
Setelah selesai makan siang bersama Kakaknya, Lilian kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Sesampainya di dalam kamar Lilian heran melihat Rosa yang sedang terduduk dilantai dengan wajah yang ia sembunyikan dalam kedua lipatan tangannya.
"Rosa apakah kau baik-baik saja?" Tanya Lilian memastikan.
Rosa kemudian mengangkat kepalanya dan menatap Lilian sendu, secara tiba-tiba Rosa langsung memeluk kaki Lilian.
"Nona..ampuni saya Nona...saya telah bersalah." Ucap Rosa menangis histeris di bawah kaki Lilian.
"Apa yang kau lakukan Rosa? jangan memeluk kaki ku seperti ini, memangnya apa yang sudah kau lakukan?" Tanya Lilian bingung.
"Ampuni saya Nona...saya tidak bermaksud memberi tau Tuan, saya hanya bermaksud melindungi Nona...ampun Nona saya mohon jangan jual saya." Tangis Rosa semakin menjadi.
"Aisss...kenapa aku harus menjual mu? Kau telah bersama ku sejak lama jadi mana mungkin aku menjual mu, ayoo...berdirilah jangan seperti ini." Ucap Lilian sambil menarik tangan Rosa agar berdiri.
Rosa menggelengkan kepalanya. "Berjanjilah...kalau Nona tidak akan menjual saya" Ucap Rosa sesegukan.
"Aku berjanji." Ucap Lilian lembut
Rosa kemudian menghapus air matanya kemudian melepaskan tangannya pada kaki Lilian dan berdiri.
"Terima kasih Nona." Ucap Rosa.
"Ya..." Ucap Lilian singkat lalu berjalan menuju ranjangnya dan berbaring di atasnya, "Lagian kenapa aku harus menjual mu, kau bahkan tumbuh besar bersama ku dan selama ini kau telah menjaga ku dengan sangat baik, pertama kali aku membuka mata satu-satunya orang yang aku lihat pertama kali adalah kau, jadi tidak ada alasan untuk ku menjual mu." Ucap Lilian santai.
"Sekali lagi terima kasih Nona." Ucap Rosa kembali menangis terharu.
"Kenapa kau masih saja menangis? Sudah ku bilang bahwa aku tidak akan menjual mu, seharusnya aku yang berterima kasih pada mu karena selama ini telah membantu banyak hal untuk ku, setiap pagi kau selalu datang lebih awal membawa sarapan dan menyiapkan baju serta keperluan ku selama seharian." Jelas Lilian.
"Itu memang sudah menjadi tugas saya Nona, harus selalu siap saat anda butuhkan." Ucap Rosa yang sudah berhenti menangis.
"Ya...maka dari itu kau tidak perlu takut untuk ku jual karena akulah yang membutuhkan mu." Ucap Lilian sambil tersenyum ke arah Rosa.
"Meski Nona kehilangan ingatan namun sifat ramah dan baik hatimu tetap masih sama." Ucap Rosa kembali ceria.
Lilian bangun dari tidurnya dan duduk menyandar disisi ranjang. "Ramah dan baik hati? Bukannya orang bilang aku ini sombong dan egois?" Tanya Lilian.
"Hanya orang-orang bodoh yang bilang seperti itu Nona, mereka bodoh karena telah mempercayai ucapan dari Nona yang nggak waras itu." Ucap Rosa.
"Nona yang nggak waras?" Tanya Lilian bingung.
"Iya...Nona yang terakhir kali berurusan dengan kita, ia sangat pandai memainkan peran, selama ini dia terus mengganggu Nona dan pada akhirnya ia akan berperan sebagai korban lalu menyebarkan berita bohong tentang mu." Ucap Rosa kesal mengingat wajah Raina.
"Semoga kita kedepannya tidak bertemu lagi dengan wanita ular itu." Ucap Lilian.
"Wanita ular?" Tanya Rosa.
"Ia lebih pantas disebut ular." Ucap Lilian.
"Nona benar." Ucap Rosa sambil tersenyum.
"Oh iya Rosa, kau tadi bilang kalau aku pernah memasuki daerah terlarang, lalu apa yang aku lakukan ditempat itu." Tanya Lilian penasaran.
__ADS_1
Rosa menatap kiri dan kanan kemudian berjalan mendekati pintu lalu menutupnya kemudian berjalan mendekati ranjang Lilian.
"Kau kenapa?" Tanya Lilian.
"Ini adalah pembahasan yang sangat penting Nona, tidak ada yang boleh tau." Ucap Rosa memelankan suaranya.
"Ambil kursi itu lalu duduk disini dan ceritakan kepadaku apa yang terjadi." Ucap Lilian penasaran.
