Bukan Dunia Novel

Bukan Dunia Novel
23. Cemburu


__ADS_3

Orang tersebut langsung melepaskan pelukannya pada Lilian dan menatap sedih ke arah Lilian.


"Lilian kau juga tak mengingatku?" Tanyanya.


Lilian mengerjapkan matanya lalu menatap ke arah Seint dan yang lain berdiri dan kembali menatap seseorang dihadapannya. "Tidak."


"Lilian...aku ini Violet sahabat mu, kita sedari kecil selalu bersama, apa sekarang kau ingat denganku?" Tanya Violet penuh harap.


"Maafkan aku tapi aku benar-benar tak mengingat mu." Ucap Lilian


Violet langsung menunduk sedih setelahnya ia memandang sedih ke arah Zheyan. Mengerti akan tatapan Violet, Zheyan kemudian berjalan mendekat ke arah Lilian.


"Lilian," Panggil Zheyan lembut, "Dia adalah Violet sahabat mu, dulu kemana-mana kalian selalu bersama." Ucap Zheyan.


"Lalu kenapa kau baru muncul?" Tanya Lilian menatap bingung ke arah Violet.


"Itu karena aku dikirim oleh ayahku untuk belajar di kerajaan lain." Ucap Violet.


"Um begitu." Ucap Lilian sambil mengangguk.


"Lalu apa kau juga tak mengenal Fania?" Tanya Violet penasaran


"Fania juga sahabat mu sama seperti ku, kami sama-sama dikirim ke luar kerajaan bersama namun aku lebih cepat menyelesaikan pendidikan ku dibanding Fania, mungkin sebulan lagi ia akan kembali." Ucap Violet.


"Namanya Fania ya?" Tanya Lilian.


"Ya...kau harus mengingat namanya agar ketika ia pulang nanti ia tak akan sedih seperti ku sekarang." Ucap Violet sedih.


"Maafkan aku ya Violet." Ucap Lilian sedih.


"Tidak apa-apa, aku sudah mendengar kabar tentang mu makanya aku cepat-cepat menyelesaikan pendidikan ku, oh ya ngomong-ngomong kenapa kalian semua bisa berada disini? " Ucap Violet menatap ke semua orang.


"Kami sedang mempunyai hal yang perlu dilakukan." Ucap Lilian.


"Ohhh kalau begitu silahkan lanjutkan saja, ada hal yang masih harus aku urus, nanti kita ketemu lagi ya." Ucap Violet.


Setelah kepergian Violet, mereka semua berangkat menuju tempat pembuatan meja dan kursi.


°°°


"Aku begitu penasaran kenapa kau harus ikut bersama kami?" Ucap Lilian bingung menatap Seint.


Setelah berpisah dengan Violet di pasar, Zheyan, Asgar, dan Lilian memutuskan untuk pergi melihat pembuatan kursi yang sebelumnya sudah mereka sepakati. Yang membuat Lilian heran adalah mengapa Seint harus ikut bersama mereka juga.


"Aku juga punya urusan dengan mu." Ucap Seint.

__ADS_1


"Urusan Apa?" Tanya Lilian.


"Buah kopi." Ucap Sein datar.


Lilian menepuk pelan keningnya. "Oh iya astaga...aku sampai lupa, padahal tadi pagi aku bingung bagaimana cara menemui mu." Ucap Lilian.


"Ada apa menemui ku?" Ucap Seint.


"Tentu saja untuk membicarakan tentang kopi." Ucap Lilian.


"Terus?" Ucap Seint.


"Terus apa?" Tanya Lilian bingung.


"Kelanjutannya." Ucap Seint.


"Bisa nggak kalau ngomong panjang sedikit? Itu mulut fungsinya selain buat makan, yaa buat ngomong, sayangkan kalau nggak digunain." Ucap Lilian kesal.


"Cerewet." Ucap Seint datar.


"Kita bicarakan besok, sekarang kau pergi saja." Ucap Lilian kesal.


"Kau mengusir ku?" Tanya Seint ikut kesal.


Seint menghembuskan napas kesal. "Baiklah, apa yang harus kita lakukan selanjutnya Nona Lilian?" ucap Seint dengan penuh penekanan di setiap kata-katanya.


Lilian melongo tak percaya menatap ke arah Seint. "Ya....ya..yang harus kita lakukan adalah segera memproses kopinya." Ucap Lilian gugup.


"Terus kapan kita akan mulai memprosesnya?" Tanya Seint dengan tatapan mengintimidasi menurut Lilian.


"Astaga ini orang kalau lagi marah kelihatan kayak harimau yang lagi mau makan orang hidup-hidup, oh astaga apa jangan-jangan Suga Oppa kalau lagi marah bakalan seperti ini juga? diakan datar kayak papan tripleks dan dingin kayak kutub utara, astagaaa baru ingat Suga Oppa kan kucing terus kalau lagi marah pasti berubah jadi harimau." Batin Lilian yang mulai mikir aneh-aneh.


