Bukan Dunia Novel

Bukan Dunia Novel
112. Pancingan


__ADS_3

Seint baru melepas ciumannya setelah merasakan Lilian kesusahan untuk bernapas. Setelah melepas ciumannya Seint mengusap pelan bibir Lilian dan mencium mesra keningnya.


"Bisakah agar kamu pulang ke kediaman mu besok pagi?" Tanya Seint lembut.


Lilian mengangguk pelan. "Mereka akan menginap disini beberapa hari?" Tanyanya.


Seint menghela napas pelan. "Mereka akan menginap selama tiga hari ... Aku tidak ingin mereka mempunyai kesempatan untuk bertemu dengan mu lagi." Jelasnya.


Lilian kembali mengangguk. "Baiklah ... Setelah pesta ini selesai, aku akan menyuruh Nora untuk membereskan semua dokumenku dan aku akan membawanya pulang ke kediaman. Lagipula aku juga sangat rindu dengan masakan Ibuku dan sangat merindukan kamar ku." Ucapnya riang.


"Maaf ... Baru kali ini aku merasa lebih baik kamu berada dikediaman mu. Aku mempunyai perasaan buruk terhadap kedua bersaudara itu." Ucap Seint sambil memandang jauh ke depan.


"Tidak perlu mencemaskan aku ... Aku sangat rindu dengan taman bunga daisy ku. Sudah lama aku meninggalkannya dan aku sangat penasaran bagaimana perkembangan taman ku itu. Terakhir kali Kak Zheyan sangat ingin memangkasnya karena merasa bunga daisy ku mengganggu latihannya." Jelas Lilian sambil tertawa senang


"Kamu begitu menyukai bunga itu?" Tanya Seint.


"Iya ... Bunga itu seperti bagian dari diriku. Oh iya aku memiliki taman bunga daisy di sini, sebelum meninggalkan Istana aku harus melihat tanaman itu. Apakah ada yang merawatnya selama aku pergi?" Tanya Lilian sambil mengingat taman khusus yang dibuatkan oleh Seint.


"Aku telah menyuruh para pelayan untuk mengurus taman itu. Jika mereka melakukan kesalahan dalam mengurus taman itu maka akan aku pastikan mereka akan kehilangan pekerjaannya." Ucap Seint serius.


Lilian menggaruk tengkuknya. "Tidak perlu seserius itu. Aku memang menyukai taman itu namun bukan berarti para pelayan harus kehilangan pekerjaannya jika salah merawat. Kesalahan memang sering dilakukan namun dari kesalahan seseorang dapat mengambil pelajaran. Jadi jika mereka melakukan kesalahan dalam merawatnya maka biarkan mereka menebusnya dengan cara merawat taman itu dengan sungguh-sungguh." Jelas Lilian ceria.


"Baiklah. Sesuai keinginan mu." Ucap Seint sambil tersenyum lembut. "Sepertinya kita sudah harus kembali ke pesta. Kita sudah sangat lama meninggalkan tamu-tamu kita. Lagipula udara malam sangat tidak baik untuk mu." Lanjutnya.


"Baiklah." Ucap Lilian.


Seint kemudian menarik pelan tangan Lilian agar kembali memasuki aula pesta dansa diadakan. Sebelum memasuki aula Lilian menarik tangannya dari genggaman Seint.


"Bisakah kamu masuk terlebih dahulu? Aku harus ke kamar kecil sebentar." Ucap Lilian.


"Biar aku temani." Usul Seint.


Lilian menggeleng pelan. "Tidak usah ... Masuklah dulu, aku hanya sebentar kok. Lagian siapa yang berani mencelakai ku didalam Istana? Mereka hanya akan cari mati saja, ada banyak Prajurit yang menjaga sekitar aula ini." Ucap Lilian meyakinkan Seint.


"Baiklah ... Setelah selesai kamu harus secepatnya kembali." Ucap Seint sambil tersenyum


"Baiklah." Ucap Lilian.

__ADS_1


Seint kemudian memasuki aula pesta kembali sedangkan Lilian berjalan menuju kamar kecil. Saat diperjalanan Lilian berpapasan dengan beberapa Prajurit dan saat jarak Lilian dan kamar kecil tinggal beberapa langkah lagi, ia secara tidak sengaja bertemu dengan Tuan Marquis Gaustark dan Viscount Wilson yang sepertinya baru keluar dari kamar kecil.


"Sungguh kebetulan sekali kita bisa bertemu disini Yang Mulia Putri Mahkota." Ucap Marquis Gaustark sambil menunduk sopan bersama Viscount Wilson.


