
Hari yang dinanti-pun telah tiba, sejak pagi semua pelayan di Istana sibuk mempersiapkan semuanya untuk kelancaran acara nanti malam. Lilian juga menyiapkan diri untuk nanti malam, gaun yang Lilian kenakan adalah gaun yang memiliki motif sederhana berwarna hijau muda dengan ukiran bunga kecil warna putih pada bagian pinggir gaun.
Setelah semua pelayan selesai menyiapkan gaun serta rambut Lilian. Seint masuk kedalam kamarnya dan mengusir semua pelayan yang berada didalam kamar Lilian.
Setelah semua pelayan keluar, Seint menarik Lilian dan mengeluarkan beberapa pisau kecil yang sangat tajam yang tadi ia bawa. Seint mendudukkan Lilian dan menarik kakinya untuk memasangkan pisau-pisau kecil itu ke tubuh Lilian.
"Apa yang sedang kamu lakukan Seiny?" Tanya Lilian bingung.
"Sedang mempersiapkan segala kemungkinan yang akan terjadi." Jawab Seint datar.
"Apa maksud mu?" Tanya Lilian bingung.
Seint menghela napas pelan. "Saat dimalam lentera nanti ada saatnya aku tidak bisa menemani mu. Jika seandainya saat itu tiba, maka gunakan alat-alat ini untuk menyerang orang yang menghalangi mu untuk kabur." Jelasnya.
"Kenapa aku harus kabur?" Tanya Lilian penasaran.
Seint menatap Lilian sangat tajam. "Kita sudah sepakat sedari awal kalau akan menjauhkan para wanita ke tempat terjadi penyerangan untuk menjauhi kalian dari bahaya." Jawab Seint.
"Tapi aku memiliki Citto yang akan melindungi ku." Jawab Seint.
"Kita tidak bisa mengetahui sebanyak apa lawan yang akan kita hadapi nantinya!! Jangan membahayakan diri, tugas mu adalah melarikan diri dan membawa kaum wanita bersama mu untuk bersembunyi selama kami sedang bertarung. Kamu mengerti?" Tegas Seint.
Lilian mengangguk pelan. "Jika aku memiliki kendala selama aku melarikan diri?" Tanyanya.
"Itu alasan mengapa aku memasang semua alat ini ditubuh mu. Gunakan alat-alat ini saat kamu merasa terdesak dan tetaplah bersama Citto! Yang Mulia Ratu juga akan kami arahkan untuk pergi bersama mu jadi tetaplah bersama mereka selama penyerangan terjadi!!" Jelas Seint.
Lilian menganggukkan kepalanya tanda ia mengerti. Seint kemudian memasangkan semua alat-alat itu pada tubuh Lilian. Seint merasa perlu melakukan hal itu untuk menjaga keamanan Lilian, karena Seint yakin para lawannya nanti akan menargetkan Lilian.
__ADS_1
Seint kemudian memberi Lilian sebuah kantong yang berisi beberapa racun. "Gunakan racun-racun ini untuk melawan musuh-musuh nanti. Aku akan menyiapkan sebuah pedang dan akan meletakkannya didekat mu, Jika penyerangan terjadi maka berlarilah untuk mengambil pedangnya." Jelas Seint.
Lilian kembali mengangguk pelan. "Baiklah." Jawabnya.
Setelah semua alat-alat terpasang, Lilian akhirnya keluar kamarnya dengan menggendong Citto dan melangkah menuju tempat diadakan festival lentera bersama dengan Seint.
°°°
Sesampainya Lilian dapat melihat ada banyak sekali orang yang menghadiri festival lentera. Bukan hanya bangsawan namun para rakyat biasa juga ikut meramaikan acara itu bersama-sama. Lilian menatap khawatir kepada orang-orang yang sekarang sedang melemparkan senyuman tulus kepadanya.
Ada banyak juga anak kecil yang meramaikan suasana festival membuat Lilian semakin merasa bersedih jikalau benar penyerangan itu akan terjadi malam ini, Lilian berpikir entah berapa banyak korban yang akan terjatuh jika memang penyerangan itu akan terjadi.
"Kamu hanya perlu bersikap tenang saja. Kami sudah menyiapkan segala sesuatu untuk menjauhkan para orang tua berserta anak-anaknya jika benar terjadi penyerangan nantinya." Bisik Seint yang berhasil membuat Lilian tenang.
Lilian akhirnya dapat bernapas lega mendengar ucapan dari Seint, kemudian memutuskan untuk turun dari kereta kudanya dibantu oleh Seint. Festival lentera selalu dilaksanakan diluar Istana karena membutuhkan tempat yang luas untuk menampung banyak orang yang ingin melepaskan lentera-nya.
Lilian dapat melihat semua gaun yang wanita gunakan malam ini terlihat sederhana namun masih memiliki kesan mewah seperti gaunnya. Para wanita mengkreasikan gaunnya dengan sangat indah, sederhana namun mewah sungguh tema malam festival yang indah jika tanpa penyerangan.
