Bukan Dunia Novel

Bukan Dunia Novel
91 . Informasi


__ADS_3

Seint, Lilian, Artem dan Tuan Asadel kembali duduk saling berhadapan disalah satu ruangan yang ada didalam penginapan. Tuan Asadel sebelumnya telah memastikan tempat tersebut aman dan tidak akan ada orang yang mengganggu maupun menguping pembahasan mereka.


Setelah memastikan daerah tersebut memiliki kekayaan yang berlimpah, Seint menarik sebuah kesimpulan ada seseorang yang dengan sengaja menyembunyikan fakta tersebut.


"Tuan Asadel ... Sebelum kami datang kesini sudah ada berapa banyak orang yang telah melihat kondisi daerah ini?" Tanya Seint yang memulai pembicaraan.


"Sebelumnya ada banyak orang yang datang untuk melihat kondisi daerah sini Yang Mulia. Namun hasil yang mereka berikan tetap sama yaitu tidak ada harapan untuk tempat ini." Jawab Tuan Asadel.


Lilian mengerutkan kening bingung. "Berasal dari mana sajakah orang-orang itu?" Tanyanya.


"Orang-orang itu selalu mengatakan bahwa Yang Mulia Raja Reinal yang mengirim mereka. Kami tidak pernah bertanya lebih jauh lagi tentang asal mereka dikarenakan mereka selalu membawa plakat lambang Istana." Jawab Tuan Asadel mengingat.


Seint menghela napas pelan. "Kesimpulan apa yang selalu mereka berikan?" Tanyanya.


"Mereka selalu mengatakan daerah ini tidak cocok untuk kami tempati. Ada keluarga bangsawan yang akan menjamin kepindahan kami jika seandainya kami mau meninggalkan tempat ini." Jelas Tuan Asadel.


Artem mengerutkan kening bingung. "Apakah Anda tahu keluarga bangsawan mana yang menjamin kepindahan para penduduk?" Tanyanya.


Tuan Asadel menggeleng pelan. "Sebelumnya kami pernah bertanya namun orang-orang itu mengatakan akan lebih baik jika kami tidak tahu siapa bangsawan itu." Jawab Tuan Asadel.


"Lalu apakah orang-orang yang telah meninggalkan tempat ini telah dibantu oleh bangsawan itu?" Tanya Seint.


"Tidak Yang Mulia. Mereka memang pergi untuk mencari tempat yang layak untuk dihuni. Namun mereka tidak bisa melepaskan tempat ini. Sebelumnya saya sudah menjelaskan bahwa tempat ini adalah sebagian dari hidup kami, tidak ada diantara kami yang mempunyai pikiran untuk memberikan hak kepemilikan tanah kepada orang lain walaupun kami harus selalu menelan kenyataan pahit jikalau daerah ini tidak layak untuk kami tinggali." Jelas Tuan Asadel.


Lilian mengangguk pelan, ada banyak sekali yang dapat ia simpulkan di kepalanya. Sudah banyak orang yang telah meneliti tentang tanah ini namun mengapa meraka tidak ada yang memberitahu fakta tentang daerah ini.


Di jaman yang Lilian tempati sekarang, menggunakan koin yang terbuat dari emas sebagai alat tukar menukar barang. Seharusnya orang-orang pada jaman ini tidak akan merasa kesusahan dalam mendeteksi keberadaan emas.


Mereka seakan sengaja menutupi fakta bahwa tempat tersebut memiliki kandungan emas yang sangat banyak. Terlebih Tuan Asadel mengatakan ada seorang bangsawan yang akan menjamin kepindahan mereka jikalau mereka bersedia untuk meninggalkan tempat tersebut.

__ADS_1


"Tidakkah kalian merasa ada yang aneh?" Tanya Lilian tiba-tiba.


Seint mengangguk pelan. "Aku sependapat dengan mu. Ayah mengatakan kepada ku Jikalau ia telah melakukan banyak upaya untuk mensejahterakan daerah ini ... Tentu saja Ayah sudah melakukan penyelidikan tentang tanah ini namun mungkin saja orang-orang itu telah memberikan informasi palsu." Simpulan Seint.


"Saya sependapat dengan Anda Yang Mulia. Mungkin saja selama ini ada seorang yang memiliki jabatan tinggi telah mengetahui fakta yang sebenarnya tentang keberadaan emas di sini. Orang itu pasti sengaja menyebarkan rumor jika daerah ini tidak memiliki harapan untuk ditinggali ... Sehingga penduduk asli sini merasa putus asa dan meninggalkan tempat ini." Jelas Artem.


