Bukan Dunia Novel

Bukan Dunia Novel
145. Kepergian


__ADS_3

Seint terdiam cukup lama menatap dalam kearah mata Lilian. Ada banyak hal yang Seint pikirkan dalam kepalanya, mulai dari kondisi Lilian yang aneh sampai bagaimana nasib Lilian jika kondisinya masih tetap seperti itu.


Seint meraih kedua tangan Lilian kemudian dan mengusapnya pelan. "Sebelumnya aku tidak pernah merasakan takut seperti saat ini." Ucapnya.


Lilian terbangun dari pembaringannya dan menatap lurus kearah mata Seint. "Apa yang membuat mu merasa takut?" Tanyanya penasaran.


"Aku tidak pernah merasa takut saat berada dimedan perang namun aku merasa takut dengan kondisi mu saat ini." Jawab Seint khawatir.


"Kondisi ku baik-baik saja." Kata Lilian mencoba menenangkan Seint.


"Tidakkah menurut mu bahwa kondisi tubuh mu sangat aneh? Aku merasa bahwa kamu akan pergi meninggalkan ku." Ucap Seint.


Lilian menggeleng pelan kemudian mengelus pelan pipi Seint. "Aku masih disini dan tidak ada alasan bagiku untuk pergi meninggalkan mu." Ucapnya.


"Kamu memang masih bisa aku lihat namun entah mengapa perasaan ku selalu merasa tidak enak dengan kondisi mu sekarang." Ucap Seint khawatir.


"Tenanglah ... Aku akan baik-baik saja. Kita telah melewati pertempuran besar dan membuat kondisi fisik dan mentalku sedikit bermasalah. Mungkin saja karena hal itu mempengaruhi kondisi tubuh ku. Aku hanya butuh beristirahat sebentar dan kondisiku akan segera membaik." Ucap Lilian menenangkan.


Seint menghela napas pelan. "Berjanjilah dalam keadaan apapun kamu tidak akan pergi meninggalkan ku!" Ucapnya.


Lilian tersenyum pelan kemudian mengangguk. "Aku berjanji tidak akan pernah meninggalkan mu." Jeda Lilian sebentar. "Namun mengapa makin kesini aku merasa kamu semakin lemah dengan perasaan mu? Dimanakah Seint yang dulu terkenal dingin, datar, hemat bicara dan tidak bisa tersentuh? Yang kulihat di depanku sekarang hanyalah Seint yang takut ditinggal oleh kekasihnya." Lanjut Lilian mengejek Seint.


Seint tertawa pelan mendengar ucapan Lilian. "Seseorang telah merubahku menjadi seperti sekarang ini. Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak berbicara banyak dihadapannya, dia selalu bisa membuatku menuruti semua perkataan yang keluar dari mulutnya." Ucapnya.


"Benarkah? Bisakah aku mengetahui siapa dia?" Tanya Lilian menggoda.


Seint mencubit pelan hidung Lilian. "Kamu yang paling tahu siapa orang yang ku maksud." Jawab Seint.


Lilian melepaskan tangan Seint dari hidungnya sambil tersenyum. "Tentu saja! Kamu tidak akan bisa berpaling saat bertemu dengannya." Ucapnya.


Seint tersenyum kecil lalu mengeluarkan sesuatu dari sakunya dan memberikannya kepada Lilian.


"Apa ini?" Tanya Lilian bingung setelah menerima sebuah kotak kecil pemberian Seint.


"Bukalah!" Ucap Seint sambil mengusap pelan kepala Lilian.


Lilian membuka kotak kecil tersebut dan ia terpana melihat isi dari kotak tersebut. "Ini?" Tanyanya sambil menatap Seint tidak percaya.


"Kamu suka? Dulu saat aku sedang mencari informasi tentang para penghianat bersama Artem, dijalan aku tidak sengaja melewati toko perhiasan dan melihat itu. Saat melihatnya aku menjadi teringat kepada mu dan membelinya untuk aku berikan kepadamu." Jelas Seint.