Tidak lama setelahnya Raja Reinal datang bersama Ratu dan dibelakangnya ada Putri Evilian dan Selir Pertama dan Selir Kedua. Setelah mengambil kursi masing-masing semua orang akhirnya menunduk dan memberi penghormatan kepada keluarga kerajaan.
Setelah memberikan penghormatan, Raja Reinal memberikan beberapa patah kata sebagai pesan pembuka. Setelah membuka acara dengan resmi, Raja Reinal kemudian menyerahkan acara kepada Sang Ratu yang duduk disebelahnya.
Ratu tersenyum singkat kemudian memberi beberapa patah kata dan langsung menyerahkan sisanya kepada Lilian. "Untuk malam ini bukan saya yang akan melepas lentera-nya melainkan Putri Mahkota yang sah. Tugas ini mulai sekarang akan terus dianugerahkan kepadanya sampai waktu yang ditentukan tiba. Untuk lebih mempersingkat waktu maka langsung saja saya persilahkan kepada Putri Mahkota untuk mengambil alih." Ucap Sang Ratu Elena sambil tersenyum.
Lilian akhirnya bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kursi Raja Reinal dan Ratu Elena lalu menunduk dihadapan keduanya untuk mengambil berkah. Setelah mendapatkan berkah, Ratu Elena memberikan Lilian sebuah lampion yang bergambar burung poenix dan bunga sakura.
Lilian mengambil lampion itu kemudian mengarahkannya kepada semua rakyat yang menyaksikan semuanya dari bawah. "Hari ini adalah festival lentera saya yang pertama sebagai Putri Mahkota. Untuk itu saya mempunyai harapan agar kedepannya kerajaan kita akan tetap aman dan selalu mendapat perlindungan dari Yang Maha Esa. Dijauhkan dari orang-orang jahat dan selalu makmur sampai kapanpun." Pinta Lilian dari suara lantang kemudian Lilian mengangkat tinggi lampionnya.
__ADS_1
"Pegang-lah lampion kalian masing-masing dan tuliskan harapan kalian! Semoga apa yang kalian tuliskan pada lampion akan segera terkabul." Ucap Lilian dengan suara lantang.
Seint mendekati Lilian kemudian membawakannya sebuah kuas dan tinta untuk menuliskan harapannya pada lampion. Lilian menuliskan sesuatu di lampionnya yang membuat Seint tersenyum saat membacanya.
Selain ingin meminta kedamaian dan kemakmuran untuk kerajaan Apollonia ... Aku berharap Seint dapat mengenaliku dan mencintaiku kapan dan dimanapun aku berada.
^^^Lilian Daisyla Marven^^^
Seint mengambil kuas kemudian menambahkan tulisan didalam lampion Lilian.
Aku akan terus menatap Lilian Daisyla Marven. Jika bukan dia maka hati ku tidaka akan pernah tergerak oleh wanita manapun sebelum aku menemukannya.
^^^King Alpenseint Balasz^^^
Lilian tersenyum membaca tulisan Seint kemudian keduanya sama-sama mengarahkan kedua tangannya pada lampion untuk segera melepasnya.
"Semuanya siap?" Tanya Lilian keras yang dijawab suara riuh oleh banyak orang-orang.
"Dalam hitungan tiga mundur maka kita akan melepaskan lampionnya." Teriak Lilian.
"Tiga ... Dua ... Satu ... Lepaskan." Teriak Lilian sambil melepas lampionnya yang mulai terbang tinggi.
Lilian dapat melihat pemandangan yang sangat indah, ada ribuan lampion terbang keatas langit dan terang bagaikan cahaya bintang. Sungguh pemandangan yang mungkin tidak akan pernah Lilian dapatkan di seumur hidupnya. Sangat indah bahkan banyak menyihir banyak orang untuk tetap terus memandangi cahaya-cahaya itu meski telah lama berlalu.
Lilian akhirnya kembali tersadar saat Seint mengingatkannya untuk melakukan pelepasan lentera didalam air lagi. Lilian berjalan menuju sungai kecil yang langsung diberi oleh semua orang jalan, Lilian juga membawa sebuah lilian kecil yang sudah dilapisi dengan sesuatu yang Lilian pikir benda itu sangat antik dan indah. Bersama dengan banyak perempuan lainnya Lilian mengucapkan harapannya untuk Seint kemudian melepaskan lilin itu kedalam sungai hingga pemandangan indah kembali terlihat.
Hanyut dalam keindahan lentera tiba-tiba terdengar suara ledakan dan cahaya bulan mulai meredup. Lilian mendongakkan wajahnya keatas langit ternyata bulan purnama sedang berlangsung dan kembali terdengar suara ledakan yang kembali menyadarkan Lilian.
__ADS_1
Dari jauh Seint memberi Lilian kode untuk mengambil sebuah pedang yang sengaja Seint simpan dimana Lilian melepaskan lilinnya tadi. Setelah melihat pedangnya, Lilian akhirnya membantu para kaum wanita dan anak untuk menghindari tempat tersebut dan pergi menuju tempat yang Seint sediakan. Citto langsung berlari kearah Lilian saat ledakan kembali terdengar untuk melindungi gadis itu.