau begitu ... Sepertinya saya harus mengambil makanan dulu. Ayo Clara!" Ucapnya.
Setelah menunduk hormat, Putri Meira dan Clara berjalan menjauh dan menghilang dari kerumunan tamu undangan lainnya.
"Ada apa dengannya? Sepertinya dia sedang kesal." Ucap Violet bingung.
Lilian tertawa pelan. "Terima kasih karena kamu telah mewakili ku menolak permintaannya." Ucapnya.
"Sepertinya kamu telah menyinggungnya." Ucap Fania.
"Sepertinya dia sangat ingi mengenalkan Putri Lilian dengan Kakaknya. Jika seandainya Putri Lilian tadi mengabulkan permintaannya maka Putri Meira akan merasa Putri Lilian telah memberikannya kesempatan untuk dekat dengan Kakaknya." Jelas Putri Evilia.
Violet mendengus pelan. "Jadi tamu di kerajaan orang saja sudah berlaga jodoh-jodohin orang. Mending orang yang tidak punya pasangan namun Putri Lilian jelas-jelas sudah memiliki pasangan. Berita hubungan keduanya bahkan sudah tersebar luas sampai ke kerajaan tetangga. Masa ia kerajaan mereka tidak mendapat berita besar itu." Ketus Violet
"Husss jaga ucapan mu. Siapa tahu ada salah seorang didekat kita adalah orang-orangnya. Kita akan mendapat masalah jika ketahuan menjelekkannya." Peringat Fania.
"Itu bukan kejelekan namun kenyataannya." Ketus Violet.
"Ahh sudahlah. Tidak usah bahas dia lagi!" Ucap Lilian sambil menatap kearah Putri Evilia. "Bagaimana? Apakah kamu setuju untuk menghabiskan waktu bersama kami?" Tanya Lilian.
"Tentu saja. Kita akan menghabiskan waktu bersama." Ucap Putri Evilia sambil tersenyum cerah.
"Baiklah ... Sudah kita putuskan." Ucap mereka barengan.
°°°
Setelah menyapa banyak tamu undangan, Lilian mulai merasa haus. Ia berjalan menuju tempat persediaan minuman dan memilih salah satu minuman di sana.
__ADS_1
Saat Lilian baru saja membasahi tenggorokkanya dengan air. Tiba-tiba seseorang datang dan berdiri tepat di samping Lilian.
Lilian menatap bingung kearah seorang lelaki yang sedari tadi tidak melepas senyuman diwajahnya sedikitpun meski Lilian tidak membalas senyumannya.
"Selama malam Putri Lilian. Sungguh Putri sangat cantik malam ini ... Senang sekali rasanya bisa bertemu dan menyapamu." Ucap lelaki itu sambil masih mempertahankan senyumannya.
"Apakah saya saling mengenal?" Tanya Lilian heran.
"Untuk itu saya mendekati Putri. Jika tidak keberatan maka maukah Putri Lilian berkenalan denganku?" Tanya lelaki itu lagi.
Lilian menatap kiri dan kanan namun tidak ada yang memperhatikan interaksi keduanya.
"Saya mohon." Harapnya sambil menjulurkan tangannya." Nama saya Erik, saya berasal dari kerajaan Ester." Ucapnya memperkenalkan diri.
Lilian mengerutkan kening. "Tadi adiknya ... Sekarang Kakaknya. Sungguh kebetulan sekali." Batin Lilian.
"Putri Lilian." Ucap Pangeran Erik tanpa menurunkan tangannya.
Lilian menunduk sopan. "Seperti yang Anda ketahui, nama saya Lilian. Senang bisa bertemu dengan mu." Ucapnya tanpa membalas uluran tangan Pangeran Eriq.
Pangeran Erik tersenyum simpul kemudian kemudian menarik tangannya kembali. "Saya sudah lama mendengar kehebatan Putri Mahkota. Sungguh sangat beruntung bisa berkenalan dengan mu malam ini, saya harap kita bisa menjadi teman untuk kedepannya."
Lilian hanya menatap Pangeran Erik tanpa menjawab ucapannya.
"Apakah lain kali kita bisa bertemu dan berbagi pengalaman tentang bisnis? Saya dengar Putri Mahkota memiliki bisnis keluarga yang sudah tersebar kemana-mana melalui pengetahuan mu yang begitu luas. Siapa tahu Putri Mahkota juga mengetahui beberapa tanaman yang tumbuh di kerajaan kami." Jelas Pangeran Erik.
Lilian menghela napas pelan. "Sebelumnya saya mohon maaf Pangeran. Jika ingin membahas bisnis silahkan hubungi Kakak ku Zheyan dan mengenai tanaman di kerajaan mu sepertinya saya tidak bisa untuk sana." Tegasnya.
Pangeran Erik menggeleng cepat. "Putri tidak perlu ke kerajaan kami. Jika Putri bisa maka saya akan membuat jadwal pertemuan khusus untuk kita berdua di wilayah kerajaan Apollonia dan terserah Putri Lilian mau di mana. Anda hanya tinggal menyebutkan dimana tempat kita bertemu." Harapnya.
Lilian kembali menghela napas. "Maaf Pangeran Erik saya tidak bisa. Sepertinya pangeran Erik sudah mengetahui jika saya sudah memiliki pasangan. Sebagai keluarga inti kerajaan maka akan tidak etis jika saya bertemu berdua dengan mu. Jika ingin membahas bisnis silahkan hubungi Kakak Zheyan atau Pangeran Mahkota Seint untuk mendiskusikannya. Karena saya sudah memiliki banyak jadwal yang harus saya urus." Jelas Lilia dengan wajah datar.
Pangeran tersenyum canggung mendengar penolakan langsung dari Lilian." Sayang sekali padahal saya sudah berharap banyak." Ucapnya dengan raut wajah sendu kemudian melangkah mendekati Lilian.
"Berhenti!! Apa yang Pangeran Erik hendak lakukan?" Tanya Lilian curiga.
"Pangeran Erik memberikan senyuman termanisnya. "Jangan salah paham Putri, saya hanya ingin menyingkirkan sesuatu yang mengotori rambut mu." Ucapnya sambil melihat kearah rambut Lilian.
"Tidak perlu saya bisa melakukannya sendiri." Tegas Lilian.
"Tidak apa-apa Putri biarkan saya saja." Ucap Pangeran Erik sambil terus memperpendek jaraknya dengan Lilian.
"Sepertinya Anda sudah kehilangan etika bertamu Anda Pangeran Erik." Ucap Seint dingin dan menggema di seluruh aula.
__ADS_1
Seint menatap tajam dengan aura suram disekitarnya. Semua tamu undangan yang hadir refleks menatap kearah sumber suara. Sebagian tamu undangan bahkan meneguk ludah susah melihat raut wajah dingin yang Seint tunjukkan pada Pangeran Erik.
°°°