Rosa mengikuti perintah dari Lilian kemudian duduk dikursi yang ia ambil dan mulai bercerita.
"Sebenarnya hari itu Nona pergi karena mendapat sebuah surat misterius dari seseorang." Ucap Rosa pelan.
"Lalu?" Tanya Lilian serius.
"Isi surat tersebut mengatakan bahwa jika Nona ingin mengetahui sebuah rahasia maka datanglah ke daerah terlarang." Ucap Rosa.
"Karena rasa penasaran ku terlalu besar dari rasa takut ku maka aku pergi ke sana?" Tanya Lilian.
"Iya Nona, saya sudah melarang mu untuk mendekati tempat itu namun Nona tetap ngotot ingin ke sana, untuk memastikan Anda baik-baik saja maka Nona menyuruhku untuk menunggumu disebuah pohon dekat daerah terlarang. Ucap Rosa.
"Lalu apa yang terjadi setelahnya?" Tanya Lilian penasaran.
"Saya tidak tau Nona, saat Nona memasuki daerah itu masih pagi dan Nona kembali saat menjelang sore, karena saya sangat khawatir dengan keadaan mu maka saya memutuskan untuk memasuki daerah terlarang dan ingin menyusul mu namun sebelum saya masuk ternyata Nona sudah datang dengan membawa sebuah buntalan kain dibalik gaun mu." Ucap Rosa mengingat.
"Apa isi buntalan itu?" Ucap Lilian penasaran.
Rosa menoleh ke kiri dan kanan lalu mendekatkan wajahnya pada Lilian. "Sebuah bukti yang menunjukan seseorang telah berkhianat di kerajaan ini Nona." Ucap Rosa pelan.
"Lalu apakah kau tau siapa yang berkhianat itu?" Ucap Lilian penasaran.
"Di mana buntalan itu berada?" Tanya Lilian.
"Di ruang pribadimu Nona." Ucap Rosa pelan.
"Aku memiliki ruang pribadi?" Tanya Lilian tak percaya.
Rosa mengangguk kemudian berjalan menuju meja rias Lilian, di sana terdapat sebuah bola kristal berbentuk bunga dipinggir meja, Rosa lalu memutar bola tersebut dan tiba-tiba meja rias membelah menjadi dua dan muncul sebuah pintu yang mengarah ke ruangan lain.
Lilian tak dapat menyembunyikan keterkejutannya saat melihat pintu itu. "Astagaaa ruangan yang seperti ini benar-benar ada, selama ini aku memang curiga dengan keberadaan dan apa fungsi dari bola kristal itu tapi siapa sangka ternyata bola itu adalah kunci membuka ruangan ini." Ucap Lilian.
"Tuan Duke Marven memang sengaja membuatkan mu sebuah ruangan khusus untuk belajar, Nona sangat cepat dalam hal belajar oleh karena itu saya tidak pernah merasa heran kalau Nona menemukan banyak hal baru karena sebelum-sebelumnya Nona sering melakukan hal-hal itu." Ucap Rosa.
Lilian berpikir dengan keras apa yang sebenarnya terjadi. "Benar kata Pangeran Seint jika raga yang ku tempati saat ini sangat misterius, bagaimana mungkin gadis sepertinya bisa menangani urusan penghianat saat gadis seusianya sedang sibuk berdandan, sepertinya ada yang aneh dengan pemilik tubuh ini dan yang lebih anehnya lagi kenapa harus aku yang terjebak disini?" Batin Lilia.
"Nona apakah Anda baik-baik saja?" Tanya Rosa khawatir melihat Lilian yang sedari tadi ia panggil hanya diam saja.
"Kau tenang saja Rosa Aku baik-baik saja, bisakah kita masuk sekarang?" Tanya Lilian sambil menunjuk pintu tersebut.
"Ahh silahkan Nona, ini adalah ruangan mu sendiri." Ucap Rosa lalu berjalan mengikuti langkah Lilian.
Saat Lilian memasuki ruangan tersebut yang pertama kali Lilian rasakan adalah perasaan nyaman dan menenangkan, terlebih lagi dalam ruangan tersebut tercium aroma bunga daisy yang sangat Lilian sukai.
__ADS_1
"Di sini tercium aroma bunga daisy, bukankah sejak aku sadar dari kecelakaan itu belum ada yang memasuki ruangan ini?" Tanya Lilian.
"Tentu Nona, tidak ada yang berani memasuki ruangan ini tanpa seijin mu, bahkan jika Nona tak bertanya tentang ruangan ini maka mungkin akan selamanya ruangan ini akan tetap tertutup." Ucap Rosa.
"Tapi kenapa aku merasa disini tercium aroma bunga daisy?" Tanya Lilian.
