
Adrian Pavel menatap dalam ke arah mata Lilian, sedari dulu ia sangat menyukai gadis itu namun dari dulu sampai sekarang Lilian belum pernah membuka hatinya sedikitpun untuknya.
Adrian tersenyum manis ke arah Lilian. "Ahhh ku mohon jangan terburu-buru...saya hanya ingin mengobrol sebentar saja dengan Nona-Nona." Ucapnya sambil menatap ketiga gadis didepannya bergantian.
"Memangnya Tuan Adrian mau mengobrol tentang apa?" Tanya Fania.
Adrian kembali tersenyum. "Ohh sebenarnya tidak ada yang sangat penting. Saya ingin mengetahui kabar dari Nona Lilian saja." Ucapnya menatap ke arah Lilian.
"Kabar saya baik-baik saja." Ucap Lilian singkat.
"Syukurlah kalau begitu...terakhir kali saya mendengar kondisi Nona sedang tidak baik-baik saja. Ingin sekali rasanya saya pergi menjenguk namun kediaman mu terlalu ketat untuk dimasuki oleh sembarang orang." Jelasnya sambil menatap kagum ke arah Lilian.
"Tentu saja Tuan, kediaman Lilian hanya akan dimasuki oleh orang-orang terdekat dan penting saja...jika tidak ada kepentingan yang berarti maka tidak akan diijinkan masuk." Ucap Violet.
Adrian Pavel kembali menahan emosinya mendengar ucapan dari Violet.
"Sepertinya kami harus segera kembali, ku mohon Tuan bisa memakluminya." Ucap Lilian ingin segera pergi.
"Oh baiklah...maafkan saya yang telah menahan kalian begitu lama." Ucap Adrian Pavel sambil tersenyum paksa.
Ketiga gadis tersebutpun berjalan meninggalkan Adrian Pavel sendiri.
"Kalau aku tidak bisa memiliki mu...akan aku pastikan orang lain juga tidak akan pernah bisa memiliki mu." Ucap Adrian Pavel sambil menatap ke arah Lilian pergi.
°°°
Lilian terduduk sambil meremas gaunnya didalam tenda dengan perasaan kesal. Sesekali ia menghembuskan napas kasar untuk menghilangkan sedikit rasa kesalnya.
Sumber dari kekesalan Lilian adalah saat pembukaan kegiatan berburu secara resmi dibuka oleh Raja Thanos, ia baru mengetahui jikalau seorang gadis bangsawan diijinkan untuk berburu hanya pada hari terakhir kegiatan dilaksanakan.
Lilian merasa dibohongi oleh orang-orang terdekatnya terutama dengan Seint. Saat acara pembukaan berlangsung Lilian menatap Seint dengan tatapan membunuh namun Seint hanya meresponnya dengan cuek.
Awalnya Lilian tidak menaruh curiga saat Ayahnya, Ibu, Zheyan, dan Asgar tidak menentang keputusan Lilian untuk ikut berburu, mereka malah seolah mendukung keinginan Lilian dan menyuruhnya agar tetap fokus berlatih.
Rasa kesal Lilian bertambah saat Seint melambaikan tangannya dari jauh untuk berpamitan kepadanya untuk pergi berburu. Zheyan dan Asgar pun pura-pura sibuk menyiapkan perlengkapan berburu dan tidak ingin menatap kearah Lilian.
"Pantas saja si datar itu langsung menyetujui keinginan ku tanpa beradu mulut dulu dengan ku ternyata mereka menyembunyikan hal ini dari ku." Ucap Lilian kesal.
"Ayah juga pasti menyuruh ku terus berlatih agar aku tidak keluar kediaman dan mendapat informasi tentang hal ini." Ucap Lilian sambil meremas kuat gaunnya. "Kak Zheyan dan Kak Asgar bahkan ikut-ikutan membohongi ku." Ucapnya kesal sambil memukul meja didepannya.
"Awas saja kalau si datar itu datang...aku tidak akan mau menatap wajah datar dan dinginnya itu...lihat saja nanti, kalian semua akan aku buat menyesal karena telah membohongi ku." Ucap Lilian sambil membuang kasar anak panah yang ada ditangannya.
Rosa berdiri dengan takut melihat Lilian yang sedari tadi menumpahkan amarahnya pada sebuah meja yang berada didepannya. Sedari tadi Lilian tidak henti-hentinya menyumpah serapah orang-orang yang dianggap membohonginya.
Lilian menatap kesal ke arah Rosa berdiri. " Apakah kamu juga sudah tau tentang hal ini?" Tanya Lilian kesal dengan nada tinggi.
