
Lilian bergerak tidak nyaman dari tidurnya. Sedari tadi ia merasakan ada sesuatu yang menimpa perutnya. Karena rasa ngantuk yang berlebihan, Lilian memutuskan tidak membuka matanya dan kembali terlelap.
Setelah waktu yang cukup lama, Lilian kembali menggeliat dari tidur lelapnya. Semakin lama ia semakin tidak nyaman dengan sesuatu yang menimpa perutnya. Akhirnya Lilian memutuskan untuk membuka kedua matanya.
"Bahkan dalam mimpi ku Seint terlihat sangat tampan." Suara serak khas bangun tidur Lilian.
Lilian kemudian menggerakkan tangannya ke arah wajah Seint dan menyentuh kening, mata, hidung dan yang terakhir bibir Seint.
"Semuanya terasa nyata." Ucap Lilian sambil memainkan bibir Seint.
Merasa ada seseorang yang menyentuh bibirnya, Seint membuka kedua matanya dan melemparkan senyum termanisnya kepada Lilian.
"Wahhh ... Seandainya ini kenyataan. Tapi mana mungkin Seint akan tersenyum semanis ini di dunia nyata." Gumam Lilian masih menatap ke arah mata Seint yang menatapnya dengan senyuman.
Lilian kemudian mencubit pelan pipi Seint dan mengelusnya kembali. "Mimpi ini terasa nyata ... Apakah seperti ini gambaran dari dewa? Matanya sangat berkilau, hidung mancung, alis tebal dan rahang kokoh. Lebih cocok disebut anime." Gumam Lilian kembali.
Lilian mendekatkan wajahnya lebih dekat ke arah Seint dan mencium pipinya. Setelah mencium pipinya Seint, Lilian tertawa pelan dan memegang kedua pipinya. "Hahaha ... Wajah Seint mirip Taehyung, semua sifatnya lebih mirip Suga, badannya mirip Jungkook, berkarisma seperti Jimin ... Mudah-mudahan pintar kayak Rm. Kekurangan Seint tidak bisa memposisikan diri seperti Jin dan seharusnya memiliki senyum cerah seperti J-hope. Kapan lagi coba aku memiliki pasangan yang memiliki persamaan dari semua member BTS. Aku tidak perlu rebutan dengan ARMY lainnya karena aku sudah memiliki Seint yang punya kelebihan dari ke tujuh pangeran." Khayal Lilian mulai tidak jelas.
Seint menghela napas pelan. "Setelah mencium ku ... Kau menyebut nama lelaki lain tepat dihadapan ku?" Tanyanya datar.
Lilian mengerutkan kening bingung. "Hebat sekali mimpi ku ini. Seint bisa menjawab ucapan ku dan memberikan raut wajah datar khasnya dengan sangat jelas." Tunjuk Lilian ke arah pipi Seint.
Seint sudah tidak tahan lagi dengan kelakuan aneh Lilian dan menggenggam erat tangan Lilian. "Kau mengenal banyak lelaki dimasa depan mu rupanya." Ucapnya sambil memicingkan mata ke arah Lilian.
Lilian membulatkan mata sempurna dan melepas genggaman Seint. "I ... ini bukan mimpi?" Tanyanya gugup.
"Menurut mu?" Tanya Seint datar.
Napas Lilian tercekat dan berniat untuk berteriak dengan kencang. Sebelum ia melakukan aksinya, Seint dengan cepat membungkam bibir Lilian dengan bibirnya.
Jantung Lilian berdegup kencang dan mendorong pelan badan Seint agar menjauh darinya. Lilian memejamkan mata malu. "Astaga!! Aku malu sekali." Batinnya sambil menggigit bibir bawahnya.
Lilian mengatur napasnya pelan dan menatap tepat ke mata Seint. "Kenapa kau malah mencium ku? dan apa yang kau lakukan di sini?" Marah Lilian.
Seint menatap acuh ke arah Lilian. "Kamu yang mencium ku duluan!!" Tegasnya.
"Tapi aku tidak mencium mu di ... di ... di itu." Tunjuk Lilian kearah bibir Seint.
__ADS_1
Seint mengangkat sebelah alisnya. "Di itu apa?" Godanya.
"Ya ... Ya itu." Gugup Lilian.
Seint menghela napas pelan. "Siapa yang kamu sebut tadi? Aku mirip dengan siapa saja?" Tanyanya.
Lilian menggeleng pelan. "Aku tidak mengatakan apa-apa!!" Bohong Lilian.
"Jelas-jelas kamu tadi membandingkan ku dengan beberapa orang!! Siapa mereka?" Tanya Seint.
Lilian mengerjapkan mata beberapa kali. "Member BTS." Jujur Lilian.
Seint menatap datar ke arah Lilian. "Sebuah organisasi?" Tanyanya.
Lilian menggeleng cepat. "Sebuah grup yang sangat terkenal di masa depan. Aku ini adalah penggemar mereka." Jelas Lilian dengan pipi berseri-seri.