"Ya ... Sungguh kebetulan sekali." Ucap Lilian.


"Sebelumnya selamat atas pencapaiannya Putri Mahkota, sejak tadi saya sangat ingin memberi ucapan selamat kepadamu namun waktunya selalu saja tidak tepat. Putri Mahkota selalu saja dikerumuni banyak tamu undangan sehingga saya harus menunggu Putri senggang dan sangat kebetulan sekali kita bertemu disini." Ucap Marquis Gaustark sambil tersenyum.


"Saya dengar Putri Mahkota-lah yang berhasil mengetahui ciri-ciri tanah itu. Sungguh pengetahuan mu sangat luas Yang Mulia, bahkan para ahli-pun sudah lama angkat tangan menangani wilayah itu. Kehadiran Pangeran Mahkota dan Putri Mahkota yang hanya menghitung hari dapat merubah nasib buruk di wilayah itu." Ucap Viscoun Wilson.


Lilian tersenyum mendengar ucapan keduanya. "Sebelumnya terima kasih telah menyempatkan diri untuk memberikan ucapan selamat kepada saya Tuan-Tuan. Sebenarnya kepergian kami hanya untuk menyelidiki kondisi tanah itu, mengapa hanya tanah di wilayah itu yang tidak bisa digarap oleh petani. Sebenarnya wilayah itu bukan bernasib buruk namun hanya saja ada beberapa orang yang memiliki sifat serakah sehingga ingin memiliki wilayah itu secara pribadi." Jelasnya.


Marquis Gaustark menatap sengit kearah Lilian. "Tuan Putri menuduh salah satu orang di kerajaan telah berkhianat?" Tanyanya dengan nada tinggi.


Lilian tertawa pelan. "Saya tidak pernah mengatakan kalau ada orang dari kerajaan kita yang berusaha berkhianat Tuan. Saya hanya mengatakan ada beberapa orang yang serakah. Orang itu bisa jadi dari luar kerajaan ataupun dari dalam kerajaan, hal itu masih dalam proses penyelidikan." Jelan Lilian.


Viscount Wilson menahan emosinya agar tidak meledak di depan Lilian. "Atas dasar apa Yang Mulia mengatakan jikalau ada orang yang ingin memiliki wilayah itu secara pribadi? Selama ini semua orang mengetahui jika wilayah itu adalah tempat sial." Ucapnya.


"Atas dasar hasil dari beberapa fakta penemuan dan beberapa bukti yang kami temukan." Jawab Lilian santai


"Bukti apa yang kalian dapatkan Yang Mulia?" Tanya Marquis Gaustark panik.


Viscount Wilson menggeleng cepat. "Siapa bilang kami panik? Kami hanya penasaran saja dengan bukti yang kalian dapatkan." Jelasnya.


Lilian mengangguk pelan. "Oh begitu ternyata ... Sayangnya saya tidak bisa memberitahu kepada Tuan-Tuan. Bukti-bukti itu sekarang sedang dalam proses penyelidikan. Namun jikalau Tuan-Tuan sangat penasaran, saya bisa memberikan sedikit bocoran tentang bukti itu." Bisik Lilian pelan.


Marquis Gaustark dan Viscoun Wilson segera mendekatkan diri pada Lilian untuk mendengarkan apa yang akan Lilian katakan.


"Sebelum ke wilayah barat, kami mendapat informasi jikalau para ahli yang memiliki pengalaman banyak di bidangnya telah melapor bahwa wilayah barat sungguh tidak memiliki harapan untuk berkembang. Bukan cuman satu ahli namun Yang Mulia Raja telah mengirim beberapa ahli namun hasilnya masih sama dengan ahli yang sebelumnya. Hal itu membuktikan jikalau ada orang lain yang berusaha untuk menutupi fakta yang sesungguhnya." Jelas Lilian panjang.


"Lalu apakah Yang Mulia sudah menemukan bukti untuk menangkap pelakunya?" Tanya Marquis Gaustark serius.


Lilian berpura-pura berpikir sebentar. "Saya rasa Yang Mulia Raja sedang menyiapkan kejutan besar untuk para pelakunya. Mereka akan dihukum seberat-beratnya karena telah berbohong pada Yang Mulia Raja. Saya dengar Yang Mulia mengatakan jikalau hukuman pancung adalah hukuman paling ringan yang akan pelakunya terima." Ucap Lilian memanasi suasana.