"Ampun Nona. Saya memang sudah tahu namun saya tidak punya wewenang untuk memberi tahu Nona, jika saya memaksa memberitahu Nona maka saya yang akan Tuan hukum." Ucap Rosa takut.
"Kalian sudah merencanakan hal ini dengan sangat baik, lihat saja kalian semua akan aku balas semua." Ucap Lilian kesal.
Rosa menelan ludah susah payah melihat kemarahan Lilian. "No...Nona." panggil Rosa takut.
__ADS_1
"Apa?" Tanya Lilian dengan nada tinggi.
"A...ampun Nona...su..sudah waktunya Nona menghadiri acara jamuan teh yang diadakan Putri Evilia." Ucap Rosa gugup.
"Aku tidak butuh teh." Ucap Lilian kesal sambil menatap tajam ke arah Rosa.
Rosa menunduk takut, kakinya bahkan bergetar. "Am...ampun Nona...ta...tapi ini adalah kegiatan wajib." Ucap Rosa takut.
"Aku tidak peduli, aku tidak membutuhkan teh untuk saat ini." Ucap Lilian masih kesal.
"Tapi Nona..." Ucap Rosa tertahan.
Lilian menatap sengit ke arah Rosa. "Mereka yang mau meminum teh kenapa kau harus memaksa ku? Aku sudah bilang tidak mau minum teh dan sebaiknya kau keluar saja...melihat mu hanya membuat ku tambah kesal." Ucap Lilian.
Rosa meneguk ludah susah payah kemudian berjalan keluar meninggalkan Lilian yang masih sangat kesal sendirian. Tidak lama kemudian Rosa kembali masuk bersama dua orang yang berjalan dibelakangnya.
"Apakah kamu masih sangat kesal?" Tanya Fania sambil mengambil tempat duduk didepan Lilian.
Lilian menghembuskan napas kasar. "Tentu saja." Ketus Lilian.
"Maka dari itu kami datang untuk menjemput mu pergi ke acara jamuan teh." Ucap Violet yang juga sudah mengambil tempat duduk didepan Lilian.
"Aku sedang tidak ingin kemanapun." Ucap Lilian membuang muka dengan kesal.
"Aku tahu kamu sedang kesal, karena kamu lagi kesal maka dari itu kamu tidak boleh sendirian...kamu hanya akan bertambah kesal jika terus sendirian." Ucap Fania lembut.
"Betul Lilian, ikutlah bersama kami ke acara jamuan teh itu. Kami janji akan membantu mu membalaskan kekesalan mu pada mereka." Ucap Violet membujuk.
"Tentu saja." Ucap Violet.
"Janji?" Tanya Lilian memastikan.
"Kami janji." Ucap Fania dan Violet barengan.
"Baiklah." Ucap Lilian sedikit lega.
Ketiga gadis itupun berjalan menuju tempat jamuan teh itu di adakan. Sudah banyak sekali para Putri bangsawan yang telah hadir di sana, sebagian dari mereka bahkan sudah meminum dan memakan kudapan yang telah disediakan.
"Sepertinya acara itu sudah dibuka." Ucap Violet menatap ke arah para Putri bangsawan yang sedang bersenda gurau satu sama lain.
"Kita harus memberi hormat dulu pada Putri Evilia setelahnya kita cari tempat duduk." Saran Fania.
"Iya kamu benar." Ucap Violet kemudian menarik Lilian berjalan menuju tempat Putri Evilia berada.
Semua mata memandang ke arah Lilian, Fania dan Violet. Mereka semua memandang Lilian dengan tatapan menilai, peresmian hubungan antara Seint dan Lilian sudah terdengar ke seluruh penjuru kerajaan. Hari dimana setelah Seint dan Lilian selesai dilukis, Raja Thanos langsung memerintahkan para bawahannya agar secepatnya menggandakan lukisan Seint dan Lilian dan secepatnya disebar luaskan.
Terdengar suara bisikan satu sama lain dari para Putri bangsawan saat melihat ke arah Lilian. Lilian hanya menatap mereka cuek dan tidak peduli lantaran ia masih kesal perihal dibohongi.
"Salam untuk Yang Mulia Putri Evilia, semoga langit selalu memberkahi mu." Ucap Lilian, Violet dan Fania.
Putri Evilia tersenyum hangat ke arah ketiganya. "Semoga kalian menikmati acara ini." Ucapnya dan menatap ke arah Lilian. "Sepertinya kamu sedang dalam kondisi yang tidak baik." Ucapnya lembut ke arah Lilian.
__ADS_1
Lilian menghembuskan napas pelan. "Ya...aku sedikit merasa kesal." Ucapnya.
