Bukan Dunia Novel

Bukan Dunia Novel
39. Ketahuan


__ADS_3

Setelah dirawat di kediamannya selama seminggu, akhirnya Lilian bisa membuka perban yang ada ditangannya. Selama tangannya diperban Lilian tidak bisa melakukan sesuatu sendirian, untung saja Rosa selalu setia berada disampingnya saat ia sedang ada di masa-masa sulitnya.


Lilian merasa sangat lega saat tabib membuka Lilitan terakhir yang melingkar ditangannya.


"Akhirnya perban ini bisa terlepas juga ditangan ku." Ucap Lilian senang.


"Untuk sementara Nona Lilian tidak boleh beraktifitas terlalu berat menggunakan tangannya, kalau Nona tetap memaksa akan berakibat buruk untuk tangannya." Ucap Tabib.


"Baik Tabib...terima kasih karena telah merawat ku selama ini." Ucap Lilian riang.


"I...iy...iya Nona" Ucap Tabib gugup mendengar ucapan Lilian, "Kalau seandainya sudah tidak ada lagi yang perlu saya urus...saya mohon undur diri." Ucap Tabib.


"Iya silahkan..." Ucap Lilian dengan senyuman.


Rosa kemudian mengantar Tabib tersebut sampai di depan pintu kamar Lilian dan kembali setelah memastikan Tabib tersebut telah menghilang dari pandangannya.


"Nona...apa sekarang badan mu masih sakit?" Tanya Rosa.


"Aku sudah baik-baik saja...obat yang diberikan Tabib tersebut sangat manjur dan membuat ku cepat pulih seperti sekarang." Ucap Lilian.


"Syukurlah kalau begitu." Ucap Rosa.


"Oh iya Rosa...apa kau sudah menemukan kunci laci ku?" Tanya Lilian harap.


"Maaf Nona...sampai sekarang saya belum menemukan kunci itu...padahal saya sudah mencari ke semua sudut ruangan ini namun kunci itu sangat sulit ditemukan." Ucap Rosa.


"Apakah ada hal yang benar-benar penting dalam buntelan itu?" Gumam Lilian yang tidak didengar oleh Rosa.


"Baiklah kalau begitu...mungkin nanti aku akan mengingatnya dimana aku menyimpan kunci itu." Ucap Lilian.


Rosa mengangguk. "Baiklah Nona...sekarang waktunya Nona beristirahat agar cepat pulih." Ucap Rosa sambil membenahi selimut Lilian.


Lilian kemudian mengangguk pelan dan memejamkan kedua matanya. Melihat Lilian yang sudah menutup kedua matanya Rosa keluar dari kamar Lilian untuk mengerjakan pekerjaan yang belum sempat ia kerjakan.


Tak berapa lama suara beberapa langkah kaki terdengar memasuki kamar Lilian. Awalnya Lilian mengira suara langkah kaki tersebut milik Rosa namun ia dapat merasakan bahwa bukan hanya satu langkah kaki saja yang memasuki kamarnya, ada beberapa orang yang memasuki kamar Lilian.


Lilian masih menutup kedua matanya saat orang-orang tersebut berdiri di sampingnya.


"Nampaknya Lilian masih tertidur." Ucap Asgar sambil melihat ke arah Lilian tidur.


"Ya...dia membutuhkan banyak istirahat untuk cepat pulih." Ucap Artem.

__ADS_1


Suara langkah kaki yang Lilian dengar itu adalah suara langkah kaki dari Seint, Zheyan, Asgar dan Artem. Keempatnya menyempatkan diri melihat kondisi Lilian saat mereka sedang sibuknya mencari tahu pelaku yang mencelakai Lilian.


Setelah memastikan Lilian benar-benar tertidur dengan lelap, Zheyan mulai membuka pembicaraan serius mereka.


"Langkah apa yang harus kita lakukan kedepannya yang mulia?" Tanya Zheyan.


Seint melirik sebentar ke arah Lilian kemudian kembali menatap ke arah Zheyan. "Pelakunya benar-benar telah merencanakan kecelakaan itu dengan sangat rapi." Ucap Seint dingin.


"Yang Mulia benar...saat kita mencoba menggali lebih dalam lagi tentang informasi lainnya namun yang kita dapatkan hanyalah jalan buntu saja." Ucap Asgar.


Lilian yang pura-pura tertidur sejak kedatangan keempat lelaki tersebut mengernyit bingung. "Kejadian apa yang sedang mereka bahas?" Batin Lilian.


Seint kembali melirik ke arah Lilian. "Kita tidak bisa berhenti sampai di sini saja, saya rasa semua kejadian yang terjadi bersumber dari Lilian sendiri." Ucap Seint masih menatap lekat ke arah Lilian.


"Maksud Yang Mulia?" Tanya Zheyan bingung.


"Selama seminggu kita mencari tahu informasi tentang pelaku penyerangan terhadap Lilian, namun jalan kita selalu tertahan, entah itu kekurangan bukti atau informasi namun yang dapat saya simpulkan dari semua kejadian yang terjadi adalah mereka menginginkan Lilian." Jelas Seint panjang.


Semuanya terdiam mengingat kembali kejadian seminggu yang lalu saat pertama Lilian mengalami kecelakaan itu. Ada tiga poin penting yang mereka simpulkan pada saat itu.


Saat mereka mencari tahu informasi tentang racun itu semuanya seakan-akan menghilang begitu saja tanpa diketahui. Racun itu berasal dari kerajaan Elmore namun siapa yang membawa masuk racun itu kedalam kerajaan Apollonia dan dengan jalur apa racun itu masuk sehingga prajurit diperbatasan kerajaan tidak dapat mengetahui tentang racun tersebut.


