Bukan Dunia Novel

Bukan Dunia Novel
29. Perusak Ketenangan


__ADS_3

Setelah sibuk selama beberapa minggu karena mengurus persiapan untuk festival membuat Lilian merasakan jenuh dan kelelahan.


Untung saja saat pagi tadi Violet datang ke kediaman Lilian bersama pelayan setianya untuk mengajaknya berjalan-berjalan sebentar. Dengan hanya ditemani oleh kedua pelayannya kedua gadis itu pergi mengunjungi danau buatan yang berada diujung ibukota.


Disinilah Lilian dan Violet berada sekarang, berbaring dibawah pohon apel yang rindang dan rumput hijau sebagai alasnya. Lilian menutup kedua mata merasakan kesejukan angin yang menerpa wajahnya.


"Di sini sangat sejuk...rasa capek ku seakan hilang terbawa angin." Ucap Lilian masih menutup kedua matanya.


Violet tersenyum mendengar ucapan Lilian. "Sering-seringlah kesini, udara segar akan membantu mu menghilangkan stres, sebelum kau kehilangan ingatan kau juga sangat sering kesini entah itu bersama ku atau Fania bahkan hanya ditemani oleh Rosa saja." Ucap Violet.


"Kau benar...sudah berhari-hari aku sibuk mempersiapkan persiapan festival membuat ku merasa jenuh dan lelah, menghirup udara segar seperti ini akan sangat membantu menghilangkannya." Ucap Lilian.


"Baguslah kalau begitu, oh iya...ku dengar kau sendiri yang turun tangan langsung menyiapkan persiapan festival tahun ini untuk keluarga mu?" Tanya Violet.


"Ya kau benar sekali...makanya aku akhir-akhir ini semakin sibuk." Ucap Lilian.


"Sesekali menghirup udara segar seperti ini akan sangat membantu mu menghilangkan stres, kau boleh saja sibuk namun kau juga harus menjaga kesehatan tubuh mu, karena percuma kamu memaksakan diri kalau ujung-ujungnya kau terjatuh sakit dan meninggalkan pekerjaan mu." Ucap Violet menatap ke atas langit.


"Terima kasih ya kamu telah mengajak ku kesini, oh iya untuk tahun ini keluarga mu mempersiapkan apa untuk festival?" Tanya Lilian.


"Sama seperti tahun lalu, karena keluarga ku adalah seorang perancang baju maka tahun ini kami juga akan menampilkan rancangan-rancangan baju terbaik, meski memang tidak menjadi pemenang namun tiap tahunnya rancangan kami tetap banyak diminati." Jelas Violet.


"Oh iya...aku akan mengunjungi dan melihat-lihat rancangan mu nanti pas hari festival." Ucap Lilian yang sedari tadi telah membuka mata dan menatap Violet.


Violet menengok kesamping dan menatap Lilian yang juga sedang menatapnya. "Benar kata Kak Zheyan meski kau kehilangan ingatan mu tapi perilaku mu masih tetap sama." Ucap Violet tersenyum.


"Memangnya aku seperti apa? Kenapa semua orang mengatakan hal seperti itu kepadaku?" Tanya Lilian bingung.


"Entahlah...aku juga bingung bagaimana menjelaskannya." Ucap Violet sambil tertawa kecil.


Saat keduanya sedang asik mengobrol dan menikmati udara segar tiba-tiba suara langkah kaki terdengar berjalan mendekat kearah Lilian dan Violet.


"Selamat siang para Nona, suatu kebetulan sekali bisa bertemu putri Duke Marven dan putri dari Marquis Alba Gustav di sini." Ucap seseorang tersebut.


Lilian maupun Violet bangun dari pembaringannya dan menatap orang tersebut. Lilian mengernyitkan kening bingung tak mengenali orang didepannya.


"Adrian Pavel putra dari Viscount Wilson Pavel." Bisik Violet pada Lilian.


