Bukan Dunia Novel

Bukan Dunia Novel
59. Pertemuan Kembali


__ADS_3

Selama beberapa hari pihak istana sangat sibuk mempersiapkan semua yang diperlukan untuk kegiatan berburu. Surat pemberitahuan-pun telah banyak di layangkan pada masing-masing kediaman para bangsawan.


Kegiatan berburu itu diadakan di hutan sebelah selatan kerajaan Appolonia. Hutan yang dipilih untuk melaksanakan kegiatan berburu itu adalah hutan terbesar di kerajaan Apollonia. Sebelum memutuskan tempat kegiatan berburu tersebut pihak istana telah mengkonfirmasi bahwa tempat itu aman untuk diselenggarakannya kegiatan tersebut.


Tempat yang dipilih untuk mendirikan tenda para Putri bangsawan adalah di bagian barat hutan tersebut sedangkan untuk para Putra bangsawan dipilih tidak jauh dari tenda para Putri bangsawan.


Sehari sebelum acara berburu dimulai Duke Marven berserta Istri dan Putranya Zheyan, tengah sibuk mempersiapkan kebutuhan yang akan mereka butuhkan ditempat berburu sedangkan Lilian sendiri terlihat sibuk dengan latihan memanahnya hingga akhirnya tugas mempersiapkan barang bawaannya ia serahkan semua kepada Rosa.


Sebelum matahari terbit, keluarga besar Duke Marven berangkat dari kediamannya menuju tempat yang sebelumnya sudah ditentukan oleh pihak istana.


Sesampainya ditempat tujuan, Lilian melihat ada banyak orang yang berlalu lalang sekitar daerah didirikannya tenda para Putri bangsawan, para Tuan rumah dari berbagai keluarga tengah sibuk menyiapkan tenda untuk para Putri mereka masing-masing.


Setelah keluar dari kereta kudanya, Lilian membantu mengeluarkan barang bawaan bersama para pelayan kediamannya sedangkan Ayah dan Kakaknya segera mendirikan tenda untuk dirinya.


Lilian menghela napas berat berkali-kali melihat tenda yang didirikan oleh Ayah dan Kakaknya terlihat begitu besar. "Menurut ku tenda ini sangat berlebihan." Ucap Lilian sambil mendengus pelan.


"Berlebihan apanya? Kamu tidak lihat tenda-tenda Putri bangsawan lainnya!" Ucap Zheyan santai.


Lilian mengedarkan pandangannya pada jejeran tenda-tenda yang didirikan kemudian kembali menatap kearah Zheyan. "Aiss tenda itu hanya akan diisi oleh ku dan juga Rosa saja. Besar tenda yang didirikan sekarang bisa menampung sepuluh orang dan itu namanya pemborosan tempat." Dengus Lilian.


"Kalau ada banyak tempat kosong yang tersedia kenapa harus memilih sempit-sempitan? Lagian kamu membawa banyak barang, tentu saja kamu membutuhkan tenda yang luas agar bisa menampung barang-bawaan mu." Ucap Zheyan.


Lilian kembali menghela napas pelan. "Barang-barang ku dipilih oleh Ayah, Ibu, dan Kakak. Kita di sini hanya sampai tiga hari namun barang yang kalian pilih seperti kebutuhan orang selama sebulan." Ucap Lilian kesal.


"Tentu saja...jarak tempat ini dengan pemukiman penduduk sedikit jauh, jadi dari pada kita repot belakangan lebih baik barang-barangnya kita persiapkan lebih awal." Ucap Zheyan.


"Sudahlah terserah Kakak saja, lebih baik aku pergi melihat-lihat." Ucap Lilian sambil berjalan menghentakkan kakinya yang diikuti oleh Rosa dibelakangnya.


"Jangan pergi jauh-jauh dan cepatlah kembali!" Ucap Zheyan.


Lilian tidak menjawab ucapan dari Zheyan, ia hanya terus berjalan bersama dengan Rosa. Setelah berjalan sedikit jauh, tangan Lilian ditarik oleh seseorang yang membuatnya berhenti berjalan dan menatap heran ke orang tersebut.


"Nona Lilian." Ucapnya sambil tersenyum cerah.


Lilian mengerutkan kening bingung menatap kearah seorang gadis yang menarik tangannya.


"Nona Lilian masih ingat dengan saya?" Tanya gadis itu dengan senyum cerah.


Lilian merasa tidak asing dengan wajah gadis didepannya namun ia lupa dimana ia bertemu dengan gadis itu.

__ADS_1


"Saya Nania...kita pernah bertemu di istana pada acara jamuan teh yang di adakan Putri Evilia. Apakah Nona sudah ingat?" Tanyanya Antusias.


Lilian mengangguk cepat. "Ohh iya saya ingat...waktu itu kita berjalan bersama menuju tempat latih tanding para Putra bangsawan." Ucap Lilian mengingat.


"Iya betul Nona. Saya kira Nona tidak akan mengingat saya." Ucapnya tersenyum lembut.


"Maaf sebelumnya saya tidak mengenali mu." Ucap Lilian bersalah.


"Tidak apa-apa Nona. wajar saja Anda Lupa, kejadiannya juga sudah sedikit lama...oh iya sebelumnya saya beberapa kali pernah mengunjungi mu dikediaman Anda namun penjagaan kediaman mu begitu ketat sehingga saya tidak bisa sembarangan memasuki kediaman mu." Jelas Nania.


"Oh begitu...ada banyak kejadian yang selalu saja terjadi tanpa kami inginkan sebelumnya...akhirnya Ayah dan Kakak ku memutuskan untuk membatasi orang lain untuk memasuki kediaman kami." Jelas Lilian.


