Bukan Dunia Novel

Bukan Dunia Novel
87. Perjalanan I


__ADS_3

Setelah persiapan keberangkatan ke barat selesai. Seint, Lilian, Artem dan beberapa pengawal dari Seint berangkat menuju ke barat setelah matahari baru menampakkan sinarnya.


Perjalanan ke barat membutuhkan perjalanan selama tiga hari. Karena Seint harus menjaga Lilian, perjalanan tersebut mungkin membutuhkan waktu sedikit lebih lama dari biasanya.


Awalnya Seint dan Lilian sempat beradu mulut dikarenakan Seint menginginkan Lilian berangkat ke barat menggunakan kereta kuda sedangkan Lilian sendiri ingin menunggangi kuda.


Menurut Seint perjalan ke barat memerlukan waktu yang lumayan lama untuk sampai. Jika menggunakan kereta kuda, Lilian akan tetap bisa beristirahat walau didalam kereta.


Sedangkan menurut Lilian, Menunggangi kuda akan mempermudah perjalanan mereka. Jika menggunakan kereta kuda, Mereka akan membutuhkan waktu yang sangat lama agar sampai. Lilian merasa jikalau ia bisa beristirahat dimana-pun selama perjalan ke barat.


Setelah lama beradu pendapat, Keduanya sepakat bahwa Lilian bisa menunggangi kuda selama perjalanan ke barat dengan syarat gadis itu harus menaiki kuda yang sama dengan Seint.


Awalnya Seint dan Lilian merasa canggung karena harus menunggangi kuda yang sama dalam waktu yang lama namun Lilian berhasil memecahkan kecanggungan keduanya dengan melemparkan beberapa pertanyaan kepada Seint.


"Bagaimana kehidupan masa depan?" Tanya Seint tiba-tiba membahas tentang masa depan.


Lilian terdiam sebentar untuk memikirkan jawaban yang akan ia berikan kepada Seint. "Kehidupan masa depan dipenuhi dengan banyak sekali alat-alat canggih."


"Alat canggih?" Tanya Seint penasaran.


"Mmm." Gumam Lilian. "Di masa yang akan datang, entah berapa ratus atau ribuan tahun ke depan semua akan berubah. Akan ada bangunan bertingkat yang dibangun sampai menjulang tinggi menembus awan." Jawabnya dengan antusias.


"Benarkah?" Tanya Seint lagi.


Lilian mengangguk cepat. "Dari ketinggian itu, kita bisa melihat pemandangan seluruh kota. Dari ketinggian itu pula kita bisa melihat orang yang sedang beraktifitas dibawahnya." Jelasnya.


"Bagaimana orang-orang dimasa depan membuat bangunan itu dan berapa lama proses pembuatannya?" Tanya Seint mulai menyukai pembahasan mereka.


"Di masa depan akan ada namanya tekhnologi canggih. Untuk membuat gedung bertingkat seperti itu, pemiliknya harus memiliki banyak uang. Pertama pemiliknya harus mencari yang namanya Arsitektur. Ia memiliki tugas menggambar rancangan keseluruhan gedung yang akan dibuat. Setelah itu pemilik gedung harus memiliki seseorang yang akan berkerja sama dengan orang yang menggambar gedung itu. Pokoknya kalau kita memiliki banyak uang semua bentuk gedung yang kita inginkan akan dibangun dengan waktu yang sangat cepat." Jelas Lilian panjang.

__ADS_1


"Uang itu apa?" Tanya Seint.


"Uang itu adalah alat tukar menukar. Fungsinya sama seperti koin. Koin memiliki tingkat tersendiri, begitupun juga dengan uang. Di masa depan harga jual emas semakin meningkat. Kalau disini emas dijadikan sebagai alat tukar menukar dimasa depan orang-orang lebih menjadikannya sebagai perhiasan dan barang-barang berharga lain." Jelas Lilian.


"Di masa depan uang sangat berpengaruh?" Tanya Seint.


"Tentu saja. Banyak sekali orang-orang melakukan kejahatan hanya demi uang. Sama seperti sekarang, semua orang akan tergiur jika kita mengiming-imingkan mereka dengan harta." Jelas Lilian.


"Jika aku ingin membangun gedung seperti dimasa depan sekarang. Bisa?" Tanya Seint.


Lilian berpikir sebentar. "Bisa saja, namun ada beberapa bahan dan alat yang digunakan dimasa depan yang tidak ada di sini."


Seint mengangguk pelan. "Apalagi yang ada dimasa depan?" Tanya Seint yang masih penasaran.