Tuan Asadel membulatkan mata sempurna mendengar kesimpulan dari Seint dan Artem. "Mungkin saja Yang Mulia ... Sejak lama ada beberapa orang yang menawarkan diri untuk membeli tanah di sini. Mereka selalu mengatakan jika lebih baik kami menjual tanah ini dan hidup ditempat lain." Jelasnya sambil mengingat kembali wajah orang-orang itu.


"Kalian tidak menanyakan apa alasan mereka membeli tanah di sini?" Tanya Seint curiga.


Tuan Asadel mengangguk antusias. "Tentu saja kami sudah bertanya Yang Mulia. Untuk apa mereka membeli tanah yang tidak bisa mereka olah namun mereka memberikan alasan yang masuk akal sehingga kami langsung percaya saja." Jelas Tuan Asadel.


"Apa alasan mereka?" Tanya Seint cepat.


Tuan Asadel mengerutkan kening mengingat kembali alasan orang-orang itu sebelumnya. "Mereka bilang ingin menjadikan tempat ini sebagai markas untuk membuat senjata."


Seint, Lilian dan Artem saling memandang satu sama lain. Ketiganya sangat yakin bahwa ada seseorang yang dengan sengaja menyembunyikan fakta tentang tempat ini.


Tuan Asadel mengangguk pelan. "Mereka selalu berkomunikasi lewat tatapan mata dan bahasa isyarat yang tidak kami mengerti. Pernah juga ada beberapa orang yang menggunakan bahasa yang tidak kami mengerti." Jawab Tuan Asadel.


Lilian membulatkan mata sempurna mendengar jawaban dari Tuan Asadel. "Apakah orang-orang itu menggunakan lambang yang seperti ini di dada mereka?" Tanya Lilian sambil menunjukan salah satu simbol dari kerajaan Elmore.


Tuan Asadel mengangguk antusias. "Benar Yang Mulia. Beberapa orang menggunakan lambang seperti ini di dada kiri meraka. Mereka selalu meminta kami untuk menjual tanah di sini namun kami selalu menolak. Mereka juga terlihat selalu mengunjungi suatu tempat yang letaknya tidak jauh dari sini Yang Mulia." Jelasnya.


"Apa yang mereka lakukan di sana?" Tanya Lilian cepat.


"Saya kurang tahu Yang Mulia. Mereka selalu mendirikan tenda didekat air terjun tempat kami mengambil air. Mereka juga sering melakukan kegiatan aneh dibeberapa titik di wilayah ini." Jawab Tuan Asadel.


"Bisakah Anda membawa kami ke tempat yang sering mereka kunjungi?" Tanya Artem.

__ADS_1


"Bisa Yang Mulia. Tapi saya membutuhkan beberapa penduduk asli sini untuk menemani kita ke sana. Ada tempat yang sering mereka kunjungi namun saya belum memastikan dimana letaknya. Salah satu penduduk sini pernah melihat mereka, untuk itu saya membutuhkan beberapa penduduk sini sebagai penunjuk arah." Jelas Tuan Asadel.


"Tentu saja ... bawa orang-orang yang bisa memberikan kami informasi akurat." Tegas Seint.


"Baik Yang Mulia ... Sebaiknya saya permisi dulu untuk mengumpulkan penduduk yang bisa Yang Mulia tanyai." Ucap Tuan Asadel.


"Baiklah ... " Ucap Seint.


Setelah kepergian Tuan Asadel, ketiganya saling menatap satu sama lain bergantian.


"Sebaiknya kita tinggal lebih lama di sini ... Kita harus mencari informasi sebanyak-banyaknya." Ucap Artem.


"Kau benar ... Bisakah kau mengirimkan surat kepada Kakak ku Agar segera ke sini?" Tanya Lilian pada Artem.


"Untuk apa?" Tanya Seint.


"Kita membutuhkan banyak orang dalam penyelidikan ini ... Ku rasa masalah yang sedang kita selidiki saat ini tidak sesederhana yang kita pikirkan." Jawab Lilian.


"Baik Yang Mulia ... Saya akan menggunakan burung sebagai alternatif cepat untuk memberikan informasi ini. Mudah-mudahan Tuan Zheyan dan Tuan Asgar sampai ke sini dalam waktu yang singkat." Ucap Artem.


Seint mengangguk pelan. "Mudah-mudahan kita mendapat titik terang dalam penyelidikan ini." Ucap Seint.


"Entah mengapa perasaan ku sangat tidak enak ... Semakin lama aku berada di sini, aku merasa sangat gelisah." Ucap Lilian sambil mengelus dada.


Seint menggenggam tangan Lilian lembut. "Apa kamu butuh istirahat?" Tanyanya.


Lilian mengangguk pelan. "Panggilkan aku setelah Tuan Asadel kembali."


Seint mengangguk singkat kemudian mengantarkan Lilian berjalan menuju kamarnya untuk segera beristirahat.

__ADS_1


°°°


__ADS_2