
Setelah pulang memeriksa tempat yang di dirikan tenda kerajaan Elmore, Seint memerintahkan semua orang agar beristirahat karena telah menjalani hari yang panjang dan melelahkan.
Perintah itu juga berlaku untuk Lilian. Setelah memastikan Lilian selesai makan malam dan beristirahat di kamarnya, Seint mengajak Artem untuk membahas tentang rencana mereka selanjutnya.
Pembahasan keduanya memakan waktu cukup lama. Seint akhirnya menyuruh Artem agar segera beristirahat dan meninggalkannya sendiri.
Seint duduk di salah satu dahan pohon yang berada tepat di samping kamar Lilian. Dari tempatnya, Seint dapat melihat Lilian yang tertidur dengan sangat lelapnya.
"Sepertinya gadis itu sangat lelah sehingga ia sampai lupa menutup jendela kamarnya." Ucap Seint pelan.
Seint tersenyum menatap wajah Lilian yang begitu tenang. Cantik, satu kata yang selalu ada dipikiran Seint saat mengingat gadis itu. Seint dapat menahan setiap ada gadis yang datang secara terang-terangan menggodanya, namun ia selalu lepas kendali saat berada didekat Lilian meski gadis itu tidak melakukan apapun.
Lilian selalu mengisi pikiran Seint dan seperti tidak mau pergi barang sebentar-pun dalam pikirannya. "Gadis bodoh!! Ia akan masuk angin jikalau tidur dengan jendela terbuka." Batinnya.
Saat Seint ingin melompat dari atas pohon itu. Tiba-tiba Seint mendengar suara semak, semakin lama suara itu semakin mendekati kamar Lilian.
Seint sudah mengambil posisi siap menyerang jikalau ada orang yang mempunyai niat jahat terhadap Lilian, namun rencananya itu ia urungkan setelah ia menajamkan pandangannya.
Seint melompat dari atas pohon dan mendekati seekor hewan yang memiliki bulu putih bersih tersebut. "Citto kau datang dengan siapa?" Tanya Seint sambil menjulurkan tangannya untuk mengelus hewan itu.
Ciittt ... Ciittt ... Ciitt ....
Seint mengerutkan kening bingung. "Sendiri? bagaimana kamu tahu kami berada di sini?"
Ciittt ... Ciitt ... Ciitt ...
"Ibumu memanggil? Dimana Ibumu?" Tanya Seint bingnung.
Ciittt ... Ciittt ... Ciitt ....
Seint menatap kearah kamar Lilian. "Ibumu Lilian?" Tanyanya.
Citto melompat kecil dengan riang mendengar pertanyaan Seint.
__ADS_1
"Sejak kapan Lilian menjadi Ibumu?" Tanya Seint penasaran.
Ciittt ... Ciittt ... Ciitt ... Ciittt ... Ciittt ... Ciitt ....
Seint mengangguk pelan mendengar penjelasan dari Citto. "Ohh begitu? Kalau begitu aku ini adalah Ayah mu?" Harap Seint.
Citto kembali melompat-lompat kecil dengan lucunya di hadapan Seint.
Seint tersenyum senang melihat kelakuan Citto. "Aku anggap kau setuju ... Oh iya bagaimana caranya Lilian untuk memanggil mu?" Tanyanya penasaran.
Ciittt ... Ciittt ... Ciitt .... Ciittt ... Ciittt ... Ciitt ....
"Jadi kalian memiliki ikatan batin yang kuat? Di manapun Lilian berada asalkan ia memanggil mu maka kau akan tahu dimana Lilian berada?" Tanya Seint antusias.
Citto melompat kecil mendengar ucapan Seint. "Lalu bagaimana caranya kamu bisa datang secepat ini?" Tanya Seint penasaran.
Ciittt ...
Seint mengangguk pelan. "Tentu saja kamu bisa terbang ... Kamu-kan naga. Ya sudah kalau begitu akan aku antar-kan kau ke ibu mu." Ucap Seint sambil menggendong Citto.
Seint menyibak sedikit selimut Lilian dan menaruh Citto tepat di samping Lilian. Setelah menutup tubuh Citto menggunakan selimut yang sama dengan Lilian, Seint berniat keluar lewat jendela namun niatnya dihentikan oleh Citto yang tiba-tiba menggigit pelan jubahnya.
"Ada apa? Kamu menginginkan aku untuk menemani kalian tidur?" Tanya Seint.
Citto menganggukkan kepala mendengar ucapan Seint.
"Baiklah ... Namun aku harus menutup jendela itu dulu. Kalau tidak, Ibumu akan masuk angin." Ucao Seint sambil berjalan menuju jendela kamar Lilian dan menutupnya.
