
Suara ledakan membuat fokus Seint yang sedang bertarung teralihkan. Pasalnya ledakan itu terdengar dari arah Ratu dan Lilian berada. Tempat itu sebelumnya sudah di pastikan adalah tempat yang aman namun perubahan rencana yang dilakukan oleh musuh tidak bisa lagi Seint tebak.
Saat Seint ingin melangkahkan kakinya menuju tempat Ratu dan Lilian berada, seorang dengan memakai baju penyihir datang dan menghalangi langkah Seint.
"Mau kemana Pangeran Seint? Apakah kamu ingin melarikan diri disaat situasi seperti ini?" Tanya orang itu dengan nada mengejek
Seint tersenyum sinis. "Meski aku harus mati di tanah kelahiran ku. Aku tidak akan menjadi seorang yang pengecut dengan meninggalkan semua orang yang sedang berjuang demi kedamaian." Ucapnya.
Orang itu tertawa miring mendengar ucapan Seint. "Perdamaian? Perdamaian seperti apa yang kalian inginkan? Perdamaian hanyalah sebuah kata pemanis di atasnya hanya ada kekuasaan." Ucap orang tersebut
"Untuk orang-orang seperti kalian tidak akan pernah tahu apa arti dari perdamaian. Kalian hanya menginginkan kekuasaan dan kedudukan." Ucap Seint datar.
Orang itu kembali tertawa lantang. "Kekuasaan adalah kata tertinggi, tanpa kekuasaan kau hanyalah seseorang yang tidak memiliki apapun. Orang akan memandang dirimu hanyalah sebagai orang biasa dan tidak akan memberi hormat kepada mu." Ucapnya.
"Aku bukanlah seseorang yang gila hormat seperti mu. Jika kau bersikap tegas dan mampu memberikan yang terbaik bagi orang-orang disekitar mu, maka kamu akan mendapatkan rasa hormat yang kau inginkan." Jelas Seint datar.
Orang itu tersenyum sinis. "Aku tidak butuh kata-kata darimu!! Lebih baik kau ku binasakan sesegera mungkin!!" Teriaknya sambil mengangkat pedangnya untuk menyerang Seint.
Seint-pun dengan sigap menahan semua serangan dari orang tersebut. Seint bahkan menyerang kearah orang tersebut dengan menggunakan keahlian pedangnya.
Selama waktu yang lama, pertarungan keduanya seimbang. Keduanya memiliki banyak pengalaman bertarung sehingga susah untuk mengalahkan satu sama lain. Sudah sejak lama keduanya bertarung sehingga Seint memiliki kesempatan untuk melukai lengan sebelah kanan dari orang tersebut.
Orang tersebut menggeram kesal melihat luka gores yang berada ditangan kananya. Orang tersebut mendongakkan kepalanya dan menatap bulan purnama. Setelah memastikan sesuatu, orang tersebut mengangkat pedangnya dan melempar sebuah bahan peledak keatas langit. Tidak lama bahan peledak meledak, seorang wanita muncul menggunakan pakaian yang sama dengan orang tersebut, keduanya saling berpegangan tangan dan mengucapkan sesuatu seperti mantra.
__ADS_1
Seint berusaha menggagalkan keduanya namun ada banyak sekali orang yang berusaha menghalangi langkah Seint. Hinga beberapa saat kemudian, langit kembali menggelap dan muncullah seekor ular yang berwarna hijau yang sangat besar.
Seint menduga itu adalah hewan yang sudah lama hidup dan dibangkitkan pada bulan purnama agar keluar dari sarangnya. Ular itu hampir menyerupai seekor naga besar dan bergerak melingkar di atas langit. Seseorang melompat di atas ular tersebut dan dengan gerakan cepat orang tersebut mengarahkan ular hijau itu untuk menyerang kearah Seint.
Seint sesekali menghindari serangan ular besar itu namun karena sesekali menghindari serangan buas ular hijau itu membuat Seint mendapatkan beberapa luka. Orang yang mengendalikan ular tersebut merasa senang melihat kekacauan yang ia buat. Selain menyerang Seint, tubuh besar ular tersebut dapat menyerang orang lain menggunakan ekornya.
Sehingga keadaan yang sebelumnya didominasi oleh prajurit Istana kini berbalik arah sejak kedatangan ular hijau tersebut. Orang tersebut semakin senang melihat Seint yang sudah mulai lelah menghindari serangan ular tersebut, Seint bahkan menerima luka cakaran pada tangan dan kakinya dikarenakan ular hijau tersebut.
Saat Seint mulai kehabisan napas untuk menghindari serangan ular hijau tersebut, Citto datang dengan perubahan tubuh naga besar dan melindungi tubuh Seint agar tidak terkena serangan ular tersebut.
Setelahnya Citto mengangkat Seint ke tubuhnya dan membawanya terbang untuk saling berhadapan dengan ular hijau besar tersebut. Seint mengambil napas yang cukup kemudian menggenggam erat pedang ditangannya.