Lilian tersenyum lebar. "Tentu saja aku sangat senang. Kalung ini sangat indah, terima kasih." Ucapnya senang.


Senyuman Lilian tidak pernah pudar dari wajahnya saat memeriksa kalung yang diberikan oleh Seint ditangannya. Kalung yang Seint berikan berupa kalung emas putih dan yang membuat kalung itu sangat indah ialah bandulnya terbuat dari batu intan yang berbentuk seperti bunga daisy asli. Hal itulah yang membuat Lilian merasa sangat bahagia.


"Tidak perlu berterima kasih, kamu memang layak untuk mendapatkannya." Ucap Seint.


Lilian mengangguk antusias. "Bisakah kamu membantuku memakai kalungnya?" Tanyanya.


Seint mengambil kembali kalungnya dan memakaikan kalung itu dileher Lilian. Kalung itu bersinar cantik dileher Lilian namun yang membuat Seint senang adalah senyuman Lilian yang tidak pernah pudar diwajahnya saat mengenakan kalung itu.


"Apakah kalung ini cocok untuk ku?" Tanya Lilian antusias.


Seint mengangguk pelan. "Tentu saja ... Semua barang akan terlihat istimewa saat kamu memakainya. Hal itu juga berlaku pada kalung itu." Jawabnya.


"Kamu selalu bisa membuatku merasa senang." Ucap Lilian senang.


"Ku harap aku selalu bisa melihat senyuman mu ini." Ucap Seint yang ikut bahagia melihat Lilian yang senang.


"Tentu saja ... Kau akan melihatnya setiap hari." Ucap Lilian.

__ADS_1


Seint mengangguk pelan. "Kalau begitu lebih baik sekarang kamu beristirahatlah agar nanti pada hari perayaan tubuhmu kembali sehat dan tampil menjadi wanita paling cantik di kerajaan ini."


Lilian tersipu malu mendengar ucapan Seint. "Baiklah." Ucapnya malu-malu.


Seint mendekatkan wajahnya yang membuat jantungan Lilian berdetak kencang. Lilian menutup kedua matanya saat merasa napas Seint menyapu wajahnya. Tidak lama kemudian Lilian merasakan bahwa Seint mencium keningnya lama.


"Beristirahatlah." Ucap Seint setelah melepaskan ciumannya di kening Lilian.


Lilian mengangguk pelan kemudian berbaring dan menarik selimutnya menutupi semua bagian tubuhnya. Lilian merasa malu sendiri saat Seint mencium keningnya. Seint hanya tersenyum kecil melihat tingkah menggemaskan dari Lilian.


Tidak lama kemudian Seint membuka pelan selimut yang menutupi wajah Lilian dan mendapati gadis itu sudah tertidur dengan nyenyak. Seint kembali mendekatkan wajahnya namun sekarang ia tidak berniat mencium keningnya melainkan ia mencium bibir Lilian lama.


Seint mengusap pelan kepala Lilian setelah melepas ciumannya dan pergi keluar kamar untuk membiarkan gadis itu beristirahat dengan tenang.


°°°


Tidak terasa persiapan perayaan merayakan kemenangan kerajaan Apollonia dari para penghianat sudah selesai dikerjakan. Semua orang di kerajaan Apollonia mendapat hak yang sama selama perayaan itu berlangsung.


Setelah malam tiba, para tamu undangan baik dari kalangan rakyat biasa sampai pejabat tinggi telah memenuhi tempat diadakan perayaan tersebut. Terlihat ada banyak raut wajah bahagia yang terpancar dari wajah orang-orang yang hadir ditempat tersebut.


Setelah menunggu beberapa waktu, seorang prajurit mengabarkan jikalau Yang Mulia Raja Reinal akan segera memasuki tempat perayaan bersama dengan keluarga inti kerajaan Apollonia namun kali ini tanpa kehadiran dua orang yaitu Selir Gracia dan Pangeran Igor.


Raja Reinal terlihat berjalan bersama dengan Sang Ratu disampingnya kemudian disusul oleh Selir Pertama dan Putri Evilia dibelakangnya. Keempatnya kemudian mengambil tempat khusus yang sebelumnya telah dipersiapkan.