Seint kembali menyibak selimut Lilian dan membaringkan tubuhnya bersama Citto dan Lilian. Setelah mendapat posisi aman, Ssint akhirnya memejamkan mata dan ikut terlelap bersama Citto dan Lilian disampingnya.
°°°
Raja Reinal mengepalkan tangannya erat dan memukul mejanya sangat keras setelah selesai membaca surat yang Seint kirimkan untuknya.
__ADS_1
Sekian lama Raja Reinal mengirim banyak orang untuk menyelidiki wilayah barat namun tidak ada satu orangpun yang memberikan kabar baik untuknya.
Raja Reinal merasa telah ditipu oleh orang-orang yang sebelumnya ia utus untuk mencari tahu kendala apa saja yang selalu membuat wilayah barat tidak dapat ditanami tanaman.
Tidak salah ia meminta bantuan Anak dan pasangannya untuk menyelidiki wilayah itu. Sehari setelah mereka sampai di sana, keduanya langsung mengetahui masalah di wilayah.
Raja Reinal tersenyum sinis. "Rupanya mereka sedang bermain-main dengan ku ... Selama ini mereka telah menyembunyikan kekayaan yang sangat besar di wilayah sana ... Jangan-jangan sedari awal mereka telah mengetahui fakta terbesar di wilayah itu." Tegasnya.
Raja Reinal kembali mengeratkan kepalan tangannya. Awalnya ia tidak terlalu banyak berharap kepada Seint dikarenakan selama ini banyak para ahli terkenal yang ia utus untuk menyelidiki tempat itu, namun dengan bodohnya ia langsung percaya jika wilayah itu benar-benar tidak memiliki harapan.
Saat Raja Reinal berkutat dengan pikirannya. Dari arah pintu muncul seorang prajurit dan menunduk hormat. "Lapor Yang Mulia ... Tuan Duke Marven ijin bertemu." Lapor Prajurit.
"Ijinkan ia masuk!!" Tegasnya.
Setelah beberapa waktu, Duke Marven muncul dan menunduk hormat kepada Raja Reinal. "Salam Yang Mulia. Saya datang menghadap ingin membahas sesuatu dengan mu."
"Duduklah!!" Ucap Raja Reinal.
Duke Marven mengambil tempat duduk yang berada dihadapan Raja Reinal. "Ampun Yang Mulia. Saya mendapat beberapa surat dari Putri saya yang menginformasikan tentang kondisi di wilayah barat. Salah satu suratnya menginginkan Putra saya agar menyusul mereka ke wilayah barat." Jelasnya.
Raja Reinal menghela napas pelan. "Saya juga mendapat surat yang sama. Tidak ku sangka orang-orang yang saya kirim selama ini telah dengan mudahnya membodohi saya dengan menyampaikan informasi palsu."
Duke Marven mengangguk pelan. "Mereka sedang mencari petunjuk untuk membongkar kebusukan para penghianat kerajaan Yang Mulia ... Kerajaan Elmore mungkin sudah sejak lama mengetahui hal ini, itu sebabnya mereka menginginkan mendirikan markas di wilayah barat." Jelasnya.
Raja Reinal tersenyum sinis. "Mereka berniat menjarah kerajaan kita dengan berkerja sama dengan orang-orang di kerajaan ini. Untuk sekarang informasi ini jangan sampai bocor, saya hanya akan mengumumkan berita baik yang di temukan oleh Pangeran Mahkota dan Putri Mahkota. Kita akan menangkap ikan besar, untuk itu kita harus tetap tenang untuk menangkap orang-orang itu." Jelasnya dengan tatapan marah.
"Baiklah Yang Mulia. Lalu langkah apa yang engkau ambil setelah ini?" Tanya Duke Marven.
"Pangeran Mahkota telah mengirimkan beberapa rencana untuk kita kerjakan di sini. Siapkan keberangkatan Zheyan dan Asgar agar secepatnya menyusul mereka ke wilayah barat. Saya juga akan mengirim banyak pekerja dan alat-alat yang akan digunakan untuk membangun tambang di sana." Jelas Raja Reinal.
"Baiklah Yang Mulia. Saya undur diri dulu agar secepatnya menyiapkan keberangkatan mereka." Ucap Duke Marven sopan dan berjalan keluar setelah mendapat ijin dari Raja Reinal.
"Kalian yang berniat mengkhianati kerajaan tidak akan saya lepaskan dengan mudah. Saya akan membuat para pelaku itu bukan hanya menyesal untuk berkhianat namun saya akan membuat mereka menyesal telah lahir ke dunia." Batinya dengan aura suramnya.
__ADS_1
°°°