"Di masa depan ada yang namanya komputer, semua pekerjaan orang-orang penting membutuhkan benda itu. Ada juga yang namanya handpone, ukurannya hanya segenggam dan cara penggunaanya hanya di sentuh saja. Fungsinya banyak sekali, bisa menghubungi orang yang jaraknya jauh dari kita dengan waktu beberapa detik. Kita bahkan bisa bertatap muka langsung dengan orang dibelahan dunia manapun asal ada jaringannya. Ah sudahlah jika aku jelaskan maka seumur hidupku tidak akan pernah habis untuk menceritakannya." Jelas Lilian.


Lilian menghela napas pelan. "Sebenarnya aku sangat merindukan masa depan ku. Di sana aku memiliki keluarga seperti di sini. Terakhir kali yang aku ingat, aku tertabrak sebuah truk. Entah apa yang sekarang Papa, Mama dan Kakak ku lakukan sekarang." Ucapnya sedih, "Namun aku juga bahagia kok disini, ada banyak orang-orang yang menyayangi ku di sini. Yang terpenting di sini masih sangat alami, tidak ada yang namanya bau asap mobil dan motor yang selalu membuat polusi di udara." Jelas Lilian sambil tersenyum senang.


Seint tersenyum kecil mendengar ucapan Lilian. "Kau memiliki keluarga yang seperti di sini?" Tanyanya.


Lilian mengangguk cepat. "Di sini aku memanggil mereka dengan sebutan Ayah dan Ibu sedangkan di masa depan aku memanggil mereka dengan sebutan Papa dan Mama. Di sini aku memiliki seorang Kakak laki-laki sedangkan di masa depan aku memiliki Kakak perempuan." Jelas Lilian.


Seint mengerutkan kening. "Maksud mu Ayah, Ibu dan Kakak mu di masa lalu tidak sama dengan yang di masa depan?" Tanya Seint tambah penasaran.


"Wajah kedua orang tuaku di masa depan berbeda dengan wajah Ayah dan Ibu. Dimasa depan aku memiliki seorang Kakak perempuan bukan lelaki. Tapi ... Jika dilihat karakter mereka sangat mirip. Papa ku adalah seorang yang sangat gagah, ia memiliki posisi penting disebuah perusahaan yang sangat terkenal dimasa depan ku, sedangkan Mama memiliki toko kue dan memiliki banyak sekali anak cabang. Untuk Kakak ku, ia seorang perempuan dan sekarang sedang menjalani pendidikannya diluar kota." Jelas Lilian panjang.


"Itu artinya aku juga tidak ada di kehidupan masa depan mu?" Tanya Seint cepat.


Lilian mengingat kembali masa-masa yang pernah ia lalui. "Sampai terakhir kali aku berada di sini ... Sepertinya kamu tidak ada di kehidupan masa depan ku."

__ADS_1


Seint menghentikan laju kudanya secara tiba-tiba dan membuat Lilian refleks memeluk tangan Seint. "Jangan pernah kembali!!" ketus Seint.


Lilian mengerjapkan mata beberapa kali dan menengok kebelakang. "Kamu membuatku terkejut!! Jika mau berhenti, setidaknya bilang terlebih dahulu. Jangan langsung berhenti!!" Ketus Lilian.


"Jangan pernah kembali ke masa depan mu!!" Ucap Seint dengan raut wajah serius.


"A ... ada ... ada apa dengan mu?" Tanya Lilian gugup.


"Jangan pernah kembali ke masa depan mu ... bagaimana bisa kamu terlahir kembali tanpa ada aku di kehidupan mu?" Tanya Seint ketus.


"Mana aku tahu!! Bisa saja di masa lalu kamu tidak terlalu mencintai ku sehingga di masa depan aku tidak ditakdirkan bersama mu!!" Ketus Lilian.


"Siapa bilang? Pokoknya kamu tidak boleh kembali!!" Tegas Seint.


Saat Lilian ingin menjawab ucapan Seint, Artem tiba-tiba datang menghampiri kuda mereka.


"Ada apa Yang Mulia?" Tanya Artem khawatir.


Seint menatap Artem kesal. "Tidak ada apa-apa ... Putri Mahkota hanya kecapean dan butuh istirahat sebentar." Ucapnya datar.


"Baik Yang Mulia. Kami akan mencari tempat yang nyaman untuk Putri Mahkota bisa beristirahat." Ucap Artem sopan.


"Mmm." Gumam Seint.


Artem kemudian berbalik dan berjalan kearah para pengawal Seint. "Kita istirahat sebentar. Segera carikan tempat yang nyaman untuk Putri Mahkota." Ucap Artem.


"Baik Tuan." Ucap para Pengawal serempak.


°°°

__ADS_1


__ADS_2