Tidak lama setelahnya Seint datang dengan memegang erat tangan Lilian dan berjalan menuju kursi khusus untuk keduanya. Saat berjalan bersama, semua orang tampak terpana dengan penampilan keduanya. Seint dan Lilian mengenakan pakaian yang warnanya sama membuat keduanya terlihat sangat serasi.


Seint dan Lilian akhirnya duduk di kursi yang disediakan untuk keduanya. Didepan Lilian terlihat ada banyak lautan manusia yang menatap kearah tempat mereka duduk. Tidak jauh darinya, Lilian dapat melihat Ayah dan Ibunya duduk satu kursi dan melemparkan senyum kearahnya.


Lilian mengalihkan pandangannya setelah membalas senyuman kedua orang tuanya dan matanya menangkap Kakaknya Zheyan dan Asgar juga melempar senyum bahagia kearahnya, sama seperti tadi Lilian kemudian membalas senyuman dari keduanya.


Didekat Zheyan dan Asgar berdiri ada dua orang yang sangat Lilian kenal yaitu sahabatnya Fania dan Violet yang juga melemparkan senyum kepadanya. Lilian sangat merindukan keduanya, sudah sangat lama Lilian tidak berkumpul dengan kedua sahabatnya dikarenakan semua masalah yang selalu datang kepadanya. Beberapa acara yang telah mereka persiapkan bahkan harus tertunda dikarenakan kesibukan Lilian.


Lamun Lilian tentang kedua sahabatnya buyar setelah ia mendengar suara Raja Reinal yang membuka acara secara resmi. Lilian akhirnya memfokuskan pandangannya kearah Raja Reinal sambil memegang erat tangan Seint.


Seint spontan menatap Lilian tidak percaya, pasalnya gadis itu jarang ingin melakukan hal-hal seperti itu duluan. Karena selama ini Seint-lah yang selalu mengambil inisiatif pertama.


Setelah mendengar suara Raja Reinal, Seint akhirnya ikut memfokuskan pandangannya kearah Raja Reinal sambil berpegangan tangan dengan Lilian.


"Malam ini saya ingin semua orang yang hadir di perayaan ini dapat mengenang semua hal yang sudah kita lalui sebelumnya. Jadikanlah pertempuran sebelumnya sebagai pelajaran untuk kita semua bahwa kedamaian itu sangatlah indah. Jangan karena keserakahan, kita menjerumuskan diri kita ke hal-hal yang tidak akan merugikan diri sendiri seperti yang dialami oleh para penghianat sebelumnya." Jelas Raja Reinal panjang.


"Setelah pertempuran itu terjadi, saya harap kalian menanamkan rasa cinta terhadap kerajaan Apollonia dan membangun kerja sama yang baik dalam melindungi kerajaan kita. Junjung tinggi perdamaian dan hapuskan segala hal-hal buruk yang akan timbul di hati kita masing-masing." Jelas Raja Reinal terjeda kemudian mengarahkan semua pandangannya kepada para rakyat didepannya. "Mari kita sejenak mendo'akan ketenangan jiwa untuk para pejuang kita yang telah gugur membela perdamaian, semoga jiwa mereka merasa tenang dan bisa beristirahat dengan baik." Lanjutnya kemudian seketika keadaan hening karena semua orang sedang membacakan do'a ketenangan jiwa.


Raja Reinal kemudian mengarahkan pandangannya kearah Seint. "Sebelum saya membuka perayaan ini secara resmi, sebagai Raja dari kerajaan Apollonia saya ingin memberi penghargaan kepada Pangeran Mahkota karena saat pertempuran ia dengan gagahnya melawan ular hijau yang memiliki ukuran yang sangat besar. Kepadanya saya persilahkan maju ke depan untuk mendapatkan simbol penghargaannya." Tegas Raja Reinal.


Seint tersenyum kearah Lilian dan melepas genggamannya pada gadis itu dan berjalan maju kehadapan Raja Reinal. Suara riuh terdengar dari para rakyat saat Raja Reinal memakaikan simbol penghargaan itu di pakaian yang Seint kenakan.


