Bukan Dunia Novel

Bukan Dunia Novel
107. Saran Seorang Ayah


__ADS_3

Seint mengambil beberapa barang bukti yang Zheyan dan Asgar ambil dari beberapa jasad orang-orang yang telah menyerang mereka. Meski tangannya terluka namun tidak ingin menunda penyelidikannya.


"Yang Mulia sebaiknya istirahat dulu. Biarkan kami yang mengurus ini semua." Ucap Zheyan.


"Saya hanya mendapat luka kecil ... Sebelumnya terima kasih kepada Tuan Asgar karena telah memberi saya penawar racun itu." Ucap Seint.


"Sudah menjadi tugas kami untuk menjaga keamanan Yang Mulia. Keamanan Yang Mulia sama saja dengan keamanan kerajaan kita." Ucap Asgar sopan.


Seint mengangguk pelan. "Saya begitu penasaran, dari mana Tuan Asgar mendapatkan penawar racun itu?" Tanyanya.


"Terakhir kali saya sedang memeriksa barang-barang ilegal yang masuk ke kerajaan kita. Racun itu diselipkan pada guci-guci kecil, karena penasaran dengan guci-guci itu akhirnya saya berusaha menyelidikinya." Jelas Asgar.


Zheyan mengerutkan kening. "Bukankah Yang Mulia Raja telah melarang masuk barang yang tidak memiliki ijin?" Tanyanya.


"Sepertinya barang-barang itu masuk lewat jalur lain. pada setiap kantong dari orang-orang yang menyerang kita memiliki racun yang sama." Jelas Asgar.


"Benar. Sepertinya mereka memang sedang mengincar kita sedari awal. Saya merasakan mereka telah mengikuti kita dari wilayah barat." Ucap Zheyan.


"Mungkin saja mereka merasa kesal karena Yang Mulia telah menemukan harta di daerah barat. Selama ini mereka bergerak diam-diam ... Oh iya ngomong-ngomong wilayah barat, bukankah daerah itu juga berbatasan dengan wilayah kerajaan tetangga. Tidakkah barang-barang ilegal itu masuk lewat sana?" Tanya Asgar.


Seint mengangkat sebelah alisnya. "Benar juga. Selama berada di sana saya tidak memikirkan hal itu. Terakhir kali bukankah kerajaan Elmore ingin membangun markas di sana dengan tujuan agar barang persenjataan mereka akan lebih mudah masuk." Jelas Seint.


"Haruskah kita kembali dan memeriksa wilayah itu lagi Yang Mulia?" Tanya Asgar.


"Tidak perlu! Aku akan menangani hal itu setelah kita sampai ke Istana. Kita harus secepatnya kembali, ada banyak sekali yang harus kita selidiki di sana. Jika kita terus mengulur waktu maka itu bukan hal yang baik. Untuk sekarang kalian beristirahatlah!! Beberapa jam dari sekarang kita akan berangkat ke Ibukota." Jelas Seint panjang dengan raut datar.


"Kami akan menjaga keamanan Yang Mulia. Lebih baik Yang Mulia beristirahat saja untuk memulihkan kondisi." Ucap Zheyan.


"Tidak perlu khawatir! Saya baik-baik saja, lagipula saya yakin jika setelah penyerangan ini tidak akan lagi yang akan berani menyerang kita selama diperjalanan. Bagaimanapun juga kalian telah melakukan perjalanan panjang dan membantuku mengatasi para musuh-musuh itu. Tubuh kalian pasti membutuhkan istirahat juga." Jelas Seint panjang.


"Baik Yang Mulia." Ucap Zheyan dan Asgar barengan.


Setelahnya mereka semua masuk ke tenda masing-masing untuk beristirahat. Tersisa beberapa pengawal yang berjaga secara bergantian untuk berjaga-jaga.


°°°


Sebelum matahari menampakkan sinarnya, Seint dan yang lainnya berangkat menuju Ibukota. Setelah kejadian semalam, Lilian tidak ingin menunggangi kuda bersama Seint. Gadis itu terlihat acuh dan tidak ingin berbicara dengan Seint.

__ADS_1


Selama perjalanan Seint mencuri pandang kerah Lilian yang menaiki kuda bersama Zheyan. Tidak ingin menambah kekesalan Lilian, Seint akhirnya mengalah dan membiarkan gadis itu menunggangi kuda yang sama dengan Zheyan.


Mereka terus saja memacu kuda mereka tanpa henti. Mereka hanya berhenti hanya sekedar untuk mengisi perut kemudian kembali memacu kuda mereka secepat mungkin.


Hingga matahari hampir terbenam, Seint dan yang lainnya terlihat memasuki Ibukota. Sepanjang perjalanan menuju Istana ada banyak sekali para penduduk yang menyoraki kedatangan mereka. Kabar penemuan emas dan berlian sudah tersebar luas sehingga para penduduk merasa kagum dengan kemampuan Seint dan yang lainnya dalam memecahkan masalah.


Gerbang Istana mulai terlihat, para Prajurit yang mengenali Seint dan yang lainnya segera membuka gerbang dengan penuh penghormatan di setiap wajah masing-masing.


Saat memasuki gerbang Istana ada banyak sekali orang-orang yang menyambut kedatangan mereka termasuk Raja Reinal sendiri. Mendengar laporan Seint dan yang lainnya hampir memasuki Ibukota, Raja Reinal menyiapkan sambutan untuk memberi penghargaan atas apa yang telah mereka lakukan selama di wilayah barat.


Setelah sampai Seint dan yang lainnya segera turun dari kuda mereka masing-masing dan berjalan kearah Raja Reinal untuk memberikan penghormatan mereka.