Lilian mengangkat sebelah alisnya mendengar nama orang tersebut. "Jadi putra dari Viscount Wilson Pavel rekan satu tim si gadis ular." Batin Lilian.


Melihat raut wajah Lilian membuat Adrian tersenyum. "Kau tetap terlihat sangat cantik walau sedang kebingungan." Ucap Adrian sambil tersenyum aneh.


"Seorang Bad Boy kayaknya kalau di dunia ku dulu, tampangnya juga sangat mendukung sekali" Batin Lilian.


Melihat Lilian masih tetap diam membuat Adrian kembali tersenyum. "Rumor kau kehilangan ingatan ternyata benar...padahal dulu sebelum kau kehilangan ingatan mu kau sangat suka mengikuti ku." Ucap Adrian.


"Sepertinya kau yang kehilangan ingatan mu Tuan Adrian, ingatan ku masih sangat baik sehingga bisa mengingat siapa yang mengikuti siapa." Ucap Violet tersenyum sinis.

__ADS_1


"Ohh aku melupakan kehadiran mu Nona Violet...sayang sekali padahal aku sangat ingin menggoda Nona Lilian." Ucap Adrian sambil tersenyum ke arah Lilian.


"Sedang apa Tuan di sini?" Tanya Lilian datar.


Adrian tersenyum kecil. " Kau tetap terlihat menarik walau dengan raut datar mu, sama seperti sebelum kehilangan ingatan mu kau tetap elegan dengan sifat angkuh mu." Ucap Adrian.


"Tuan sedang memuji ku atau sedang menghina ku?" Tanya Lilian.


"Ohh bagaimana mungkin aku menghina putri dari Duke Marven...sungguh aku tak akan berani." Ucap Adrian.


Lilian menghela napas pelan. "Kalau sudah tidak ada hal yang penting untuk Tuan bahas sebaiknya Tuan pergi saja, bukan maksud saya mengusir mu namun saya butuh ketenangan." Ucap Lilian.


Adrian tersenyum sinis. "Jadi menurut mu aku hanya datang membawa keributan." Tanya Adrian sinis.


"Bukan...begitu maks..." Ucapan Lilian terhenti saat melihat seseorang datang menghampiri mereka.


"Apa yang kau lakukan disini Tuan Adrian? Sejak dari tadi aku menunggu mu." Ucap Raina sembari berjalan ke arah Adrian berdiri. "Oh ternyata kau menemui seseorang yang tak ingin aku lihat rupanya."


Lilian menghembuskan napas malas, "sayang sekali padahal cuacanya tadi sangat bagus namun kenapa tiba-tiba menjadi suram begini ya?" Ucap Lilian kemudian menoleh ke arah Violet. "Sebaiknya kita pulang saja, cuaca disini tiba-tiba panas dan aku tak menyukainya." Lanjutnya.


"Kau sepertinya sedang menyindir ku Nona Lilian." Ucap Raina kesal.


Lilian menatap malas ke arah Raina. "Kenapa saya harus menyindir mu? Saya hanya membicarakan tentang cuaca hari ini yang tiba-tiba berubah saja." Ucap Lilian santai.


"Kau...gara-gara kau ijin keluar masuk keluargaku di kerajaan ini sementara di hentikan." Ucap Raina marah.


"Lalu apa hubungannya denganku?" Ucap Lilian.


"Sepertinya kau benar-benar membawa keributan Tuan Adrian." Ucap Violet.


"Haisss ini diluar dugaan ku Nona Violet." Ucap Adrian santai.


"Sebaiknya kita pulang saja Lilian tidak baik kita berlama-lama di sini." Ucap Violet lalu menarik tangan Lilian.


"Kau...jangan pergi dulu..." Ucap Raina marah namun ditahan oleh Adrian.


Setelah Lilian melewati tubuh Adrian, Lilian dapat mencium aroma yang sangat ia kenali. "Aroma ini." Ucap Lilian lalu berhenti dan menatap ke arah Adrian. "Aromanya sama dengan yang disurat." Batin Lilian.