Setelah menerima penghargaan Seint kembali duduk di kursinya dan kembali menggenggam tangan Lilian. Raja Reinal juga memanggil banyak nama termasuk Zheyan, Asgar dan Artem untuk diberikan penghargaan karena telah memberikan yang banyak sumbangsi dalam memperjuangkan kedamaian.


Setelah semua orang terpanggil dan diberikan penghargaan, kini pandangan Raja Reinal beralih kearah Lilian. "Pertempuran itu bisa dimenangkan oleh pihak kita semuanya berkat bantuan dan kerja keras dari Putri Mahkota. Sejak lama Putri Mahkota berjuang sendiri demi menekan keberadaan para penghianat itu. Berkat kerja kerasnya akhirnya kami bisa mengetahui banyak hal mengenai informasi tentang para penghianat itu dan berkat ide-ide darinya kita bisa merencanakan banyak hal." Jelas Raja Reinal.


Semua orang kembali bersorak meneriaki nama Lilian. Mereka merasa sangat beruntung karena memiliki Putri Mahkota yang cerdas seperti Lilian.


"Berkat Putri Mahkota juga Pangeran Seint dapat menunggangi Citto dan menghabisi ular hijau tersebut. Karena pertempuran itu Putri Mahkota harus merelakan kepergian Pelayan setianya dan juga Citto naga kesayangannya. Untuk semua yang Putri Mahkota lakukan saya sebagai pemimpin kerajaan Apollonia mengucapkan terima kasih atas perjuangan mu dan ingin memberikan penghargaan berupa simbol kemuliaan kepada Putri Mahkota. Kepadanya silahkan maju ke depan." Tegas Raja Reinal.


Suara riuh kembali terdengar dari para Rakyat, sebelum maju ke depan Lilian memberikan senyum termanisnya kepada Seint dan melepaskan tangannya dari genggaman tangan Seint. Entah mengapa Seint merasa tidak rela melepas tangan Lilian dari genggamannya.


Lilian maju ke depan untuk mendapatkan penghargaannya. Raja Reinal memakaikan simbol kemuliaan di pakaian Lilian, setelah selesai Lilian berniat kembali duduk namun ditahan oleh Raja Reinal karena Lilian diminta memberikan sepatah atau dua patah kata kepada para Rakyat.


"Sebelumnya terima kasih kepada Yang Mulia Raja Reinal karena telah mempercayai gelar ini kepada saya. Sungguh kehormatan yang sangat besar bagi saya karena telah mendapatkan gelar ini. Saya juga berterima kasih kepada Ayah, Ibu, Kakak-Kaka ku, serta sahabat ku karena berkat mereka saya mendapatkan semangat untuk menekan para penghianat. Saya juga secara khusus berterima kasih kepada pasangan saya yaitu Pangeran Seint karena telah meluangkan banyak waktu serta tenaganya selama ini. Jika bukan karena bantuan darinya saya tidak akan bisa berdiri disini." Jelas Lilian panjang.

__ADS_1


"Jujur saja saya tidak ahli dalam merangkai kata-kata namun saya berterima kasih kepada semua pihak yang telah membantu saya selama ini. Mungkin itu saja yang dapat saya sampaikan sekali lagi terima kasih." Ucap Lilian.


Setelahnya Lilian menunduk sopan kepada para Rakyat kemudian ia berniat untuk kembali ke kursinya namun pandangan Lilian kembali memburam, suhu tubuhnya kembali terasa dingin, detak jantungnya mulai tidak Lilian rasakan lagi dan kali ini Lilian merasakan napasnya mulai tidak teratur.


Seint mulai curiga melihat raut wajah Lilian. Namun sebelum Lilian mulai melangkahkan kakinya gadis itu langsung ambruk dan jatuh tidak sadarkan diri.


Terdengar suara riuh dari semua orang karena melihat Lilian yang terjatuh tidak sadarkan diri. Spontan Seint berlari dan memeriksa kondisi Lilian. Duke Marven, Illyria, Zheyan, Asgar, Artem, Fania dan Violet berlari dan mendekat kearah Lilian.