"Lapor Yang Mulia, kami telah kembali dari wilayah barat dengan keadaan tanpa kurang apapun setelah menyelesaikan misi kami." Lapor Seint sopan sambil menunduk hormat yang diikuti oleh semua orang.


"Baguslah ... Saya bangga dengan pencapaian yang telah kalian berikan untuk kerajaan kita. Untuk merayakan keberhasilan kalian, saya telah menyebar undangan pesta dansa dan akan dilaksanakan besok malam. Sebaiknya kalian beristirahatlah!" Ucap Raja Reinal lantang.


"Terima kasih Yang Mulia." Ucap semua orang serentak.


"Sebelumnya saya minta pada Pangeran Mahkota dan Putri Mahkota untuk ikut keruang kerja saya sebentar dan yang lainnya boleh langsung beristirahat." Ucap Raja Reinal kemudian berjalan memasuki Istana yang diikuti oleh Seint dan Lilian.


Sepanjang perjalanan keruang kerja Raja Reinal. Seint dan Lilian hanya berjalan lurus tanpa ada satupun yang mau mengeluarkan sedikitpun. Suasana canggung antara keduanya dapat dirasakan oleh Raja Reinal.


"Suasananya terasa dingin dan canggung. Apakah kalian sedang bertengkar?" Tanya Raja Reinal.


"Kami baik-baik saja." Ucap Seint dan Lilian samaan namun tidak ingin menatap satu sama lain.


"Ya sudah kalau begitu. Saran saya jika kalian sedang ada masalah lebih baik kalian bicarakan baik-baik dan dengan kepala dingin. Jika kalian sama-sama tidak ada yamg mau mengerti satu sama lain maka tidak akan bagus untuk hubungan kalian untuk kalian kedepannya." Jelas Raja Reinal.


"Kami mengerti." Ucap keduanya samaan.


Raja Reinal hanya mengangguk dan menatap kerah tangan Seint. "Ada pa dengan tangan mu?" Tanyanya.


"Luka kecil. Saat diperjalanan kami mendapat serangan mendadak." Ucap Seint datar.


"Sudah diobati?" Tanya Raja Reinal.


"Sudah." Ucapnya datar.

__ADS_1


"Putri Mahkota saya harap kamu bisa merawatnya dengan baik, anak ini sedikit keras kepala." Ucap Raja Reinal.


"Bagaimana saya bisa merawatnya jika dia sendiri tidak ingin saya khawatirkan." Ucap Lilian dingin sambil menatap sinis kearah Seint.


Seint menghela napas pelan. "Ada apa Yang Mulia memanggil kami kesini?" Tanyanya mengalihkan perhatian.


Raja Reinal melirik Lilian sebentar kemudian menghela napas pelan. "Besok akan ada pesta dansa, bukan hanya orang-orang dari kerajaan kita yang akan hadir namun orang-orang dari kerajaan tetangga akan ikut hadir. Selama pesta berlangsung Ayah harap kalian bisa mendapat sesuatu untuk dijadikan bukti atau petunjuk." Jelasnya.


"Baik Yang Mulia." Ucap keduanya barengan.


"Saya harap kalian segera perbaiki hubungan kalian. Tidak mungkin kalian menghadiri pesta itu dengan kondisi hubungan kalian yang seperi ini. Kabar hubungan kalian sangat berpengaruh, kalian terhubung satu sama lain jadi saya harap kalian tidak mengecewakan saya untuk acara besok." Tegas Raja Reinal.


"Baik Yang Mulia." Ucap Seint dan Lilian barengan.


"Kalian bisa kembali keruangan kalian masing-masing untuk beristirahat!!" Ucap Raja Reinal.


"Terima kasih Yang Mulia, kalau begitu kami pamit undur dulu." Ucap Seint sopan.


Setelah memberi penghormatan kepada Raja Reinal. Lilian segera keluar dari ruang kerja Raja Reinal agar tidak berjalan bersama Seint menuju kamarnya.


Saat Seint sebentar lagi mencapai pintu Raja Reinal kembali memanggilnya. "Seint!"


Seint berhenti berjalan dan menengok kearah Ayahnya.


"Kamu harus berbicara menggunakan nada lembut kepada seorang wanita jika ingin berbaikan. Meskipun kamu tidak salah namun seorang wanita lebih suka pasangannya meminta maaf duluan. Jika dia diibaratkan api maka kamu harus mengambil peran sebagai air, jika salah satu kalian sama-sama keras maka harus ada yang memiliki sifat lembut. Ayah yakin kamu bisa mengatasi hal ini." Saran dari Raja Reinal.


"Terima kasih Ayah." Ucap Seint kemudian berjalan keluar ruang kerja Raja Reinal.


Setelah keluar Seint berjalan menuju kamar Lilian berada.


°°°


Entah mengapa setiap mendekati akhir bulan Author selalu diserang penyakit malas menulis. Kesibukan di dunia nyata menguras semua waktu Author. Disela kesibukan Author sempatkan untuk menulis namun mood Author akhir-akhir ini sedang tidak baik-baik saja.


Entah karena apa akan tetapi mungkin ada dari para raiders yang merasakan mood dari Author.


Untuk raiders yang baca novel secara maraton tolong jaga kesehatan. Author selalu cek waktu Like atau komen kalian ada yang baca tengah malam bahkan sampai dini hari. bacanya pelan-pelan saja, novel Author nggak akan kemana-mana kecuali kalian yang memilih pergi.

__ADS_1


Bukan cuman Author yang perlu menjaga kesehatan namun kalian juga harus tetap menjaga kesehatan agat bisa beraktifitas dengan lancar.


Salam sayang Author untu para pembaca ter ❤️❤️❤️❤️


__ADS_2