Bukan Dunia Novel

Bukan Dunia Novel
122. Alben Benito


__ADS_3

Seluruh Ibukota kerajaan Apollonia gempar dikarenakan Raja Reinal mengarahkan banyak Prajuritnya untuk mengepung wilayah Kelompok Kesatria Elang.


Sebelumnya Raja Reinal telah mengumumkan bahwa hilangnya barang bukti penting dari Istana. Ditempat hilangnya barang bukti itu, para penyusup meninggalkan sesuatu sebelum mereka membawa barang bukti itu.


Setelah melakukan pertemuan dan perundingan panjang oleh Raja Reinal dan petinggi-petinggi kerajaan lainnya. Akhirnya mereka mengeluarkan satu keputusan penting yaitu menjemput Pimpinan Kelompok Kesatria Elang dan membawanya ke Istana untuk menjelaskan perihal kejadian semalam.


Dengan berat hati Alban Benito selaku Pimpinan dari Kelompok Kesatria Elang ikut dengan Prajurit memenuhi titah dari Sang Raja.


Pintu ruangan aula pertemuan Istana dibuka dan menampakkan orang yang sedari tadi ditunggu-tunggu oleh semua orang. Alban Benito langsung berlutut saat ia sampai didepan Sang Raja.


"Tuan Alban Benito bisakah kau jelaskan apa maksud dari semua ini?" Tanya Raja Reinal lalu melempar tanda pengenal lambang dari Kelompok Kesatria Elang.


Alban Benito terkejut melihat sesuatu yang dilempar oleh Raja Reinal. "Ampun Yang Mulia ... Hamba tidak tahu apa yang terjadi." Jawabnya.


Raja Reinal melempar beberapa barang lagi dihadapan Alben Benito marah. "Tadi malam barang bukti penting hilang dari Istana ... Beberapa Prajurit bilang telah melihat para penyusup masuk dan melumpuhkan mereka. Ditempat menghilangnya barang bukti itu kami menemukan barang-barang milik Kelompok kalian. Masihkah Anda tidak mau menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi disini?"


"Ampun Yang Mulia ... Semalam kami tidak melakukan aktifitas apapun selain tetap berada di kediaman kami. Sungguh bukan kami pelakunya ... Ada orang yang berusaha menjebak kami." Jawab Alban Benito.


Raja Reinal tersenyum sinis. "Dengan semua bukti yang telah ada Anda masih tidak ingin mengakuinya? Siapa yang akan menjatuhkan kalian jika benar kalian telah dijebak?" Menunjukkan raut wajah bengisnya.


Alban Benito menelan ludah susah melihat raut wajah Raja Reinal. "Kemajuan perkembangan kelompok kami sangat pesat Yang Mulia. Sebagian besar Prajurit kerajaan berasal dari didikan kelompok kami, bahkan ada yang memiliki posisi penting di Istana. Dengan pencapaian seperti itu maka akan ada banyak orang-orang yang ingin menjatuhkan kami."


Raja Reinal tertawa keras mendengar ucapan dari Alben benito membuat suasana di aula pertemuan menegang. "Anda ingin menegaskan bahwa orang-orang Anda banyak di Istana? Sehingga jika Anda menginginkan sesuatu akan lebih mudah didapatkan. Begitu maksud Anda?" Tanyanya.


Alben Benito menahan napas mendengar ucapan Raja Thanos. "Ampun Yang Mulia ... Bu ... bukan itu maksud saya." Gugupnya.

__ADS_1


"Lalu apa maksud Anda?" Tanya Raja Reinal dengan suara keras.


Para petinggi kerajaan Apollonia hanya bisa terdiam melihat kemarahan Raja Reinal. Mereka yakin jika barang bukti yang telah dicuri itu sangatlah berharga untuknya.


"Ampun Yang Mulia ... Kami benar-benar tidak tahu tentang pencurian itu. Saya mohon Yang Mulia berikan kami waktu untuk membuktikan bahwa kelompok kami tidak bersalah!" Mohon Alben Benito.


Raja Thanos kembali tersenyum sinis. "Memberikan kalian waktu untuk kabur atau menghilangkan jejak kalian?" Tanyanya marah.


Alben Benito menggelengkan kepalanya cepat. "Tidak Yang Mulia ... Selama kasus ini belum selesai kami berjanji tidak akan meninggalkan Ibukota atau kerajaan ini." Ucapnya.


Raja Reinal menatap Alben Benito sinis. "Mengatakan hal seperti itu tidak akan menumbuhkan rasa kepercayaan saya kepada kalian. Barang bukti itu sangatlah penting untuk saya ... Pencuri malah masuk di Istana dan mencurinya saat saya masih berada di Istana!! Atau ..." Ucapnya terjeda sambil menatap semua orang tajam dan kembali menatap Alben Benito. "Pencuri itu memeng berada di Istana, bukankah Anda sendiri yang bilang jikalau kelompok kalian banyak yang menjadi Prajurit dan orang penting di kerajaan?" Tanya dengan tatapan tajam.


Alben Benito mengepalkan tangannya erat. "Mohon Yang Mulia selidiki lebih detail lagi!" Pintanya.


Raja Thanos mengangguk pelan. "Baiklah ..." Ucapnya terjeda sambil menutup matanya untuk berfikir. "Saya akan memberi mu kesempatan terakhir. Pihak Istana akan turun tangan langsung untuk menyelidiki kasus pencurian itu. Selama penyelidikan itu berlangsung, kelompok mu tidak boleh melakukan aktifitas apapun diluar wilayah mu sendiri. Kalian hanya diijinkan melakukan aktifitas didalam kelompok mu dan tidak mengijinkan kalian untuk keluar kediaman itu selama proses penyelidikan." Titah Raja Reinal.