Viscount Wislon tersenyum sinis. "Hanya karena sebuah opini yang belum tentu kebenarannya tidak bisa dijadikan bukti untuk menjadikan seseorang sebagai pelaku. Bisa saja memang sebelumnya para ahli itu mengatakan kebenaran, mereka tidak mengetahui bahwa di wilayah barat memang benar-benar tertanam kekayaan yang sungguh banyak."


Lilian mengangguk pelan. "Yang dikatakan Tuan memang benar, namun saat di wilayah barat kami mendapat beberapa kali serangan. Dari situ kami mendapat beberapa bukti belum lagi bukti yang kami dapatkan ditempat yang mungkin para pelaku itu tidak sengaja tinggalkan." Jelas Lilian.

__ADS_1


Marquis Gaustark dan Viscount Wilson sambil menatap satu sama lain dengan tatapan yang menurut Lilian aneh.


"Sepertinya pembahasan kita sampai di sini saja Putri. Kami harus menemani para tamu undangan." Ucap Marquis Gaustark.


"Oh silahkan ... Saya juga ingin masuk ke kamar kecil. Jangan bilang kepada siapapun tentang pembahasan kita tadi ya Tuan-Tuan. Jika pelakunya mendengar hal ini maka mereka akan berusaha melenyapkan bukti yang berada diruang kerja Yang Mulia Raja nanti." Bisik Lilian.


Viscount Wilson mengangguk pelan. "Apakah buktinya sekarang berada diruang kerja Yang Mulia Raja?" Tanyanya serius.


Lilian mengangguk pelan. "Terakhir Yang Mulia Raja bilang hanya tempat itu yang aman untuk menyimpan bukti-bukti itu. Sekali lagi jangan sampai orang lain tahu hal ini, saya memberitahu Tuan-Tuan karena sebagai salah satu petinggi kerajaan kalian seharusnya berhak tahu. Jika sudah tidak ada yang perlu kita bahas, silahkan Tuan-Tuan kembali ke pesta untuk menemani para tamu. Saya juga harus secepatnya masuk ke kamar kecil." Jelas Lilian.


"Baiklah Yang Mulia ... Terima kasih karena mau berbagi informasi dengan kami. Kami berjanji tidak akan memberitahu siapapun tentang informasi ini." Ucap Marquis Gaustark.


"Baiklah." Ucap Lilian sambil tersenyum.


Lilian menatap lama kearah Marquis Gaustark dan Viscount Wilson pergi. Setelah keduanya tidak nampak lagi, Lilian kemudian berjalan memasuki kamar kecil.


"Mudah-mudahan mereka percaya dengan ucapan ku. Waktu ku akan sia-sia jika mereka tidak memakan umpan yang aku lemparkan." Ucap Lilian pelan.


Setelah selesai dan mencuci tangannya dengan bersih. Lilian keluar dari kamar kecil kemudian berjalan kembali kearah aula pesta diadakan.


Sepanjang jalan Lilian merasakan keanehan, saat ia melewati jalan itu tadi ada banyak sekali lampu yang menerangi sepanjang jalan. Sekarang lampu-lampu itu hanya tersisa beberapa saja yang masih menyala.


Keanehan lain yang dirasakan Lilian adalah saat ia melewati jalan itu ada banyak sekali Prajurit yang berlalu lalang untuk menjaga keamanan namun sekarang Lilian tidak melihat satupun Prajurit yang menjaga tempat tersebut.


Lilian menambah kewaspadaannya saat mendengar beberapa langkah kaki berlari kearahnya. Lilian masih berjalan dengan tenangnya namun semua indra-nya ia fokuskan ke semua arah.


Saat Lilian berjalan beberapa langkah ke depan tiba-tiba saja Sebuah anak panah meluncur kearahnya namun beruntungnya Lilian bisa menghindari anak panah itu.


Lilian mengambil sebuah pedang yang bergantung didinding dan menahan semua anak panah yang meluncur kearahnya.


Setelah berhasil menghindari anak panah itu Lilian menatap tajam kesemua arah. "Keluar dan tunjukkan diri kalian!! Jangan jadi pengecut yang hanya bisa menyerang secara sembunyi-sembunyi!!" Teriak Lilian.


Setelah mendengar ucapan Lilian, semua orang yang memakai penutup di wajah keluar dari persembunyiannya dengan membawa senjata di masing-masing tangannya.


"Besar juga nyali mu gadis kecil." Ucap salah seorang penyerang.


Lilian tersenyum sinis. "Jangan hanya pandai menyerang secara sembunyi, lawan aku secara langsung!" Ucap Lilian.

__ADS_1


Mendengar ucapan Lilian, satu persatu penyerang mulai menyerang Lilian.


°°°


__ADS_2