Seint mengecek nadi Lilian namun tidak ada tanda kehidupan di sana. Seint kemudian mengecek detak jantung Lilian namun ia tidak merasakan apapun di sana. Seint mengecek napas Lilian di hidungnya namun tidak juga merasakan napasnya.


"Lilian bangun!! Kamu sudah berjanji kepadaku untuk tidak meninggalkan ku!!" Teriak Seint Frustasi.


"Ada apa dengan kondisi Putriku Yang Mulia?" Tanya Duke Marven.


Seint menggelengkan kepalanya. "Ia tidak bernapas." Ucapnya, dari kedua matanya jatuh cairan bening yang selama ini tidak pernah keluar.


"Zheyan segera panggilkan Tabib." Teriak Duke Marven.


Zheyan langsung berlari untuk membawa Tabib memeriksa Adiknya.


"Apa yang terjadi dengan Putri Mahkota? Bukankah ia sebelumnya baik-baik saja?" Tanya Raja Reinal.


"Bangun Lilian jangan membuat kami khawatir." Ucap Fania dan Violet sambil menangis.


"Putriku pasti baik-baik saja." Ucap Illyria mencoba menenangkan diri.


"Putri Mahkota apakah Yang Mulia mendengar kami? Bangunlah Yang Mulia!" Ucap Artem.


"Bangunlah Lilian!" Ucap Asgar.


Seint hanya menangis tanpa mengeluarkan suara. Ia tahu hal ini mungkin akan terjadi maka dari itu ia mencari banyak cara untuk membantu kondisi Lilian namun sebelum ia mendapatkannya semua sudah terlambat.


Tidak lama kemudian Zheyan datang bersama Tabib Istana, semua orang memberi jalan dan langsung memeriksa Lilian yang berada dalam pangkuan Seint. Setelah memeriksa keadaan Lilian, Tabib tersebut menatap takut kearah semua orang yang menunggu jawabannya.


"Yang Mulia Putri Mahkota sudah tidak ada." Ucap Tabib tersebut.


Suara tangis pecah dari semua orang yang mendengar ucapan Tabib. Para Rakyat yang hadir bersujud dan menangisi kepergian Lilian.


"Tidak mungkin!! Periksa dia lagi." Marah Duke Marven.


"Maafkan saya Tuan." Ucap Tabib takut.


Seint mengguncangkan badan Lilian pelan. "Bangunlah! Kamu sudah berjanji agar tidak meninggalkan ku!!" Teriak Seint marah.


Semua orang berusaha memanggil nama Lilian namun tidak ada respon yang diberikan oleh gadis tersebut. Hati Seint hancur, ia bahkan sulit untuk mengambil napas. Bukan seperti ini akhir yang Seint inginkan, Lilian pergi meninggalkan semua orang yang sayang kepadanya.


Zheyan dan Asgar terdiam dengan tatapan kosong dimatanya. Beberapa waktu lalu gadis itu masih tersenyum hangat kepada keduanya, Duke Marven memeluk istrinya erat untuk menenangkannya meski hatinya sendiri sangat hancur.


Fania dan Violet menangis sekeras mungkin karena kehilangan Lilian. Artem juga menundukkan wajahnya dan mencoba menguatkan Seint.


Seint benar-benar merasa hancur atas kepergian Lilian. "Jika kau kembali ke masa depan mu maka aku juga akan ikut bersama mu!" Teriaknya frustasi.


"Aku akan menghukum mu berkali-kali lipat karena telah membuat ku seperti ini!! Tunggu dan lihat saja apa yang akan aku lakukan kepadamu." Teriak Seint marah.


Semua orang hanya bisa menangisi kepergian Lilian. Tubuh gadis itu sangat dingin, Seint bahkan hampir menggigil karena terus bertahan memeluk tubuh gadis itu dengan sangat erat.


"Tunggu aku Lilian." Batin Seint marah.


...°°°...

__ADS_1


...END...


__ADS_2