"Karena Nona selalu menyimpan pengharum yang beraroma bunga daisy di setiap sudut ruangan sebelum pengharum itu habis sendiri maka aromanya akan tetap bisa tercium" Ucap Rosa.
"Kenapa harus bunga daisy? Kenapa bukan bunga yang lain saja?" Tanya Lilian.
"Nona pertanyaan macam apa itu, Nona mungkin tak menyadari hal sekecil ini namun meski Nona kehilangan ingatan tapi satu-satunya yang tak kau lupakan adalah kesukaan mu terhadap bunga daisy, Nona bahkan menanam bunga itu didalam kamar dan menyimpannya di dekat jendela agar bunganya tidak pernah kekurangan sinar matahari." Ucap Lilian.
"Ini semakin aneh, mengapa semua yang aku sukai juga disukai oleh gadis pemilik tubuh ini, kebiasaan kamipun sama, nama juga sama, tingkah laku bahkan hampir sama dan kenapa aku berada didalam tubuh gadis ini lalu kemana roh gadis yang tubuhnya aku tempati ini." Batin Lilian.
"Nona mengapa sejak Anda memasuki ruangan ini anda selalu melamun? Apakah Nona teringat sesuatu." Tanya Rosa.
"Ahh tidak...tidak Rosa, aku hanya merasa nyaman berada dalam ruangan ini." Ucap Lilian.
"Tentu saja Nona, ruangan ini adalah ruang pribadi mu jadi sewajarnya Nona merasa nyaman." Ucap Rosa.
Lilian kemudian berjalan semakin ke dalam, saat sampai Lilian dapat melihat ada banyak rak buku yang tersusun rapi dan mulai berdebu karena sudah lumayan lama ruangannya tak pernah dibuka dan dibersihkan.
Lilian memperhatikan buku-buku yang tersusun dalam rak, ada banyak jenis buku yang Lilian temukan, dari buku sastra sampai pengetahuan alam maupun politik kerajaan di sana semua ada.
"Sepertinya pemilik tubuh ini sangat menyukai buku, tak heran ia memiliki rasa ingin tau yang besar kalau melihat dari koleksi buku yang ia baca." Batin Lilian.
Lilian kemudian berjalan mendekati sebuah meja panjang yang berada diujung ruangan, di sana ada banyak sekali coretan-coretan tangan di atas kertas. "Sepertinya hasil tulisan dari Lilian asli." Batinya.
Kemudian ia membaca satu persatu tulisan yang berada pada kerta-kertas tersebut, Lilian mengerutkan kening saat membacanya. "Sepertinya ini adalah sebuah teka-teki yang harus aku pecahkan." Batin Lilian.
Kemudian Lilian memeriksa semua barang yang ada dimeja tersebut satu persatu, "Sepertinya dulu aku adalah seorang yang memiliki rasa penasaran yang tinggi." Ucap Lilian sambil memperhatikan satu persatu barang yang berada di atas meja.
"Sama seperti sekarang, raut wajah mu seperti ingin mengatakan jika Nona ingin mengingat semuanya." Ucap Rosa sambil tersenyum kecil.
"Kau benar." Ucap Lilian tertawa menanggapi ucapan dari Rosa kemudian ia melihat beberapa gulungan yang tersusun rapi di bagian ujung meja. "Apa ini." Tanya Lilian.
"Itu adalah surat yang dikirim oleh orang misterius itu Nona." Ucap Rosa.
Mendengarnya Lilian merasa penasaran dan membuka isi gulungan tersebut. Di sana tertulis sebuah tulisan yang seperti Rosa ceritakan. Sebelum Lilian menyimpan kembali gulungan tersebut, Lilian mencium aroma bau parfum pada surat tersebut.
"Sepertinya kertas ini sebelumnya direndam menggunakan minyak wangi." Ucap Lilian sambil mencium gulungan kertas dan ia merasa aneh dengan aroma kertas tersebut.
"Baunya seperti campuran minyak wangi dan bau sesuatu yang ku kenali namun aku lupa bau apa itu." Ucap Lilian lagi.
"Nona bisa sesering mungkin kesini, tak usah memaksa mengingat semuanya." Ucap Rosa.
"Kau benar, sebaiknya kita kembali saja...aku ingin segera beristirahat...otak ku sekarang tidak bisa mencerna semuanya dengan baik hari ini." Ucap Lilian kemudian berjalan keluar ruangan yang diikuti oleh Rosa.
Lilian kemudian menutup kembali pintu tersebut seperti semula lalu menyuruh Rosa untuk membiarkannya beristirahat sendiri.
"Akan aku pecahkan teka-teki ini." Batin Lilian kemudian menutup matanya.
__ADS_1
°°°
dukung terus Author ya....😊