"Saya sedang tidak memberi penawaran untuk Anda. Namun ini adalah keputusan saya ... Jika kalian memang tidak bersalah maka kalian akan saya lepaskan dan jika kalian terbukti bersalah maka kelompok mu itu hanya akan tinggal nama saja di kerajaan Apollonia." Tegas Raja Reinal.


Alben Benito memejamkan mata mendengar keputusan Raja Reinal. "Baiklah Yang Mulia." Pasrah-nya.


Raja Reinal mengangguk pelan. "Silahkan kembali ... Penyelidikannya akan dimulai hari ini. Jangan melakukan aktifitas apapun seperti yang telah saya jelaskan sebelumnya."


Setelah memberi hormat Alben Benito kembali dengan raut wajah muram. Sedangkan Raja Reinal menatap punggungnya dengan tatapan yang sangat sulit sekali dimengerti oleh orang lain.


°°°

__ADS_1


Sepulang dari pertemuan di Istana, Alben Benito masih menahan amarahnya karena pihak Istana mulai mengeledah kediaman mereka. Awalnya Alben Benito sempat khawatir jikalau para penyelidik Istana memeriksa bangunan belakang milik mereka namun para penyelidik itu tidak melakukan hal yang ia khawatirkan.


Setelah kepergian para penyelidik itu, Alben Benito mengumpulkan para Tetua dan orang-orang penting untuk melakukan pertemuan membahas kepergiannya di Istana tadi.


Setelah semuanya terkumpul Alben Benito masih tetap diam tidak mengeluarkan separah katapun karena ia masih harus mengontrol amarahnya yang akan sewaktu-waktu meledak.


"Ketua bagaimana hasil pertemuan tadi?" Tanya Bannes salah satu orang penting di Kelompok Kesatria Elang memberanikan diri untuk bertanya.


Alben Benito membuang napas kasar. "Sepertinya kita sedang dijebak." Ucapnya kesal.


Semua orang menatap serius kearah Pemimpinnya untuk mendengarkan pertemuannya di Istana tadi.


"Salah satu barang bukti di Istana telah dicuri semalam. Para penyusup itu meninggalkan jejak sebelum meninggalkan Istana. Namun jejak yang mereka tinggalkan adalah sebuah tanda pengenal, beberapa panah dan racun yang berasal dari kelompok kita." Jelas Alben Benito.


Semua orang terkejut mendengar penjelasan dari Pemimpin mereka. "Mengapa hal ini bisa terjadi ketua? Semalam kita tidak melakukan aktifitas apapun setelah penyerangan hari itu." Ucap Jonas salah satu orang penting lainnya.


"Itulah yang sedari tadi yang saya pikirkan ... Setelah penyerangan hari itu, kita tidak menampakan diri lagi dan mengkambing hitamkan Tuan Martin. Namun hari ini malah kita yang dijadikan kambing hitam oleh pihak lain." Kesal Alben Benito.


"Mungkinkah hal ini hanya rencana Yang Mulia Raja untuk menjebak kita? Orang-orang kita yang memberikan informasi di Istana mengatakan jikalau Yang Mulia Raja telah menarik semua Prajurit yang berasal dari kelompok kita dan mengirimkan mereka jauh sekali. Selain itu informasi terakhir yang kita dapatkan, murid-murid yang terakhir kali kita kirimkan untuk menyerang Putri Mahkota malam itu tidak bisa ditemukan keberadaannya. Entah mereka masih bernapas atau sudah mati." Jelas salah satu Tetua kelompok itu.


Jonas menggeleng cepat mendengar pendapat salah satu Tetua itu. "Saya rasa bukan Yang Mulia Raja tapi pihak lain. Malam itu Tuan Marquis Gaustark dan Tuan Viscount Pavel sempat berbincang dengan Putri Mahkota. Raut wajah mereka berubah setelah bertemu dengannya, penyerangan malam itu juga direncanakan oleh mereka. Jika kita tidak membuat rencana tambahan, tentu saja yang diberi hukuman saat ini adalah kita. Kita menjebak Tuan Martin agar terlibat dalam penyerangan itu dan menjadikannya sebagai kambing hitam untuk menutupi keberadaan kita." Jelasnya.


Frans yang sedari tadi dian mendengarkan ikut berkomentar. "Tuan Jonas benar ... Jika kita tidak melindungi diri kita sendiri maka kitalah yang saat ini yang akan dihukum. Tuan Marquis Gaustark dan para petinggi lainnya tidak peduli dengan keamanan kita. Bukankah selama ini hanya pihak kita yang banyak melakukan hal-hal berbahaya. Mereka hanya duduk diam dan menunggu kabar saja, jika kita ditangkap maka mereka akan melepaskan diri dengan mudah." Jelasnya.


"Benar ... Kediaman mereka bahkan terlihat tenang-tenang saja sekarang. Mereka bahkan hanya diam saja setelah mendengar ketua dipanggil ke Istana." Ucap salah satu Tetua lainnya.

__ADS_1


Alben Benito mengepalkan tangannya kuat mendengar pendapat dari orang-orangnya. Tidak lama seorang murid mengetuk pintu pertemuan.


°°°


__ADS_2