"Kau kenapa diam?" tanya Seint bingung.


"Sebentar...aku lagi memikirkan seseorang jadi jangan ganggu dulu." Ucap Lilian tak sadar.


"Siapa?" Tanya Seint.


"Suga Oppa... dia itu datar dan dingin sama seperti mu namun dia lebih tampan darimu, kulitnya putih mulus, setiap kali aku melihatnya aku selalu meleleh dibuatnya." Ucap Lilian yang masih tak sadar.


"Untuk apa lelaki memiliki kulit putih mulus, di sini tidak ada gadis yang menyukai lelaki yang seperti itu, di sini orang menyukai laki-laki yang kekar dan berotot." Ucap Seint sinis dan panjang.


"Tapi aku menyukai lelaki yang seperti itu, meski dia tak berotot namun dia berotak." Ucap Lilian sombong.


"Apakah dia bisa menggunakan pedang." Tanya Seint kesal.

__ADS_1


"Tentu saja bisa, di salah satu MV nya dia menjadi seorang raja yang sangat gagah perkasa dengan pedangnya." Ucap Lilian terbawa suasana.


"Ohhh jadi karena dia adalah seorang raja maka dari itu kau menyukainya? selera mu bagus juga, lalu dia berasal dari kerajaan mana? katakan padanya aku ingin bertemu dengannya dan berduel pedang dengannya." Ucap Seint panjang.


"Kau tidak akan bisa menemuinya, dia sangat sibuk...aku saja yang menyukainya sejak lama tidak bisa sembarangan menemuinya." Ucap Lilian.


"Katakan saja padaku dia berasal dari kerajaan mana?" Tanya Seint yang sudah sangat kesal.


"Dia itu berasal dari..." Lilian tak lagi melanjutkan ucapannya saat ia tersadar. "Astagaaa bodoh sekali aku....kenapa bisa keceplosan, mana mungkin aku bilang ke Seint kalau Suga Oppa berasal dari jaman ku dulu." Batin Lilian.


"Kenapa kau diam cepat katakan padaku!" Ucap Seint.


"Dia berasal dari...dari...dari dunia khayalan ku." Ucap Lilian gugup.


Seint mengangkat sebelah alisnya dan menatap Lilian tajam. "Kau berbohong?" Tanya Seint.


"Tidak...aku memang menginginkannya di dunia khayalan ku." Ucap Lilian serius


"Jadi sejak tadi kau hanya berhalusinasi?" Tanya Seint.


"Ya...Suga Oppa adalah halusinasi terindah." Ucap Lilian.


Seint tersenyum sinis. "Kau menyukai lelaki yang tak bisa kau lihat dan sentuh secara nyata tapi dengan bangganya kau memamerkan sesuatu yang tak pernah ada." Ucap Seint.


"Biarkan saja." Ucap Lilian membuang muka ke arah lain tak ingin menatap Seint.


"Bodoh." Ucap Seint kesal. "Dia membandingkan ku dengan seseorang yang tak nyata dan kenapa aku malah kesal." Batin Seint.


Zheyan, Asgar dan Artem adalah tiga orang saksi yang menyaksikan perdebatan antara Seint dan Lilian. ketiganya tak menyangka bisa melihat Seint berbicara dengan seseorang begitu panjang.


mereka sering melihat Seint berbicara panjang saat di medan perang atau lagi situasi darurat namun kali ini ia berbicara panjang hanya karena berdebat dengan Lilian, itupun topik perdebatan mereka sangat tidak masuk akal. mereka memperdebatkan seseorang yang hanya berada di khayalan Lilian saja.


Belum lagi mereka melihat langsung ekspresi Seint yang kesal pada Lilian hanya karena gadis itu menyukai lelaki yang hanya ada dalam khayalannya saja.


Setelah perdebatan panjang antara Sein dan Lilian berakhir. mereka memutuskan untuk melihat hasil dari pembuatan kursi yang akan mereka gunakan, meski belum selesai seratus persen namun mereka merasa puas dengan hasil yang mereka lihat.


Kursi-kursi tersebut terlihat sederhana namun elegan. Lilian tak berhenti mengagumi keahlian tukang kayu yang berkerja hanya melihat gambar dari Lilian saja.


Setelah puas melihat pembuatan kursi serta alat-alat lain yang akan digunakan, mereka semua pulang dengan kuda masing-masing.


Zheyan, Asgar dan Artem dapat melihat tatapan permusuhan antara Sein dan Lilian tunjukkan untuk satu sama lain sebelum mereka berdua berpisah. Zheyan, Asgar dan Artem menghela napas pelan dan berpikir kalau pekerjaan mereka untuk kedepannya tidak akan berjalan damai.


°°°


Tiga hari tak melihat Bias jadi kepikiran buat Part tentangnya. Maafkan Author ya...🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2