Nania mengangguk pelan. "Oh iya dimana tenda Anda didirikan?" Tanyanya.


"Tenda saya didirikan disebelah sana namun sedikit jauh lagi." Ucap Lilian sambil menunjuk ke arah tendanya tadi.


"Tenda saya juga berada di sekitar sana. kalau Anda berkenan, saya harap kita bisa sesekali meminum teh bersama." Ucapnya ramah.


"Tentu saja." Ucap Lilian sambil tersenyum.


"Lilian apa yang kamu lakukan di sini?" Ucap seorang gadis dibalik punggung Lilian.


Lilian berbalik dan tersenyum cerah ke arah Fania dan Violet. "Ehhh kalian juga sudah sampai?" Tanya Lilian.


Lilian mengangguk singkat. "Lalu tenda kalian didirikan dimana?" Tanya Lilian.


"Tenda kami didirikan dekat dengan tenda mu, kita nanti bisa berkumpul bersama." Ucap Violet senang.


Lilian mengangguk senang. "Iya tentu saja." Ucapnya.


"Umm Nona Lilian...saya permisi duluan ya...soalnya saya ingin memeriksa barang bawaan saya." Ucap Nania sopan.


"Oh iya...silahkan." Ucap Lilian.


Nania kemudian berbalik dan berjalan menuju ke arah tendanya berada.


"Sejak kapan kamu dekat dengannya?" Tanya Fania masih melihat ke arah Nania pergi.


"Kami bertemu waktu Putri Evilia mengadakan acara jamuan teh di istana. Saat itu aku tidak mengenal siapapun dan yang mau mengajak ku bicara hanyalah dia." Jelas Lilian.

__ADS_1


Violet mengangguk singkat. "Kayaknya dia berniat mau mendekati mu." Ucapnya.


Lilian menatap ke arah Violet. "Mungkin saja...katanya dia sudah beberapa kali mengunjungi ku di kediaman, namun tertahan karena Ayah ku hanya mengijinkan orang yang dekat dengan ku saja untuk masuk." Ucap Lilian.


"Ah sudahlah tidak usah pikirkan dia...lebih baik kita pergi melihat-lihat saja." Ucap Fania.


Lilian dan Violet mengangguk tanda setuju dengan ucapan Fania.


°°°


Setelah berjalan cukup lama, Lilian, Fania dan Violet berniat kembali ke tenda mereka masing-masing. Di sepanjang jalan kembali, ketiga gadis itu membicarakan tentang hal-hal lucu yang sering mereka alami.


Di tengah perjalanan mereka berpapasan dengan Raina dan Adrian Pavel. "Sepertinya pembahasan kalian sangat menarik sehingga kalian tidak menyadari ada banyak pasang mata yang memperhatikan kalian." Ucap Adrian Pavel sambil tersenyum ke arah Lilian.


"Tentu saja...pembahasan kami hanya seputar tentang hal-hal lucu yang pernah kami alami bukan tentang mengurusi kehidupan orang lain." Ucap Violet sambil menatap sinis ke arah Raina.


Raina mendengus pelan. "Kau sedang menyindir ku?" Tanya Rania kesal.


"Uppss saya sedang tidak menyindir orang lain, saya hanya menjawab ucapan dari Tuan Adrian saja. Tapi...sepertinya Nona Raina merasa tersindir!" Ucap Violet.


"Jelas-jelas kau sedang menyindir ku." Ucap Raina kesal.


"Mana berani saya menyinggung Anda Nona...kedudukan Ayah Lilian yang tinggi saja tidak dapat memberikan mu hukuman berat apalagi dibandingkan dengan Ayah ku yang kedudukannya setara dengan keluarga mu...entah koneksi apa yang terus keluarga mu gunakan agar Anda terhindar terus dari hukuman." Sindir Violet terang-terang.


Wajah Raina mulai memerah kesal. "Jaga ucapan mu Violet! karena kedudukan tinggi Ayah dari teman mu itu membuat keluarga ku sekarang kesusahan, Ayah ku tidak bisa keluar dari kerajaan Apollonia membuat kami mengalami banyak kerugian dan kami masih harus menjalani hukuman lainnya." Ucap Raina marah.


"Oh ya? Kalau begitu seharusnya Anda sekarang sudah tahu diri dimana posisi mu sekarang dan satu hal yang paling penting." Ucap Violet terjeda sambil memandang Raina sinis. "Saya merasa tidak dekat dengan Anda, jadi jangan berbicara formal kepada ku." Ucap Violet sinis.


Raina mengepalkan tangan kuat dan ingin menjawab ucapan dari Violet namun tertahan saat Adrian menahan tangannya agar ia tidak melakukan kesalahan lagi. Raina kemudian melepas kasar tangan Adrian Pavel dan berjalan pergi meninggalkan Lilian, Fania, Violet dan Adrian Pavel.


Adrian Pavel tersenyum hangat ke arah Violet. "Saya mewakili Nona Raina untuk meminta maaf kepada mu. Emosinya akhir-akhir ini sedang tidak stabil jadi mohon untuk Nona Lilian dan yang lain memaafkannya." Ucap Adrian Pavel.


"Tidak apa. Lagian kenapa harus Tuan Adrian yang meminta maaf?" Tanya Fania menatap aneh ke arah Adrian Pavel.


"Itu karena gara-gara saya yang menghentikan langkah kalian." Ucap Adrian Pavel.


"Kalau begitu bisakah kami melanjutkan langkah kami?" Tanya Violet dengan tatapan tidak suka.


Adrian Pavel berusaha menahan emosi dan bersikap setenang mungkin menghadapi gadis-gadis yang berada didepannya.

__ADS_1


°°°


Selamat membaca...


__ADS_2