"Lilian apa kau baik-baik saja?" Tanya Violet.


"Ya...aku tidak apa-apa...sebaiknya kita segera pulang." Ucap Lilian lalu berjalan semakin menjauhi danau.


Adrian menatap lekat ke arah menghilangnya Lilian, ia bingung saat gadis itu melewatinya beberapa langkah tiba-tiba gadis itu berhenti dan berbalik menatapnya dengan tatapan yang sulit ia artikan.


"Ada apa dengan gadis itu?" Batin Adrian.


"Kau masih saja menginginkan gadis itu?" Tanya Raina yang melihat Adrian masih menatap arah perginya Lilian dan Violet.

__ADS_1


"Tentu saja." Ucap Adrian singkat.


"Aku bingung dengan kalian para lelaki, apa yang kalian lihat dari gadis itu?" Ucap Raina kesal.


"Tentu saja karena ia cantik, elegan, angkuh dan yang paling penting adalah sifat jual mahalnya." Ucap Adrian sambil tersenyum sinis.


"Sudahlah terserah kalian saja." Ucap Raina kesal dan berjalan meninggalkan Adrian sendirian.


°°°


Sesampainya Lilian dikediaman setelah diantar oleh Violet. Lilian langsung bergegas menuju kamarnya dan memasuki ruang pribadinya dan mencari gulungan kertas itu.


Saat Lilian menemukannya, ia langsung mencium aroma kertas tersebut. "Aku sangat yakin ini aroma yang sama dengan aroma orang itu." Ucap Lilian.


Dari balik pintu Rosa juga berlari tergesa-gesa karena mengikuti langkah Lilian yang setelah kepergian Violet, ia berlari tergesa-gesa menuju kamarnya.


"Apakah ada sesuatu yang terjadi Nona?" Tanya Rosa penasaran.


"Iya...aku tadi mencium aroma yang sama dari kertas ini dengan aroma Tuan Adrian." Ucap Lilian.


Rosa membulatkan matanya. "Apakah mungkin Tuan Adrian mengetahui sesuatu yang tengah kita cari Nona?" Tanya Rosa.


"Aku belum yakin akan hal itu namun untuk sementara sebaiknya kita bergerak secara diam-diam jangan sampai ada yang tau tentang ini." Ucap Lilian.


"Baik Nona." Ucap Rosa tegas.


Lilian semakin penasaran dengan yang terjadi sebelum dirinya memasuki tubuh ini. "Hal apa yang telah dilalui oleh pemilik tubuh ini sebelumnya." Batin Lilian.


Lilian kemudian baru mengingat soal buntelan kain yang pernah di cerikan oleh Rosa.


"Rosa dimana buntelan kain yang pernah kau ceritakan waktu itu?" Tanya Lilian.


"Di sana Nona." Tunjuk Rosa ke sebuah laci salah satu meja.


Lilian kemudian berjalan mendekati laci tersebut dan menarik ingin membukanya namun laci itu ternyata terkunci.


"Dimana kuncinya Rosa?" Tanya Lilian.


"Saya tidak tau Nona, karena karahasianya harus tetap terjaga maka Nona menyimpannya di laci dan di kunci sedangkan untuk kuncinya sendiri Nona sendiri yang menyimpannya." Ucap Rosa.


"Aisss bagaimana aku bisa menemukan kunci itu sekarang" Ucap Lilian kesal.


"Kunci itu memiliki gantungan burung poenix yang dihadiahkan oleh Tuan Asgar." Ucap Rosa.


"Kalau begitu masih ada kesempatan untuk menemukan kunci itu." Ucap Lilian semangat.


Lalu keduanya keluar dari ruangan tersebut dan sepakat untuk menunda dulu pencarian kunci, sementara mereka akan fokus untuk acara festival yang akan diselenggarakan beberapa hari lagi.

__ADS_1


°°°


Selalu dukung Author ya...capek Author mikir seharian sampai kriting ini jari 🤭


__ADS_2