Hal lain yang juga dipikirkan oleh keempatnya adalah hubungan antara kelompok kesatria elang dengan pelaku penyerangan Lilian. Beberapa hari yang lalu keempatnya datang berkunjung ke tempat kelompok tersebut namun tidak ada aktifitas aneh yang dilakukan orang-orang di sana namun panah yang tertancap disalah satu kaki kuda adalah panah yang berasal dari kelompok tersebut.


"Itu adalah jalan satu-satunya untuk sekarang namun kata diam bukan berarti kita benar-benar diam dan tak merencanakan sesuatu." Ucap Seint dingin.


"Maksud Yang Mulia?" Tanya Artem bingung.


"Sebenarnya saya tidak mau mengatakan hal ini namun hanya jalan ini yang kita punya saat ini." Ucap Seint masih menatap dalam ke arah Lilian.


"Apa Yang Mulia?" Tanya Asgar.


"Mereka menginginkan Lilian ... entah untuk hal apa alasan mereka menginginkannya ..." Seint menatap tajam ke arah Lilian. "Mau tidak mau kita harus melibatkan Lilian juga." Ucapnya dingin.


Ketiga lelaki tersebut kaget mendengar ucapan dari Seint. Melibatkan Lilian itu artinya mereka juga harus siap menerima kalau-kalau kedepannya nanti Lilian akan kembali merasakan penderitaan yang sama.


"Bukankah itu hanya akan membawa Lilian kedalam bahaya?" Ucap Zheyan khawatir.


"Hanya itu yang bisa kita lakukan, Lilian sendirilah yang harus memancing mereka untuk bergerak, kita juga harus cari cara bagaimana caranya melibatkan Lilian tanpa membuatnya merasa terancam." Jelas Seint panjang.


Zheyan menatap ke arah Lilian dengan sendu. "Kenapa harus dia yang mengalami hal ini."

__ADS_1


Asgar menepuk pelan pundak Zheyan. "Kita hanya perlu mencari cara agar terus melindunginya, jika kita tidak mengambil langkah ini maka Lilian akan terus berada dalam bahaya." Ucap Asgar.


"Baiklah...mungkin memang hanya jalan ini yang terbaik untuk sekarang." Ucap Zheyan pasrah.


Seint, Asgar, dan Artem mengangguk tanda mengiyakan ucapan dari Zheyan kemudian Seint kembali menatap ke arah Lilian berbaring.


"Sekarang kau bisa membuka mata mu dan berikan kami jawaban mu, kau tak perlu berpura-pura tidur hanya untuk mendengarkan pembicaraan kami." Ucap Seint sinis ke arah Lilian.


Lilian menghela napas pelan kemudian terbangun dari pembaringannya. "Bisakah kau berpura-pura menganggap ku telah tertidur lelap?" Ucap Lilian kesal menatap ke arah Seint.


Semua orang kecuali Seint kaget melihat Lilian yang terbangun dari tidurnya. Selama pembicaraan mereka berlangsung ternyata Lilian tidak tidur, ia hanya menutup matanya dan mendengar semua pembicaraan mereka.


"Raut wajah mu terlalu kentara saat berbohong dan aku tak tahan ingin membongkarnya." Ucap Seint dingin.


Lilian mendengus kesal. "Siapa suruh kalian berbicara hal serius dikamar ku ... niat ku tadi hanya ingin beristirahat namun saat kalian datang dan berbicara panjang lebar membuat ku tidak bisa untuk terlelap ... jadi bukan salah ku dong kalau aku mendengar pembicaraan kalian." Ucap Lilian membela diri.


"Terserah kau saja ..." Ucap Seint malas berdebat. "Lalu apa jawaban mu?" Tanyanya kembali.


"Jawaban apa?" Tanya Lilian bingung.


Seint membuang napas pelan. "Kau kan sedari tadi sedang menguping jadi seharusnya kau tau hal apa yang aku tanyakan." Ucap Seint dengan menekankan kata menguping pada Lilian.


Lilian mengerucutkan bibirnya dan menatap malas ke arah Seint. "Baiklah aku setuju." Lalu membuang muka ke arah lain tak ingin melihat Seint.


"Lilian...apakah sedari tadi kau mendengar semua pembicaraan kami?" Tanya Asgar penasaran.


"Ya." Ucap Lilian singkat.


"Lalu kenapa kau malah berpura-pura tertidur?" Tanya Zheyan.


Lilian menatap ke arah Zheyan. "Itu karena memang sedari awal aku ingin beristirahat, namun karena kalian datang dan berbicara tentang ku akhirnya aku putuskan untuk diam dan mendengarkan saja." Ucap Lilian masih kesal.


"Lalu apakah kau tidak takut setelah mendengar semua itu?" Tanya Artem.


Lilian membuang napas pelan. "Sebenarnya rasa takut pasti ada namun aku percaya pada kalian dapat melindungi ku...untuk apa kalian punya gelar tinggi dan berkemampuan hebat kalau tidak bisa hanya menjaga ku seorang." Ucap Lilian menyindir Seint.


Seint tidak merespon ucapan Lilian dan terlihat datar seperti biasanya.


°°°


Besok Hari Raya Idul Fitri 1442 H, bila ada tutur kata Author yang menyinggung kalian mohon di maafkan ya ☺️

__ADS_1


selamat merayakan hari kemenangan dan selamat membaca...


__ADS_2