"Kalau begitu kau juga mengagumi ku?" Tanya Seint.
"Tidak!!" Ketus Lilian.
"Jelas-jelas kamu tadi sedang menyamakan ku dengan orang-orang itu. Kau bahkan dengan sangat beraninya mencium ku." Ucap Seint cuek.
Seint mengangguk pelan. "Oh ... Kau bertingkah sangat berani jika didalam mimpi."
Lilian memukul lengan Seint dengan sangat keras. "Jaga ucapan mu ya ... Kau hanya salah paham!!." Ketusnya.
"Kau mencium ku dengan mata terbuka, lalu dimana letak salah pahamnya?" Tanya Seint tak mau kalah.
Lilian kehabisan kata-kata melawan Seint. Jalan satu-satunya yang Lilian pikirkan untuk saat ini adalah dengan menyalahkan Seint. "Ini semua gara kamu!! Apa yang kau lakukan dikamar ku? Jangan-jangan kamu sengaja masuk ke kamar ku dan mengambil kesempatan." Marah Lilian.
Seint tersenyum sinis. "Siapa yang di sini mengambil kesempatan? kau yang menyentuh dan melecehkan ku dan sekarang kamu malah menyalahkan aku!!" Ucap Seint tidak mau kalah.
"Hei ... Jaga ucapan mu!! Kapan aku melecehkan mu?" Tanya Lilian kesal.
"Waktu aku tertidur ... Kau seenaknya saja menyentuh mata, hidung, bibir dan mengelus pipi ku. Aku ini adalah Putra Mahkota, siapapun yang melecehkan ku akan diberikan hukuman." Jelas Seint.
Lilian memijit keningnya pelan. Ia sudah kehabisan kata untuk menjawab ucapan Seint. "Tripleks datar ini selalu banyak ngomong kalau sedang beradu mulut dengan ku." Batin Lilian sambil menatap sengit ke arah Seint.
__ADS_1
"Kenapa kamu diam? Jangan-jangan kamu sedang merencanakan sesuatu padaku?" Tuduh Seint sambil menutupi dadanya.
Lilian semakin kesal melihat tingkah Seint. "Dasar laki-laki murahan!! Kamu sendiri yang datang ke kamar ku ... Itu berarti kamu sendiri yang datang menyerahkan diri kepadaku!" Pekik Lilian.
Seint menjitak pelan kening Lilian. "Kamu masih kecil tidak boleh mengatakan hal semacam itu!"
Lilian mengusap pelan keningnya. "Kamu yang memaksa ku untuk berbicara seperti itu!" Kesal Lilian.
Seint tersenyum samar ke arah Lilian. "Sepertinya aku harus meminta ke Ayah untuk mempercepat pernikahan kita. Aku akan mengatakan jika kau sudah tidak sabar menunggu sampai umur mu menginjak dua puluh tahun." Ucapnya enteng.
Lilian memukul lengan Seint berkali-kali. "Kau yang menyelinap ke kamar ku ... apa yang kau lakukan di sini?" Tanyanya kesal.
Seint kembali berbaring dan menggunakan kedua tangannya untuk dijadikan bantal. "Aku kesini hanya untuk mengantarkan anak kita. Siapa tahu Ibunya malah memberikan aku hadiah sebuah ciuman." Jelas Seint sambil tersenyum.
Lilian semakin tidak tahan mendengar ucapan tidak jelas dari Seint. "Hari ini akan menjadi hari yang melelahkan, jadi ku mohon kepada mu untuk tidak membuang energi ku untuk meladeni ucapan tidak jelas mu itu." Kesal Lilian.
Seint mengangkat sedikit alisnya. "Aku sedang mengatakan kebenaran. Aku kesini untuk mengantarkan anak kita." Ucapnya lalu menyibak selimutnya.
Ciittt ... Cittt .... Ciittt ....
"Citto ..." Pekik Lilian.
Lilian begitu terkejut melihat Citto yang ternyata sedari tadi tidur menengahi antara Seint dan Lilian. Lilian baru menyadari sesuatu yang sedari tadi membuatnya tidak nyaman dari tidurnya ternyata adalah Citto.
Jika bukan Seint tidak menyibak selimut itu, Lilian tidak akan menyadari bahwa sedari tadi Citto sudah ada dan menyaksikan secara langsung adu mulut antara Lilian dan Seint.
"Sejak kapan Citto di sini?" Tanya Lilian penasaran.
"Sejak semalam." Jawab Seint.
Lilian kemudian memeluk Citto dan mengelus bulu lembutnya. "Kenapa sedari tadi kamu tidak bersuara?" Tanya Lilian sambil mencium kecil wajah Citto.
Ciittt ... Ciitt ... Cittt ... Ciitt ... Ciittt ... Citt ...
"Citto bilang ia tidak ingin mengganggu adu mulut antara kedua orang tuannya." Ucap Seint cuek.
Lilian hanya menatap kesal ke arah Seint, Sedangkan yang ditatap hanya memasang raut wajah cueknya.
__ADS_1
°°°