Evilia tersenyum hangat kemudian menatap ke arah Putri bangsawan lainnya. "Bisakah kalian meninggalkan kami?" Ucapnya.
"Ba...baik Yang Mulia." Ucap mereka barengan dan menatap tidak suka ke arah Lilian.
Putri Evilia kembali menatap ke arah Lilian. "Maukah kamu berbagi cerita dengan ku juga?" Tanya Putri Evilia.
Lilian menghembuskan napas pelan kemudian menceritakan hal yang membuatnya kesal sedari tadi.
Setelah cerita Lilian selesai, Putri Evilia tersenyum ke arah Lilian. "Mereka sangat menyayangi mu...karena khawatir kamu kenapa-kenapa makanya mereka menyembunyikan hal itu kepada mu." Ucap Putri Evilia.
"Aku tahu...tapi tetap saja aku merasa sangat kesal, mereka semua bersama-sama membohongi ku." Ucap Lilian kesal.
Putri Evilia kembali tersenyum mendengar keluhan dari Lilian. Gadis itu tanpa rasa takut memaki Seint di depan adiknya sendiri, Lilian tidak berpikir bagaimana kalau seandainya Putri Evilia mengadukan kelakuannya pada Seint meski Putri Evilia tidak akan melakukannya.
Beberapa waktu berlalu terdengar suara riuh. Semakin lama suara itu semakin mendekat. Seorang prajurit berlari dengan wajah panik mendekati Putri Evilia, setelah sampai prajurit tersebut menunduk hormat.
"Ampun Yang Mulia. diharapkan Yang Mulia dan Putri lainnya agar tidak berpencar, telah terjadi sesuatu yang yang tidak kita rencanakan." Ucap prajurit itu panik.
"Apa yang telah terjadi?" Tanya Evilia ikut panik.
"Ampun Yang Mulia. Ada dua ekor harimau mengamuk memasuki daerah sini, kemungkinan harimau-harimau itu kesini karena kegiatan berburu itu mengganggu tempat tinggalnya, sehingga mereka berlari menghindari pemburu dan malah berlari ke arah sini." Lapor prajurit tersebut.
Semua orang yang berada di acara jamuan teh tersebut menjadi panik mendengar laporan dari prajurit tersebut.
"Semuanya saya harap agar tetap tenang. Pastikan kita selalu bersama dan jangan berpencar." Titah Putri Evilia.
Terdengar suara raungan harimau semakin mendekat. Dari tempat para Putri bangsawan berdiri mereka dapat melihat seekor harimau yang memiliki tubuh yang sangat besar berlari cepat ke arah tempat mereka berkumpul.
"Lindungi Yang Mulia Putri dan para Putri bangsawan." Teriak salah satu prajurit dengan sangat keras.
Para prajurit yang berjaga sekitar acara jamuan teh tersebut menghadang harimau agar tidak mendekati tempat para Putri bangsawan berada. Mereka melawan harimau tersebut secara bersamaan namun mereka tidak dapat melumpuhkan pergerakan dari harimau tersebut.
Tak lama harimau tersebut dapat mengalahkan semua prajurit yang mencoba menghadangnya. Satu persatu prajurit jatuh dengan banyak luka ditubuh mereka masing-masing. Setelah dapat mengalahkan para prajurit, harimau tersebut berlari menuju tempat Lilian dan yang lainnya berada.
Putri Evilia dan para Putri bangsawan lainnya semakin panik melihat harimau itu berlari semakin dekat ke arah mereka. Kaki mereka bahkan melemas dan jatuh terduduk, mereka hanya bisa menangis dan berharap seseorang datang menolong mereka.
Lilian meneguk ludah susah payah melihat harimau yang memiliki ukuran tubuh jauh lebih besar darinya berlari dengan liar ke arah mereka. Kakinya bergetar hebat namun Lilian harus tetap berpikir tenang dengan situasinya sekarang.
Semua mata menatap ke arah Lilian, gadis itu merobek bagian bawah gaunnya dan dengan berani berlari mengambil sebuah busur dan beberapa anak panah yang terletak tidak jauh darinya.
Lilian menatap lurus kearah harimau itu datang, dengan tenang Lilian menegakkan tubuhnya dan mengarahkan busurnya ke arah harimau. Kemudian Lilian menarik busurnya dengan pelan, setelah yakin dengan sasarannya, Lilian melepas anak panahnya.
SYUUUUUTTT.....
°°°
Author sedang sibuk dengan Ulangan Akhir Semester. Tiap tahun pasti selalu di tempatkan di bagian panitia pengetikan, jadinya Author tidak bisa memastikan waktu tepat untuk UP.
SELAMAT MEMBACA....
__ADS_1