Semua orang yang melihat perubahan tubuh Citto menelan ludah susah payah. Bukan lagi sesosok makhluk yang lucu melainkan sesosok naga yang memiliki ukuran tubuh yang sangat besar dan aura yang sangat kelam. Citto merubah bentuk tubuhnya kebentuk naga aslinya dan menatap tajam kearah ular hijau besar didepannya.
Dengan dikendalikan oleh orang diatasnya, ular hijau tersebut melaju dengan sangat kencang kearah Seint. Citto tidak tinggal diam, ia mulai mengaum dan bergerak maju melawan ular tersebut.
Seint mengangkat tinggi pedangnya dan satu tangannya ia gunakan untuk memegang erat tubuh Citto. Citto bergerak maju dan menyerang kearah ular hijau tersebut. Seint bahkan tidak tinggal diam, ia mengayunkan pedangnya dan mengarahkannya kepada orang tersebut.
Penutup wajah yang selama ini orang itu gunakan akhirnya terlepas dari tempatnya. Tudung yang selama ini juga menutup sebagain wajahnya kini terbang dibawa oleh angin yang diciptakan oleh Citto.
Semua orang menatap orang yang masih berdiri di atas ular hijau tersebut dengan perasaan marah dan kesal terutama yang dirasakan oleh Raja Reinal.
"Pangeran Igor Thomson." Teriak Raja Reinal dengan luapan amarah yang selama ini ia pendam.
__ADS_1
Semua masalah dan semua yang terjadi di kerajaan Appolonia semua disebabkan oleh putranya sendiri yang menginginkan kekuasaan. Raja Reinal bahkan tidak menyangka bahwa Putranya sendiri adalah seorang penyihir yang selama ini bersembunyi dibalik gelar pangerannya.
Itu berarti Selir Keduanya selama ini menutupi jati diri yang sebenarnya, merangkak menjadi Putri salah satu bangsawan dan menjadi selir di kerajaan Apollonia. Raja Reinal menatap ke wanita yang menggunakan pakaian yang sama dengan Pangeran Igor. Raja Reinal berjalan cepat dan menarik penutup wajah dari wanita tersebut.
"Selir Kedua." Marah Raja Reinal.
Saat Raja Reinal ingin menangkapnya, Selir Kedua dengan langkah gesit menghindari Raja Reinal. Sedangkan di atas sana, pertempuran antara Pangeran Igor dan Pangeran Seint kembali terjadi dan menghasilkan atmosfir yang menegangkan.
Keduanya saling menyerang satu sama lain sehingga menimbulkan banyak kekacauan disekitar pertarungan keduanya. Raja Reinal serta orang-orang yang dibawah keduanya bergerak menyelamatkan diri dalam menghindari serangan nyasar dari keduanya.
Sedangkan Lilian sendiri tidak bergerak sedikitpun dari tempanya berdiri. Lilian sejak tadi masih melihat pertarungan antara Pangeran Igor dan Pangeran Seint. Lilian tidak bisa pergi dari tempatnya agar ia bisa mengendalikan Citto. Jika sewaktu-waktu Citto lepas kendali maka Lilian akan bertindak sebagai pawangnya agar Seint tidak terluka.
Artem mencoba menarik Lilian namun gadis itu tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya dan matanya tetap terus menatap kearah Seint yang sedang bertarung. Artem, Asgar dan Zheyan kehabisan akal untuk membujuk Lilian untuk meninggalkan tempat itu namun tetap saja Lilian tidak bergerak.
Hingga akhirnya Zheyan, Asgar dan Artem memutuskan menemani Lilian dan menghindarkannya dari serangan nyasar dari Pangeran Igor dan Pangeran Seint.
Di sana Citto sedang menyemburkan apinya ke arah ular hijau tersebut. Ular hijau tersebut memekik kesakitan dikarenakan semburan api yang Citto keluarkan membuat sebagian tubuhnya terbakar. Namun api itu hanya membakar ular hijau tersebut sebentar dan kulitnya kembali normal seperti semula. Semua orang kembali menarik napas susah melihat kejadian tersebut.
Citto beberapa kali menyerang ular tersebut namun ular hijau tersebut bisa menyembuhkan dirinya dengan cepat dan kembali menyerang Citto dan Seint.
Lilian sendiri menatap serius kearah pertarungan keduanya dan akhirnya menemukan kejanggalan pada ular tersebut. Lilian mengarahkan pandanganya kesemua arah dan berhenti di satu titik.
Lilian mengangkat pedangnya tinggi-tinggi dan berlari kearah satu titik yang ia yakini. Semua orang menatap kearah Lilian dan memberikannya jalan untuk menerobos kerumunan orang.
__ADS_1
Lilian mengangkat pedangnya dan menghancurkan sebuah bola kristal besar yang sekarang dijaga oleh Selir Kedua. Selir Kedua menatap nanar kearah Lilian yang telah menghancurkan bola kristalnya dan mengambil pedang yang ia simpan disampingnya untuk menyerang Lilian.
°°°